Di Antara Bimbang dan Ragu

Saturday, April 24, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Sungguh indah, pantai Nias ini. Dengan hamparan pasir putih nan indah, hijaunya nyiur di pantai, tiupan angin yang mendayu-dayu pakaian yang kukenakan, lanscape sunset yang mengingatkanku akan kenangan masa lalu aku bersama suamiku, semuanya lengkap tertata di depan mataku kali ini. Ya, aku seorang diri di sini, berharap berlari menjauh dari semua masalah yang kini sedang menghantui diriku. Padahal aku tahu, suamiku masih berharap aku kembali dalam dekapan hangatnya.

Meski aku berusaha melupakan sejenak permasalahan ini, tetap saja permasalahanku begitu angkuh hadir dalam bayang-bayang ingatan ini. Indahnya pantai Nias tak juga bisa merubah akan kegundahan hatiku. Air mata ini meleleh jatuh satu demi satu tak terelakkan lagi, saat ku teringat apa yang sedang terjadi antara aku dan Alexa, suamiku. Haruskah kuhapus kenangan manis itu ? Sebuah pertanyaan yang tak pernah bisa aku jawab sampai kini.

Jika dirunut ulang, kisah awal cinta kami berdua begitu indah dan kuat. Ia teramat setia bagiku. Penantiannya begitu kuat, saat dia menikahiku setelah aku menyelesaikan kuliah S1-ku di perguruan tinggi Negeri terkemuka di Jogja. Padahal, baginya begitu mudah mencari gadis lain pengganti diriku, mengingat Alexa memiliki postur tubuh ideal dan ketampanan yang tak diragukan lagi. Apalagi, dia sudah menjadi seorang yang mapan, dengan bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan jabatan yang karriernya sedang beranjak naik. Ah, Wanita mana yang tak melirik dirinya !

Antara Jakarta dan Jogja, meski jarak memisahkan aku dengannya, cinta kami berakhir pada sebuah pernikahan yang indah. Jalinan kasih yang begitu teramat kuat selalu menyertai kehidupan kami setelahnya. Tahun-tahun pertama dan kedua pernikahan kami nampak begitu bahagia. Aku dan Alexa begitu mabuk dalam keindahan kasih yang begitu dalam.

Namun di tahun ketiga mulailah aral yang tiada pernah aku kira sebelumnya. Kami belum dikaruniai seorang anak. Mungkin Tuhan belum mempercayakan kami, mungkin perjuangan kami belum cukup selama ini. Kegundahan ini membuatku gelisah, sekecil apapun bisa menjadi pertengkaran-pertengkaran yang sulit dihindari. Aku menjadi seorang yang sangat sensitif. Bagaimana mungkin buah cinta hadir jika kami saling bertengkar ?

Tapi, Alexa begitu tegar. Di setaip marahku, ia selalu menjadi pahlawan bagiku. Di pagi hari, kala aku membuka mata, semuanya telah terhidang manis di meja makan. Dari Nasi, lauk pauk dan minuman hangat semuanya sudah siap untuk disantap untuk kita berdua. Seisi rumah juga sudah rapi dan bersih. Alexa sudah mengepel lantai dengan keharuman karbol yang kami suka. Tapi, lagi-lagi aku begitu angkuh padanya, hingga wajahku masih berkerut tanpa senyuman sedikitpun. Aku masih marah ! Rupanya Alexa begitu sabar padaku. Ia sama sekali tak menyerang balik kekonyolanku. "Hayuk kita makan, sayang !" Akhirnya aku luluh juga akan panggilan sayangnya untukku.

Di suatu malam saat kami terbaring di kamar pembaringan kami, kuberanikan diri meminta Alexa, "Gimana kalau kita angkat seorang anak yang kita ambil dari panti asuhan ?" Alexa seperti kebingungan, tampak sekali jika raut wajahnya tak menyetujui aku. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Kami saling membisu diantara pecahnya malam yang senyap. Kembali aku dalam hati yang penuh dengan ketidak pastian.

Keesokan harinya aku semakin galau. Amarahku semakin membuncah, namun tak pernah mampu kulepaskan. Dada ini terasa sesak sekali. Lagi-lagi Alexa bersikap manis padaku. Akhirnya semua kuakhiri. Aku pergi meninggalkan Alexa seorang diri. Karena Alexa kuanggap tidak mau menuruti kemauanku. Mungkin aku terlalu egois, tak mau bersabar bersama Alexa. Alexa begitu sayang padaku, perhatiannya, kesetiaannya sangat jauh dibanding diriku. Teganya aku jika meninggalkannya seorang diri. Namun Egoku nyatanya lebih tinggi. Aku lebih condong mengikuti kemauan burukku. Mungkin dengan aku pergi, kita akan mampu sama-sama saling introspeksi diri.
Read More..

Rahma, Istriku

Friday, April 16, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Seketika istriku jatuh tergeletak di teras ruang tamu dalam sebuah pukulan dari tanganku. Namun setelahnya istriku sama sekali tak bergerak. Aku mencoba menyentuh wajahnya. Ia hanya diam membisu. Kucoba menepuk-nepuk pipinya, namun istriku sama sekali tak menjawab apapun. Tampak darah mengalir di dahinya. Serta merta kugendong tubuhnya yang ringan menuju ke mobil.

"Bi, tolong di rumah saja ya, saya mau bawa ibu ke rumah sakit", aku hanya bicara seperlunya saja. Wajah bibi, pembantu rumahku tampak gusar, seolah ia mengetahui apa yang telah terjadi saat itu. Wajar jika ia tak berani berbuat apa-apa saat kami sedang ribut.

Di rumah sakit, istriku langsung ditempatkan di UGD. Aku hanya bisa menunggu di luar ruangan. Saat-saat penantian ini membuatku tersiksa. Pikiranku melayang - layang ke sana kemari tak beraturan. Antara cemas dan takut menghantui adrenalinku. Cemas akan bagaimana nasib istriku kelak. Takut jika seandainya istriku tak tertolong, aku yang bersalah !

Kali ini aku menangis. Air mata ini nampaknya sangat sulit kubendung. Kenapa aku begitu tega terhadap istriku ? Aku tau, jika istriku sabar menghadapi aku yang sangat-sangat egois terhadapnya selama ini. Aku marah karena istriku memanggil aku dengan sebutan "KAMU". Padahal jauh di balik itu rupanya istriku telah memendam rasa kecewa terhadapku. Aku pernah menyamakan dirinya sebagai pelacur, karena di rumah ia mengenakan pakaian yang seksi. Sedang aku tak menyukainya karena kakak perempuanku sedang menginap di rumah kami. Aku sadar seharusnya aku tak menyebutnya atau menyamakan dirinya seperti itu. Tapi aku kelepasan bicara. Tapi mengapa ego ini menyelimuti aku, hingga tak ada kata maaf sedikitpun untuknya.

Aku juga sering melontarkan kata-kata yang seharusnya sangat tak layak untuknya. Aku sering menyebutnya sebagai Tolol dan bodoh. Padahal berkali-kali istriku mengingatkan aku, "Mencela seorang muslim merupakan kefasikan" dan ia juga bilang, " mengapa kata-kata itu berani ia ucapkan untuk orang yang akan menemani hidupnya ? mengapa dengan orang lain aku masih bisa menjaga ?" . Ah, Mengapa aku tak mau mendengar kata-katanya.

Tertata lagi kenagangan-kengan manis, saat aku dengannya masih menjadi sebuah pasangan yang indah. Betapa ia menjaga anak-anakku dengan rasa kasih sayangnya meski terkadang aku iri, sebab ia begitu sangat sayang terhadap anak-anakku.

Tersadar, aku tengah menunggu di ruang tunggu. Kuusap beberapa kali air mata yang tumpah begitu saja. Yaa . . . Tuhan, maafkan aku. Aku begitu menyia-yiakan dia. Aku benar-benar menyesal Tuhan. Beri aku kesempatan untuk membalas apa yang telah kulakukan untuk istriku selama ini. Aku janji tak akan menyia-nyiakan dirinya lagi.

Sesaat dokter keluar dari pintu UGD. "Bapak Raka ?" Aku berdiri. Namun dokter tersebut nampak gelisah, meski berusaha untuk tenang. "Maaf, istri anda tak tertolong lagi." Seketika itu aku berlari ke jasad istriku yang kini sudah tak bernyawa lagi. "Rahma istriku, maafkan aku !" aku berteriak keras, seolah aku menyesal untuk seumur hidup.


Read More..

Degra Simba , solusi septic tank WC mampet penuh tanpa sedot

Thursday, April 15, 2010
Dengan hanya menuangkan sebotol DEGRA SIMBA ke dalam closet WC, DIJAMIN dalam WAKTU 1 Minggu isi septic tank WC rumah, perkantoran, pabrik, sekolah, hotel, rumah sakit, apartemen, dll akan TERKURAS HABIS. Begitu mudah, paling praktis, ekonomis dan ramah lingkungan.

Degra Simba mengandung mikroba probiotik yang aman bagi manusia dan lingkungan. Manfaat lain: mengatasi saluran yang tersumbat bahan organik dan menghilangkan bau busuk pada kloset. Teknologi ini sudah lama diterapkan oleh negara-negara maju seperti Eropa, Amerika, Jepang, Australia dan lainnya. Cara pemakaian pada WC: cukup masukan satu botol degra simba ke dalam kloset, tunggu 4 s/d 5 jam maka isi septic tank rumah anda akan terkuras dalam waktu 1 minggu.

Septic Tank yang merupakan tempat penampungan bahan-bahan padat kotoran manusia (tinja) akan cepat penuh bila di dalamnya tidak terjadi proses dekomposisi/ penguraian oleh bakteri pengurai. Jumlah bakteri pengurai dalam Septic Tank pada umumnya sangat kurang dibanding dengan kecepatan penumpukannya, sehingga perlu ditambahkan bakteri pengurai di luar.

Penambahan mikroba ini sangat murah bila dibandingkan dengan biaya penyedotan atau pengurasan disamping praktis, sehat dan ramah lingkungan. Bakteri pengurai tersebut akan menguraikan bahan-bahan padat yang ada pada Septic Tank menjadi air dan sebagian menjadi gas. Air hasil penguraian akan diserap oleh tanah, sedang gasnya dapat dibuang melalui cerobong tanpa menimbulkan bau.

CARA PEMAKAIAN DEGRA SIMBA

A. SEPTIC TANK MEMILIKI LUBANG UDARA

1. Tuangkan 1 botol DEGRA SIMBA (ukuran 500 ml) ke dalam closet

2. Siram dengan air secukupnya dan biarkan selama 5-6 jam (sebaiknya

saat malam hari).

B. SEPTIC TANK TIDAK MEMILIKI LUBANG UDARA

1. Tuangkan 1 botol DEGRA SIMBA (ukuran 500 ml) ke dalam wadah

(ember)

2. Campur dengan air (perbandingan 1:2) dan biarkan selama 5-6 jam

di udara terbuka agar bakteri dapat hidup dan berkembang biak

3. Masukan campuran Degra Simba + Air ke dalam closet WC

4. Siram dengan air secukupnya agar cairan Degra Simba masuk

ke dalam septic tank.

Dalam waktu 1 minggu, isi septic tank / WC akan terkuras hingga 80 % menjadi air (H2O) yang meresap ke dalam tanah (tidak mencemari lingkungan) dan gas (CO2) yg tidak berbau.


KEUNTUNGAN

1. Menghilangkan bau
2. Mengatasi septic tank / WC mampet atau penuh tanpa disedot
3. Menjaga kualitas sumur dekat septic tank / WC
4. Membunuh kuman penyebab disentri, cholera dan typus
5. Mencegah penyumbatan saluran / selokan

6. Pemakaian cukup 2 kali setahun (setiap 6 bulan sekali)


Harga : Rp. 32.000,- per botol ( belum termasuk ongkos kirim ).

Untuk pemesanan silahkan hubungi 0881 580 3689



Read More..

Mie Goreng Stick

Wednesday, March 31, 2010
Mie Goreng Stick
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Sajian berikut ini selain bahan-bahannya mudah didapat, juga cara pembuatannya cukup sederhana, membuat para bloggers ingin sekali mencicipi sajian yang begitu membuat lidah bergoyang.

Bahan:
200 gr ayam giling
250 gr mi telur, rebus hingga matang, tiriskan
200 gr keju cheddar parut
2 btg daun bawang, iris halus
2 btg daun seledri, iris halus
1 sdt garam (secukupnya)
1 sdt gula pasir
8 btr telur, kocok sebentar
300 ml susu cair
3 sdm tepung terigu
2 sdm margarin, untuk mengoles
600 ml minyak sayur, untuk menggoreng
200 gr tepung roti (secukupnya)

Cara membuat:
1. Campur ayam dengan mi, keju, daun bawang, daun seledri, garam, dan gula menjadi satu, aduk hingga tercampur rata.
2. Tuangkan 5 butir kocokan telur dan susu cair, aduk. Tambahkan tepung terigu, aduk rata.
3. Tuang ke dalam loyang yang telah diolesi dengan sedikit margarin. Kukus ke dalam panci pengukus selama 30 menit hingga matang. Angkat, biarkan dingin.
4. Potong kotak, celupkan ke dalam sisa kocokan telur. Gulingkan potongan mi ke dalam tepung roti, goreng ke dalam minyak panas sedang hingga berwarna kuning kecoklatan dan matang. Angkat, tiriskan.
5. Sajikan bersama cocolan saus sambal
Read More..

Foto Karawang Banjir

Wednesday, March 24, 2010
Kumpulan Cerpen Kita.
Berikut adalah photo Karawang Banjir, Ruko Blok I Perumnas Bumi Teluk Jambe

Karawang Banjir
Read More..

Foto Karawang Banjir

Kumpulan Cerpen Kita.
Berikut adalah photo Karawang Banjir, Perumahan Pemda.

Karawang Banjir
Read More..

Foto Karawang Banjir

Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Berikut adalah Photo Karawang Banjir, Lapangan Bola Di sebelah Perumahan Pemda

Karawang Banjir
Read More..

Foto Karawang Banjir

Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Berikut adalah Photo Karawang Banjir, Jembatan Alun-Alun

Karawang Banjir
Read More..

Foto Karawang Banjir

Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Berikut adalah Photo Karawang Banjir, Depan Galuh Mas dan Peruri

Banjir Karawang
Read More..

Foto Karawang Banjir

Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Berikut adalah Photo Karawang Banjir, Depan Galuh Mas dan RSU

Karawang Banjir
Read More..

Foto Karawang Banjir

Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Berikut adalah Photo Karawang Banjir, Perumnas Bumi Teluk Jambe Blok Y

Karawang Banjir
Read More..

Foto Karawang Banjir

Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Berikut adalah photo Karawang Banjir, Perumnas Bumi Teluk Jambe Blok R

Karawang Banjir
Read More..

Karawang Banjir, Kerta Bumi

Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Berikut adalah Photo Banjir Kerta Bumi, Karawang.

Karawang Banjir
Read More..

Karawang Banjir

Kumpulan Cerpen Siti Arofah.

Berikut, adalah Gambar Salah satu Posko Bencana Banjir Perumahan Bumi Teluk Jambe.

Karawang Banjir
Read More..

Karawang Banjir

Tuesday, March 23, 2010
Karawang Banjir
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. "Banjiiiiiiiiiir." teriak orang di sana sini. Orang-orang hilir mudik kesana kemari tak menentu mencari tempat yang lebih aman. Ada yang membawa televisi, ada juga yang membawa kasur atau spring bed, ada juga yang membawa buntalan pakaian. Sungai citarum meluap, menumpahkan segala isinya merata ke segala penjuru manapun sesukanya tanpa peduli dimana ia akan mengalir. Baru kali ini, Karawang merata terkena banjir. Sebuah pemandangan yang sangat begitu mengerikan sekaligus mencengangkan. Karawang sudah seperti lautan yang tepinya sulit terjangkau oleh sejauh mata memandang.
Bulu roma bergidik begitu melihat hamparan rumah penduduk berubah dalam sekejap hanya dalam hitungan menit menjadi lautan. Berharap-harap cemas dimana rumah tinggal yang kami huni tak ikut terkena amarah dari luapan sungai Citarum. Mobil-mobil berjajar rapi diparkir di sisi jalan yang berjarak kira-kira sepuluh meter dari banjir. Di sisi lain bengkel motor tengah meraup laba yang sangat menggembirakan karena banyak motor yang mogok yang dipaksa untuk jalan di tempat banjir.

Sebelumnya aku sempat bertanya-tanya, mengapa sungai yang mengalir dari waduk jatiluhur menuju kalimalang surut. Sungai yang awalnya cukup tinggi namun tak sampai meluap itu, kini surut hingga anak-anak kecil berani bermain di dalamnya. Bapak-bapak sibuk melepaskan jalanya di sungai itu. Sungai itu kini hanya setinggi 30 cm dari permukaannya. Sungguh suatu pemandangan yang tidak seperti biasanya. Orang-orang yang tinggal beberapa meter disekitar bantaran sungai ini banyak yang mengeluh, karena mereka hidup dari irigasi yang mengalir dari sungai ini. Namun karena sungai ini menyusut, praktis mereka dilanda krisis air.

Di sisi lain, sebuah perumahan yang lebih dahulu terkena imbas dari penyusutan sungai ini adalah Perumahan Bintang Alam. Perumahan itu kini sudah menjadi lautan, tak ada satupun atap rumah yang tampak tersembul, semuanya rata tergulung air coklat bercampur tanah lumpur. Setelah Perumahan Bintang Alam, barulah Perumahan Karaba ikut menjadi korban dari keganasan luapan sungai Citarum ini. Yang menjadi di luar pemikiran kita selama ini, perumahan Galuh Mas juga ikut menjadi korban. Tak disangka-sangka Perumahan yang terkenal Elit dan mahal itu menjadi korban juga. Sedangkan perumahan Bumi Teluk Jambe yang letaknya bersebelahan dengan perumahan Galuh Mas hanya terkena setengahnya saja. Rata-rata hampir semua perumahan di karawang terkena banjir semua.

Belakangan baru kuketahui Jika ternyata Jakarta enggan menadah air dari aliran jatiluhur, cukup dari tumpahan air bogor saja. Karena jika Jakarta dialiri oleh air dari jatiluhur dan air dari bogor, maka banjirpun tak terhankan lagi terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya dahulu. Entahlah, isu ini benar atau tidak, nyatanya kulihat sendiri sungai yang menuju kalimalang surut, sedang sungai Citarum yang menghulu ke laut Karawang utara meluap hingga akhirnya seluruh Karawang mengalami banjir.

Anehnya selama banjir ini, kapasitas hujan yang terjadi tidak begitu besar dan jarang terjadi. Jadi banjir ini dikarenakan limpahan air sungai Citarum yang begitu besar. Karena Bandung dan purwakarta katanya hujan yang lebat secara terus menerus tiada diberi jeda waktu.

Tak sadar air mata ini meleleh, satu demi satu jatuh membasahi pipi. Karawang kini seperti sudah tak jelas lagi rimbanya. Semuanya hanya mengharap menyelamatkan nyawa. Sedang materi ? kami hanya bisa pasrah, semuanya sudah takdir dari yang Maha Kuasa. Entahlah, banjir ini akan menelan waktu sampai kapan ? Yang jelas air Citarum setiap jam selalu naik, tak ada tanda-tanda menyusut sedikitpun.
Read More..

Bekasi Bersih Partisipasi Blogger , Bagaimana dengan Karawang ?

Saturday, March 20, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Bekasi bersih tanpa banjir, bagaimana dengan karawang. Lewat partisipasi blogger, semoga Karawang tidak banjir lagi.

"Banjiiiiir !" Teriak orang-orang di sana-sini. Masjidpun ikut menyuarakan siaga banjir. Alhamdulillah kami hampir saja terkena banjir.

Lain dengan tetangga kami yang beda blok meski masih satu perumahan dengan kami. Banjir rupanya tidak dapat memihak, ia memuntahkan kemana ia suka. Menggelepar begitu saja tanpa peduli sedang apa penghuninya.

Setelah banjir usai, air mata merebak di sana sini. Segala perabot rumah tangga tersiram lumpur dengan aroma yang begitu tajam. Kasur tak dapat ditiduri, karena tergenang air sekian lama. Lantai menjadi kotor yang sangat sulit untuk dibersihkan.

Anak-anak menangis dan rewel, karena tak bisa nyaman dengan sisa lumpur yang menyeruak dimana-mana. Semua serba sibuk, tak ada kegiatan selain membersihkan sisa-sisa kotoran bekas lumpur yang menempel.

Sebisanya aku membantu mereka, mengangkat barang-barang untuk segera dibersihkan atau mencuci perabot rumah lainnya. Aku mencoba mengurangi beban yang mereka sedang hadapi.
Read More..

Powerfull Smoothies

Monday, March 15, 2010
Powerfull Smoothies
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Tak punya banyak waktu buat menyiapkan sarapan, bikin saja smoothies yang satu ini. Pisang, strawberry plus oatmeal bakal memberi pasokan kalori hingga siang!

Bahan:
2 buah pisang Ambon, kupas, potong-potong
150 g strawberry segar, bersihkan
250 ml susu kedelai/susu low fat
4 sdm madu
2 sdm oatmeal

Cara membuat
:
Masukkan semua bahan dalam mangkuk blender.
Proses hingga lembut.
Tuang ke dalam 2 gelas saji.
Sajikan segera.
Untuk 2 gelas

Read More..

Bekasi Bersih Partisipasi Blogger

Saturday, March 13, 2010
Bekasi Bersih Partisipasi BloggerKumpulan Cerpen Siti Arofah. Pencanangan Bekasi Bersih Partisipasi Blogger lahir dalam sebuah acara Amprokan blogger yang diadakan oleh Blogger Bekasi. Bekasi Bersih Bekasi Sehat , sebuah selogan yang ingin diraih oleh kota penyangga Jakarta di bagian timur ini. Oleh karenanya saya sebagai blogger ingin berpartisipasi untuk sama-sama mewujudkan impian kota Bekasi ini agar Bekasi bersih berkat pastisipasi blogger juga.

Sebagai makhluk hidup yang diberi akal, kita perlu menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar sehat, tidak bau, tidak menyebarkan kotoran dan menularkan penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain.

Kebersihan lingkungan meliputi kebersihan tempat tinggal, tempat bekerja dan berbagai sarana umum. Membersihkan jendela dan perabot rumah tangga dari debu-debu yang menempel, menyapu dan mengepel lantai, mencuci peralatan masak dan peralatan makan, membersihkan kamar mandi serta membuang sampah ke tempatnya adalah contoh dari kebersihan tempat tinggal. Sedangkan contoh dari kebersihan lingkungan adalah menjaga kebersihan halaman dan selokan dan membersihkan jalan di depan rumah dari sampah.

Mungkin dengan menambah penanaman pohon di ruas-ruas jalan akan menyegarkan suasana kota yang keras dan panas. Dengan penghijauan kota dirasakan sebagai paru-paru kota, menambah estetika dan penyerap debu dan partikel pencemar. Penghijauan juga dapat memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress. Udara di sekitar tanaman menjadi terasa segar.

Mungkin kita hendaknya saling mengingatkan betapa pentingnya manfaat dari kebersihan. Kita hendaknya sadar akan apa yang akan kita perolah jika kita selalu menjaga kebersihan. Sehat dan dijauhkan dari penyakit adalah manfaat utama dari menjaga kebersihan.

Oleh karenanya, Bekasi sebagai salah satu kota yang ingin menjadi kota mandiri berupaya untuk menjadi kota bekasi bersih bekasi sehat. Mari kita dukung sepenuhnya dari ajakan Bekasi ini, agar diikuti oleh kota-kota lainnya di Indonesia.
Read More..

Menangisi Sebuah Cinta

Friday, March 12, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Kali ini aku tak mampu lagi membedakan antara rasa benci dan cinta. Seolah keduanya hanya dibatasi oleh sehelai benang yang sangat tipis sekali. Terkadang rasa cinta dan sayang itu hadir menyelimuti diri mengenang masa-masa indah dulu yang pernah kami reguk bersama. Namun tiba-tiba saja rasa cinta ini berubah menjadi benci seketika kala teringat betapa sakitnya aku diperlakukan olehnya seperti ini. Luka batin lebih menyisakan bekas yang akan sulit untuk hilang, akan butuh waktu yang lama untuk bisa memaafkan sebuah kesalahan dari pasangan kita.

Dengan Irwan lah dulu ia yang selalu aku bangga-banggakan di depan keluargaku. Tubuhnya tegap dengan postur tubuh yang lumayan tinggi seperti atlet. Jika berjalan tampak bahu-bahunya sejajar karena latihan aerobik yang telah dijalaninya beberapa tahun belakangan ini. Senyumnya begitu menggoda, tak heran jika ABG pun doyan menggodanya. Ah, jika saja aku wanita bertype pencemburu, mungkin sudah ribuan kali aku harus marah padanya lantaran begitu banyak yang mencoba menggodanya di depan bola mataku sendiri. Tapi Irwan selalu meyakinkan diriku, bahwa cintanya tetap hanya untukku seorang. Rasa cinta bisa membutakan mata hati kita, menelantarkan seribu alasan untuk dapat tetap memilih Irwan sebagai tempat terakhirku berlabuh.

Dulu cinta Irwan begitu menggebu-gebu padaku. Menderu-deru bagai deru ombak laut yang tak pernah padam diterpa riuhnya angin samudra. Dia begitu lihai merebut hatiku. Padahal dulu, begitu banyak laki-laki selain Irwan yang jatuh hati padaku. Tapi memilih Irwanlah kata hatiku. Aku sampai terpedaya oleh bujuk rayunya, aku begitu percaya terhadap segala bualan cinta Irwan. Hingga akhirnya kami merajut kasih dalam sebuah mahligai rumah tangga.

Begitu buah cinta pertama kami hadir ditengah-tengah kehidupan kami yang masih dinaungi oleh percikan kehangatan cinta kami berdua, Irwan menyuruhku untuk berhenti bekerja. Irwan berharap agar aku bisa memberikan perhatian yang penuh untuk anak kami. Meski saat itu karierku sedang merambah, namun kusadari, anak adalah segalanya bagiku. Aku merasa cukup dengan uang yang diberi dari keringat suamiku sendiri. Akhirnya kujalani hidup ini untuk membesarkan anakku dengan tanganku sendiri. Sebuah pilihan yang mempertaruhkan segala yang telah kumiliki selama ini.

Saat itulah, ternyata Irwan hanya mencari-cari alasan agar ia dapat melenggang bebas tanpa diketahui oleh aku. Irwan ternyata punya selingkuhan di kantor. Dan berita ini baru kudengar setahun setelah aku berhenti bekerja dari Nina, teman sekantorku dulu yang pernah menjadi sahabatku. Aku menangisi kenyataan ini. Begitu pahit teramat sangat harus kutelan mentah-mentah berita yang baru kudengar ini. Mengapa Irwan begitu tega menyakiti hatiku dan terutama hati Cyntia, anak kami satu-satunya. Dan wanita seligkuhan itu, lagi-lagi aku tak percaya, ia adalah temanku sendiri. Apakah tak pernah terpikir dari dirinya, bagaimana jika dia sedang berada di posisi aku ? Mengapa harus mengganggu rumah tangga kami yang awalnya penuh ketentraman ? Aku kembali menangis, jika harus selalu mengingat dan mengingat tentang apa yang sedang terjadi pada rumah tangga kami.

Sering aku dapati di kantong bajunya beberapa tissue dengan bekas lipstick. "Siapa lagi kalo bukan milik seorang wanita" batinku memerangi kegundahan ini. Aku sama sekali tak pernah menanyakan milik siapa tissue itu. Kubiarkan Irwan bebas melakukan apa yang dia kehendaki, meski batinku harus berperang melawan sakit yang tiada terperi. Aku hanya mampu menjadi wanita yang rapuh. Sesaat aku begitu tegar, tapi kemudian menangis lagi. Hanya itulah sebatas yang bisa aku lakukan. Seperti wanita-wanita cengeng lainnya, yang hanya mampu menangis tanpa bisa berbuat apapun untuk membela dirinya. Tubuhku kian hari digerogoti oleh kerapuhan hati. Semakin hari berat badanku selalu berkurang. Dan Irwan sama sekali tak punya hati. Mungkin cintanya telah padam untukku. Aku seperti menjalani hidup dengan terseok seok, yang mengemis untuk sebuah cinta dari Irwan untukku dan juga untuk anakku.

Aku percaya, dalam setiap proses hidup pasti kita mendapat ujian dari sang Illahi. Dan aku memilih diam, mengikuti apa kemauan Irwan, suamiku. Meski harus kujalani hidup penuh dengan cinta semu belaka dari suamiku sendiri.
Read More..

Teh Jahe Lemon

Sunday, February 28, 2010
Teh Lemon Jahe
Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Jahe memiliki zat yang membuat tubuh lebih segar dan lemon baik untuk mengurangi gejala flu atau tidak enak badan. Buat minuman ini saat merasa tak enak badan atau ingin menambah semangat. Berikut resepnya dan semoga bermanfaat.

Bahan:
2 kantung teh jahe
2 sdm perasan lemon (sekitar setengah buah lemon)
2 sdm madu
2 gelas air panas
Potongan lemon

Cara membuat:
1. Taruh kedua kantung teh jahe tadi di dalam mangkuk. Tambahkan perasan lemon dan madu.
2. Tuangkan air panas di atas bahan-bahan tadi dan biarkan meresap selama 10 menit. Biarkan menghangat.
3. Tuangkan teh ke dalam 2 gelas sedang berisi es batu.
4. Tambahkan potongan lemon

Read More..

Demi Sebuah Cita

Wednesday, February 24, 2010
Perpisahan ini membuat aku menjadi takut. Takut menjadi seorang diri tanpa kekasih, dan yang paling mengerikan bagiku adalah takut kehilangan kekasih. Kekasihku mengambil kuliah ke Negeri paman Sam. Sedang aku memilih untuk kuliah di Jakarta. Kedua orang tuaku tidak mengijinkan aku untuk kuliah bersama Tian, kekasihku di negeri yang katanya banyak dinanti setiap insan. Mungkin orang tuaku benar adanya, oleh karenanya aku lebih manut apa yang dikatakan oleh orang tuaku. Meski harus kutelan rasa kesendirianku ini bertahun-tahun lamanya.

Awalnya cinta kami terbilang tanpa aral melintang. Tian begitu mencintai aku. Demikian juga dengan aku. Namun kami tetap saling menjaga batas, bahwa ia masih berstatus pacarku, bukan suami. Kami saling berpacu meraih mimpi, mendapat gelar, bekerja dan setelah itu baru menikah. Aku mengenal Tian, di sebuah bimbingan belajar di Jakarta. Waktu itu, ia sering menawarkan aku untuk naik Honda Jazznya, mengingat kami sama-sama tinggal di Bekasi. Sekali dua kali aku sering mengacuhkannya. Mungkin karena Tian tak pernah lelah menawarkan padaku, lama-lama aku luluh juga. Dia memang anak baik. Buktinya di dalam mobil ia terkesan biasa-biasa saja padaku, ia hanya ikhlas mengantar aku tanpa ada pamrih sedikitpun.

Hari demi hari telah kami lalui, dan kami semakin akrab. Dua bulan kemudian, aku sudah tak canggung lagi bersamanya. Tapi belakangan Tian agak sedikit bersikap aneh. Kala berbicara dan setiap ku tatap matanya, ia tampak seperti gugup. Aku sama sekali tak memperdulikan sikap anehnya itu. Semuanya baru ku ketahui saat ia tiba-tiba saja mengajakku berbicara serius. Mobilnya yang mulanya bergerak di dalam tol, tiba-tiba merapat ke arah jalur istirahat. Di dalam mobil itu, ia katakan jika dia ingin aku sebagai kekasihnya. Aku yang sama sekali belum pernah punya pengalaman apapun tentang cinta, tiba-tiba saja aku meng-iya-kannya. Tianpun sampai terheran-heran, dia bilang, "biasanya cewek kalo ditembak suka mikir dulu, tapi kamu langsung iya". Seketika itu mukaku memerah, seakan baru menyadari kepolosanku.

Semenjak itu kami menjalin kasih. Tapi aku sama sekali tak diberi ruang waktu oleh Mama, karenanya, aku sama sekali tak bisa berlama-lama dengan Tian. Mungkin aku hanya bisa makan bareng di rumah makan cepat saji, dan itupun dengan tidak berlama-lama. Maklum, aku tak mau menyakiti hati Mama. Untungnya Tian oke-oke aja dengan aku yang seperti ini. Akupun jadi semakin sayang padanya. Ah, aku bahkan terlalu sayang padanya.

Setengah tahun sebelum lulus SMU, lagi-lagi Tian mengajakku ngobrol di pinggir tol. "Ifa, orang tuaku menyuruhku kuliah di Amerika. Itu artinya kita akan berpisah untuk sementara." ia menunduk seperti muram. Aku sama sekali tak bergeming, mulutku serasa kelu tak tau harus mengucapkan apa untuknya. Mungkin karena aku terlalu shock akan kata-kata Tian. Rupanya Tian memberiku keluasaan ruang batinku. Mobilnya melaju kembali.

Aku tau, dan aku seharusnya mau mengerti. Dengan membiarkannya pergi lepas dariku seperti sebuah tindakan bodoh yang berlalu begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Tapi, apakah aku harus merelakan kepergiannya demi meraih sebuah asa dan harapan yang bahagia nantinya ? Aku benar-benar bimbang. Antara iya dan tidak sepertinya terlihat samar-samar bagiku. "Mungkin akan lebih baik Tianlah yang memilih, aku akan pasrah, apapun pilihan Tian." hati kecilku berkata lirih.

Nyatanya Tian memang ingin melanjutkan sekolahnya ke Amerika. Aku hanya bisa pasrah tak mampu untuk melarangnya. Mungkin ini jalan yang terbaik yang telah Tuhan berikan, pikirku.

Hari keberangkatan Tian tiba. Tian berangkat bersama Mama , Papa dan kedua adiknya. Aku hanya sendiri, mengingat kedua orang tuaku belum pernah tau sedikitpun hubungan kami. Saat di bandara, aku benar-benar tak mampu menutup rasa kesedihanku. Berkali-kali air mata jatuh membasahi pipiku. Kala itu, aku ingin teriak sekuat-kuatnya, " Aku tak ingin berpisah darimu, Tian ". Tapi lagi-lagi, kata-kataku membeku terkulum dalam suara bising pesawat yang sedang take off. Saat Tian sudah ingin memasuki areal yang tak diperbolehkan oleh para pengantar, Tian menghampiriku. "Ifa, aku cinta kamu. Kamu tunggu aku ya !" kata-katanya menambah perih aku. Aku hanya menunduk, sepertinya enggan melihat mata indahnya sebagai perpisahan. Tian mencoba menghapus air mataku, " Ayo katakan Iya, kamu mau menunggu aku, Fa !". Akhirnya aku mengangguk tanpa ada sedikitpun kata untuknya. Tianpun pergi dengan senyum manisnya yang mungkin akan kuingat sebagai pengobat rindu.

Aku harus merelakan kepergian Tian, meski semuanya itu terasa pahit bagiku. Aku tak tau antara Tian ataukah aku yang dapat menjaga cinta ? Tuhanlah yang Maha berencana ! Terbayang jika aku harus menjalani hari-hariku tanpa Tian.
Read More..

Sandwich Goreng

Sunday, February 21, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
sandwich goreng

Bahan :
20 ptg roti tanpa kulit
1 kaleng kecil corned beef (kurang lebih 175 gr)
2 kuning telur
75 gr bawang bombai, cincang
1/2 sdt merica halus
1/2 sdt garam

Untuk Menggoreng :
2 putih telur
4 sdm air
3-4 sdm tepung maizena/sagu
putih telur, air, tepung maizena, sagu di aduk
75 gr wijen, cuci, jemur kering untuk pembalut
minyak goreng secukupnya

Cara Membuat :
Tumis bawang bombai dengan 2 sdm margarin sampai bening, masukkan semua bahan lain, aduk rata; angkat, dinginkan. Olesi tiap permukaan roti dengan adonan corned tebal kira-kira 1cm, tutup dengan sepotong roti, tekan supaya melekat. Potong 4 membentuk segitiga.

Celupkan tiap roti lapis pada kocokan telur, gulingkan pada wijen, goreng dengan minyak panas sampai kecokelatan

Read More..

Sebuah Nyawa untuk Ibu

Friday, February 19, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Aku benar-benar sedih. Bi Inah mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumahku. Padahal ia adalah satu-satunya temanku di rumah. Kedua orang tuaku sibuk bekerja mencari nafkah yang katanya guna memenuhi kebutuhan hidupku. Mereka berangkat dari jam enam pagi dan baru kembali ke rumah pukul 08 malam.

Bi Inah pembantu yang luar biasa bagiku. Ia begitu perhatian padaku, tidak seperti pembantu - pembantu yang lain yang kerap berbuat hal-hal yang tidak menyenangkan pada anak majikannya yang sering aku lihat pada siaran-siaran berita di televisi. Dan aku hampir menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Bi Inah sama sekali tak pernah marah, aku tahu jika ia kesal ia tumpahkan segala kemarahannya ke belakang. Dan jika sudah demikian, buru-buru aku meminta maaf padanya, lalu bi Inah memelukku sambil rambutku diusap-usapnya. Maklumlah, aku adalah seorang bocah lelaki kecil yang tengah berusia 10 tahun. Wajar saja jika aku agak sedikit nakal, disamping aku adalah anak semata wayang. Entahlah, aku belum mengetahui secara pasti mengapa ayah dan ibu belum memberiku seorang adik sebagai teman.

Aku tau, jika bi Inah teramat berat meninggalkan aku, tapi bi Inah tidak mampu memilih lagi, ia harus segera mengurusi suaminya yang tiba-tiba saja sakit keras. Sekarang, teramat susah untuk mencari pembantu yang memiliki kualitas sebaik bi Inah. Mungkin bisa saja orang tuaku mendapatkan penggantinya, tapi paling tidak mereka bertahan hanya dalam hitungan bulan. Tapi sampai hari menjelang keberangkatan bi Inah, kedua orang tuaku belum juga mendapatkan pengganti bi Inah. Bi Inahpun berangkat juga akhirnya meski dengan hati terpaksa. Berkali-kali ia memeluk dan menciumku. Akupun menangis, meraung-raung seakan tak merelakan kepulangan bi Inah.

Malam harinya, ibu menemaniku. Ibu mengharapkanku menjadi anak yang mandiri tanpa pembantu. " Semoga kita cepat mendapat pengganti bi Inah ya." Kata-katanya membuatku sakit. Bagaimana mungkin aku harus berada di rumah sendiri ? Tapi, mau tak mau, aku harus melakukannya. "Iya, bu. Aku coba dech." meski sejujurnya tak mau, tapi aku takut ibu sedih. Aku benar-benar tak ingin menyusahkannya. Aku tau, jika ibu menyayangiku. Meski sesibuk apapun dirinya, ia selalu menyempatkan waktunya buat aku. Kadang ibu mau ku ajak bermain monopoli atau ular tangga, ia juga mau melihat hasil lukisanku. Sesekali saat aku merasa takut, ibulah yang menemaniku tidur di kamar sambil membacakan buku cerita sampai aku terlelap tidur.

Sehari dua hari, aku telah terbiasa ditinggal oleh kedua orang tuaku. Menyendiri ditemani sebuah televisi 24 inch berlayar datar dengan dilengkapi home theater untuk sementara mampu melupakan kesendirian. Menunggu kehadiran kedua orang tuaku pulang dari bekerja merupakan waktu yang sangat kutunggu-tunggu. dan setelah dua minggu, tiba-tiba aku pergi kesebuah gudang. Gudang itu terletak di belakang rumahku yang terpisah dari rumah. Ku temukan sebuah kotak kayu yang telah terbasut oleh debu-debu yang sangat tebal. Aku berusaha meniup debu-debu itu, menerka apa yang ada dalam kotak itu. Terpasung sebuah tulisan "a mistery, Do not open this box". Meski aku tahu apa arti tulisan itu, aku tetap ingin membukanya. "Yess, kotak itu berhasil kubuka !" gembira sekali aku setelah berhasil membuka kotak yang membuat aku penasaran. Ternyata isinya hanya sebuah boneka. Akan tetapi, wajah boneka itu sedikit berbeda dengan layaknya boneka-boneka lainnya. Ia tampak menyeramkan. Aku seperti terhipnotid, aku membawa boneka itu menuju rumah kami.

Segera aku memasukkan boneka itu ke dalam mesin cuci. Sambil menunggunya selesai, aku menonton serial spongeBob di televisi. Selang setengah jam telah berlalu, aku meraih boneka yang telah kering dan cukup bersih. Ia ku letakkan di atas lemari belajarku.

Malamnya aku bermimpi. Boneka itu bisa berbicara padaku dalam mimpi itu. " Kamu tidak akan kesepian lagi, karena ada aku !" cuma itu yang dia katakan. Akupun terbangun, membuat rasa penasaranku kian menderu-deru. "Ah, cuma mimpi, " sergahku seolah tak percaya pada mimpi.

Anehnya, setelah aku menemukan boneka itu, beberapa teman-temanku mati dengan tubuh mengenaskan dan tanpa sebab yang jelas. Aku mulai berpikir, dan mencoba merunut apa yang telah terjadi. "mengapa teman-temanku bisa mati setelah mereka mengolok-ngolok aku ?" pertanyaan ini membuatku mabuk, sebab aku tak tau jawabannya. Akupun tertidur karenanya.

Suatu saat ibu marah padaku. Aku lupa mengunci pintu. Ibu mendapati diriku di depan televisi sedang tertidur pulas. Aku mengerti aku salah. Dan aku meminta maaf padanya. Dan malamnya, aku bermimpi. Aku melihat boneka menyeramkan itu hendak membunuh ibuku. "Hei, jangan kau bunuh ibuku !"
Boneka itu berbalik arah menuju diriku, "tapi dia telah menyakiti hatimu ".
" Jangan, biar bagaimanapun dia ibuku, aku sangat sayang padanya. "

Ibu tampak sangat ketakutan sekali. Ia jatuh tak berdaya di sebuah lantai di serambi belakang rumah kami. Dan ketika boneka itu sudah hampir mendekati ibuku, aku segera menghalau pecahan gelas yang dipegang oleh boneka itu. Pecahan gelas itu mengenai dadaku. Darah segar mengalir deras dari dadaku yang terluka. Ibuku segera memangku diriku, ia menangisi apa yang telah terjadi pada diriku. "Nak, bertahan Nak. Kuatkan dirimu." Tapi Tuhan berkata lain, darah yang mengalir rupanya tak mau berhenti. Tiba-tiba aku menghembuskan napas untuk yang terakhir kali dalam pelukan ibuku. Seketika itu ibuku berteriak keras sekali, " Anakku . . . . . . . . . !"
Read More..

Hidup Kedua Kali

Sunday, February 14, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah .Aku tergolek lemah, setelah kuminum racun baygon beberapa tenggak. Selang beberapa menit mulutku berbuih penuh busa putih. Saat itu kurasakan seperti meregang nyawa. tubuhku serasa lumpuh, tiada sedikitpun daya untuk bergerak, hanya mampu melihat yang tersisa. Air mataku mengalir begitu saja, menangisi apa yanng telah terjadi. Mungkin benang-benang penyesalan merajut dalam angan khayalku.

Tiba-tiba saja, Safa, anakku satu-satunya datang. Berkali-kali ia memanggil namaku. Aku yang tak berdaya tak mampu berucap sepatah katapun. "Mama, mama kenapa ? Bangun Ma " , teriaknya sambil menangis. Kembali mataku hanya menatap atap-atap langit yang mulai pudar terboreh oleh bocoran dari genteng-genteng rumahku.

Sepertinya aku sudah berada di depan ajal, pikirku. Kulihat Safa tampak berlari keluar. Seketika itu banyak para tetanggaku berhamburan menuju aku yang sedang terbaring lemah dengan mulut yang dipenuhi busa.Aku dilarikan ke rumah sakit. Waktu itu aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Dan tiba-tiba saat di perjalan aku tak bisa membedakan mana kehidupan nyata dan mana yang bukan. Anehnya aku bisa melihat semuanya yang berada di dalam sebuah mobil ambulance sedang menolong aku. Berapa kali kusapa mereka, tapi mereka enggan membalas sapaku. Aku baru menyadari jika mereka tak melihat keberadaanku. Di saat yang bersamaan, Aku melihat diriku sendiri yang sedang tertidur di sebuah dipan milik ambulance. Aku sempat menangis, kusadari itu jasad diriku yang sesungguhnya. Perasaan menyesal datang bertubi-tubi. Aku berusaha meraih jasadku. "Ayo bangun, ayo bangun Rita !", pintaku sambil ku coba mengayunkan jasadku, namun semua usahaku bagai sia-sia. Aku seperti sebuah bayangan semu yang tak mampu menyentuh sesuatu yang nyata.

Aku melihat Safa anakku sedang dipangku oleh Nina, tetangga sebelah rumahku. Mata Safa tampak merah sembab. Tampak air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Sesekali beberapa kata keluar dari mulutnya. Dan yang kudengar selalu kata "Mama.......... jangan tinggalkan Safa, Ma." Nina memeluknya erat-erat, seakan ia memahami hati dan ingin menenangkan Safa anakku. " Ah, maafkan aku anakku, mama terlalu bodoh melakukan hal yang tak pernah mama pikirkan dahulu. " tiba-tiba perasaan sedih tiba dalam alam pikiranku.

Ketika ambulance sudah mendekat di pintu rumah sakit, pintu ambulance segera dibuka. Jasadku didorong menuju ruang gawat darurat. Di situ tampak kulihat begitu banyak orang-orang mengiringi kasur dorong yang sedang mendorong jasadku. Dalam rombongan itu, aku melihat suamiku. Baru kali ini kulihat muka suamiku berlumuran air mata. Sesaat aku begitu terharu dengan suasana ini. Tapi, lagi-lagi aku teringat akan berita perselingkuhan suamiku. Amarahku kembali membuncah. Aku benar-benar marah dan sakit hati karena telah dihianati oleh suamiku yang dulu pernah mencintaiku. Oleh karenanya kutempuh jalan yang teramat bodoh ini. Meminum racun karena berharap semuanya kusudahi. Tapi, kini. Aku begitu menyesal. Semuanya tak bisa hilang begitu saja. Aku harus menebus dosa besar ini di hadapan Sang Illahi. Dan akulah orang yang paling merugi, karena sudah kalah di dunia, di akhirat menebus dosa. Tapi semuanya tekah terlambat. "Maukah Tuhan mengembalikan lagi aku ke alam dunia ?" aku kembali menangis, hanya ini yang kumampu.

Aku mendekati jasad suamiku. Kucoba menatap matanya yang sembab. Sesekali ia usap pipinya yang dijatuhi bulir-bulir air matanya. "Ma, kenapa sampai hati kamu berbuat seperti ini ? Apa Salahku ? Aku begitu teramat mencintaimu !" Samar-samar kudengar kata-katanya menyentuh aku. "Kuatkan jiwamu Ma, Ayo kembalilah pada aku dan Safa anak kita ". Aku kembali mematung. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba aku dipenuhi rasa mual yang tak terelakkan lagi.

Aku muntah. Muntahanku begitu banyak dengan aroma baygon yang teramat pekat. "Alhamdulillah. . . . ", berkali-kali kudengar para suster yang sedang berusaha mengobatiku mengucap syukur atas apa yang telah terjadi pada diriku. Mungkin karena begitu shock dan lemah, aku tertidur lagi.

Saat mataku kubuka perlahan-lahan, kulihat suamiku dan Safa sedang tertidur di ranjang pembaringanku. Perlahan ku usap rambut suamiku. Suamiku terbangun. "Ma, jangan ulangi lagi perbuatan ini ya Ma ! Kami semua sayang Mama" Ia segera memelukku. Tak beberapa lama lagi, Safa terbangun. "Safa, terima kasih ya, Kamulah yang menolong Mama " , ucapku lirih. Kami sama-sama berpelukan dengan berurai air mata. Dalam hati aku berucap hamdallah, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya.
Read More..

Maukah Sekali Saja Kamu Memuji Aku ?

Thursday, February 4, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah.Sudah hampir delapan tahun ini aku hidup bersamanya dalam sebuah bahtera pernikahan yang sakral bagiku. Kehadiran sepasang anak yang Tuhan titipkan kepada kami, menemani hari-hariku. Mereka seperti pengganti kesepianku. Aku percaya bahwa Tuhan tak akan memberi banyak kesedihan pada hamba-hambanya. Seharusnya kita jangan selalu mengeluh dan mengeluh. Masih banyak karunia Tuhan yang lain yang patut kita syukuri. Dan Tuhan pasti akan membalas apa yang telah kita syukuri.

Akhir-akhir ini aku sudah merasakan hal yang lain dari diri suamiku. Seolah pernikahanku terombang-ambing oleh ketidak pastian sikap suamiku padaku. Sering intonasi kata-katanya sudah tak tertata lagi. Entahlah, apakah aku terlalu serakah padanya ataukah ini adalah benar-benar kegundahanku sendiri ? Yang jelas hati ini selalu tercabik-cabik kala dia melontarkan sebuah kata untukku.

Suamiku belakangan selalu sibuk dan sibuk. Meski Aktifitas kerjanya hanya berkutat hingga jam 4 sore, namun kegiatannya di luar itu banyak sekali. Kamis ada pengajian, sabtu bulu tangkis dan minggu ada pengajian selama 3 - 4 jam. Di luar itu setiap hari atau terkadang dua hari sekali, entah itu di saat pagi atau menjelang malam ia mengurusi dan mengontrol usaha sampingannya. Praktis, aku dan anak-anak sering tak pernah merasakan kehadiran sosoknya itu.

Aku baru menemukan sebuah kalimat yang begitu menohok kerongkonganku. Sebuah kalimat yang seharusnya kubaca sebelum aku meng-iya-kan suamiku untuk membuka suatu usaha. " Jika anda ingin memiliki bisnis sampingan, itu berarti anda harus meng-ikhlaskan beberapa waktu anda bersama keluarga". Hingga kini aku begitu menghargai waktu. Bagiku uang bisa dicari kapan saja, sedangkan waktu tak akan pernah berulang kembali.

Sesekali malaikat dan bidadari kecil ku mengeluh, mereka protes pada kedua orang tuanya. "Ma, kapan sih Abi pulangnya ? koq pergi-pergi terus ? kan udah ada yang jaga ?" celoteh Si Kakak. "Sabar ya, Abi kan cari uang untuk bayar sekolah Mas", aku berusaha menenangkan kegundahan hatinya, meski sejujurnya aku juga menantinya. Lucunya lagi adiknya ,"Mama sih terlalu banyak masak, jadinya aku nangis". Ku akui, di pagi hari aku sibuk memasak, menyiapkan sarapan dan makan seharian untuk kami sekeluarga. Meski sesibuk apapun aku berusaha memandikan kedua anakku agar mereka merasakan tanganku. Di pagi hari, sesekali menggendongnya sambil memperhatikan kata-katanya atau sekedar memeluknya dengan sebuah kecupan sambil berucap "wangi ya, udah cantik sih, kan udah mandi". Semua itu berharap si kecil mau kutinggal kerja tanpa menangis. Sepulang kerja aku memasak lagi untuk persiapan memasak di pagi hari. Hingga maghrib berkumandang, aku baru bisa bersama anak-anak.

Jika suamiku sedang tak ada di rumah, kadang aku merasa lelah. Tak kupungkiri Anak-anak jaman sekarang nakalnya beda. Tapi pantaskah aku berkeluh kesah, sedang di luar sana masih banyak pasangan yang mendambakan dan menanti-nanti buah hatinya hadir ? Harusnya aku selalu ingat ini. Tapi lagi-lagi, aku masih belum bisa melapangkan dada. Bagiku seorang wanita karir sungguh teramat mememeras keringat jika pembantunya hanya ada di saat aku bekerja. Jika aku pulang ke rumah, pembantuku juga pulang.

Mungkin untuk anak-anak aku masih bisa sabar menghadapinya. Tapi, abinya ? sulit sekali rasanya aku berucap. Etikad yang sangat baik, jika suamiku mendalami agamanya. Saat ia di rumah, lebih sering ia berada di dalam kamar, menyendiri, seolah ia tengah asyik dengan dunianya sendiri. Entah itu dia tertidur karena lelah, atau menghafal surat Al Qur'an. Anak-anak asyik bermain sendiri sambil menonton TV di kamar tengah. Sedang aku sibuk di belakang memasak. Haruskah ia melalaikan keluarganya ? Apakah dia tak menyayangkan waktu untuk keluarganya ? Pertanyaan ini menyesakkan dadaku akhir-akhir ini.

Aku yakin semua wanita itu perasa, meski sekeras apapun wataknya. Atau mungkinkah aku orang yang sensitif ? Sampai saat ini aku tak tau harus bagaimana menghadapi pasangan yang pendiam yang hanya berbicara seperlunya. Seolah mulutku terkungkung rapat, menutup segala alam kreatifitasku. Kadang aku merasa serba salah, di saat aku merasa care, ia malah marah. Jika sesekali ia bicara, terkadang membuat hatiku teriris dan selalu kuingat dan kuingat lagi. Pernah suatu ketika dia katakan " ga' mungkin kamu deh, kamu kan wanita durhaka." Masya Allah, sekali ini aku harus menelan ludahku, mencoba menggulung kemarahanku kali itu.

Pernah aku katakan padanya "Dalam hidupku bersamamu, aku belum pernah sekalipun mendapat pujian". Ia bilang "memangnya kamu untuk dipuji-puji ?" Aku yakin kata-katanya sungguh-sungguh, ia mengucapkan kata-kata itu sambil menatap mataku. Sedang aku, karena tak kuat ku alihkan pandanganku ke tempat yang lain. Meski demikian, lamunanku tetap melayang, mengulang-ngulang kata-kata suamiku tadi. Hatiku seolah pecah berkeping-keping mendengarnya. Bagaimana mungkin ia mampu mengatakan itu untuk aku istrinya ? Apakah aku terlalu serakah jika ingin meminta sebuah pujian ? Berkali-kali kuucap istighfar. Mungkin begitu banyak dosa yang harus kutebus dengan cara seperti ini. Pernah aku melihat film cinta remaja. seorang sahabat menyarankan sahabat yang laki-laki untuk bersikap romantis saat PDKT dengan seorang cewek, ia bilang "kamu pujilah dia ! cewek kan senang dipuji".

Aku bahkan merasa lebih sering dicaci oleh suamiku sendiri. Bukankah itu menyakitkan ? Tegakah ia seperti itu pada pasangannya sendiri ? Tak bisakah ia menjaga sedikit saja perasaan pasangannya ? Lagi-lagi kupikir aku terlalu serakah. Ataukah aku terlalu larut dalam setiap yang kutemui ? Hingga kini kuredam semua dalam tangis khayalku. Aku percaya Tuhanlah yang masih menyayangiku. Tuhan begitu menganggapku teramat kuat untuk menjalani hidup yang seperti ini.
Read More..

Penulis : arofah2008@gmail.com