<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261</id><updated>2011-10-22T16:50:06.085-07:00</updated><category term='hidup'/><category term='mimpi'/><category term='pengemis'/><category term='Online'/><category term='hujan'/><category term='moment'/><category term='ayah'/><category term='cinta'/><category term='kenangan'/><category term='masakan'/><category term='selingkuh'/><category term='Degra Simba'/><category term='rumah tangga'/><category term='anak'/><category term='horor'/><category term='Bekasi Bersih Partisipasi Blogger'/><category term='suami'/><category term='Resep masakan'/><category term='Karawang Banjir'/><category term='Blogger Karawang'/><category term='asa'/><category term='pernikahan'/><category term='istri'/><category term='Dari Redaksi'/><category term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>kumpulan cerpen</title><subtitle type='html'>kumpulan cerpen remaja, kumpulan cerpen keluarga, cerpen motivasi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>49</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-5149831474667715220</id><published>2010-04-24T01:10:00.000-07:00</published><updated>2010-04-24T01:12:42.421-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kenangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hidup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah tangga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Di Antara Bimbang dan Ragu</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Sungguh indah, pantai Nias ini. Dengan hamparan pasir putih nan indah, hijaunya nyiur di pantai, tiupan angin yang mendayu-dayu pakaian yang kukenakan, lanscape sunset yang mengingatkanku akan kenangan masa lalu aku bersama suamiku, semuanya lengkap tertata di depan mataku kali ini. Ya, aku seorang diri di sini, berharap berlari menjauh dari semua masalah yang kini sedang menghantui diriku. Padahal aku tahu, suamiku masih berharap aku kembali dalam dekapan hangatnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meski aku berusaha melupakan sejenak permasalahan ini, tetap saja permasalahanku begitu angkuh hadir dalam bayang-bayang ingatan ini. Indahnya pantai Nias tak juga bisa merubah akan kegundahan hatiku. Air mata ini meleleh jatuh satu demi satu tak terelakkan lagi, saat ku teringat apa yang sedang terjadi antara aku dan Alexa, suamiku. Haruskah kuhapus kenangan manis itu ? Sebuah pertanyaan yang tak pernah bisa aku jawab sampai kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dirunut ulang, kisah awal cinta kami berdua begitu indah dan kuat. Ia teramat setia bagiku. Penantiannya begitu kuat, saat dia menikahiku setelah aku menyelesaikan kuliah S1-ku di perguruan tinggi Negeri terkemuka  di Jogja. Padahal, baginya begitu mudah mencari gadis lain pengganti diriku, mengingat Alexa memiliki postur tubuh ideal dan ketampanan yang tak diragukan lagi. Apalagi, dia sudah menjadi seorang yang mapan, dengan bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan jabatan yang karriernya sedang beranjak naik. Ah, Wanita mana yang tak melirik dirinya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Jakarta dan Jogja, meski jarak memisahkan aku dengannya, cinta kami berakhir pada sebuah pernikahan yang indah. Jalinan kasih yang begitu teramat kuat selalu menyertai kehidupan kami setelahnya. Tahun-tahun pertama dan kedua pernikahan kami nampak begitu bahagia. Aku dan Alexa begitu mabuk dalam keindahan kasih yang begitu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di tahun ketiga mulailah aral yang tiada pernah aku kira sebelumnya. Kami belum dikaruniai seorang anak. Mungkin Tuhan belum mempercayakan kami, mungkin perjuangan kami belum cukup selama ini. Kegundahan ini membuatku gelisah, sekecil apapun bisa menjadi pertengkaran-pertengkaran yang sulit dihindari. Aku menjadi seorang yang sangat sensitif. Bagaimana mungkin buah cinta hadir jika kami saling bertengkar ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Alexa begitu tegar. Di setaip marahku, ia selalu menjadi pahlawan bagiku. Di pagi hari, kala aku membuka mata, semuanya telah terhidang manis di meja makan. Dari Nasi, lauk pauk dan minuman hangat semuanya sudah siap untuk disantap untuk kita berdua. Seisi rumah juga sudah rapi dan bersih. Alexa sudah mengepel lantai dengan keharuman karbol yang kami suka. Tapi, lagi-lagi aku begitu angkuh padanya, hingga wajahku masih berkerut tanpa senyuman sedikitpun. Aku masih marah ! Rupanya Alexa begitu sabar padaku. Ia sama sekali tak menyerang balik kekonyolanku. "Hayuk kita makan, sayang !" Akhirnya aku luluh juga akan panggilan sayangnya untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu malam saat kami terbaring di kamar pembaringan kami, kuberanikan diri meminta Alexa, "Gimana kalau kita angkat seorang anak yang kita ambil dari panti asuhan ?" Alexa seperti kebingungan, tampak sekali jika raut wajahnya tak menyetujui aku. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Kami saling membisu diantara pecahnya malam yang senyap. Kembali aku dalam hati yang penuh dengan ketidak pastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya aku semakin galau. Amarahku semakin membuncah, namun tak pernah mampu kulepaskan. Dada ini terasa sesak sekali. Lagi-lagi Alexa bersikap manis padaku. Akhirnya semua kuakhiri. Aku pergi meninggalkan Alexa seorang diri. Karena Alexa kuanggap tidak mau menuruti kemauanku. Mungkin aku terlalu egois, tak mau bersabar bersama Alexa. Alexa begitu sayang padaku, perhatiannya, kesetiaannya sangat jauh dibanding diriku. Teganya aku jika meninggalkannya seorang diri. Namun Egoku nyatanya lebih tinggi. Aku lebih condong mengikuti kemauan burukku. Mungkin dengan aku pergi, kita akan mampu sama-sama saling introspeksi diri. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-5149831474667715220?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/5149831474667715220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/04/di-antara-bimbang-dan-ragu.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/5149831474667715220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/5149831474667715220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/04/di-antara-bimbang-dan-ragu.html' title='Di Antara Bimbang dan Ragu'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-8450621272724757602</id><published>2010-04-16T23:18:00.000-07:00</published><updated>2010-04-16T23:22:29.804-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Rahma, Istriku</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Seketika istriku jatuh tergeletak di teras ruang tamu dalam sebuah pukulan dari tanganku. Namun setelahnya istriku sama sekali tak bergerak. Aku mencoba menyentuh wajahnya. Ia hanya diam membisu. Kucoba menepuk-nepuk pipinya, namun istriku sama sekali tak menjawab apapun. Tampak darah mengalir di dahinya. Serta merta kugendong tubuhnya yang ringan menuju ke mobil.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Bi, tolong di rumah saja ya, saya mau bawa ibu ke rumah sakit", aku hanya bicara seperlunya saja. Wajah bibi, pembantu rumahku tampak gusar, seolah ia mengetahui apa yang telah terjadi saat itu. Wajar jika ia tak berani berbuat apa-apa saat kami sedang ribut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah sakit, istriku langsung ditempatkan di UGD. Aku hanya bisa menunggu di luar ruangan. Saat-saat penantian ini membuatku tersiksa. Pikiranku melayang - layang ke sana kemari tak beraturan. Antara cemas dan takut menghantui adrenalinku. Cemas akan bagaimana nasib istriku kelak. Takut jika seandainya istriku tak tertolong, aku yang bersalah ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku menangis. Air mata ini nampaknya sangat sulit kubendung. Kenapa aku begitu tega terhadap istriku ? Aku tau, jika istriku sabar menghadapi aku yang sangat-sangat egois terhadapnya selama ini. Aku marah karena istriku memanggil aku dengan sebutan "KAMU". Padahal jauh di balik itu rupanya istriku telah memendam rasa kecewa terhadapku. Aku pernah menyamakan dirinya sebagai pelacur, karena di rumah ia mengenakan pakaian yang seksi. Sedang aku tak menyukainya karena kakak perempuanku sedang menginap di rumah kami. Aku sadar seharusnya aku tak menyebutnya atau menyamakan dirinya seperti itu. Tapi aku kelepasan bicara. Tapi mengapa ego ini menyelimuti aku, hingga tak ada kata maaf sedikitpun untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga sering melontarkan kata-kata yang seharusnya sangat tak layak untuknya. Aku sering menyebutnya sebagai Tolol dan bodoh. Padahal berkali-kali istriku mengingatkan aku, "Mencela seorang muslim merupakan kefasikan" dan ia juga bilang, " mengapa kata-kata itu berani ia ucapkan untuk orang yang akan menemani hidupnya ? mengapa dengan orang lain aku masih bisa menjaga ?" . Ah, Mengapa aku tak mau mendengar kata-katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertata lagi kenagangan-kengan manis, saat aku dengannya masih menjadi sebuah pasangan yang indah. Betapa ia menjaga anak-anakku dengan rasa kasih sayangnya meski terkadang aku iri, sebab ia begitu sangat sayang terhadap anak-anakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersadar, aku tengah menunggu di ruang tunggu. Kuusap beberapa kali air mata yang tumpah begitu saja. Yaa . . . Tuhan, maafkan aku. Aku begitu menyia-yiakan dia. Aku benar-benar menyesal Tuhan. Beri aku kesempatan untuk membalas apa yang telah kulakukan untuk istriku selama ini. Aku janji tak akan menyia-nyiakan dirinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat dokter keluar dari pintu UGD. "Bapak Raka ?" Aku berdiri. Namun dokter tersebut nampak gelisah, meski berusaha untuk tenang. "Maaf, istri anda tak tertolong lagi." Seketika itu aku berlari ke jasad istriku yang kini sudah tak bernyawa lagi. "Rahma istriku, maafkan aku !" aku berteriak keras, seolah aku menyesal untuk seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-8450621272724757602?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/8450621272724757602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/04/rahma-istriku.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/8450621272724757602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/8450621272724757602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/04/rahma-istriku.html' title='Rahma, Istriku'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-6255434572609341697</id><published>2010-04-15T07:17:00.000-07:00</published><updated>2011-06-25T07:58:02.936-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Degra Simba'/><title type='text'>Degra Simba , solusi septic tank WC mampet penuh tanpa sedot</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan hanya menuangkan sebotol &lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/04/degra-simba-solusi-septic-tank-wc.html"&gt;DEGRA SIMBA&lt;/a&gt; ke dalam closet WC, DIJAMIN dalam WAKTU 1 Minggu isi septic tank WC rumah, perkantoran, pabrik, sekolah, hotel, rumah sakit, apartemen, dll akan TERKURAS HABIS.  Begitu mudah, paling praktis, ekonomis dan ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,Sans Serif;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;b&gt;Degra Simba mengandung mikroba probiotik&lt;/b&gt; yang aman bagi     manusia dan lingkungan. Manfaat lain: mengatasi saluran yang     tersumbat bahan organik dan menghilangkan bau busuk pada kloset.     Teknologi ini sudah lama diterapkan oleh negara-negara maju seperti     Eropa, Amerika, Jepang, Australia dan lainnya. Cara pemakaian pada     WC: cukup masukan satu botol degra simba ke dalam kloset, tunggu 4     s/d 5 jam maka isi septic tank rumah anda akan terkuras dalam waktu     1 minggu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,Sans Serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Septic Tank yang merupakan tempat penampungan bahan-bahan padat     kotoran manusia (tinja) akan cepat penuh bila di dalamnya tidak     terjadi proses dekomposisi/ penguraian oleh bakteri pengurai. Jumlah     bakteri pengurai dalam Septic Tank pada umumnya sangat kurang     dibanding dengan kecepatan penumpukannya, sehingga perlu ditambahkan     bakteri pengurai di luar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,Sans Serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Penambahan mikroba ini sangat murah bila dibandingkan dengan biaya     penyedotan atau pengurasan disamping praktis, sehat dan ramah     lingkungan. Bakteri pengurai tersebut akan menguraikan bahan-bahan     padat yang ada pada Septic Tank menjadi air dan sebagian menjadi     gas. Air hasil penguraian akan diserap oleh tanah, sedang gasnya     dapat dibuang melalui cerobong tanpa menimbulkan bau.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Georgia;font-size:130%;"  &gt;CARA PEMAKAIAN DEGRA SIMBA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,Sans Serif;"&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 128);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;A. SEPTIC TANK     MEMILIKI LUBANG UDARA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;1. Tuangkan 1 botol &lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/04/degra-simba-solusi-septic-tank-wc.html"&gt;DEGRA SIMBA&lt;/a&gt; (ukuran     500 ml) ke dalam     closet&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;2. Siram dengan air secukupnya dan biarkan     selama 5-6 jam (sebaiknya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;    saat malam hari).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 128);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;B. SEPTIC TANK     TIDAK MEMILIKI LUBANG UDARA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;1. Tuangkan 1 botol DEGRA SIMBA (ukuran     500 ml) ke dalam wadah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;     (ember)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;2. Campur dengan air (perbandingan     1:2) dan biarkan selama 5-6 jam &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;     di udara     terbuka agar bakteri dapat hidup dan berkembang biak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;3. Masukan campuran Degra Simba + Air     ke dalam closet WC&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;4. Siram dengan air secukupnya agar     cairan Degra Simba masuk&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;     ke dalam     septic tank.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 200%;"&gt;    &lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dalam waktu 1 minggu,     isi septic tank / WC akan terkuras hingga 80 % menjadi &lt;/span&gt;    &lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;air (H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;O)&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;     yang meresap ke dalam tanah (tidak mencemari lingkungan) dan &lt;/span&gt;    &lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;gas (CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;yg tidak berbau.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 200%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Georgia;font-size:130%;"  &gt;  &lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 150%;"&gt;    &lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);font-family:Georgia;" &gt;    &lt;b&gt;KEUNTUNGAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;    &lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,Sans Serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 200%;"&gt;      &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;1. Menghilangkan bau&lt;br /&gt;  2. Mengatasi septic tank / WC mampet atau penuh tanpa disedot&lt;br /&gt;  3. Menjaga kualitas sumur dekat septic tank / WC&lt;br /&gt;  4. Membunuh kuman penyebab disentri, cholera dan typus&lt;br /&gt;  5. Mencegah penyumbatan saluran / selokan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 200%;"&gt;6. Pemakaian cukup 2 kali setahun (setiap 6 bulan sekali)&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,Sans Serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,Sans Serif;"&gt;&lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 200%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 200%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Harga : Rp. 32.000,- per botol ( belum termasuk ongkos kirim ).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 200%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Untuk pemesanan silahkan hubungi&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;0881 580 3689&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0pt 10px; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-6255434572609341697?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/6255434572609341697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/04/degra-simba-solusi-septic-tank-wc.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/6255434572609341697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/6255434572609341697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/04/degra-simba-solusi-septic-tank-wc.html' title='Degra Simba , solusi septic tank WC mampet penuh tanpa sedot'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-4061386008458280873</id><published>2010-03-31T03:17:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T03:21:28.522-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resep masakan'/><title type='text'>Mie Goreng Stick</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S7Mh5t_yRbI/AAAAAAAAARs/bwJmdfMZo8s/s1600/Mie+goreng+Stick.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 149px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S7Mh5t_yRbI/AAAAAAAAARs/bwJmdfMZo8s/s200/Mie+goreng+Stick.jpg" border="0" alt="Mie Goreng Stick"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454740849159194034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Sajian berikut ini selain bahan-bahannya mudah didapat, juga cara pembuatannya cukup sederhana, membuat para bloggers ingin sekali mencicipi sajian yang begitu membuat lidah bergoyang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;200 gr ayam giling&lt;br /&gt;250 gr mi telur, rebus hingga matang, tiriskan&lt;br /&gt;200 gr keju cheddar parut&lt;br /&gt;2 btg daun bawang, iris halus&lt;br /&gt;2 btg daun seledri, iris halus&lt;br /&gt;1 sdt garam (secukupnya)&lt;br /&gt;1 sdt gula pasir&lt;br /&gt;8 btr telur, kocok sebentar&lt;br /&gt;300 ml susu cair&lt;br /&gt;3 sdm tepung terigu&lt;br /&gt;2 sdm margarin, untuk mengoles&lt;br /&gt;600 ml minyak sayur, untuk menggoreng&lt;br /&gt;200 gr tepung roti (secukupnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cara membuat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Campur ayam dengan mi, keju, daun bawang, daun seledri, garam, dan gula menjadi satu, aduk hingga tercampur rata.&lt;br /&gt;2. Tuangkan 5 butir kocokan telur dan susu cair, aduk. Tambahkan tepung terigu, aduk rata.&lt;br /&gt;3. Tuang ke dalam loyang yang telah diolesi dengan sedikit margarin. Kukus ke dalam panci pengukus selama 30 menit hingga matang. Angkat, biarkan dingin.&lt;br /&gt;4. Potong kotak, celupkan ke dalam sisa kocokan telur. Gulingkan potongan mi ke dalam tepung roti, goreng ke dalam minyak panas sedang hingga berwarna kuning kecoklatan dan matang. Angkat, tiriskan.&lt;br /&gt;5. Sajikan bersama cocolan saus sambal&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-4061386008458280873?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/4061386008458280873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/mie-goreng-stick.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4061386008458280873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4061386008458280873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/mie-goreng-stick.html' title='Mie Goreng Stick'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S7Mh5t_yRbI/AAAAAAAAARs/bwJmdfMZo8s/s72-c/Mie+goreng+Stick.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-8853424151056056774</id><published>2010-03-24T08:13:00.001-07:00</published><updated>2010-03-24T08:18:03.464-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Foto Karawang Banjir</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Kita&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Berikut adalah photo Karawang Banjir, Ruko Blok I Perumnas Bumi Teluk Jambe&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6ossLWH93I/AAAAAAAAAQk/_DlnqagIZ8s/s1600/Ruko+Warnet+03.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6ossLWH93I/AAAAAAAAAQk/_DlnqagIZ8s/s400/Ruko+Warnet+03.JPG" border="0" alt="Karawang Banjir"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452219436356859762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-8853424151056056774?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/8853424151056056774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_8353.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/8853424151056056774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/8853424151056056774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_8353.html' title='Foto Karawang Banjir'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6ossLWH93I/AAAAAAAAAQk/_DlnqagIZ8s/s72-c/Ruko+Warnet+03.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-7344432216872577540</id><published>2010-03-24T08:10:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T08:13:13.268-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Foto Karawang Banjir</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Kita&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Berikut adalah photo Karawang Banjir, Perumahan Pemda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6oroN3jiLI/AAAAAAAAAQc/2b7eYl5WFeY/s1600/Perumahan+Pemda.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6oroN3jiLI/AAAAAAAAAQc/2b7eYl5WFeY/s400/Perumahan+Pemda.JPG" border="0" alt="Karawang Banjir"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452218268802844850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-7344432216872577540?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/7344432216872577540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_9224.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/7344432216872577540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/7344432216872577540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_9224.html' title='Foto Karawang Banjir'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6oroN3jiLI/AAAAAAAAAQc/2b7eYl5WFeY/s72-c/Perumahan+Pemda.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-5455566297473454435</id><published>2010-03-24T08:08:00.001-07:00</published><updated>2010-03-24T08:18:24.162-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Foto Karawang Banjir</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Berikut adalah Photo Karawang Banjir, Lapangan Bola Di sebelah Perumahan Pemda&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6orPV-l9mI/AAAAAAAAAQU/psr3_FX04pE/s1600/Lapangan+BloLa+Perum+Pemda.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6orPV-l9mI/AAAAAAAAAQU/psr3_FX04pE/s400/Lapangan+BloLa+Perum+Pemda.JPG" border="0" alt="Karawang Banjir"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452217841483118178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-5455566297473454435?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/5455566297473454435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/kumpulan-cerpen-siti-arofah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/5455566297473454435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/5455566297473454435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/kumpulan-cerpen-siti-arofah.html' title='Foto Karawang Banjir'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6orPV-l9mI/AAAAAAAAAQU/psr3_FX04pE/s72-c/Lapangan+BloLa+Perum+Pemda.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-4578518217921691373</id><published>2010-03-24T08:06:00.001-07:00</published><updated>2010-03-24T08:08:31.537-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Foto Karawang Banjir</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Berikut adalah Photo Karawang Banjir, Jembatan Alun-Alun&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6oquMQ1vAI/AAAAAAAAAQM/9AoXj3iYMlY/s1600/Jembatan+Alun+Alun.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6oquMQ1vAI/AAAAAAAAAQM/9AoXj3iYMlY/s400/Jembatan+Alun+Alun.JPG" border="0" alt="Karawang Banjir"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452217271939611650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-4578518217921691373?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/4578518217921691373/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_1834.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4578518217921691373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4578518217921691373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_1834.html' title='Foto Karawang Banjir'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6oquMQ1vAI/AAAAAAAAAQM/9AoXj3iYMlY/s72-c/Jembatan+Alun+Alun.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-967639653932758805</id><published>2010-03-24T08:04:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T08:06:34.365-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Foto Karawang Banjir</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Berikut adalah Photo Karawang Banjir, Depan Galuh Mas dan Peruri&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6oqTHa0aKI/AAAAAAAAAQE/Ih9IkDJr9H8/s1600/Depan+Galuh+Mas+City+Walk.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6oqTHa0aKI/AAAAAAAAAQE/Ih9IkDJr9H8/s400/Depan+Galuh+Mas+City+Walk.JPG" border="0" alt="Banjir Karawang"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452216806782822562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-967639653932758805?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/967639653932758805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_2791.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/967639653932758805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/967639653932758805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_2791.html' title='Foto Karawang Banjir'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6oqTHa0aKI/AAAAAAAAAQE/Ih9IkDJr9H8/s72-c/Depan+Galuh+Mas+City+Walk.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-4123793938053743305</id><published>2010-03-24T08:02:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T08:04:51.778-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Foto Karawang Banjir</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Berikut adalah Photo Karawang Banjir, Depan Galuh Mas dan RSU&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6op4zIVPOI/AAAAAAAAAP8/o1rg1c138t8/s1600/Antara+Galuh+mas+dan+ruko+03.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6op4zIVPOI/AAAAAAAAAP8/o1rg1c138t8/s400/Antara+Galuh+mas+dan+ruko+03.JPG" border="0" alt="Karawang Banjir"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452216354659974370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-4123793938053743305?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/4123793938053743305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_7668.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4123793938053743305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4123793938053743305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_7668.html' title='Foto Karawang Banjir'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6op4zIVPOI/AAAAAAAAAP8/o1rg1c138t8/s72-c/Antara+Galuh+mas+dan+ruko+03.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-4550406115956483252</id><published>2010-03-24T08:00:00.001-07:00</published><updated>2010-03-24T08:02:44.803-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Foto Karawang Banjir</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Berikut adalah Photo Karawang Banjir, Perumnas Bumi Teluk Jambe Blok Y&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6opPqyshbI/AAAAAAAAAP0/ydk8Pi__6j0/s1600/Blok+Y+03.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6opPqyshbI/AAAAAAAAAP0/ydk8Pi__6j0/s400/Blok+Y+03.JPG" border="0" alt="Karawang Banjir"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452215648047105458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-4550406115956483252?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/4550406115956483252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_24.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4550406115956483252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4550406115956483252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir_24.html' title='Foto Karawang Banjir'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6opPqyshbI/AAAAAAAAAP0/ydk8Pi__6j0/s72-c/Blok+Y+03.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-6288118994156169028</id><published>2010-03-24T07:57:00.001-07:00</published><updated>2010-03-24T07:59:52.056-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Foto Karawang Banjir</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Berikut adalah photo Karawang Banjir, Perumnas Bumi Teluk Jambe Blok R&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6ooqp4S0LI/AAAAAAAAAPs/kE4YecuyXt8/s1600/Blok+R.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6ooqp4S0LI/AAAAAAAAAPs/kE4YecuyXt8/s400/Blok+R.JPG" border="0" alt="Karawang Banjir"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452215012146991282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-6288118994156169028?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/6288118994156169028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/6288118994156169028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/6288118994156169028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/foto-karawang-banjir.html' title='Foto Karawang Banjir'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6ooqp4S0LI/AAAAAAAAAPs/kE4YecuyXt8/s72-c/Blok+R.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-1855821292952341208</id><published>2010-03-24T07:54:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T07:56:57.363-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Karawang Banjir, Kerta Bumi</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Berikut adalah Photo Banjir Kerta Bumi, Karawang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6on2Xu74SI/AAAAAAAAAPk/Vf37xrwSFnE/s1600/Kerta+Bumi.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6on2Xu74SI/AAAAAAAAAPk/Vf37xrwSFnE/s400/Kerta+Bumi.JPG" border="0" alt="Karawang Banjir"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452214113922703650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-1855821292952341208?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/1855821292952341208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/karawang-banjir-kerta-bumi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/1855821292952341208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/1855821292952341208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/karawang-banjir-kerta-bumi.html' title='Karawang Banjir, Kerta Bumi'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6on2Xu74SI/AAAAAAAAAPk/Vf37xrwSFnE/s72-c/Kerta+Bumi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-9043679570289444766</id><published>2010-03-24T07:48:00.001-07:00</published><updated>2010-03-24T07:52:14.761-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Karawang Banjir</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut, adalah Gambar Salah satu Posko Bencana Banjir Perumahan Bumi Teluk Jambe.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6omsxQiwII/AAAAAAAAAPc/hse9UN4PICM/s1600/Posko+Banjir+Bumi+Teluk+Jambe.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6omsxQiwII/AAAAAAAAAPc/hse9UN4PICM/s400/Posko+Banjir+Bumi+Teluk+Jambe.JPG" alt="Karawang Banjir" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452212849464230018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-9043679570289444766?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/9043679570289444766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/karawang-banjir_24.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/9043679570289444766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/9043679570289444766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/karawang-banjir_24.html' title='Karawang Banjir'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6omsxQiwII/AAAAAAAAAPc/hse9UN4PICM/s72-c/Posko+Banjir+Bumi+Teluk+Jambe.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-2596218899575246071</id><published>2010-03-23T05:59:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T06:14:53.991-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karawang Banjir'/><title type='text'>Karawang Banjir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6i-sT3RcdI/AAAAAAAAAPU/daEcVczKjzw/s1600-h/karawang+banjir.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 190px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6i-sT3RcdI/AAAAAAAAAPU/daEcVczKjzw/s200/karawang+banjir.jpg" border="0" alt="Karawang Banjir"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451817017387610578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. "Banjiiiiiiiiiir."  teriak  orang  di  sana  sini.  Orang-orang hilir mudik kesana  kemari tak menentu mencari tempat yang lebih aman. Ada yang membawa televisi,  ada  juga  yang  membawa  kasur  atau  spring bed, ada juga yang membawa  buntalan pakaian. Sungai citarum meluap, menumpahkan segala isinya merata  ke  segala  penjuru  manapun  sesukanya tanpa peduli dimana ia akan mengalir. Baru kali ini, Karawang merata terkena banjir. Sebuah pemandangan yang  sangat  begitu  mengerikan  sekaligus  mencengangkan.  Karawang sudah seperti lautan yang tepinya sulit terjangkau oleh sejauh mata memandang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bulu  roma  bergidik  begitu  melihat hamparan rumah penduduk berubah dalam sekejap  hanya  dalam  hitungan  menit menjadi lautan. Berharap-harap cemas dimana  rumah  tinggal  yang  kami huni tak ikut terkena amarah dari luapan sungai Citarum. Mobil-mobil berjajar rapi diparkir di sisi jalan yang berjarak kira-kira sepuluh meter dari banjir. Di sisi lain bengkel motor tengah meraup laba yang sangat menggembirakan karena banyak motor yang mogok yang dipaksa untuk jalan di tempat banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya  aku  sempat  bertanya-tanya,  mengapa sungai yang mengalir dari waduk jatiluhur  menuju  kalimalang surut. Sungai yang awalnya cukup tinggi namun tak  sampai meluap itu, kini surut hingga anak-anak kecil berani bermain di dalamnya.  Bapak-bapak  sibuk  melepaskan jalanya di sungai itu. Sungai itu kini hanya setinggi 30 cm dari permukaannya. Sungguh suatu pemandangan yang tidak  seperti biasanya. Orang-orang yang  tinggal beberapa meter disekitar bantaran  sungai ini banyak yang mengeluh, karena mereka hidup dari irigasi yang  mengalir  dari  sungai ini. Namun karena sungai ini menyusut, praktis mereka dilanda krisis air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  sisi  lain,  sebuah  perumahan  yang  lebih  dahulu  terkena imbas dari penyusutan  sungai  ini  adalah  Perumahan Bintang Alam. Perumahan itu kini sudah  menjadi  lautan,  tak  ada satupun atap rumah yang tampak tersembul, semuanya   rata  tergulung  air  coklat  bercampur  tanah  lumpur.  Setelah Perumahan  Bintang  Alam, barulah Perumahan Karaba ikut menjadi korban dari keganasan  luapan  sungai  Citarum ini. Yang menjadi di luar pemikiran kita selama   ini,   perumahan   Galuh   Mas   juga  ikut  menjadi  korban.  Tak disangka-sangka  Perumahan  yang terkenal Elit dan mahal itu menjadi korban juga.  Sedangkan  perumahan  Bumi  Teluk  Jambe  yang letaknya bersebelahan dengan perumahan Galuh Mas hanya terkena setengahnya saja. Rata-rata hampir semua perumahan di karawang terkena banjir semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan  baru  kuketahui  Jika  ternyata Jakarta enggan menadah air dari aliran  jatiluhur,  cukup dari tumpahan air bogor saja. Karena jika Jakarta dialiri  oleh  air  dari  jatiluhur  dan air dari bogor, maka banjirpun tak terhankan lagi terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya dahulu. Entahlah, isu ini   benar  atau  tidak,  nyatanya  kulihat  sendiri  sungai  yang  menuju kalimalang  surut,  sedang  sungai  Citarum  yang menghulu ke laut Karawang utara meluap hingga akhirnya seluruh Karawang mengalami banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya  selama banjir ini, kapasitas hujan yang terjadi tidak begitu besar dan jarang terjadi. Jadi banjir ini dikarenakan limpahan air sungai Citarum yang  begitu  besar. Karena Bandung dan purwakarta katanya hujan yang lebat secara terus menerus tiada diberi jeda waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak  sadar  air  mata  ini  meleleh,  satu  demi satu jatuh membasahi pipi. Karawang  kini  seperti  sudah  tak  jelas  lagi  rimbanya.  Semuanya hanya mengharap  menyelamatkan  nyawa.  Sedang  materi  ? kami hanya bisa pasrah, semuanya  sudah  takdir  dari  yang  Maha  Kuasa. Entahlah, banjir ini akan menelan waktu sampai kapan ? Yang jelas air Citarum setiap jam selalu naik, tak ada tanda-tanda menyusut sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-2596218899575246071?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/2596218899575246071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/karawang-banjir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/2596218899575246071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/2596218899575246071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/karawang-banjir.html' title='Karawang Banjir'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S6i-sT3RcdI/AAAAAAAAAPU/daEcVczKjzw/s72-c/karawang+banjir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-474314519848369808</id><published>2010-03-20T07:58:00.000-07:00</published><updated>2010-03-20T08:03:54.111-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bekasi Bersih Partisipasi Blogger'/><title type='text'>Bekasi Bersih Partisipasi Blogger , Bagaimana dengan Karawang ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Bekasi bersih tanpa banjir, bagaimana dengan karawang. Lewat &lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/bekasi-bersih-partisipasi-blogger.html"&gt;partisipasi blogger&lt;/a&gt;, semoga Karawang tidak banjir lagi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Banjiiiiir !" Teriak orang-orang di sana-sini. Masjidpun ikut menyuarakan siaga banjir. Alhamdulillah kami hampir saja terkena banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan tetangga kami yang beda blok meski masih satu perumahan dengan kami. Banjir rupanya tidak dapat memihak, ia memuntahkan kemana ia suka. Menggelepar begitu saja tanpa peduli sedang apa penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah banjir usai, air mata merebak di sana sini. Segala perabot rumah tangga tersiram lumpur dengan aroma yang begitu tajam. Kasur tak dapat ditiduri, karena tergenang air sekian lama. Lantai menjadi kotor yang sangat sulit untuk dibersihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak menangis dan rewel, karena tak bisa nyaman dengan sisa lumpur yang menyeruak dimana-mana. Semua serba sibuk, tak ada kegiatan selain membersihkan sisa-sisa kotoran bekas lumpur yang menempel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebisanya aku membantu mereka, mengangkat barang-barang untuk segera dibersihkan atau mencuci perabot rumah lainnya. Aku mencoba mengurangi beban yang mereka sedang hadapi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-474314519848369808?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/474314519848369808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/bekasi-bersih-partisipasi-blogger_20.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/474314519848369808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/474314519848369808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/bekasi-bersih-partisipasi-blogger_20.html' title='Bekasi Bersih Partisipasi Blogger , Bagaimana dengan Karawang ?'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-9092688359191520701</id><published>2010-03-15T22:25:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T22:25:00.262-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resep masakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Powerfull Smoothies</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S5sw8hIHSzI/AAAAAAAAAOI/7lcX6DJ1SBQ/s1600-h/juice+strawberry.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 157px; height: 179px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S5sw8hIHSzI/AAAAAAAAAOI/7lcX6DJ1SBQ/s200/juice+strawberry.jpg" alt="Powerfull Smoothies" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448001990477433650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Tak punya banyak waktu buat menyiapkan sarapan, bikin saja smoothies yang satu ini. Pisang, strawberry plus oatmeal bakal memberi pasokan kalori hingga siang!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahan&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;2 buah pisang Ambon, kupas, potong-potong&lt;br /&gt;150 g strawberry segar, bersihkan&lt;br /&gt;250 ml susu kedelai/susu low fat&lt;br /&gt;4 sdm madu&lt;br /&gt;2 sdm oatmeal&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;Masukkan semua bahan dalam mangkuk blender.&lt;br /&gt;Proses hingga lembut.&lt;br /&gt;Tuang ke dalam 2 gelas saji.&lt;br /&gt;Sajikan segera.&lt;br /&gt;Untuk 2 gelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-9092688359191520701?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/9092688359191520701/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/powerfull-smoothies.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/9092688359191520701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/9092688359191520701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/powerfull-smoothies.html' title='Powerfull Smoothies'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S5sw8hIHSzI/AAAAAAAAAOI/7lcX6DJ1SBQ/s72-c/juice+strawberry.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-3205408558482619937</id><published>2010-03-13T21:20:00.000-08:00</published><updated>2010-03-18T05:38:37.304-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogger Karawang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bekasi Bersih Partisipasi Blogger'/><title type='text'>Bekasi Bersih Partisipasi Blogger</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S54zQCgJa0I/AAAAAAAAAPM/tGJMxiUS70k/s200/bekasi+bersih+partisipasi+blogger.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 143px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S54zQCgJa0I/AAAAAAAAAPM/tGJMxiUS70k/s200/bekasi+bersih+partisipasi+blogger.jpg" border="0" alt="Bekasi Bersih Partisipasi Blogger"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448848949807508290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Pencanangan &lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/bekasi-bersih-partisipasi-blogger.html"&gt;Bekasi Bersih Partisipasi Blogger&lt;/a&gt; lahir dalam sebuah acara  &lt;a href="http://amprokanblogger.com"&gt;Amprokan blogger&lt;/a&gt; yang diadakan oleh Blogger Bekasi. Bekasi Bersih Bekasi Sehat , sebuah selogan yang ingin diraih oleh kota penyangga Jakarta di bagian timur ini. Oleh karenanya saya sebagai &lt;a href="http://bloggerkarawang.net"&gt;blogger&lt;/a&gt; ingin berpartisipasi untuk sama-sama mewujudkan impian kota Bekasi ini agar Bekasi bersih berkat pastisipasi blogger juga.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai makhluk hidup yang diberi akal, kita perlu menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar sehat, tidak bau, tidak menyebarkan kotoran dan menularkan penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersihan lingkungan meliputi kebersihan tempat tinggal, tempat bekerja dan berbagai sarana umum. Membersihkan jendela dan perabot rumah tangga dari debu-debu yang menempel, menyapu dan mengepel lantai, mencuci peralatan masak dan peralatan makan, membersihkan kamar mandi serta membuang sampah ke tempatnya adalah contoh dari kebersihan tempat tinggal. Sedangkan contoh dari kebersihan lingkungan adalah menjaga kebersihan halaman dan selokan dan membersihkan jalan di depan rumah dari sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dengan menambah penanaman pohon di ruas-ruas jalan akan menyegarkan suasana kota yang keras dan panas. Dengan penghijauan kota dirasakan sebagai paru-paru kota, menambah estetika dan penyerap debu dan partikel pencemar. Penghijauan juga dapat memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress. Udara di sekitar tanaman menjadi terasa segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita hendaknya saling mengingatkan betapa pentingnya manfaat dari kebersihan. Kita hendaknya sadar akan apa yang akan kita perolah jika kita selalu menjaga kebersihan. Sehat dan dijauhkan dari penyakit adalah manfaat utama dari menjaga kebersihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, Bekasi sebagai salah satu kota yang ingin menjadi kota mandiri berupaya untuk menjadi kota &lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/bekasi-bersih-partisipasi-blogger.html"&gt;bekasi bersih bekasi sehat&lt;/a&gt;. Mari kita dukung sepenuhnya dari ajakan Bekasi ini, agar diikuti oleh kota-kota lainnya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-3205408558482619937?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/3205408558482619937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/bekasi-bersih-partisipasi-blogger.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3205408558482619937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3205408558482619937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/bekasi-bersih-partisipasi-blogger.html' title='Bekasi Bersih Partisipasi Blogger'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S54zQCgJa0I/AAAAAAAAAPM/tGJMxiUS70k/s72-c/bekasi+bersih+partisipasi+blogger.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-6818365801041505491</id><published>2010-03-12T22:19:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T22:21:47.308-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Menangisi Sebuah Cinta</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Kali ini aku tak mampu lagi membedakan antara rasa benci dan cinta. Seolah keduanya hanya dibatasi oleh sehelai benang yang sangat tipis sekali. Terkadang rasa cinta dan sayang itu hadir menyelimuti diri mengenang masa-masa indah dulu yang pernah kami reguk bersama. Namun tiba-tiba saja rasa cinta ini berubah menjadi benci seketika kala teringat betapa sakitnya aku diperlakukan olehnya seperti ini. Luka batin lebih menyisakan bekas yang akan sulit untuk  hilang, akan butuh waktu yang lama untuk bisa memaafkan sebuah kesalahan dari pasangan kita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan Irwan lah dulu ia yang selalu aku bangga-banggakan di depan keluargaku. Tubuhnya tegap dengan postur tubuh yang lumayan tinggi seperti atlet. Jika berjalan tampak bahu-bahunya sejajar karena latihan aerobik yang telah dijalaninya beberapa tahun belakangan ini. Senyumnya begitu menggoda, tak heran jika ABG pun doyan menggodanya. Ah, jika saja aku wanita bertype pencemburu, mungkin sudah ribuan kali  aku harus marah padanya lantaran begitu banyak yang mencoba menggodanya di depan bola mataku sendiri. Tapi Irwan selalu meyakinkan diriku, bahwa cintanya tetap hanya untukku seorang. Rasa cinta bisa membutakan mata hati kita, menelantarkan seribu alasan untuk dapat tetap memilih Irwan sebagai tempat terakhirku berlabuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu cinta Irwan begitu menggebu-gebu padaku. Menderu-deru bagai deru ombak laut yang tak pernah padam diterpa riuhnya angin samudra. Dia begitu lihai merebut hatiku. Padahal dulu, begitu banyak laki-laki selain Irwan yang jatuh hati padaku. Tapi memilih Irwanlah kata hatiku. Aku sampai terpedaya oleh bujuk rayunya, aku begitu percaya terhadap segala bualan cinta Irwan. Hingga akhirnya kami merajut kasih dalam sebuah mahligai rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu buah cinta pertama kami hadir ditengah-tengah kehidupan kami yang masih dinaungi oleh percikan kehangatan cinta kami berdua, Irwan menyuruhku untuk berhenti bekerja. Irwan berharap agar aku bisa memberikan perhatian yang penuh untuk anak kami. Meski saat itu karierku sedang merambah, namun kusadari, anak adalah segalanya bagiku. Aku merasa cukup dengan uang yang diberi dari keringat suamiku sendiri. Akhirnya kujalani hidup ini untuk membesarkan anakku dengan tanganku sendiri. Sebuah pilihan yang mempertaruhkan segala yang telah kumiliki selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah, ternyata Irwan hanya mencari-cari alasan agar ia dapat melenggang bebas tanpa diketahui oleh aku. Irwan ternyata punya selingkuhan di kantor. Dan berita ini baru kudengar setahun setelah aku berhenti bekerja dari Nina, teman sekantorku dulu yang pernah menjadi sahabatku. Aku menangisi kenyataan ini. Begitu pahit teramat sangat harus kutelan mentah-mentah berita yang baru kudengar ini. Mengapa Irwan begitu tega menyakiti hatiku dan terutama hati Cyntia, anak kami satu-satunya. Dan wanita seligkuhan itu, lagi-lagi aku tak percaya, ia adalah temanku sendiri. Apakah tak pernah terpikir dari dirinya, bagaimana jika dia sedang berada di posisi aku ? Mengapa harus mengganggu rumah tangga kami yang awalnya penuh ketentraman ? Aku kembali menangis, jika harus selalu mengingat dan mengingat tentang apa yang sedang terjadi pada rumah tangga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering aku dapati di kantong bajunya beberapa tissue dengan bekas lipstick. "Siapa lagi kalo bukan milik seorang wanita" batinku memerangi kegundahan ini. Aku sama sekali tak pernah menanyakan milik siapa tissue itu. Kubiarkan Irwan bebas melakukan apa yang dia kehendaki, meski batinku harus berperang melawan sakit yang tiada terperi.  Aku hanya mampu menjadi wanita yang rapuh. Sesaat aku begitu tegar, tapi kemudian menangis lagi. Hanya itulah sebatas yang bisa aku lakukan. Seperti wanita-wanita cengeng lainnya, yang hanya mampu menangis tanpa bisa berbuat apapun untuk membela dirinya. Tubuhku kian hari digerogoti oleh kerapuhan hati. Semakin hari berat badanku selalu berkurang. Dan Irwan sama sekali tak punya hati. Mungkin cintanya telah padam untukku. Aku seperti menjalani hidup dengan terseok seok, yang mengemis untuk sebuah cinta dari Irwan untukku dan juga untuk anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku percaya, dalam setiap proses hidup pasti kita mendapat ujian dari sang Illahi. Dan aku memilih diam, mengikuti apa kemauan Irwan, suamiku. Meski harus kujalani hidup penuh dengan cinta semu belaka dari suamiku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-6818365801041505491?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/6818365801041505491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/menangisi-sebuah-cinta.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/6818365801041505491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/6818365801041505491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/03/menangisi-sebuah-cinta.html' title='Menangisi Sebuah Cinta'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-7483147389165239065</id><published>2010-02-28T02:20:00.000-08:00</published><updated>2010-02-28T02:28:34.512-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resep masakan'/><title type='text'>Teh Jahe Lemon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S4pEqT6ubYI/AAAAAAAAANY/SI0aIYB4Mpk/s1600-h/Teh+Lemon+Jahe.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 142px; height: 166px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S4pEqT6ubYI/AAAAAAAAANY/SI0aIYB4Mpk/s200/Teh+Lemon+Jahe.jpg" alt="Teh Lemon Jahe" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443238593322446210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Jahe memiliki zat yang membuat tubuh lebih segar dan lemon baik untuk mengurangi gejala flu atau tidak enak badan. Buat minuman ini saat merasa tak enak badan atau ingin menambah semangat. Berikut resepnya dan semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahan:&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2 kantung teh jahe&lt;br /&gt;2 sdm perasan lemon (sekitar setengah buah lemon)&lt;br /&gt;2 sdm madu&lt;br /&gt;2 gelas air panas&lt;br /&gt;Potongan lemon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara membuat&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;1. Taruh kedua kantung teh jahe tadi di dalam mangkuk. Tambahkan perasan lemon dan madu.&lt;br /&gt;2. Tuangkan air panas di atas bahan-bahan tadi dan biarkan meresap selama 10 menit. Biarkan menghangat.&lt;br /&gt;3. Tuangkan teh ke dalam 2 gelas sedang berisi es batu.&lt;br /&gt;4. Tambahkan potongan lemon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-7483147389165239065?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/7483147389165239065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/teh-jahe-lemon.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/7483147389165239065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/7483147389165239065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/teh-jahe-lemon.html' title='Teh Jahe Lemon'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S4pEqT6ubYI/AAAAAAAAANY/SI0aIYB4Mpk/s72-c/Teh+Lemon+Jahe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-1141122980749219720</id><published>2010-02-24T05:03:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T05:04:27.805-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kenangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Demi Sebuah Cita</title><content type='html'>Perpisahan ini membuat aku menjadi takut. Takut menjadi seorang diri tanpa kekasih, dan yang paling mengerikan bagiku adalah takut kehilangan kekasih. Kekasihku mengambil kuliah ke Negeri paman Sam. Sedang aku memilih untuk kuliah di Jakarta. Kedua orang tuaku tidak mengijinkan aku untuk kuliah bersama Tian, kekasihku di negeri yang katanya banyak dinanti setiap insan. Mungkin orang tuaku benar adanya, oleh karenanya aku lebih manut apa yang dikatakan oleh orang tuaku. Meski harus kutelan rasa kesendirianku ini bertahun-tahun lamanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Awalnya cinta kami terbilang tanpa aral melintang. Tian begitu mencintai aku. Demikian juga dengan aku. Namun kami tetap saling menjaga batas, bahwa ia masih berstatus pacarku, bukan suami. Kami saling berpacu meraih mimpi, mendapat gelar, bekerja dan setelah itu baru menikah. Aku mengenal Tian, di sebuah bimbingan belajar di Jakarta. Waktu itu, ia sering menawarkan aku untuk naik Honda Jazznya, mengingat kami sama-sama tinggal di Bekasi. Sekali dua kali aku sering mengacuhkannya. Mungkin karena Tian tak pernah lelah menawarkan padaku, lama-lama aku luluh juga. Dia memang anak baik. Buktinya di dalam mobil ia terkesan biasa-biasa saja padaku, ia hanya ikhlas mengantar aku tanpa ada pamrih sedikitpun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari telah kami lalui, dan kami semakin akrab. Dua bulan kemudian, aku sudah tak canggung lagi bersamanya. Tapi belakangan Tian agak sedikit bersikap aneh. Kala berbicara dan setiap ku tatap matanya, ia tampak seperti gugup. Aku sama sekali tak memperdulikan sikap anehnya itu. Semuanya baru ku ketahui saat ia tiba-tiba saja mengajakku berbicara serius. Mobilnya yang mulanya bergerak di dalam tol, tiba-tiba merapat ke arah jalur istirahat. Di dalam mobil itu, ia katakan jika dia ingin aku sebagai kekasihnya. Aku yang sama sekali belum pernah punya pengalaman apapun tentang cinta, tiba-tiba saja aku meng-iya-kannya. Tianpun sampai terheran-heran, dia bilang, "biasanya cewek kalo ditembak suka mikir dulu, tapi kamu langsung iya". Seketika itu mukaku memerah, seakan baru menyadari kepolosanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu kami menjalin kasih. Tapi aku sama sekali tak diberi ruang waktu oleh Mama, karenanya, aku sama sekali tak bisa berlama-lama dengan Tian. Mungkin aku hanya bisa makan bareng di rumah makan cepat saji, dan itupun dengan tidak berlama-lama. Maklum, aku tak mau menyakiti hati Mama. Untungnya Tian oke-oke aja dengan aku yang seperti ini. Akupun jadi semakin sayang padanya. Ah, aku bahkan terlalu sayang padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah tahun sebelum lulus SMU, lagi-lagi Tian mengajakku ngobrol di pinggir tol. "Ifa, orang tuaku menyuruhku kuliah di Amerika. Itu artinya kita akan berpisah untuk sementara." ia menunduk seperti muram.  Aku sama sekali tak bergeming, mulutku serasa kelu tak tau harus mengucapkan apa untuknya. Mungkin karena  aku terlalu shock akan kata-kata Tian. Rupanya Tian memberiku keluasaan ruang batinku. Mobilnya melaju kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tau, dan aku seharusnya mau mengerti. Dengan membiarkannya pergi lepas dariku seperti sebuah tindakan bodoh yang berlalu begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Tapi, apakah aku harus merelakan kepergiannya demi meraih sebuah asa dan harapan yang bahagia nantinya ? Aku benar-benar bimbang. Antara iya dan tidak sepertinya terlihat samar-samar bagiku. "Mungkin akan lebih baik Tianlah yang memilih, aku akan pasrah, apapun pilihan Tian." hati kecilku berkata lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya Tian memang ingin melanjutkan sekolahnya ke Amerika. Aku hanya bisa pasrah tak mampu untuk melarangnya. Mungkin ini jalan yang terbaik yang telah Tuhan berikan, pikirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari keberangkatan Tian tiba. Tian berangkat bersama Mama , Papa dan kedua adiknya. Aku hanya sendiri, mengingat kedua orang tuaku belum pernah tau sedikitpun hubungan kami. Saat di bandara, aku benar-benar tak mampu menutup rasa kesedihanku. Berkali-kali air mata jatuh membasahi pipiku. Kala itu, aku ingin teriak sekuat-kuatnya, " Aku tak ingin berpisah darimu, Tian ". Tapi lagi-lagi, kata-kataku membeku terkulum dalam suara bising pesawat yang sedang take off. Saat Tian sudah ingin memasuki areal yang tak diperbolehkan oleh para pengantar, Tian menghampiriku. "Ifa, aku cinta kamu. Kamu tunggu aku ya !" kata-katanya menambah perih aku. Aku hanya menunduk, sepertinya enggan melihat mata indahnya sebagai perpisahan. Tian mencoba menghapus air mataku, " Ayo katakan Iya, kamu mau menunggu aku, Fa !". Akhirnya aku mengangguk tanpa ada sedikitpun kata untuknya. Tianpun pergi dengan senyum manisnya yang mungkin akan kuingat sebagai pengobat rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus merelakan kepergian Tian, meski semuanya itu terasa pahit bagiku. Aku tak tau antara Tian ataukah aku yang dapat menjaga cinta ? Tuhanlah yang Maha berencana ! Terbayang jika aku harus menjalani hari-hariku tanpa Tian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-1141122980749219720?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/1141122980749219720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/demi-sebuah-cita.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/1141122980749219720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/1141122980749219720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/demi-sebuah-cita.html' title='Demi Sebuah Cita'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-7579210921793509731</id><published>2010-02-21T03:04:00.000-08:00</published><updated>2010-02-21T03:08:47.639-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Sandwich Goreng</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S4ETlvLn6SI/AAAAAAAAAMA/A5iJA3T8fRE/s1600-h/Sandwich+goreng.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 170px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S4ETlvLn6SI/AAAAAAAAAMA/A5iJA3T8fRE/s200/Sandwich+goreng.jpg" alt="sandwich goreng" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440651363881576738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahan &lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;20 ptg roti tanpa kulit&lt;br /&gt;1 kaleng kecil corned beef (kurang lebih 175 gr)&lt;br /&gt;2 kuning telur&lt;br /&gt;75 gr bawang bombai, cincang&lt;br /&gt;1/2 sdt merica halus&lt;br /&gt;1/2 sdt garam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untuk Menggoreng&lt;/span&gt; :&lt;br /&gt;2 putih telur&lt;br /&gt;4 sdm air&lt;br /&gt;3-4 sdm tepung maizena/sagu&lt;br /&gt;putih telur, air, tepung maizena, sagu di aduk&lt;br /&gt;75 gr wijen, cuci, jemur kering untuk pembalut&lt;br /&gt;minyak goreng secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara Membuat&lt;/span&gt; :&lt;br /&gt;Tumis bawang bombai dengan 2 sdm margarin sampai bening, masukkan semua bahan lain, aduk rata; angkat, dinginkan. Olesi tiap permukaan roti dengan adonan corned tebal kira-kira 1cm, tutup dengan sepotong roti, tekan supaya melekat. Potong 4 membentuk segitiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celupkan tiap roti lapis pada kocokan telur, gulingkan pada wijen, goreng dengan minyak panas sampai kecokelatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-7579210921793509731?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/7579210921793509731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/sandwich-goreng.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/7579210921793509731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/7579210921793509731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/sandwich-goreng.html' title='Sandwich Goreng'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/S4ETlvLn6SI/AAAAAAAAAMA/A5iJA3T8fRE/s72-c/Sandwich+goreng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-8574546114726924254</id><published>2010-02-19T02:22:00.000-08:00</published><updated>2010-02-19T02:29:31.989-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='horor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Sebuah Nyawa untuk Ibu</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Aku benar-benar sedih. Bi Inah mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumahku. Padahal ia adalah satu-satunya temanku di rumah. Kedua orang tuaku sibuk bekerja mencari nafkah yang katanya guna memenuhi kebutuhan hidupku. Mereka berangkat dari jam enam pagi dan baru kembali ke rumah pukul 08 malam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bi Inah pembantu yang luar biasa bagiku. Ia begitu perhatian padaku, tidak seperti pembantu - pembantu yang lain yang kerap berbuat hal-hal yang tidak menyenangkan pada anak majikannya yang sering aku lihat pada siaran-siaran berita di televisi. Dan aku hampir menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Bi Inah sama sekali tak pernah marah, aku tahu jika ia kesal ia tumpahkan segala kemarahannya ke belakang. Dan jika sudah demikian, buru-buru aku meminta maaf padanya, lalu bi Inah memelukku sambil rambutku diusap-usapnya. Maklumlah, aku adalah seorang bocah lelaki kecil yang tengah berusia 10 tahun. Wajar saja jika aku agak sedikit nakal, disamping aku adalah anak semata wayang. Entahlah, aku belum mengetahui secara pasti mengapa ayah dan ibu belum memberiku seorang adik sebagai teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tau, jika bi Inah teramat berat meninggalkan aku, tapi bi Inah tidak mampu memilih lagi, ia harus segera mengurusi suaminya yang tiba-tiba saja sakit keras. Sekarang, teramat susah untuk mencari pembantu yang memiliki kualitas sebaik bi Inah. Mungkin bisa saja orang tuaku mendapatkan penggantinya, tapi paling tidak mereka bertahan hanya dalam hitungan bulan. Tapi sampai hari menjelang keberangkatan bi Inah, kedua orang tuaku belum juga mendapatkan pengganti bi Inah. Bi Inahpun berangkat juga akhirnya meski dengan hati terpaksa. Berkali-kali ia memeluk dan menciumku. Akupun menangis, meraung-raung seakan tak merelakan kepulangan bi Inah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, ibu menemaniku. Ibu mengharapkanku menjadi anak yang mandiri tanpa pembantu. " Semoga kita cepat mendapat pengganti bi Inah ya." Kata-katanya membuatku sakit. Bagaimana mungkin aku harus berada di rumah sendiri ? Tapi, mau tak mau, aku harus melakukannya. "Iya, bu. Aku coba dech." meski sejujurnya tak mau, tapi aku takut ibu sedih. Aku benar-benar tak ingin menyusahkannya. Aku tau, jika ibu menyayangiku. Meski sesibuk apapun dirinya, ia selalu menyempatkan waktunya buat aku. Kadang ibu mau ku ajak bermain monopoli atau ular tangga, ia juga mau melihat hasil lukisanku. Sesekali saat aku merasa takut, ibulah yang menemaniku tidur di kamar sambil membacakan buku cerita sampai aku terlelap tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari dua hari, aku telah terbiasa ditinggal oleh kedua orang tuaku. Menyendiri ditemani sebuah televisi 24 inch berlayar datar dengan dilengkapi home theater untuk sementara mampu melupakan kesendirian. Menunggu kehadiran kedua orang tuaku pulang dari bekerja merupakan waktu yang sangat kutunggu-tunggu. dan setelah dua minggu, tiba-tiba aku pergi kesebuah gudang. Gudang itu terletak di belakang rumahku yang terpisah dari rumah. Ku temukan sebuah kotak kayu yang telah terbasut oleh debu-debu yang sangat tebal. Aku berusaha meniup debu-debu itu, menerka apa yang ada dalam kotak itu. Terpasung sebuah tulisan "a mistery, Do not open this box". Meski aku tahu apa arti tulisan itu, aku tetap ingin membukanya. "Yess, kotak itu berhasil kubuka !" gembira sekali aku setelah berhasil membuka kotak yang membuat aku penasaran. Ternyata isinya hanya sebuah boneka. Akan tetapi, wajah boneka itu sedikit berbeda dengan layaknya boneka-boneka lainnya. Ia tampak menyeramkan. Aku seperti terhipnotid, aku membawa boneka itu menuju rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera aku memasukkan boneka itu ke dalam mesin cuci. Sambil menunggunya selesai, aku menonton serial spongeBob di televisi. Selang setengah jam telah berlalu, aku meraih boneka yang telah kering dan cukup bersih. Ia ku letakkan di atas lemari belajarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya aku bermimpi. Boneka itu bisa berbicara padaku dalam mimpi itu. " Kamu tidak akan kesepian lagi, karena ada aku !" cuma itu yang dia katakan. Akupun terbangun, membuat rasa penasaranku kian menderu-deru. "Ah, cuma mimpi, " sergahku seolah tak percaya pada mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, setelah aku menemukan boneka itu, beberapa teman-temanku mati dengan tubuh mengenaskan dan tanpa sebab yang jelas. Aku mulai berpikir, dan mencoba merunut apa yang telah terjadi. "mengapa teman-temanku bisa mati setelah mereka mengolok-ngolok aku ?" pertanyaan ini membuatku mabuk, sebab aku tak tau jawabannya. Akupun tertidur karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat ibu marah padaku. Aku lupa mengunci pintu. Ibu mendapati diriku di depan televisi sedang tertidur pulas. Aku mengerti aku salah. Dan aku meminta maaf padanya. Dan malamnya, aku bermimpi. Aku melihat boneka menyeramkan itu hendak membunuh ibuku. "Hei, jangan kau bunuh ibuku !"&lt;br /&gt;Boneka itu berbalik arah menuju diriku, "tapi dia telah menyakiti hatimu ".&lt;br /&gt;" Jangan, biar bagaimanapun dia ibuku, aku sangat sayang padanya. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tampak sangat ketakutan sekali. Ia jatuh tak berdaya di sebuah lantai di serambi belakang rumah kami. Dan ketika boneka itu sudah hampir mendekati ibuku, aku segera menghalau pecahan gelas yang dipegang oleh boneka itu. Pecahan gelas itu mengenai dadaku. Darah segar mengalir deras dari dadaku yang terluka. Ibuku segera memangku diriku, ia menangisi apa yang telah terjadi pada diriku. "Nak, bertahan Nak. Kuatkan dirimu." Tapi Tuhan berkata lain, darah yang mengalir rupanya tak mau berhenti. Tiba-tiba aku menghembuskan napas untuk yang terakhir kali dalam pelukan ibuku. Seketika itu ibuku berteriak keras sekali, " Anakku . . . . . . . . .  !"&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-8574546114726924254?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/8574546114726924254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/sebuah-nyawa-untuk-ibu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/8574546114726924254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/8574546114726924254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/sebuah-nyawa-untuk-ibu.html' title='Sebuah Nyawa untuk Ibu'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-2403611683568497940</id><published>2010-02-14T01:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-14T01:46:58.420-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hidup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Hidup Kedua Kali</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt; Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt; .Aku tergolek lemah, setelah kuminum racun baygon beberapa tenggak. Selang beberapa menit mulutku berbuih penuh busa putih. Saat itu kurasakan seperti meregang nyawa. tubuhku serasa lumpuh, tiada sedikitpun daya untuk bergerak, hanya mampu melihat yang tersisa. Air mataku mengalir begitu saja, menangisi apa yanng telah terjadi. Mungkin benang-benang penyesalan merajut dalam angan khayalku.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja, Safa, anakku satu-satunya datang. Berkali-kali ia memanggil namaku. Aku yang tak berdaya tak mampu berucap sepatah katapun. "Mama, mama kenapa ? Bangun Ma " , teriaknya sambil menangis. Kembali mataku hanya menatap atap-atap langit yang mulai pudar terboreh oleh bocoran dari genteng-genteng rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya aku sudah berada di depan ajal, pikirku. Kulihat Safa tampak berlari keluar. Seketika itu banyak para tetanggaku berhamburan menuju aku yang sedang terbaring lemah dengan mulut yang dipenuhi busa.Aku dilarikan ke rumah sakit. Waktu itu aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Dan tiba-tiba saat di perjalan aku tak bisa membedakan mana kehidupan nyata dan mana yang bukan. Anehnya aku bisa melihat semuanya yang berada di dalam sebuah mobil ambulance sedang menolong aku. Berapa kali kusapa mereka, tapi mereka enggan membalas sapaku. Aku baru menyadari jika mereka tak melihat keberadaanku. Di saat yang bersamaan, Aku melihat diriku sendiri yang sedang tertidur di sebuah dipan  milik ambulance. Aku sempat menangis, kusadari itu jasad diriku yang sesungguhnya. Perasaan menyesal datang bertubi-tubi. Aku berusaha meraih jasadku. "Ayo bangun, ayo bangun Rita !", pintaku sambil ku coba mengayunkan jasadku, namun semua usahaku bagai sia-sia. Aku seperti sebuah bayangan semu yang tak mampu menyentuh sesuatu yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Safa anakku sedang dipangku oleh Nina, tetangga sebelah rumahku. Mata Safa tampak merah sembab. Tampak air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Sesekali beberapa kata keluar dari mulutnya. Dan yang kudengar selalu kata "Mama.......... jangan tinggalkan Safa, Ma." Nina memeluknya erat-erat, seakan ia memahami hati dan ingin menenangkan Safa anakku. " Ah, maafkan aku anakku, mama terlalu bodoh melakukan hal yang tak pernah mama pikirkan dahulu. " tiba-tiba perasaan sedih tiba dalam alam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ambulance sudah mendekat di pintu rumah sakit, pintu ambulance segera dibuka. Jasadku didorong menuju ruang gawat darurat. Di situ tampak kulihat begitu banyak orang-orang mengiringi kasur dorong yang sedang mendorong jasadku. Dalam rombongan itu, aku melihat suamiku. Baru kali ini kulihat muka suamiku berlumuran air mata. Sesaat aku begitu terharu dengan suasana ini. Tapi, lagi-lagi aku teringat akan berita perselingkuhan suamiku. Amarahku kembali membuncah. Aku benar-benar marah dan sakit hati karena telah dihianati oleh suamiku yang dulu pernah mencintaiku. Oleh karenanya kutempuh jalan yang teramat bodoh ini. Meminum racun karena berharap semuanya kusudahi. Tapi, kini. Aku begitu menyesal. Semuanya tak bisa hilang begitu saja. Aku harus menebus dosa besar ini di hadapan Sang Illahi. Dan akulah orang yang paling merugi, karena sudah kalah di dunia, di akhirat menebus dosa. Tapi semuanya tekah terlambat. "Maukah Tuhan mengembalikan lagi aku ke alam dunia ?" aku kembali menangis, hanya ini yang kumampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendekati jasad suamiku. Kucoba menatap matanya yang sembab. Sesekali ia usap pipinya yang dijatuhi bulir-bulir air matanya. "Ma, kenapa sampai hati kamu berbuat seperti ini ? Apa Salahku ? Aku begitu teramat mencintaimu !" Samar-samar kudengar kata-katanya menyentuh aku. "Kuatkan jiwamu Ma, Ayo kembalilah pada aku dan Safa anak kita ". Aku kembali mematung. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba aku dipenuhi rasa mual yang tak terelakkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku muntah. Muntahanku begitu banyak dengan aroma baygon yang teramat pekat. "Alhamdulillah. . . . ", berkali-kali kudengar para suster yang sedang berusaha mengobatiku mengucap syukur atas apa yang telah terjadi pada diriku. Mungkin karena begitu shock dan lemah, aku tertidur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mataku kubuka perlahan-lahan, kulihat suamiku dan Safa sedang tertidur di ranjang pembaringanku. Perlahan ku usap rambut suamiku. Suamiku terbangun. "Ma, jangan ulangi lagi perbuatan ini ya Ma ! Kami semua sayang Mama" Ia segera memelukku. Tak beberapa lama lagi, Safa terbangun. "Safa, terima kasih ya, Kamulah yang menolong Mama " ,  ucapku lirih. Kami sama-sama berpelukan dengan berurai air mata. Dalam hati aku berucap hamdallah, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-2403611683568497940?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/2403611683568497940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/hidup-kedua-kali.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/2403611683568497940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/2403611683568497940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/hidup-kedua-kali.html' title='Hidup Kedua Kali'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-1531600087418141955</id><published>2010-02-04T04:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-05T04:43:06.751-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Maukah Sekali Saja Kamu Memuji Aku ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;.Sudah hampir delapan tahun ini aku hidup bersamanya dalam sebuah bahtera pernikahan yang sakral bagiku. Kehadiran sepasang anak yang Tuhan titipkan kepada kami, menemani hari-hariku. Mereka seperti pengganti kesepianku. Aku percaya bahwa Tuhan tak akan memberi banyak kesedihan pada hamba-hambanya. Seharusnya kita jangan selalu mengeluh dan mengeluh. Masih banyak karunia Tuhan yang lain yang patut kita syukuri. Dan Tuhan pasti akan membalas apa yang telah kita syukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhir-akhir ini aku sudah merasakan hal yang lain dari diri suamiku. Seolah pernikahanku terombang-ambing oleh ketidak pastian sikap suamiku padaku. Sering intonasi kata-katanya sudah tak tertata lagi. Entahlah, apakah aku terlalu serakah padanya ataukah ini adalah benar-benar kegundahanku sendiri ? Yang jelas hati ini selalu tercabik-cabik kala dia melontarkan sebuah kata untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku belakangan selalu sibuk dan sibuk. Meski Aktifitas kerjanya hanya berkutat hingga jam 4 sore, namun kegiatannya di luar itu banyak sekali. Kamis ada pengajian, sabtu bulu tangkis dan minggu ada pengajian selama 3 - 4 jam. Di luar itu setiap hari atau terkadang dua hari sekali, entah itu di saat pagi atau menjelang malam ia mengurusi dan mengontrol usaha sampingannya. Praktis, aku dan anak-anak sering tak pernah merasakan kehadiran sosoknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru menemukan sebuah kalimat yang begitu menohok kerongkonganku. Sebuah kalimat yang seharusnya kubaca sebelum aku meng-iya-kan suamiku untuk membuka suatu usaha. " Jika anda ingin memiliki bisnis sampingan, itu berarti anda harus meng-ikhlaskan beberapa waktu anda bersama keluarga". Hingga kini aku begitu menghargai waktu. Bagiku uang bisa dicari kapan saja, sedangkan waktu tak akan pernah berulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali malaikat dan bidadari kecil ku mengeluh, mereka protes pada kedua orang tuanya. "Ma, kapan sih Abi pulangnya ? koq pergi-pergi terus ? kan udah ada yang jaga ?" celoteh Si Kakak. "Sabar ya, Abi kan cari uang untuk bayar sekolah Mas", aku berusaha menenangkan kegundahan hatinya, meski sejujurnya aku juga menantinya. Lucunya lagi adiknya ,"Mama sih terlalu banyak masak, jadinya aku nangis". Ku akui, di pagi hari aku sibuk memasak, menyiapkan sarapan dan makan seharian untuk kami sekeluarga. Meski sesibuk apapun aku berusaha memandikan kedua anakku agar mereka merasakan tanganku. Di pagi hari, sesekali menggendongnya sambil memperhatikan kata-katanya atau sekedar memeluknya dengan sebuah kecupan sambil berucap "wangi ya, udah cantik sih, kan udah mandi".  Semua itu berharap si kecil mau kutinggal kerja tanpa menangis. Sepulang kerja aku memasak lagi untuk persiapan memasak di pagi hari. Hingga maghrib berkumandang, aku baru bisa bersama anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suamiku sedang tak ada di rumah, kadang aku merasa lelah. Tak kupungkiri Anak-anak jaman sekarang nakalnya beda. Tapi pantaskah aku berkeluh kesah, sedang di luar sana masih banyak pasangan yang mendambakan dan menanti-nanti buah hatinya hadir ? Harusnya aku selalu ingat ini. Tapi lagi-lagi, aku masih belum bisa melapangkan dada. Bagiku seorang wanita karir sungguh teramat mememeras keringat  jika pembantunya hanya ada di saat aku bekerja. Jika aku pulang ke rumah, pembantuku juga pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin untuk anak-anak aku masih bisa sabar menghadapinya. Tapi, abinya ? sulit sekali rasanya aku berucap. Etikad yang sangat baik, jika suamiku mendalami agamanya. Saat ia di rumah, lebih sering ia berada di dalam kamar, menyendiri, seolah ia tengah asyik dengan dunianya sendiri. Entah itu dia tertidur karena lelah, atau menghafal surat Al Qur'an. Anak-anak asyik bermain sendiri sambil menonton TV di kamar tengah. Sedang aku sibuk di belakang memasak. Haruskah ia melalaikan keluarganya ? Apakah dia tak menyayangkan waktu untuk keluarganya ? Pertanyaan ini menyesakkan dadaku akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin semua wanita itu perasa, meski sekeras apapun wataknya. Atau mungkinkah aku orang yang sensitif ? Sampai saat ini aku tak tau harus bagaimana menghadapi pasangan yang pendiam yang hanya berbicara seperlunya. Seolah mulutku terkungkung rapat, menutup segala alam kreatifitasku. Kadang aku merasa serba salah, di saat aku merasa care, ia malah marah. Jika sesekali ia bicara, terkadang membuat hatiku teriris dan selalu kuingat dan kuingat lagi. Pernah suatu ketika dia katakan " ga' mungkin kamu deh, kamu kan wanita durhaka." Masya Allah, sekali ini aku harus menelan ludahku, mencoba menggulung kemarahanku kali itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah aku katakan padanya "Dalam hidupku bersamamu, aku belum pernah sekalipun mendapat pujian". Ia bilang "memangnya kamu untuk dipuji-puji ?" Aku yakin kata-katanya sungguh-sungguh, ia mengucapkan kata-kata itu sambil menatap mataku. Sedang aku, karena tak kuat ku alihkan pandanganku ke tempat yang lain. Meski demikian, lamunanku tetap melayang, mengulang-ngulang kata-kata suamiku tadi. Hatiku seolah pecah berkeping-keping mendengarnya. Bagaimana mungkin ia mampu mengatakan itu untuk aku istrinya ? Apakah aku terlalu serakah jika ingin meminta sebuah pujian ? Berkali-kali kuucap istighfar. Mungkin begitu banyak dosa yang harus kutebus dengan cara seperti ini. Pernah aku melihat film cinta remaja. seorang sahabat menyarankan sahabat yang laki-laki untuk bersikap romantis saat PDKT dengan seorang cewek, ia bilang "kamu pujilah dia ! cewek kan senang dipuji".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahkan merasa lebih sering dicaci oleh suamiku sendiri. Bukankah itu menyakitkan ? Tegakah ia seperti itu pada pasangannya sendiri ? Tak bisakah ia menjaga sedikit saja perasaan pasangannya ? Lagi-lagi kupikir aku terlalu serakah. Ataukah aku terlalu larut dalam setiap yang kutemui ? Hingga kini kuredam semua dalam tangis khayalku. Aku percaya Tuhanlah yang masih menyayangiku. Tuhan begitu menganggapku teramat kuat untuk menjalani hidup yang seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-1531600087418141955?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/1531600087418141955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/maukah-sekali-saja-kamu-memuji-aku_04.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/1531600087418141955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/1531600087418141955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2010/02/maukah-sekali-saja-kamu-memuji-aku_04.html' title='Maukah Sekali Saja Kamu Memuji Aku ?'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-3838647060135368043</id><published>2009-11-13T06:31:00.000-08:00</published><updated>2009-11-13T06:40:42.304-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Ketika Ku Berada di Penghujung Pilihan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Sv1vsStQlkI/AAAAAAAAAL4/7ca86xnGioc/s1600-h/pilihan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 115px; height: 144px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Sv1vsStQlkI/AAAAAAAAAL4/7ca86xnGioc/s400/pilihan.jpg" border="0" alt="Ketika Ku Berada di Penghujung Pilihan"id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403597934641059394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Ketika bulan tengah sempurna bulat dengan cahayanya yang tak menyilaukan mata. Begitu indah purnama itu. ku tatap dalam-dalam, ku resapi, kususuri sejauh pandanganku. Hening, tak ada suara apapun saat itu. Mungkin yang mampu kurasakan hanya hembusan angin berkali-kali yang menggelitik aku, seolah ia hendak menyapa dan menghibur diriku kali ini. Di saat itu pula rinai air mata jatuh satu demi satu. Perjalanan yang baru kutempuh ini hampir membuatku enggan untuk melangkah lagi. Aku trauma setelah ku mulai kesendirian ini tanpa dirimu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dulu, meski pernah ada sebongkah asa untuk bisa saling berbagi kasih, namun rasa khawatir itu selalu hadir mengiang-ngiang, membuntuti alam pikiranku kemanapun aku pergi. Ya.... aku selalu takut kehilangan sosok dirimu. Dirimu yang dulu begitu membuai hatiku. Begitu menguatkan kenyakinanku untuk terus bersamamu selamanya. Dirimu yang selalu hadir meski hanya dari sebuah pesan singkat ( SMS ), atau sebuah telepon sebagai pengantar tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintamu seperti begitu tulus untukku seorang. Mungkin aku terlena karena cinta yang begitu membara, membuncah di antara semak-semak hatiku.Berulang kali ku tangisi cinta maya ini. Begitu hampa jika aku hanya dapat bertemu denganmu walau hanya dalam tulisan-tulisanmu. Beberapa kali kutemui dirimu lewat webcam laptopku. Mungkin akan terdengar aneh, jika aku menangis atau tertawa di depan LCD ku. Jari-jarikupun sebagai saksi cinta kita saat itu. Ia dengan luwesnya selalu cepat memencet tombol-tombol yang ada di keybord untuk segera membalas tulisan-tulisan darimu. Sebuah resiko yang harus kutempuh jika waktu dan tempat&lt;br /&gt;tak pernah aku permasalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima bulan sudah berlalu, membuat rinduku semakin menggebu-gebu. Tapi sayangnya, rinduku ini terseok-seok. Ia seperti terabaikan dan akhirnya terlunta-lunta karena tak pernah terpenuhi. Menyakitkan, kami belum berjumpa sekalipun ! Karena kamu berada di Pakistan, sedangkan aku di Indonesia, inilah yang menjadi "the big reason". Hingga suatu kali Tuhan mengijinkan aku bertemu dengannya. Dia benar-benar datang menjumpaiku ke Indonesia. Sebuah hadiah yang telah kunanti-nanti tepat di hari ulang tahunku. Dalam kehadirannya, dia begitu mempesona. Berkulit kemerahan dengan hidung khasnya yang mancung. Tubuhnya yang tinggi dan kokoh seperti melengkapi kegagahannya. Aku begitu sangat terkesima pada kesan pertama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bahasa yang kami pakai adalah bahasa Inggris yang belum sempurna kuucapkan, dia begitu ramah.Ternyata gayung bersambut, pertemuan itu tidak sia-sia rupanya. Hati kami seolah saling bertautan. Dia ingin mengajakku pergi ke tempatnya untuk meninggalkan Indonesia bersamanya. kala itu, aku begitu bimbang. Keluargaku tak menyetujuiku. Kamu hanya memberiku waktu tiga hari untuk memberi jawaban. Tiga hari itu pula yang menjadi malam-malam penuh dilema. Begitu sulitnya aku harus memilih, seakan melemaskan urat-urat syarafku ini. Makan dan minum pun jadi enggan untuk kunikmati. Akhirnya tiga hari itu berakhir. Akupun harus memberi keputusan. Meski teramat berat, akhirnya aku menyerah. Kulepas kamu pergi kembali ke Pakistan seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tau jika dia begtu kecewa, aku juga tau jika seharusnya aku enggan memilih keputusan ini. Tapi, hidup ini harus memilih. Meski kesendirianku ini begitu menyakitkan, kucoba bertahan mengarungi hari-hariku menjelang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-3838647060135368043?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/3838647060135368043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/11/ketika-ku-berada-di-penghujung-pilihan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3838647060135368043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3838647060135368043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/11/ketika-ku-berada-di-penghujung-pilihan.html' title='Ketika Ku Berada di Penghujung Pilihan'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Sv1vsStQlkI/AAAAAAAAAL4/7ca86xnGioc/s72-c/pilihan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-6301275302251896783</id><published>2009-10-31T15:06:00.000-07:00</published><updated>2009-10-31T15:06:00.549-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengemis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Pengemis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Sutj5yHJbkI/AAAAAAAAALw/5u31AmVRZVg/s1600-h/pengemis.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 88px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Sutj5yHJbkI/AAAAAAAAALw/5u31AmVRZVg/s400/pengemis.jpg" alt="Pengemis" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398518422689115714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Pengemis, suatu nama yang menjadikan dirinya mungkin layak diberi sebuah rasa kasihan. Hidup dengan berharap dari belas kasih manusia. Kian hari mereka kini begitu banyak jumlahnya. Kita bisa menemuinya di bus-bus kota, di trotoar jalan, di perempatan jalan menanti mobil yang sedang menunggu lampu merahhberganti hijau atau sesekali melewati rumah demi rumah menunggu belas kasih seseorang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mereka kadang-kadang penipu. Mengaku sebagai kaum papa, tapi nyatanya rumah di kampung halamannya sungguh besar luar biasa. Mereka hidup merantau ke kota dan menjadi pengemis sebagai profesinya. Kadang kala, mereka berpura-pura cacat. Entah itu tangannya yang ditekuk ke dalam baju hingga bajunya terlihat kosong tanpa tangan. Atau juga dia berjalan dengan bertumpu pada tangan sambil menyeret kakinya mengharap iba dari para penumpang bus. Namun adapula yang berpura-pura sebagai orang yang telah bertaubat dalam lumpur dosa, dia menceritakan panjang lebar tentang kisahnya di dalam bus kota seakan tak punya uang untuk bekal kembali ke desanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan kudengar jika kita memberi uang pada kaum seperti mereka akan dikenakan sanksi. Sungguh suatu dilema. Akankah kita akan menjadi manusia yang sulit berbagi ? Tegakah kita melihat seseorang yang papa, yang seharusnya membutuhkan uluran tangan kita ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, aku sama sekali tak menghiraukan aneka kelakuan dari si pengemis. Biar bagaimanapun bagiku hanya Tuhanlah yang berhak menghakiminya. Suatu saat kutemui pengemis dengan jalan tertatih-tatih. Ia ragu-ragu ingin mengulurkan tangannya padaku. Setelah aku lewati dirinya, aku melihatnya dari arah belakang. Dugaanku ternyata salah, ia benar-benar berjalan dengan bersusah payah. Seorang lelaki tua dengan baju hitam pudar yang sudah kumal. Mungkin sehari ini belum cukup makanan yang masuk ke kerongkongannya, kupikir. Buru-buru aku mengambil selembaran uang yang ada dalam tasku dan menyuruh anakku untuk segera memberikan uang ini padanya. Anakku berlari padanya. Pengemis itu memandangi diriku dari kejauhan , berkali-kali dia menundukkan pandangannya seperti tanda berterima kasih. Meski sedikit yang kuberi, tiba-tiba saja perasaan bahagia muncul begitu saja meletup-letup dalam relung hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika kulihat seorang lelaki, dengan tubuh yang tak tampak renta menelungkupkan tangannya ketika aku menghampirinya. "Maaf, Pak" begitulah yang terlontar dari dalam mulutku. Meski dalam hati ingin rasanya memarahinya, membentaknya mengapa dengan tubuhnya yang masih terlihat gagah beraninya ia sampai hati menjadi pengemis. Padahal Bisa saja orang itu menjadi kuli pengangkat beras di pasar. Bukankah tangan di atas adalah lebih baik ketimbang tangan di bawah ? Meski hatiku meronta-ronta dibuat kesal oleh pengemis yang gagah itu, aku tetap tak bernyali untuk memakinya. Aku teringat pesan orang tuaku kalau pengemis itu tak boleh dihardik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari kutatap matahari begitu panas menyengat. Mungkin begitu pula dengan orang - orang lainnya. Mungkin banyak orang mengeluh karenanya. Terutama jika mereka tengah berada di luar sana di dalam bus kota yang penuh sesak berpacu melawan kemacetan. Mau tak mau batin berperang ingin menyudahi situasi ini. Meski aku tak hidup di kota yang katanya hidup penuh gemerlap dan serba ada, harusnya kusyukuri ni'mat Illahi yang tiada taranya ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-6301275302251896783?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/6301275302251896783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/pengemis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/6301275302251896783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/6301275302251896783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/pengemis.html' title='Pengemis'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Sutj5yHJbkI/AAAAAAAAALw/5u31AmVRZVg/s72-c/pengemis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-927937318012049315</id><published>2009-10-30T14:55:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T15:14:17.806-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='moment'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Ketika Gempa Terjadi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SutiZhgDmLI/AAAAAAAAALo/OCrbv6z6PLg/s1600-h/earthquake02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SutiZhgDmLI/AAAAAAAAALo/OCrbv6z6PLg/s400/earthquake02.jpg" alt="Ketika Gempa Terjadi" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398516768962746546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Belakangan ini Indonesia didera bencana gempa bumi yang bertubi-tubi. Sudah pasti banyak air mata karena peristiwa itu. Ada bayi-bayi yang tiba-tiba menjadi yatim piatu, belum lagi mereka kehilangan tempat tinggal dan penyakit meraja rela di sana sini. Trauma pasca gempa menghantui jiwa-jiwa mereka. Lapangan pekerjaan sirna dalam sekejab. Anak-anak menangis karena menahan lapar atau kedinginan karena tak ada selimut atau karena ditinggalkan orang tua mereka untuk seumur hidupnya. Sedang orang tua yang masih hidup kebingungan, ia tak bisa memberi apa-apa lagi untuk anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seorang temanku kebetulan orang tuanya tinggal di kota Pengalengan, Bandung. Saat gempa Tasikmalaya terjadi, rumah orang tuanya luluh lantah rata bersama tanah. Suasana duka menyelimuti hati mereka. Malam yang gelap gulita karena jaringan listrik yang ikut mati membuat suasana menjadi semakin mencekam. Belum lagi, masih ada kasus yang sungguh mengenaskan saat itu. Ada segerombolan manusia mengais sisa-sisa reruntuhan rumah bekas gempa yang telah rata. Betapa tak punya perasaan sedikitpun manusia yang tega berbuat seperti itu. Di tengah bencana teganya dia mencuri barang dari orang yang terkena bencana. Belum lagi bantuan dari pemerintah terlambat untuk dikucurkan. Suatu hari hanya tersedia satu indomie saja, padahal untuk satu keluarga. Bagaimana mereka membaginya ? Ah, aku tak tega untuk menceritakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teganya lagi ada oknum pejabat daerah yang tega menyelewengkan dana bantuan untuk korban gempa. Bagaimana bisa uang yang seharusnya diperuntukkan bagi orang yang terkena musibah dan mereka sangat sedang membutuhkannya diraupnya dengan begitu serakah. Apakah mereka tak takut akan azab Tuhan yang sangat keras siksanya ? Apakah masih belum cukup musibah yang baru saja ditimpakan untuknya ? Aku hanya bisa terdiam sejenak lalu mengurut dada, beristighfar berkali-kali, berharap orang-orang itu mendapat hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja pemerintah kita baru terpilih menjalankan tugasnya. Ketika menjabat beberapa hari, issue kenaikan gaji para menteri merebak untuk segera ditunaikan. Dan diumumkan bahwa satu persatu, mereka mendapat fasilitas mobil mewah dengan harga yang cukup fantastis, 1 milyar.  Sebagai rakyat biasa, Jika saja aku yang mendapatkannya, meski setiap orang pasti akan senang jika mendapat sesuatu yang gratis apalagi dengan harga yang sangat tinggi. Tapi jika aku yang mendapatkannya, Sungguh akan kukembalikan lagi mobil itu. Buat apa aku mengendarai mobil lux, tapi aku hidup ditengah rakyat yang miskin yang seharusnya kita santuni. Aku lebih memilih mengendarai mobil biasa, dari pada menaiki mobil dari tangis air mata penderitaan rakyat jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di tengah maraknya gempa yang melanda, masyarakat seolah-olah dihantui oleh ketakutan jika gempa itu benar-benar kembali menimpa lagi. Bagaimana jika gempa itu terjadi disaat kita sedang terlelap tidur dan dibuai mimpi ? Bagaimana jika tiba-tiba tidur kita menjadi tidur yang panjang menunggu hari penghitungan amal dari segala perbuatan kita ? Bagaimana jika kita tiba-tiba telah dikafani untuk dikuburkan bersama-sama dengan korban gempa lainnya ? Mari kita memperbaiki dan mulai menabung ibadah masing-masing untuk bekal kita di hari yang kekal. Yang terbaik adalah bersegeralah, mumpung kita masih diberi waktu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-927937318012049315?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/927937318012049315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/ketika-gempa-terjadi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/927937318012049315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/927937318012049315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/ketika-gempa-terjadi.html' title='Ketika Gempa Terjadi'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SutiZhgDmLI/AAAAAAAAALo/OCrbv6z6PLg/s72-c/earthquake02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-8651595843514127713</id><published>2009-10-20T15:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T15:35:03.978-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah tangga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Ketika Terbalut Duka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/St46qdeQ58I/AAAAAAAAALg/YoA5Ydp-8sY/s1600-h/sahabat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 131px; height: 117px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/St46qdeQ58I/AAAAAAAAALg/YoA5Ydp-8sY/s400/sahabat.jpg" alt="Ketika Terbalut Duka" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394813904776914882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Tiba-tiba saja naluriku sebagi seorang lelaki hadir dalam adrenalinku meskipun statusku kini telah memiliki seorang istri dan dikaruniai dua orang bocah laki-laki. Aku juga tak mengerti mengapa semuanya bisa terjadi begitu saja. Antara rasa cinta dan iba sama sekali tak kukenali keduanya. Semenjak ia sering curhat padaku mengenai keadaan rumah tangganya padaku, rasa itu hadir menggelayuti sudut-sudut ruang hatiku.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dialah Yanti, rekan sekerjaku, yang sehari-harinya kerap berbicara, entah itu seputar masalah kerja atau sekedar obrolan basa basi mencairkan suasana kerja yang penuh menguras tenaga dan otak. Ia begitu energik dan selalu ceria. Tak pernah sedikittpun terpancar kegundahan hatinya. Karena aku merasa cocok dengan gaya bicaranya yang sopan, dan kadang-kadang sedikit manja, akhirnya setiap makan siang kami keluar makan bersama, terkadang bersama rekan kerja lainnya. Hingga akhirnya kami seperti sepasang sahabat yang dibatasi oleh tali pernikahan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena kedekatan ini, antara aku dan dia sering menanyakan kabar masing-masing. Terkadang aku memberitau dia kalau anakku sedang panas dan tak mau makan. Dia dengan serta merta penuh semangat menyuruhku untuk membeli vitamin nafsu makan dan menyegerakan membawanya ke tukang urut.  Meski tampak seperti seorang wanita yang bawel, aku menikmati ocehannya itu. Jika ia tak masuk kerja rasanya ada yang kurang dan mengganjal hati. Meski hanya satu hari aku merasa kehilangan sososknya. Kata-katanya begitu lembut dan sangat hati-hati sekali, oleh karenanya dia begitu memberi kesan tersendiri bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat kupergoki dirinya seorang diri termenung di depan monitor kerjanya, mata berkaca-kaca. Buru-buru ia mengusap matanya dengan tissue yang ia peroleh dari dalam sakunya. Aku tau kalau air mata itu adalah air mata sungguhan. Hari ini Yanti tampak tak seperti biasanya. Untungnya di ruangan ini sepi, semua karyawan sedang makan siang di kantin. Aku jadi lebih leluasa mengintrogasinya.&lt;br /&gt;"Yanti, ada apa ? katakan yang sesungguhnya padaku !" Kali ini aku benar-benar memaksanya untuk menjawab.&lt;br /&gt;"Ga' ada apa-apa koq, aku baik-baik aja." Dia berusaha berkelit menutupi kesedihannya.&lt;br /&gt;"Buat apa ada aku ? Aku ini kan sahabatmu, ayo ceritakan, please deh..... !" Aku mengulangi permintaanku lagi.&lt;br /&gt;Sesekali Yanti tampak ragu menatapku, seolah ia tak mau berbagi masalahnya padaku.&lt;br /&gt;Tapi beberapa saat kemudian, dia mulai mengawali kalimatnya.&lt;br /&gt;"Aku udah ga' tahan, Pras. rasanya aku ingin pergi menjauh dari rumah !"&lt;br /&gt;'Lho, ada apa Yanti ?" kata-kata yanti membuatku bingung.&lt;br /&gt;"Kami memang serumah, tapi hati kami tertambat di suatu tempat yang berbeda. Di rumah, kami seakan menjadi orang yang tidak saling mengenal. Suamiku benar-benar pasif, Pras. Bicaranya sangat sedikit sekali. kamu kan tau aku ini orangnya suka celoteh. Ya...kalau aku terus - terusan yang bicara, pincang sebelah dong ? Aku merasa tak ada teman berbagi di rumah."&lt;br /&gt;Perlahan aku mengernyitkan dahiku, kutatap mata Yanti dalam-dalam, aku sungguh tak bisa mempercayai kata-kata yang baru terucap di bibir Yanti. Seorang Yanti yang dulu penuh keceriaan, ternyata keceriaannya selama ini sungguh berbeda dari kenyataan.&lt;br /&gt;"Sabar, Yanti. Semuanya belum berakhir. Kamu masih bisa merubahnya." Aku mencoba membantunya.&lt;br /&gt;TIba-tiba satu demi satu para karyawan datang tanda jam istirahat telah usai. Akhirnya kamipun buyar ke tempat kerja masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalaman aku tak bisa tidur. Pikiranku selalu berputar-putar memikirkan Yanti. Aku tak tega melihat yanti menderita. Berkali-kali aku menggeleng, kenapa suaminya tega terhadap Yanti. Orang sebaik Yanti rasanya tak pantas mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Dari sinilah getar-getar cinta ku datang. Aku jadi merasa ingin meilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, di siang hari, aku mengajaknya makan ke kantin bersama. namun ajakanku sama sekali tak digubrisnya. Ia tak bergeming sedikitpun dari kursinya. Dengan sedikit gugup kukatakan jika aku mencintainya. Mendengar ucapanku itu, sesaat yanti tampak terdiam. Dia memandangi diriku yang penuh harap-harap cemas menanti jawaban apa yang akan datang dari bibir yanti setelah ucapanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali ia menatapku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.&lt;br /&gt;"Mas, cinta memang hak setiap orang. Mas bisa aja cinta saya. Kalau mas memang mencintai saya, tolong cintai istri mas sepenuh hati, jangan sakiti hatinya ! Tolong biarkan aku sendiri seperti ini !" Yanti langsung pergi meninggalkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti, yanti. Mengapa hatimu selembut salju, kamu begitu kuat mencintai suamimu. Semoga Suamimu akan kembali menyayangimu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-8651595843514127713?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/8651595843514127713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/ketika-terbalut-duka_20.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/8651595843514127713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/8651595843514127713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/ketika-terbalut-duka_20.html' title='Ketika Terbalut Duka'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/St46qdeQ58I/AAAAAAAAALg/YoA5Ydp-8sY/s72-c/sahabat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-5516562040050398053</id><published>2009-10-17T00:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T00:58:51.841-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Asa Dalam Rinai Air Mata</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Stl5AZkibZI/AAAAAAAAALQ/DGktSzTYoO8/s1600-h/air+mata02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 114px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Stl5AZkibZI/AAAAAAAAALQ/DGktSzTYoO8/s400/air+mata02.jpg" alt="Asa Dalam Rinai Air Mata" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393475076523978130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Akhirnya aku kembali bekerja lagi. Betapa baik hatinya majikanku mau menerima aku kembali sebagai buruhnya lagi. Setelah sebelumnya aku kembali ke rumah orang tuaku karena sakit panas yang tak kunjung reda. saat itu, tubuhku telah tak berdaya. Untuk pulangpun, aku diantar temanku. Mungkin typus yang telah menderaku waktu itu, nyatanya di rumah orang tuaku, aku diberi ibuku minuman yang dibuat dari cacing yang telah dibakar dan ditumbuk, aku disuruh meminumnya beberapa hari layaknya minum kopi. Selang beberapa hari penyakitku pergi, aku telah segar kembali seperti sedia kala.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah pengantar air galon keliling. Kulakoni pekerjaan ini meski hasil dari jerih payahku ini tak seberapa besar. Aku hanya mampu mecukupi kebutuhanku sendiri. Kerasnya kehidupan yang kian hari kian harus lebih berjuang guna bertahan hidup memompa adrenalinku untuk bisa memilih masa depan. Begitu sulitnya mencari lapangan pekerjaan saat ini. Pengangguran merambah dimana-mana, belum lagi PHK juga semakin meraja rela. Daripada menjadi pengangguran tak menentu, mau tak mau aku pilih pekerjaan ini, meski hanya sebagai pengantar air galon keliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, majikan tempatku bekerja sangat baik. Ia memperhatikan kebutuhanku. Biaya kost dan makan sudah ditanggung oleh majikanku. Aku diberi imbalan uang rokok dan seribu rupiah tiap galon yang aku antar. Dengan pendapatanku yang seperti itu, aku jadi tak bisa mengirimi uang untuk orang tuaku. Tapi betapa besarnya hati orang tuaku, nyata mereka disana memahami keadaan diriku. Kadang, rinai air mata ku tak kuasa turun satu demi satu membasahi pipiku di kala aku sedang sendiri. Aku seperti anak yang tak tau diri telah tega tak mengingat keberadaan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang usiaku, kian hari semakin bertambah, sejenakpun tak mau berhenti meski hanya untuk sesaat sekalipun. Manusiawi, sebagai seorang laki-laki keinginan untuk menikah selalu menyambangi dalam kubah hatiku ini. Bukankah bayangan-bayangan indah bersama sang pujaan hati adalah impian setiap insan di jagad raya ini ? Tapi, bagaimana dengan aku yang seperti ini ? Kadang, aku begitu takut menunggu saat masa depanku tiba. Harapan-harapan indah seolah hanya sebagai bunga mimpi belaka penghias di siang bolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah malam di bawah lampu temaram kutatap langit membiru gelap. Begitu sempurna keindahannya, bintang-bintangnya bertaburan, mereka seakan mengajakku tertawa riang untuk sejenak melupakan kesedihanku ini. Kadang aku tersenyum pada mereka berharap mereka senang jika aku bahagia. Merekalah temanku sepanjang malam-malam sepiku yang tanpa bertepi. Ingin sekali kupetik satu saja darinya. Ah, bodohnya aku terlalu lama berhayal ! Aku kembali dalam do'a di atas sebuah sajadah biru pemberian ibu saat aku ingin berangkat merantau berharap Sang Illahi mau mengubah nasibku kelak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-5516562040050398053?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/5516562040050398053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/asa-dalam-rinai-air-mata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/5516562040050398053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/5516562040050398053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/asa-dalam-rinai-air-mata.html' title='Asa Dalam Rinai Air Mata'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Stl5AZkibZI/AAAAAAAAALQ/DGktSzTYoO8/s72-c/air+mata02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-2781523210571697476</id><published>2009-10-16T03:11:00.000-07:00</published><updated>2009-10-16T03:13:52.944-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mimpi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Jangan Kau Cepat Pergi, Mimpi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SthHI6iu-vI/AAAAAAAAALI/GT8pd_vKuBo/s1600-h/Mimpi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 111px; height: 121px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SthHI6iu-vI/AAAAAAAAALI/GT8pd_vKuBo/s400/Mimpi.jpg" alt="Jangan Kau Cepat Pergi Mimpi" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393138772255636210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Pagi ini aku terbangun dari sebuah mimpi. Mimpi yang paling terindah dari sekian mimpi-mimpiku yang pernah ada. Aku bertemu dengan istriku yang telah meninggalkanku beberapa tahun yang lalu. Ia pergi meninggalkan aku dan seorang buah hati kami sesaat setelah berhasil melahirkan Aisyah, putri tunggal kami yang cantik secantik Mamanya. Ya,... istriku pergi setelah berjuang untuk bisa melahirkan Aisyah, meski nampak sangat berat perjuangan itu akhirnya berakhir maut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam mimpi itu, aku benar-benar tak menyadari jika saat itu aku tengah di alam mimpi. Seakan antara semu dan nyata tak sedikitpun ada bedanya . Istriku benar-benar hadir menemaniku. Tubuhnya terbalut gaun serba putih. Ia nampak begitu cantik sekali. Tiada cacat satupun padanya, aku semakin terpesona padanya. Senyumnya masih sama seperti saat-saat terindah dulu ketika ia masih hidup. Saat itu, aku seakan hendak bertamu di sebuah istana yang sangat megah dan indah serba bercahaya. Dalam hati bertanya-tanya, siapakah penghuni istana nan indah dan megah ini ? Tiba-tiba saja aku terhenyak kaget luar biasa, ternyata yang membuka pintu itu adalah istriku. Sejenak aku terdiam, kupandangi dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki, saat tangannya yang lembut itu memegang gagang pintu yang terbuat dari emas, kukenali kalau tangan itu adalah tangan istriku. Dia menjawab salamku dengan penuh mesra, tanganku dikecupnya. Dia bagaikan seorang bidadari dari syurga untukku. Sayangnya, mimpi ini berakhir terlalu dini. Aku terbangun. Air mataku mengalir begitu saja, seakan tak rela jika mimpi ini masih ingin kulanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitri, istriku adalah sosok istri idaman bagiku. Aku begitu mencintainya sejak kunikahi dirinya. Dia begitu lembut, penyayang dan penuh perhatian padaku. Dia benar-benar wanita yang pandai mendampingiku. Dia tau apa yang harus dia lakukan saat aku senang pun di saat-saat susah sekalipun. Kala duka menderu, dia penyemangatku., tak jemu-jemu dialah orang pertama yang membuat aku tak pernah putus asa. Kala senang, ia selalu mengingatkanku untuk selalu menyisihkan kebahagiaan ini kepada kaum dhuafa. Pernah ia meminta agar dikala mampu sebaiknya walau sedikit kita harus semampunya memberi. Dengan kita memberi mungkin akan bermanfaat, jangan menunggu saat kita tak punya apa-apa lantas kita menyesal akan ketidak mampuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku malah tengah asyik bersama Aisyah. Membesarkannya sendiri adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Kini Aisyah telah berumur lima belas tahun. Sebuah waktu yang memberiku sebuah arti kesabaran bagi seorang aku yang ditinggalkan oleh istri. Aku begitu bangga padanya, karena kini ia menjadi wanita sholehah yang selalu menuruti setiap kata-kataku. Setiap langkahnya ada do'aku di sana. Do'a dari seorang ayah kepada anak yang begitu disayanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga masih belum ingin mencari pengganti Mama untuk Aisyah. Tak ada yang mampu menggantikan posisi fitri bagiku. Mungkin karena aku begitu teramat mencintainya, rasanya enggan mencari pengganti fitri. Beberapa laki-laki sepertiku mungkin akan lebih memilih menikah. Tetapi tidak bagi diriku. Aku tak ingin menodai kebaikan dan ketulusan cinta yang telah terukir dari tangan istriku. Fitri, semoga kau menjadi bidadariku di Syurga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-2781523210571697476?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/2781523210571697476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/jangan-kau-cepat-pergi-mimpi_16.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/2781523210571697476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/2781523210571697476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/jangan-kau-cepat-pergi-mimpi_16.html' title='Jangan Kau Cepat Pergi, Mimpi'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SthHI6iu-vI/AAAAAAAAALI/GT8pd_vKuBo/s72-c/Mimpi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-5142622857173422294</id><published>2009-10-13T15:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T15:06:58.880-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Aku berhenti di Sebuah Dermaga Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/StT51XsBoTI/AAAAAAAAAK4/ZyJRDc_gt8o/s1600-h/nikah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 104px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/StT51XsBoTI/AAAAAAAAAK4/ZyJRDc_gt8o/s400/nikah.jpg" alt="Aku berhenti di Sebuah Dermaga Hati" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392209349156380978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Akhirnya kutemukan juga belahan hati yang akan menemaniku disepanjang sisa umurku. Ya.. Aku pada akhirnya menikah, meskipun kini usiaku telah 37 tahun. Sebuah angka yang cukup dewasa bagi seorang wanita yang baru akan melangkah di sebuah jenjang pernikahan. Aku melangkah seperti tertatih-tatih berharap kuraup setitik buih lautan dari syurga Tuhan semesta alam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, sama sekali asa itu tak pernah terselip dalam otakku, aku mengira semuanya sudah mentok. Usiaku sudah tak cocok lagi untuk menikah. Apalagi aku adalah seorang wanita, di usiaku kini tentu adalah usia yang rentan untuk mengandung dan melahirkan. Terutama, akan lebih menyenangkan bila dengan seorang wanita yang lebih masih muda. Toh aku harus bersaing dengan gadis-gadis lain yang lebih muda dariku. dari situlah nyaliku beralun mundur seolah bagai sebuah daun yang mulai kering, jatuh ke bumi lalu dihembus oleh sebuah angin, berterbangan tak tentu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah layang-layang akan terbang tinggi mengikuti arah angin, ia tak pernah lelah meskipun telah terbang sekian lama. Namun suatu saat ia akan tumbang, karena dikalahkan oleh sebuah layang-layang lainnya. Begitupun dengan diriku. Meski aku telah melanglang buana, pergi dari sebuah perahu layar ke perahu layar lainnya, namun tak pernah kutemui dermaga yang tepat, tempat kutambatkan hatiku padanya. Ah, terlalu banyak kriteria-kriteria yang ada dalam benakku. Padahal kini aku baru menyadari bahwa tak ada seseorangpun di dunia ini yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Sang Illahi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau dirunut, sebenarnya wajahku terbilang cantik, dengan tinggi 165 cm, berkulit kuning langsat, banyak beberapa teman lelaki yang kagum padaku. Sudah banyak kado-kado yang kuterima dari mereka. Aku tahu maksudanya, mereka ingin menarik hatiku. Bodohnya aku yang saat itu kian hari semakin sombong, aku mulai memilih-milih, mana yang sekiranya cocok denganku. Rupanya pilihanku salah, dia ternyata mendua. Padahal hubungan kami berjalan sudah lima tahun lamanya. Sungguh sia-sia sajalah kukira selama itu aku dengannya. Penyesalan ini membuat aku menjadi trauma jika melihat laki-laki. Pintu hatiku seakan tertutup pada setiap lelaki apapun untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara waktu Aku berusaha sekuat jiwa untuk melupakan seseorang berjenis lelaki. Entahlah, aku belum bisa memastikan sampai kapan luka ini bisa kulupakan. Aku terbenam dalam lautan kesibukan bekerja. Sampai aku diangkat menjadi vice president di sebuah bank Swasta ternama di Jakarta. Tapi nyatanya, hati kecil tak mampu berbohong. Ia rupanya selalu hadir sesekali dalam benak sanubari ini. Seperti ada yang berbisik padaku "Kapan kau menikah ?" Belum lagi dari pihak keluarga, terutama Ibu. Ibuku lah yang selalu bertanya dan bertanya. Sebuah pertanyaan yang membuat jenuh jika harus menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku merasa hampa. Aku selau dikejar-kejar oleh pertanyaan-pertanyaan yang datang dari  setiap lamunanku. seperti, "Apakah kau tak ingin ada seseorang di sampingmu di kala kau membuka mata saat terbangun dari tidurmu ?" dan "Apakah kau ingin mati tanpa ditemani sesorangpun ?" bulu kudukku merinding, seolah aku ingin pergi dari kenyataan. Tapi aku tak mau disebut sebagai manusia pengecut yang takut menjalani hidup ini, lantas pergi dengan jalan pintas yang sangat bodoh dan mamalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Aku mulai dekat dengan agama. Seiring waktu, Aku sering menghadiri majelis ta'lim. Setiap akhir ceramahnya, aku selalu berkonsultasi secara pribadi dengan ustadzahnya. Ustadzahnya sangat baik, tutur katanya lembut, sungguh membuat hati menjadi sejuk sesejuk embun pagi yang jatuh dari pucuk daun di pagi hari. Dari sinilah kisahku berlanjut, Sang Ustadzah mengetahui bahwa aku belum menikah, ia mengutarakan akan membantu mencari jodoh untukku. Setelah kami saling diperkenalkan di suatu pertemuan di rumahku, kami sepakat menikah. Sebuah waktu yang tidak ingin diulur-ulur lagi. Bukankah sebuah kebaikan sebaiknya dilakukan dengan sesegera mungkin ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, aku mulai mampu melihat bintang-bintang di awan dengan penuh cahanya gemerlap saling berkelap-kelip seakan mereka tersenyum padaku. Ah, mengapa tak pernah kukagumi dari dulu cahayanya ? Mengapa baru kali ini  setelah aku menikah aku baru bisa memahami semua keindahan Sang Illahi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-5142622857173422294?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/5142622857173422294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/aku-berhenti-di-sebuah-dermaga-hati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/5142622857173422294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/5142622857173422294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/aku-berhenti-di-sebuah-dermaga-hati.html' title='Aku berhenti di Sebuah Dermaga Hati'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/StT51XsBoTI/AAAAAAAAAK4/ZyJRDc_gt8o/s72-c/nikah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-4476743167358495901</id><published>2009-10-11T07:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-11T07:24:50.071-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hujan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Apakah Buih-buih Hatiku Sedingin Hujan ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/StHqb5yoIRI/AAAAAAAAAKw/Jnfy4lnve2I/s1600-h/hujan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 139px; height: 120px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/StHqb5yoIRI/AAAAAAAAAKw/Jnfy4lnve2I/s400/hujan.jpg" alt="Apakah Buih-buih Hatiku Sedingin Hujan" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391347994029728018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. "Emak,..... dingin sekali Emak. Adi kedinginan Mak" berulang kali anakku mengeluh akan dinginnya siang ini, karena hujan telah mengguyur kota sepanjang dua hari dua malam ini. Tapi aku sama sekali tak bergeming, seakan keluhannya bagai hujan yang tengah membasahi bumi, ia akan berhenti dengan sendirinya. Sejenak mungkin aku tampak sebagai seorang ibu yang jahat pada anaknya, yang tega membiarkan buah hatinya terkungkung dalam dinginnya hujan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bukan tak ada rasa sayang lagi untuk anakku, getirnya hidup yang telah kami hadapi membuat kami harus bertahan hidup semampu kami. Suamiku yang mengais rupiah sebagai penjaja minuman gelas dari sebuah bis kota ke bis kota lainnya, tak bisa mencukupi kebutuhan hidup kami yang tinggal di kota Jakarta dengan harga - harga kebutuhan pokok yang kian hari kian melambung. Situasi ini membuat kami harus hidup dengan seadanya. Pernah suatu ketika, aku sampai berpuasa , aku memilih mengalah kepada anakku, uang hasil jerih payah suamiku seharian dirampas preman tak dikenal. Bulir-bulir air mataku mengalir, namun seiring waktu tak ada kecengengan lagi. Inilah resiko hidup di  ibukota dengan berbekal nekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuputuskan untuk membantu suamiku. Di kala musim panas, aku membuat panganan Onde-Onde buatanku sendiri. Malam hari, di kala anakku tertidur lelap, aku menyiapkan mengolah Onde-Onde, agar paginya setelah sholat shubuh, Onde-Onde itu bisa langsung ku goreng dan tidak memerlukan waktu yang lama, sehingga para penjaja Onde itu bisa mengambil Onde-Onde buatanku lebih pagi. Cukup membuat lelah juga jika kuingat dalam semalam aku mampu membuat Onde sebanyak 3 baskom besar. Tapi semuanya kulakukan dengan hati yang ikhlas berharap meraih pahala. Mungkin karena inilah keringat yang menetes tak pernah menuai keluh setelah kukecup pipi anakku yang sedang tertidur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di musim hujan, aku tidak menjajakan Onde-Onde lagi. Aku memilih sebagai Peng-Ojeg payung, meminjamkan payung di jalan saat hujan. Kala di rumah, waktu istirahatku memang lebih menyisakan waktu lebih banyak. Namun, Adi, anakku lah yang harus membayar semuanya ini. Ia harus ikut denganku. Meski dingin , sesekali Adi yang dalam gendonganku tampak riang bermain-main dengan air yang terciprat ke tubuhnya. Namun tak jarang ia juga mengeluh dingin. Pelukanku rasanya tidak cukup baginya, mungkin karena tubuhku yang dingin mengikuti cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali kulihat sepasang manusia sedang di dalam mobil, anaknya yang sedang tertidur dipeluknya dalam pangkuan Mamanya. Kesejukan di dalam mobil itu mungkin tak sedingin apa yang kami rasakan di luar ini. Bahagia sekali mereka terlihat dalam wajah-wajah mereka yang dipenuhi sekuncup senyuman  meski di luar tengah hujan tak mau berhenti. Kuciumi pipi anakku berkali-kali, berharap Adi juga mampu bahagia karena kecupanku. Untuk Sesaat kutangisi ketidak mampuanku ini, aku hanya mampu memberinya sebuah kecupan. Lamunanku buyar setelah kudapati bis berhenti tepat di depanku. Aku dan yang lainnya saling berebut pelanggan, menawarkan payung sekedar pelindung tubuh untuknya sesaat di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kami telah tiba di rumah, buru-buru kubuatkan wedang jahe manis untuk aku, suamiku dan si kecil Adi, anakku. Kami semua rentan terhadap penyakit, terutama penyakit karena cuaca. Hanya kepasrahan terhadap Sang Illahi yang hanya kami mampu. " Yaa Tuhan, jangan kau beri nasib yang sama ini untuk anakku. "&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-4476743167358495901?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/4476743167358495901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/apakah-buih-buih-hatiku-sedingin-hujan_11.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4476743167358495901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4476743167358495901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/apakah-buih-buih-hatiku-sedingin-hujan_11.html' title='Apakah Buih-buih Hatiku Sedingin Hujan ?'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/StHqb5yoIRI/AAAAAAAAAKw/Jnfy4lnve2I/s72-c/hujan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-7157831325954488283</id><published>2009-10-09T04:12:00.001-07:00</published><updated>2009-10-09T04:15:51.962-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='moment'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Hikmah di Balik Gempa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Ss8bJc3WQOI/AAAAAAAAAKg/RjFcf0f6_To/s1600-h/earthquake.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 94px; height: 124px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Ss8bJc3WQOI/AAAAAAAAAKg/RjFcf0f6_To/s400/earthquake.jpg" alt="Hikmah di Balik Gempa" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390557128166883554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah &lt;/a&gt;. Masih ingat Ketika Gempa terjadi di Tasikmalaya ? Mungkin menyisakan banyak cerita di sebagian orang saat kejadian itu menimpa, khususnya yang berada di pulau Jawa. Ada yang menangis, karena takut tsunami terjadi.   Ada yang berteriak histeris, bingung, tak tahu harus berbuat apa. Ada yang berlari berharap bisa keluar dari rumah. Ada yang saling berebut jalan di lorong-lorong tangga darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ada pula yang terjebak di dalam lift yang tiba-tiba saja berhenti di tengah jalan, pasrah akan ketentuan Sang Illahi sambil menangisi apa yang tengah terjadi pada dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku pribadi juga seperti manusia-manusia lainnya. AKu yang bekerja di sebuah pabrik yang memproduksi barang-barang berukuran setinggi rumah, terbiasa jika setiap hari berteman dengan aneka getaran-getaran. Entah itu getarannya besar ataupun dalam skala kecil, semua itu karena mesin yang sedang jalan atau hasil produksi yang jatuh ketika hendak diangkut menuju ke suatu tempat. Tapi kala Gempa terjadi, Aku yang sedang bergumul dengan angka-angka di depan sebuah layar komputer, tiba-tiba saja terpaku sejenak, menunggu nunggu suara roll besar yang jatuh. Namun nyatanya suara itu tak datang juga. Hingga getaran itu berubah menjadi sebuah goyangan besar berkali-kali. Aku sempat berteriak, lalu bertakbir beberapa kali-kali. Seketika itu teman-teman berhamburan hendak keluar gedung dimana kami berada. Aku yang sedianya bekerja di lantai 2, mengikuti rangkaian teman-teman lainnya yang menuju ke arah tangga. Belum sempat aku menuruni tangga, getaran itu habis. Antara menuruti kemauanku untuk turun ke bawah atau tidak, aku benar-benar bingung saat itu. Getaran yang terjadi kala itu cukup hebat kurasakan untuk kali pertama ini membuat aku sedikit sakit kepala. Karena teman-teman banyak yang kembali lagi ke ruang kerjanya, juga demikian dengan aku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setibanya di meja kerja, kutelpon suamiku. Alhamdulillah, suamiku terhindar dari bahaya. Lantas kutelpon ke rumah, untuk mengetahui keadaan anak-anak di rumah. Mungkin Tuhan telah memberi cobaan Nya kepadaku untuk lebih bersabar dan bertawakkal. Buktinya sudah beberapa kali aku mencoba menelpon ke rumah, tetapi selalu dan selalu jawabannya tulalit. Benar-benar hatiku bagai terombang ambing tak menentu arah, saat itu pikiranku hanya satu, "bagaimana nasib anak-anakku di rumah ?" Akan sangat berdosanya aku yang tega meninggalkan mereka di saat-saat seperti ini. Yang aku syukuri kejadian ini, mendekati waktu pulang kerja. Sehingga waktuku untuk berperang melawan gundah gulana di hati tidak berselang lama. Beberapa rekan kerjaku juga sama, dia juga mengeluhkan perihal yang sama, tidak bisa contact ke rumah. Mungkin hanya berpasrah diri yang mampu terucap dalam lidah-lidah kami saat itu, hanya kepada Sang Illah lah kami semua tertuju.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setibanya di rumah, kupeluk tubuh anak-anakku satu persatu. Alhamdulillah, Allah telah menjaga anak-anakku. Pun begitu juga dengan suamiku. Kami semua saling berpegangan seolah merayakan kebahagiaan kami yang tiada tara. Ya, gempa kali ini terasa begitu dasyat bagi kami, meski gempa ini tak seberapa dibanding dengan gempa di Padang yang baru saja terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-7157831325954488283?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/7157831325954488283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/hikmah-di-balik-gempa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/7157831325954488283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/7157831325954488283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/hikmah-di-balik-gempa.html' title='Hikmah di Balik Gempa'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/Ss8bJc3WQOI/AAAAAAAAAKg/RjFcf0f6_To/s72-c/earthquake.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-1293710728915169479</id><published>2009-10-04T05:10:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T05:17:25.085-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Sebuah Ancaman Membawa Luka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SsiSJiXXieI/AAAAAAAAAKY/ocqoBA-GkmA/s1600-h/anak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 91px; height: 128px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SsiSJiXXieI/AAAAAAAAAKY/ocqoBA-GkmA/s400/anak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388717646690093538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Aku terpaku sejenak setelah kudapati sebuah SMS dari wali kelas anakku. "Bu, minta tolong ditanyakan apakah Rafi tahu siapa yang mengambil uang milik Oya di mobil jemputan om Yos." Saat itu pikiranku melambung jauh dengan berbagai argumen tentang Rafi anakku. Jangan-jangan wali kelasku ini ingin memberi tahu aku, bahwa Rafi adalah pelaku yang mengambil uang Oya. Jantungku berlari kencang mengejar jawaban itu, tapi saat ini aku masih di kantor berkutat dengan angka-angka di depan layar monitor.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika aku telepon dari sini, mungkin tak akan puas aku mendapat jawaban dari anakku, sebab aku harus melihat mimik mukanya saat ia memberikan jawabannya padaku agar aku tahu apakah ia menjawabnya dengan jujur atau tidak. "Iya Bu, nanti akan saya tanyakan, tapi maaf, sekarang saya masih di kantor" begitulah balasan SMS yang aku kirim ke wali kelas anakku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam empat sore telah tiba, berarti waktu pulang kerja telah tiba. Aku pulang dengan hati yang begitu berdebar-debar. Setibanya di rumah, kucoba menenangkan seluruh jiwa, kutata hati ini seapik mungkin. Aku berharap anakku benar-benar menjawab dengan penuh kejujuran. Karena suamiku telah tahu, ia nampak emosi. Aku menyadari jika ia akan marah jika mengetahui anaknya sebagai sang pencuri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rafi, sini. Kamu ya yang ambil uang oya di mobil jemputan ?" mata suamiku tampak marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabar Ayah, kalau mau bertanya kepada anak jangan dengan emosi, kita tidak akan mendapat jawaban yang puas "Buru-buru kutenangkan suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rafi,.... tadi di mobil jemputan ada apa ?" tanyaku dengan nada datar tanpa sebuah amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat Rafi menggeleng-gelengkan kapalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi ada yang kehilangan uang ya ? Apakah Rafi yang mengambilnya ?" tanyaku lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku disuruh Dani, Ma. Kan waktu buku tabungan Oya nampak keluar dari tasnya, aku disuruh Dani mengambilnya. Kalau aku tidak mau, Dani mau kasih ulat ke dalam baju aku. Aku takut, Ma. Dulu Dani pernah berbuat seperti itu, Ma" Rafi tampak seperti sosok bocah kecil yang ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bener nih yang kamu katakan ? Pembohong itu dosa besar dan akan mendapat siksaan di neraka lho " Aku mencoba berdalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Ma,... Alif lihat koq kalau aku disuruh Dani".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu kutelpon wali kelas Rafi. Kujelaskan apa yang telah dikatakan Rafi kepadaku. Wali kelas itu tampak puas mendapat penjelasan dari aku. Ia lalu menjelaskan kepadaku, jika Dani memang telah disidang hari ini perihal kehilangan uang Oya. Wali kelas itu ingin mengetahui mengapa saat disidang nama Rafi disebut-sebut olehnya. Karena takut berprasangka, ia menanyakan kepadaku. Antara aku dan Bu Fitri, wali kelas anakku sama-sama terlihat senang meski kami terpisah oleh tempat dan hanya dihubungkan dengan sebuah seluler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah,... Degub jantungku kembali berangsur dalam alunan yang damai seiring rasa puji dan syukurku kepada Sang Illahi. Semoga Allah selalu menjaga semua anakku. Amiiin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-1293710728915169479?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/1293710728915169479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/sebuah-ancaman-membawa-luka.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/1293710728915169479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/1293710728915169479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/sebuah-ancaman-membawa-luka.html' title='Sebuah Ancaman Membawa Luka'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SsiSJiXXieI/AAAAAAAAAKY/ocqoBA-GkmA/s72-c/anak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-3136350465567273158</id><published>2009-10-01T03:46:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T04:02:46.161-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Aku Telah Jatuh Cinta Untuk yang Kedua Kalinya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SsSMFjA8hOI/AAAAAAAAAKQ/WQ2S1qePuLw/s1600-h/selingkuh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 125px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SsSMFjA8hOI/AAAAAAAAAKQ/WQ2S1qePuLw/s400/selingkuh.jpg" alt="Aku Telah Jatuh Cinta Untuk yang Kedua Kalinya" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387585081168397538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Rumput tetangga akan kelihatan nampak lebih hijau dibanding rumput sendiri. Beginilah kiasan yang pernah kudengar. Harusnya kubuang jauh-jauh pemikiran seperti ini. Namun tidak pada diriku yang terjadi sekarang ini. Aku benar-benar telah jatuh cinta lagi. Dan begitu jelinya aku, hingga istriku sama sekali tak mengetahui perselingkuhanku ini. Jujur, aku menyadari, aku telah menghianati cinta istriku yang begitu setia menjalani hidup bersamaku selama ini. Tapi, cinta itu aneh, ia tumbuh bergelora di cawan hatiku tanpa memperdulikan hati siapapun.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini terjadi kira-kira dua tahun belakangan ini. Entahlah, padahal antara aku dan dia telah sama-sama memiliki pasangan yang syah. Dan hebatnya lagi, masing-masing pasangan kami adalah orang yang baik, sabar dan tergolong setia menjalani biduk rumah tangga. Adalah hal yang bodoh, bila kami meninggalkan istriku. Syetan mana yang telah merasuk dalam jiwaku dan Riri, tetanggaku itu, hingga kami benar-benar saling berhati ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena kondisi rumah kami yang tinggal di gang senggol yang sempit yang hanya mampu dilalui oleh kendaraan bermotor beroda dua inilah, kami secara tak sengaja beradu tatapan. Waktu itu, tatapan Riri tampak berbeda sekali dari biasanya, ia seperti sedang menggoda diriku. Entahlah, atau mungkin kala itu ada syetan laknat yang telah merasuki segala pikiran-pikiran kotorku hingga Riri tampak begitu cantik dan mempesona di depan bola mataku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kedua dan ketiga mungkin masih seperti hal yang wajar dalam benak selubung hatiku. Namun Riri semakin intens. Aku jadi tak kuat juga menahan gundah gulana di hati ini. Hatiku seperti merongrong aku untuk terbang mengikuti kemauannya, membalas Riri Si Penggoda itu. Kucing mana yang menolak jika di depannya terlihat sebuah ikan yang siap disantap ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami diberi kesempatan untuk berdua tanpa ada seorangpun yang menemani kami. Aku mengungkapkan segala isi hatiku padanya. Bagai suara kicau burung yang saling bersautan, meski seperti tampak malu-malu, Riri menunduk untuk sementara waktu. Senyumnya yang khas menawan hatiku seolah pertanda hatinya juga sama seperti diriku. Tiba-tiba saja tetanggaku datang, hingga membuyarkan antara aku dan Riri. Untungnya, tetanggaku sama sekali tak mengira apa-apa tentang kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,.... bodohnya aku mengapa bisa berhati dua dan menghianati istriku yang suci itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-3136350465567273158?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/3136350465567273158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/aku-telah-jatuh-cinta-untuk-yang-kedua.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3136350465567273158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3136350465567273158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/10/aku-telah-jatuh-cinta-untuk-yang-kedua.html' title='Aku Telah Jatuh Cinta Untuk yang Kedua Kalinya'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SsSMFjA8hOI/AAAAAAAAAKQ/WQ2S1qePuLw/s72-c/selingkuh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-413491606990941408</id><published>2009-09-30T07:49:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T08:01:22.558-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Online'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Asyik Browsing Internet</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SsNyKCqjj9I/AAAAAAAAAKI/pnwu0GfWEfs/s1600-h/browsing+internet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 119px; height: 89px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SsNyKCqjj9I/AAAAAAAAAKI/pnwu0GfWEfs/s400/browsing+internet.jpg" alt="Asyik Browsing Internet" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387275096104865746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Pagi ini, kepalaku serasa ingin pecah, sakit sekali rasanya. Kupaksakan berangkat kerja, karena kebetulan temanku tak masuk hari ini, tak ada rekan pengganti lagi selain diriku. Mau tak mau aku harus masuk kerja.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kusesali diriku saat semalam tak tidur lebih dini. Aku malah asyik berkutat dengan CPU usang milikku, membenahi tulisan-tulisanku di internet atau sekedar browsing mencari kesenangan-kesenangan tertentu yang membuat rinduku sedikit terobati. Aku dan suamiku memang terbiasa browsing setelah anak-anak telah terlelap dalam dunia mimpi. Rupanya malam itu aku tegah dilanda mabuk online di dunia maya, hingga tanpa kusadari aku lupa melihat jam. Tau-tau jam sudah menunjuk di angka sebelas. Padahal saat jam 9 malam, biasanya aku sudah tertidur bersama anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 4 pagi, alarm handphoneku berdering, suamiku membangunkan aku yang mecoba menutup mata kembali saat mendengar alarm itu, "Ma, bangun, katanya mau puasa syawal ?". Dengan terburu-buru, aku menyiapkan makan sahur buat aku dan suamiku. Daging bumbu sate yang tinggal ku goreng dan sayur sop brokoli yang hanya butuh beberapa menit kupanaskan. Karena mengejar waktu, kami makan sesegera mungkin.  Alhamdulillah, semua rampung lima belas menit sebelum adzan shubuh berkumandang. Suamiku bisa bersiap-siap menuju ke masjid untuk sholat berjama'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat shubuh telah usai kukerjakan, tiba-tiba saja aku tergelitik untuk menghidupkan CPUku lagi. Belum puas rasanya semalam aku browsing. Aku ingin berlama-lama lagi di dunia maya itu. Tapi kurasakan air mataku merembes membasahi seluruh mataku. Untuk berkedip saja sakit rasanya. Rasa kantuk ini tak mau menuruti keinginanku. Akhirnya Aku mengalah dari rasa kantuk ini. Kurebahkan diriku di samping tubuh suamiku. Aku tertidur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jam enam pagi, aku harus menyiapkan anak sulungku berangkat ke sekolah. Meski dengan berjalan tergopoh-gopoh, aku bertahan. Kukumpulkan seluruh tenagaku. Setelah kumandikan Si sulung dan menyiapkan makan pagi dan siangnya, Aku tertidur kembali. Hingga tiba-tiba suamiku membangunkan aku untuk bersiap-siap berangkat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor, aku benar-benar sangat mengantuk. Rasanya mataku sulit untuk kubuka. Untungnya, bossku absen hari ini. Kalau tidak, aku pasti kena marah olehnya. Aku berhasil menahan kantuk hingga jam 12 siang saat istirahat tiba. Kala itu, kepalaku benar-benar sudah tak kuat lagi, seperti ingin pecah. Ingin sekali membenturkan kepala ini ke dinding, tapi pasti tak mungkin kulakukan. Untungnya OB kantorku yang perempuan, ia melihat wajahku  yang tampak pucat seperti tak seperti biasanya. Setelah ia kuberitahu apa yang aku derita, dia langsung menawarkan aku untuk dipijitnya. Kuucap kata-kata hamdallah berulang kali, ada rizki dari Mu ya Allah, lewat tangan OB kantorku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punggungku dikeroknya, Merah sekali katanya. Sepertinya aku masuk angin. Setelah punggungku dikerok, OB itu memijit punggung dan kepalaku. Enak sekali pijitannya, kerasa banget bagiku. Hingga pusing itu hilang meski untuk sementara waktu. Setelah sholat dzuhur, aku kembali beraktifitas, membuat report yang sengaja tertunda karena rasa sakitku ini. Seharusnya aku beristirahat, tapi otakku berjalan terus untuk menyelesaikan report yang harus kutuntaskan hari ini. Sakit kepalaku kembali menari-nari. Tapi aku bertahan untuk mengerjakan sholat ashar. Jam empat sore adalah waktu yang tengah ku tunggu-tunggu, akhir dari aktifitas kerja. Aku berjalan menuju tempat parkir dengan langkah tertatih-tatih. Ada teman yang mencoba untuk membantu, namun kuabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat suamiku datang menjemput aku, aku benar-benar sudah tak kuat lagi. Tenagaku rasanya telah terkuras, seperti seseorang yang tinggal jasadnya saja. Tubuhku seakan melayang, tubuhku bergetar hebat. Untuk berbicara sepatah katapun sangat sulit, kata-kataku lirih nyaris tak terdengar. Seperti ingin pingsan saja. "Ma, sabar ya. Pegangan yang kuat" suamiku mencoba menyupport aku, ia takut aku terjatuh jika pelukanku lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, kujatuhkan tubuh ini di kasur. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku minta untuk diantar ke rumah sakit. "Ma,...tahan dulu yaa... Ini teh hangat, batalkan saja puasa kamu, nanti kalau memang ini belum berhasil, baru kita ke rumah sakit" suamiku menenangkanku. Akhirnya batal juga puasaku, padahal sudah jam lima sore, itu artinya satu jam lagi saat berbuka tiba. Tapi nyatanya aku sudah tak kuat lagi. Melihat televisi saja, aku tak kuat. Setelah kureguk teh manis hangat buatan suamiku, kondisiku berangsur-angsur pulih, tapi belum sepenuhnya pulih. Saat makan malam bersama, aku tak mampu melahap sesendokpun makanan yang sudah berada di piringku. Enggan sekali rasanya meski lauknya menawan hati, bawal bakar yang kubeli di rumah makan padang. Aku hanya mampu meminum obat tifus dan vitamin C yang aman bagi lambung. Jam sembilan malam, tubuhku semakin membaik. Kucoba meminum sereal instant.  Menjelang tidur, kutangisi batalnya puasaku hari ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-413491606990941408?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/413491606990941408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/asyik-browsing-internet.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/413491606990941408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/413491606990941408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/asyik-browsing-internet.html' title='Asyik Browsing Internet'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SsNyKCqjj9I/AAAAAAAAAKI/pnwu0GfWEfs/s72-c/browsing+internet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-2218775883573932124</id><published>2009-09-20T01:29:00.000-07:00</published><updated>2009-09-20T01:29:00.552-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Redaksi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt; . Suara beduq bertalu-talu, sambut menyambut mengumandangkan kalimat zikir kepada Sang Illahi. Gema kemenangan menghiasi di sana-sini seiring berakhirnya Ramadhan ini. Ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;senyum&lt;/span&gt; kemenangan berharap meraup pahala dari Allah, Rab semesta alam. Ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tangis&lt;/span&gt; kerinduan akan bulan yang penuh pahala dan berkah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H&lt;br /&gt;Mohon Maaf Lahir dan Batin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Taqobbalallaahu Minna Waminkum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan,... We miss You forever.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SrLG9mcINvI/AAAAAAAAAKA/AOY4P2t49Eo/s1600-h/lebaran03.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 302px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SrLG9mcINvI/AAAAAAAAAKA/AOY4P2t49Eo/s400/lebaran03.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382583266254010098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-2218775883573932124?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/2218775883573932124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/kumpulan-cerpen-siti-arofah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/2218775883573932124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/2218775883573932124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/kumpulan-cerpen-siti-arofah.html' title=''/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SrLG9mcINvI/AAAAAAAAAKA/AOY4P2t49Eo/s72-c/lebaran03.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-3451862706559980459</id><published>2009-09-17T16:23:00.000-07:00</published><updated>2009-09-17T16:40:24.519-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah tangga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Luka itu Meninggalkan Bekas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SrLFg5wpHWI/AAAAAAAAAJ4/NygAtArkqX0/s1600-h/luka+hati.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 87px; height: 116px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SrLFg5wpHWI/AAAAAAAAAJ4/NygAtArkqX0/s400/luka+hati.jpeg" alt="Luka itu Meninggalkan Bekas" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382581673712491874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Pagi ini aku begitu terharu, suamiku memberi sebuah kecupan di pipiku. Setelah semalam tidurku tak pernah nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan menampakkan sinarnya secara penuh, aku menatapnya dengan berurai air mata. Malam itu begitu teramat panjang bagiku.  Meski mataku kupaksakan untuk terpejam, tapi tetap saja aku tak bisa tidur. Hati ini seperti teriris-iris, bahkan kepalaku rasanya hampir pecah. Padahal masalahnya terlampau kecil, sebuah kata yang menyakitkan, yang datang dari suamiku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin aku sebagai istrinya sampai hati telah dicaci sebagai mahkluk yang paling hina di dunia ini. Aku benar-benar terluka, mengapa ia tak mau menjaga hati istrinya. Aku percaya, bila saja dengan orang lain, sudah pasti ia akan mampu menjaga hati orang lain. Sedang aku ? Aku ini adalah istrinya, teman yang akan menemani di sepanjang sisa hidupnya. Setiap luka sudah pasti akan meninggalkan sebuah bekas. Kenapa sampai hati ia mencaci aku seperti itu ? Pertanyaan ini menghiasi malam-malam tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kususuri alam pikiranku untuk berkelana mencari jawaban. Jawaban yang selalu membuatku berkali-kali mengusap air mata yang tak sengaja mengalir begitu saja. Kenangan-kenangan masa lalu yang indah tanpa sengaja kembali kuingat dan terngiang-ngiang dalam otakku. Betapa kala itu terlihat indah tanpa tergores luka. Haruskah aku mengiba agar bisa kembali ke masa lalu itu ? Ah, gengsi ini rupanya masih menggelayut dalam angan-anganku. Buktinya, aku terasa enggan untuk melihat wajahnya. Tidurku masih membelakanginya. Hingga tak sadar aku tertidur juga pada akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali aku terbangun. Malam itu aku begitu gelisah. Aku benar-benar tak mampu membohongi diriku sendiri yang seharusnya berduka. Tubuhku seolah tak rela jika aku mampu tertidur nyenyak. Setiap kali kata-kata yang menyakitkan itu hadir saat aku terhenyak dalam tidur. Meski kamarku sedingin AC yang kunyalakan, namun tidak dengan hatiku. Seharusnya kuikhlaskan kata-kata suamiku yang menyakitkan itu. Akupun tersadar akan kebodohanku. Segera kupejamkan mataku sambil berdo'a, semoga Tuhan memaafkan suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan Shubuh berkumandang. Kami masih seperti seseorang yang tak pernah mengenal. Masing-masing saling tak bertegur sapa. Setiap Pandanganku kutundukkan. Enggan sekali rasanya aku melihat wajahnya. Meski demikian, kami masing-masing segera melaksanakan sholat shubuh. Suamiku ke masjid, sedang aku sholat di rumah. Karena rasa kantukku yang begitu dalam, akhirnya aku teruskan tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku membaringkan tubuhku dan menyelimuti diri dengan selimut tebalku, tiba-tiba saja suara pintu pagar berdesis keras, seperti sedang digeser. "Suamiku datang !" batinku. Buru-buru aku menarik selimut hingga menutupi mukaku. Ternyata aku masih enggan melihat suamiku. Padahal sungguh, keadaan seperti ini membuat aku sangat tak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba saja, suamiku memanggilku, "Ma..............Ma...... ." Kala itu aku sangat ketakutan sekali, bagai seorang yang hendak dieksekusi. Ada apa gerangan suamiku memanggilku di saat aku sedang tertidur. Pikiran-pikiran buruk itu mulai mempengaruhiku. Namun kegalauanku semalam sirna saat Aku tiba-tiba dikecupnya beberapa kali. "Maafkan aku, Ma !, Semalam aku benar-benar sedang bermasalah, Aku jadi emosi, akhirnya kamu yang jadi pelampiasan aku" Aku hanya terdiam kaku, tanpa ada sebuah kata apapun. Rasanya begitu kelu bibir ini lama mengatub. Meski aku memaafkannya,  Lagi-lagi air mataku mengalir. Aku berusaha menghapus sebuah luka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-3451862706559980459?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/3451862706559980459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/luka-itu-meninggalkan-bekas_17.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3451862706559980459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3451862706559980459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/luka-itu-meninggalkan-bekas_17.html' title='Luka itu Meninggalkan Bekas'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SrLFg5wpHWI/AAAAAAAAAJ4/NygAtArkqX0/s72-c/luka+hati.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-6785769529784208642</id><published>2009-09-16T14:58:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T16:30:40.726-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Tak Disangka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SrFhYllh5PI/AAAAAAAAAJo/DBwJAVq1ahk/s1600-h/HP.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 149px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SrFhYllh5PI/AAAAAAAAAJo/DBwJAVq1ahk/s320/HP.jpeg" alt="Tak Disangka" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382190104718730482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-family: arial;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;. Aku yang sedang asyik bermain game di HP milik temanku, tiba-tiba saja HP itu mengeluarkan suara musik, pertanda ada telepon masuk. Tanpa berpikir panjang, ku tekan tombol bergambar gagang telepon itu yang bercahaya hijau. Sudah pasti Si penelepon mencari pemilik telepon yang sedang aku pakai ini. Aku katakan bahwa temanku sedang ke kamar mandi. Penelepon itu seorang wanita, kata-katanya lembut membuai aku dalam sebuah lamunan, membayangkan dirinya bak seorang wanita ayu bertubuh langsing, putih dengan tinggi semampai. Lalu dengan secepat kilat teleponnya terputus begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kusudahi game di HP itu, aku betul-betul mabuk, kepalaku seolah terisi penuh oleh suara wanita misterius tadi. Tanganku dengan sigap mengambil sebuah pensil yang ada di meja temanku ini. Ku cari kembali nomor yang tadi menelpon HP temanku ini. Gotcha ! Berhasil,..... ! kucatat nomor itu dalam secarik kertas note dan kusimpan dalam dompet setelah sebelumnya kulipat menjadi 2 bagian. Temanku yang telah menyudahi mandinya bertanya kepadaku, "Apa tadi ada yang menelponku ?" Sambil mengangguk kuberikan HP ini padanya. Sambil memencet HPnya, dia tampak seperti biasa-biasa saja sambil berucap, "Oh si Febby, pasti dia mau tanya kakakku dech, dia kan sahabat banget dengan kakakku." Sikapku kali ini hanya biasa-biasa saja, seolah tak pernah terjadi apapun pada diriku. Padahal jantungku berdegub kencang seperti kereta api yang tak mau  pernah berhenti. Sandiwara ini berhasil kubuat di depan temanku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya aku di sebuah mess tempat dimana aku tinggal, suara wanita tadi mengisi kembali kepalaku. Entahlah, baru kali ini aku diliputi oleh bayang-bayang suara wanita tadi. Batin ini dibimbangi oleh sebuah keinginanan, menelponnya ! Akhirnya kuputuskan untuk menelponnya, daripada selalu dihantui oleh rasa penasaran yang kian membara. Saat aku menelponnya kukumpulkan segenap keberanianku. Kutata hati ini untuk merangkai kata yang tepat untuk dirinya. Ternyata gayungpun bersambut, wanita ini mau berkenalan denganku. Aku pura-pura belum mengetahui namanya. "Oh, namanya Febby ? Nama yang cantik ya ! kenalkan namaku Sudibyo, kamu bisa panggil aku Dibyo." Kata-kata yang kukeluarkan begitu hati-hati, hingga akhirnya kuketahui kalau dirinya masih berstatus single tanpa pacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari, bulan berganti bulan, dari telpon pertama berlanjut ke telepon berikutnya. Akupun jadi sering ber SMS ria dengannya. Terkadang, meski hanya sekedar say Hello, aku bisa tersenyum sendirian memandangi HPku, seperti layaknya kaum muda lainnya yang sedang jatuh cinta. Aku tau kalau dia empat tahun lebih tua dariku. Ku akui, dulu aku pernah berharap punya kekasih yang lebih muda dariku. Namun, entahlah, aku tak tau mengapa kali ini perbedaan umur yang begitu jauh enggan aku pikirkan.  Ah, terlalu dini rasanya jika aku mengatakan aku telah jatuh cinta padanya. Bagaimana aku bisa benar-benar mencintainya, padahal aku belum pernah sekalipun bertemu dengan sosoknya. Bagaimana jika Febby yang selama ini kubayangkan sebagai wanita cantik nan ayu, berkulit putih dan bertubuh langsing, ternyata sangat jauh sekali dari kenyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena seringnya berkirim SMS, pertemanan ini kian hari semakin baik. Kami akhirnya sama-sama didera perasaan ingin bertemu. Pertemuan itu akhirnya terjadi juga. Dugaanku benar, Febby ternyata gadis yang ayu yang pernah aku impikan. Di sebuah tempat makan, saat awal pertemuan kami, aku menyatakan kata cinta padanya. Dia hanya tersenyum tanpa sebuah kata, seolah kharismanya membuat aku ingin lebih dari sekedar kata 'berteman'. Febby seperti membalas hasratku dengan sebuah senyum kecil yang tampak malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-6785769529784208642?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/6785769529784208642/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/tak-disangka.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/6785769529784208642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/6785769529784208642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/tak-disangka.html' title='Tak Disangka'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SrFhYllh5PI/AAAAAAAAAJo/DBwJAVq1ahk/s72-c/HP.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-4435655257710483682</id><published>2009-09-08T02:52:00.001-07:00</published><updated>2009-10-03T16:32:19.548-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ayah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Maafkan Aku Ayah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrJdXDbLEI/AAAAAAAAAHg/K7_9TAgZ3TI/s1600-h/ayah01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 156px; height: 142px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrJdXDbLEI/AAAAAAAAAHg/K7_9TAgZ3TI/s400/ayah01.jpg" alt="Maafkan Aku Ayah" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380334211089247298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;. Ayah, guratan-guratan itu kini semakin jelas tergambar pada wajah ayah. Rambut ayah kini bukan lagi memutih tapi telah berubah menjadi semu kecoklatan setelah sebelumnya rambut yang hitam itu memudar menjadi putih. Bila ayah memegang tanganku, akan terasa sekali genggamannya yang dulu kokoh, kini lambat laun semakin gentar. Belum lagi, deretan gigi-gigi ayah yang dulu masih tertata lengkap kini yang tersisa tinggal dua buah di depan. Gigi palsu yang telah pernah dipesan nyatanya tak nyaman dipakai ayah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apakah ini mengartikan jika usia ayah sudah tak muda lagi ? Pertanyaan ini membuat bulu-bulu kudukku berdiri kaku. Ketakutan ini menghantui diriku jika aku kehilangan sosoknya. Sosoknya begitu teramat aku cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Ayah katakan sakit reumathik dan asam urat yang telah lama ayah rasakan, hatiku terasa sesak rasanya ingin menangisi betapa bodohnya aku yang tak mampu menolong ayah. Mungkin sudah jutaan obat yang baginya sudah bosan mau tak mau harus ditelannya. Hanya do'a yang mampu kupanjatkan kepada sang Illahi, berharap ayah tak diberi sakit lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ayah sedang bercerita, dengan senyumku yang penuh kebahagiaan mataku tak pernah luput memandanginya . Entah itu cerita serius, atau sebuah gurauan yang membuat aku tertawa lepas bersama-sama dengannya. Bicaranya sungguh menyenangkan, dari yang sederhana hingga ke topik yang serius. Meski kini pendengarannya sudah tak sempurna lagi. Terkadang aku harus rela mengulangi kata-kataku hingga beberapa kali. Ada rasa bersalah jika tak sengaja aku berkata dengan suara yang agak keras karena pendengarannya yang tak seperti dulu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa gembiranya aku saat berkunjung ke rumah orang tuaku. Momen itu yang telah kutunggu setiap bulan. Entah, kadang juga aku tak menemuinya untuk sekian waktu yang cukup lama, menunggu sirnanya atas kesibukanku. Meski terkadang lewat sebuah telepon aku berharap mereka merasakan kehadiranku, namun tetap saja kerinduan ini menari-nari dalam ruang lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ayah sudah memiliki enam orang cucu yang gagah maupun cantik. Di tengah keenam cucunya, ayah nampak sangat bahagia. Jika liburan sekolah tiba, ayah memaksa cucunya untuk menginap di rumahnya. Meski rumahnya tak seperti sebuah istana, cucu-cucunya tampak menikmati hangatnya kebersamaan itu. Mereka tampak riang bermain ke sana kemari, mendengarkan cerita sang Eyang, atau sesekali diajarkan pelajaran yang Eyang ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyumnya yang tak seindah dulu membuatku ingin selalu memeluknya. Suaranya yang kini tak lantang lagi, seolah sebagai perlambang usia ayah sudah tak muda lagi. Jika saja aku mampu berada di sampingmu di sisa hidupmu. Maafkan aku ayah, atas ketidakmampuan anakmu ini untuk bersama menemani hari-hari mu !&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-4435655257710483682?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/4435655257710483682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/maafkan-aku-ayah.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4435655257710483682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4435655257710483682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/maafkan-aku-ayah.html' title='Maafkan Aku Ayah'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrJdXDbLEI/AAAAAAAAAHg/K7_9TAgZ3TI/s72-c/ayah01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-7377354437726574990</id><published>2009-09-05T00:35:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T16:33:15.236-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah tangga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Separuh Ragaku Telah Pergi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="font-family: arial;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrKpIX2GBI/AAAAAAAAAHo/vUe8_fOb-bM/s1600-h/bunga.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 138px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrKpIX2GBI/AAAAAAAAAHo/vUe8_fOb-bM/s200/bunga.jpeg" alt="Separuh Ragaku Telah Pergi" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380335512818423826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-family: arial;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;. Setelah kami resmi berpisah, aku memulai hidup dengan lembaran baru tanpa Astri. Meski bagiku begitu terasa sangat sulit untuk melupakan Astri, aku mencoba sekuat tenaga untuk melupakannya. Bayang-bayang itu dan  kenangan manis waktu bersamanya tak mungkin aku lupakan begitu saja. Dia adalah wanita anggun nan cantik yang sosoknya begitu aku cintai sebelumnya. Namun semenjak peristiwa &lt;/span&gt;&lt;a style="font-family: arial;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/cinta-yang-tersia-sia.html"&gt;malam kelabu&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; itu, aku seolah tertipu dari seorang wanita yang terbalut oleh kecantikan semata.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pun dengan Suhendar, sahabatku. Tak kusangka ia sampai hati berbuat seperti itu. Ia yang sudah kuanggap sebagai saudaraku, ternyata tega membidik peluru dari belakangku. Bagaimana tidak ? kepercayaanku padanya selama ini berbuah dengan menyakitkan. Kamar kami yang kuanggap sebagai kamar paling teristimewa. Tak seharusnya mereka melakukannya di kamar istimewa ini. Entah sudah berapa kali mereka melakukan itu. Aku kembali terpuruk bila mengingat bayang-bayang masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang tua Astri nampaknya benar-benar dibuat malu karenanya. Nyatanya mereka tak pernah berkunjung ke rumahku. Hanya sebuah surat sebaagai sebuah permintaan maaf atas apa yang telah Astri lakukan. Mungkin Astri telah membeberkannya. Syukurlah jika demikian, aku merasa bukan di pihak yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya Astri bisa menerawang kepada kaum yang lemah. Begitu banyak istri-istri yang kehilangan sosok suaminya karena suaminya telah bermain api dengan wanita lain. Pastilah akan ada sakit dan terluka batinnnya jika hak istri tak terpenuhi karenanya. Mestinya Astri mau memahami diriku yang telah berusaha sekuat jiwa demi sebuah kata "keluarga". Entahlah, apakah Astri seolah dibutakan atas semua kebaikan-kebaikanku ? Aku berharap suatu saat kelak ia akan mampu melihat yang sesungguhnya dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jelas-jelas waktu yang selama ini telah aku korbankan adalah  demi keluargaku di rumah. Tapi mengapa mereka seolah tak mau menghargai atas apa yang telah kulakukan selama ini ? Haruskah aku yang harus mengalah ? Ah,... seandainya saja waktu itu aku mengetahui lebih awal, mungkin aku bisa lebih menyayangi mereka, memperhatikannya dengan sepenuh jiwa dan raga. Dan pernikahan ini mungkin masih bisa kupertahankan. Uang nyatanya bukan segalanya. Kenapa aku harus menyadarinya ketika semuanya telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kata terlambat membuat aku kini lebih mampu mendekatkan diri kepada Sang Illahi. Kucurahkan segala isi hatiku kepada Nya. Jika segala gundah telah kuurai kepada Illahi , rasanya hatiku lebih tenang menjalani malam kesendiriannku. Tidur dengan diiringi mimpi yang indah adalah sebuah hadiah dari sang Illahi atas segala doa yang telah kupanjatkan. Harusnya kusyukuri kedekatanku dengan Illahi adalah hikmah dari apa yang telah aku alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat bulan kemudian, aku mendengar kabar jika Astri telah menikah. Ia menikah dengan Suhendar, sahabatku sendiri. Mereka ternyata meng-amin-i atas segala tindakan yang pernah mereka lakukan itu. Kabar ini sungguh membuatku terluka. Berkali-kali air mataku jatuh tak terbendung lagi olehku. Dadaku seakan tercabik-cabik oleh pisau tajam yang dihunuskan oleh tangan Astri dan Suhendar. Sakit sekali rasanya. Jantungku berdegub dengan ritme yang tak beraturan, seolah bersama-sama mengikuti kemarahanku. Haruskah aku mengikhlaskannya ? Rela atau tidak tetap jawabannya adalah harus kurelakan, meski semuanya dengan keterpaksaan. Kini aku sudah tak punya kuasa lagi atas diri Astri. Kupasrahkan segalanya pada Sang Illahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya Izal berhasil aku bawa. Astri memperbolehkan aku untuk merawat dan mengasuh Izal, buah cinta Aku dan Astri. Bersama Izal, aku mampu sedikit demi sedikit melupakan bayang-bayang itu. Meski separuh ragaku telah pergi, aku berharap mampu melalui semua ini dengan penuh rasa ikhlas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-7377354437726574990?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/7377354437726574990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/separuh-ragaku-telah-pergi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/7377354437726574990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/7377354437726574990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/separuh-ragaku-telah-pergi.html' title='Separuh Ragaku Telah Pergi'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrKpIX2GBI/AAAAAAAAAHo/vUe8_fOb-bM/s72-c/bunga.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-3336885370280222408</id><published>2009-09-03T02:46:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T16:31:31.198-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Cinta yang Tersia-sia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrLwlMyjiI/AAAAAAAAAHw/xgBS_mhz0OY/s1600-h/bunga02.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrLwlMyjiI/AAAAAAAAAHw/xgBS_mhz0OY/s200/bunga02.jpeg" alt="Cinta yang Tersia-sia" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380336740327394850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-family: arial;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Tiba-tiba saja aku kembali ke rumah tanpa memberi tahu terlebih dahulu kepada Astri, istriku. Tugas Dinas di luar daerah yang seharusnya masih dua hari lagi tidak aku ambil mengingat dua hari itu adalah jatah untuk plesiranku di sana.  Aku memilih pulang karena rinduku pada anak dan istri tercinta sudah tak dapat terbendung lagi. Aku terlalu disibukkan oleh beberapa kegiatanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Di samping sebagai Direktur utama sebuah perusahaan yang baru beberapa tahun aku rintis, aku juga merupakan salah satu staff pengajar di sebuah Universitas, aku juga nyambi sebagai consultant di sebuah perusahaan milik orang. Akibatnya, waktuku sungguh-sungguh tersita karenanya. Terkadang aku pulang larut malam, hingga setibanya di rumah, istri dan buah hatiku telah tertidur nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Dan ketika malam kedatanganku yang begitu mengejutkan ini, aku berusaha datang tanpa suara, tujuanku cuma satu, ingin membuat kejutan untuk istriku. Saat itu aku lewat pintu belakang. Setelah berhasil kulewati pintu belakang, lalu aku menuju kamar dan ku buka pintu kamarku. Seketika itu, mataku terbelalak. Aku begitu terhentak oleh pemandangan dua insan tanpa busana di atas ranjang kami. Setelah lampu kunyalakan, begitu jelas kedua manusia itu terlihat. Seseorang itu istriku sendiri, sedang sesosok satunya lagi adalah laki-laki yang telah lama aku kenal dan menjadi sahabatku, Suhendar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Istriku yang berusaha membalut dirinya dengan sebuah selimut mencoba menghampiriku. Ia dengan air matanya mencoba memohon maaf padaku. Kupandangi dirinya tanpa sebuah kata apapun. Mulut ini rasanya kelu untuk berbicara. Darah dan nandi ku seakan melonjak-lonjak tiada menentu. Adrenalinku terpompa begitu cepat. Suhendarpun turut serta berdiri, setelah ia berhasil mengenakan pakaian dalamnya. Aku memegang bahunya sambil kupelototi wajahnya, kutunjukkan raut wajahku yang sedang marah padanya. Lalu, Aku pergi meninggalkan mereka. Pergi dengan sejuta perasaan kecewa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Malam yang sunyi disertai oleh angin yang dingin dengan sebuah bulan yang enggan menampakkan cahayanya  seolah menjadi saksi betapa aku sangat kecewa di hari ini. Kukendarai sebuah Kijang Innova milikku dengan hati penuh luka. Tak terasa air mata ini mengalir, menemani perjalananku yang entah aku belum menemukan kemana arah tujuanku. Yang aku tau, aku hanya ingin pergi jauh dari kedua manusia itu. Masih terlihat dalam bayanganku saat-saat pertama ketika aku melihat adegan yang tak terpuji itu. "Sungguh menjijikkan sekali !" batinku.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Di perjalanan itu tergambar flash back kehidupanku dulu saat-saat indah kala pertama bertemu dengan Astri. Dia begitu kukenal sebagai gadis yang supel, ramah dan baik hati. Setahun setelah aku mengenalnya, kuyakinkan diriku untuk menikahinya. Setahun kemudian, buah cinta kami lahir, menambah kebahagiaan kami berdua. Keadaan berubah setelah aku tiba-tiba di PHK karena perusahaanku terimbas oleh krisis global. berbekal dari uang pesangon PHK ini, aku mencoba membangun usaha kecil berbekal pengetahuanku. Usahaku nampaknya berhasil, nyatanya kian hari semakin maju dan berkembang. Saat itu aku ditawari oleh teman lamaku untuk mengajar di Universitas miliknya. Tawarannya aku terima. Jadilah aku sebagai manusia yang super sibuk. Ya ,... semuanya yang aku peroleh harus ada yang kukorbankan, waktuku bersama keluargaku.  Aku seperti ini tak lain adalah untuk keluargaku juga, pikirku.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Tak bisa dipungkiri, dengan keadaanku yang seperti ini, membuat orang - orang yang berada di rumah merasa asing terhadapku. Terutama Astri, Meski ia masih mau melayaniku dengan membuatkan secangkir kopi susu dan setangkup roti di setiap pagi, namun ia selalu dingin bila menatapku. Tak pernah aku salahkan sikapnya demikian padaku. Aku juga mahfum jika ia merasa kecewa. Aku juga mampu merasakan  apa yang ia rasakan. Kesepian nya tak bisa aku pungkiri. Mungkin inilah buahnya mengapa dia sampai berani berbuat nekad seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Tiba-tiba saja naluriku menyuruhku untuk menuju ke rumah orang tua Astri. Setibanya di sana, nampak Ibu Astri  sangat heran melihat kedatanganku yang malam-malam dan tanpa Astri atau Izal, anakku. Mukaku kutundukkan di hadapannya. "Ibu, maafkan saya yang tidak bisa menjaga Astri" kata-kataku begitu berat diiringi isak tangisku yang tak terperi. Bapak Astri membuka tirai pintu kamarnya. Sekonyong-konyong aku menghampirinya, "Pak, maafkan saya. Saya sudahi pernikahan saya dengan Astri". Lalu aku pergi dengan meninggalkan sejuta tanda tanya bagi kedua orang tua Astri. Aku berharap hanya Astrilah yang harus memberikan jawabannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-3336885370280222408?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/3336885370280222408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/cinta-yang-tersia-sia.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3336885370280222408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3336885370280222408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/09/cinta-yang-tersia-sia.html' title='Cinta yang Tersia-sia'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrLwlMyjiI/AAAAAAAAAHw/xgBS_mhz0OY/s72-c/bunga02.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-191673859680914207</id><published>2009-08-30T23:57:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T16:37:09.152-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='moment'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Lebaran yang Dirindukan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrOTR-sviI/AAAAAAAAAH4/tLtlZomtJ5k/s1600-h/lebaran.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 129px; height: 97px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrOTR-sviI/AAAAAAAAAH4/tLtlZomtJ5k/s320/lebaran.jpeg" alt="Lebaran yang Dirindukan" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380339535486696994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;. Lebaran hampir tiba, moment paling indah yang dinantikan semua insan muslim di jagad bumi ini. Pada hari itu, kita saling bermaaf-maafan. Berkumpul bersama keluarga, entah itu bersama kedua orang tua atau sanak saudara, walau mungkin tuk sekedar melepas rindu semata. Ada begitu banyak air mata karenanya. Dan yang terpenting, kita semua pasti berharap amal ibadah kita diterima oleh Yang Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Tak terkecuali pun dengan diriku. Akupun merindukan lebaran itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami selalu mengunjungi orang tua kami. Ya.... orang tuaku berada di Makasar, sedang aku saat ini tinggal dan bekerja di karawang, jawa barat. Sedang Istriku yang bekerja juga, orang tuanya berada di Medan. Karenanya, kami hanya mampu bertemu orang tua kami dua tahun sekali. Pada tahun pertama kami mengunjungi orang tua istri di Medan, sedang lebaran berikutnya, kami mengunjungi orang tuaku di Makasar. Begitulah seterusnya saling bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengunjungi orang tuaku, kami terbiasa menggunakan jalur udara ketimbang jalur laut. Bagi kami dengan pesawat udara dapat mempersingkat waktu yang semestinya dapat kami gunakan untuk berlama-lama di tempat tujuan. Akibatnya, tidak sedikit kocek yang harus kami keluarkan jika hendak ke orang tua kami. Tunjangan hari raya kami berdua saja tak cukup, kami harus merelakan tabungan kami yang telah kami siapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Begitulah nasib para perantau lainnya. Bisa berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara adalah imbalan yang tak ternilai harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami biasa mengambil cuti selama sepuluh hari, agar di sana kami juga benar-benar bisa bersenang-senang. Oleh karenanya, Jatah cuti tahunan kami sengaja tak pernah diambil. Berhubung Nadia sulung kami sudah bersekolah, kami menyesuaikan harinya dengan libur di sekolah Nadia. Selama di perjalanan kami penuh riang dan suka cita, mungkin juga sebagai pelepas penat dari rutinitas yang telah kita lakoni sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di bandara, kami melihat salah satu famili kami melambai-lambai tangannya kepada kami. Kami diantar layaknya seorang raja. Sebuah arti dari tali persaudaraan, kami memang terbiasa dengan hidup saling menyayangi. Kami menikmati suasana selama di perjalanan itu. Tak ada sedikitpun yang luput dari pandanganku untuk melihat suasana di kampung halamanku. Tak ada perubahan yang menonjol, semuanya masih tampak seperti tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sesampainya di rumah orang tuaku, begitu haru kami sama-sama saling berpelukan, melepas rindu yang teramat sangat. Ada bulir-bulir air mata kala itu. Terutama ibuku, ibukulah yang teramat sayang padaku, sebab aku satu-satunya anaknya yang pergi merantau, ke-empat adik-adikku semuanya tinggal di sini meski rumahnya terpisah dengan orang tuaku. Dikarenakan adikku yang paling kecil belum menikah, jadinya yang menemani kedua orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua buah hati kami nampak sangat senang berada di kampung halamanku. Mereka tampak berlari-lari kesana kemari. Kadang memetik jambu yang ada di samping halaman rumah orang tuaku. Kamipun jadi ikut makan bersamanya. Tiba-tiba ibuku datang membawa sambal gula merah, sebagai pelengkap rujak. Aku merasakan belaian kasih sayang ibuku lagi yang telah lama ini. Malamnya, istriku membantu ibuku membuat ketupat dan lontong. Kami makan cotto makasar yang luar biasa enaknya bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedug dan takbir bertalu-talu, malam itu tiada jemu berkali-kali mengumandangkan kalimat Allah. Tanda kemenangan telah tiba. Dan paginya kami sholat Ied bersama. Usai dari sholat Ied setibanya di rumah, kami saling meminta maaf. Begitu banyak dosa kami kepada orang tua kami. Sebagai orang tua, tentu akan selalu membuka pintu maaf kepada semua anak-anaknya. Selanjutnya, kami saling bermaaf-maafan kepada sanak famili dan para tetangga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua setelah lebaran kami pergi tamasya ke pantai kayangan. Untuk mengunjunginya kami naik perahu kecil dari pantai Losari. Suasana di pulau itu sungguh menyenangkan. Angin semilir kami rasakan begitu nyaman. Garis cakrawala dihiasi perahu-perahu kecil milik nelayan begitu indahnya. Meski hanya tiga jam berada di pulau itu, rasanya cukup memberikan kepuasan tersendiri bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hari terakhir kami datang juga. Hari yang kami enggan untuk bertemunya, sebab kami akan berpisah lagi untuk waktu yang cukup lama. Peluk erat serta ciuman dari kedua orang tuaku sebagai tanda perpisahan kami. Lagi-lagi aku tak kuasa menahan tangis, air mata ini rasanya enggan untuk bertahan. lambaian tangan dari para sanak famili dan kedua orang tuaku membayangi kepulanganku menuju ke tempat asal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-191673859680914207?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/191673859680914207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/lebaran-yang-dirindukan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/191673859680914207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/191673859680914207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/lebaran-yang-dirindukan.html' title='Lebaran yang Dirindukan'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrOTR-sviI/AAAAAAAAAH4/tLtlZomtJ5k/s72-c/lebaran.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-8850409387023846652</id><published>2009-08-29T00:04:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T16:34:02.476-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Pernikahan yang Indah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrOpUiwciI/AAAAAAAAAIA/jREZQXeQqCw/s1600-h/pernikahan01.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 143px; height: 124px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrOpUiwciI/AAAAAAAAAIA/jREZQXeQqCw/s320/pernikahan01.jpeg" alt="Pernikahan yang Indah" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380339914131927586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;. Saat kami dinyatakan syah, kucium tangan suamiku dan suamiku membalas dengan mencium keningku. Berkali-kali aku mengucap hamdallah , tanda syukurku kepada Ilahi. Semua begitu indah ku rasakan, bahkan tak kuasa tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Kedua orang tuaku dan kedua orang tua Kak Hasan tampak sangat bahagia sekali, senyum mereka nampak selalu mengembang tuk beberapa saat. Sanak saudara dan handai taulan menghadiri akad nikah pernikahanku. Senyum kebahagiaan menuai di sana sini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Pesta pernikahanpun digelar. Hening, namun berkesan. Kami terpisah agar para tamu dipisahkan dari laki-laki dan perempuan. Semua undangan dengan senyumnya memberikan ucapan selamat. Meski melelahkan, tapi memberikan kebahagiaan tersendiri bagi diriku, bukankah pernikahan adalah moment yang ditunggu-tunggu bagi setiap insan ? Aku bagai seperti Ratu, meski hanya dalam waktu sehari. Semuanya serba dibantu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya aku sama sekali tak mengenal Kak Hasan, aku dikenalkan oleh ustadzah, guru di pesantrenku. Kala itu, ustadzah menanyakan kepadaku, "Apakah kamu siap menikah bila ada yang melamarmu ?" dengan berbekal ilmuku yang sebentar lagi kurampungkan aku menjawab , " Insya Allah saya siap, tapi tunggu saya lulus dulu dari sini ". Ternyata benar, selang seminggu kemudian, ustadzah memberitahukan kepadaku bahwa ada yang ingin dicarikan jodoh sebagai calon istrinya. Ustadzah menanyakan kepadaku, "apakah aku mau diajak untuk ta'aruf ?" Dengan malu-malu dan pandanganku kutundukkan aku mengiyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat ta'aruf, jantungku begitu berdegub kencang. Aku tak mengerti mengapa hatiku jadi tak menentu begini. Padahal kami saling ditemani oleh ustadz dan ustadzah kami serta kedua orang tuaku. Kami diijinkan saling menatap hanya satu kali dan berbicara cukup sedikit saja. Meski demikian, untuk berkatapun rasanya sulit sekali kata-kata yang ingin kukeluarkan dari mulutku. Akhirnya aku hanya mampu mengatakan "iya" dan "tidak". Sama sekali tak ada pertanyaan dari diriku. Kedua orang tuakupun sepertinya menyetujuinya, mereka memasrahkan semuanya pada diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, aku sholat tahajud, memohon petunjuk Allah. Kupasrahkan segalanya pada Illahi. Jodoh, maut dan rizki adalah rahasia Illahi. Aku harus ikhlas atas apa yang akan Allah berikan kepadaku kelak. Jika memang Kak Hasan itu jadi mau memilihku sebagai istrinya, aku siap. Dan jika tidak, aku harus terima kenyataan ini dengan berlapang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dua hari kemudian, ustadzah membawa kabar bahagia itu kepadaku. Kak hasan mau melamarku. Sesegera itu, kuberitahu kabar ini kepada kedua orang tuaku. Orang tuaku benar-benar bahagia sekali, mereka memelukku. Mereka bahagia karena telah berhasil membawa anaknya ke jalan yang benar, jalan yang disukai oleh Allah. Di zaman sekarang ini tak sedikit orang yang terjerumus masuk ajakan syetan-syetan laknatullah. Mereka dengan tanpa malu melakukan sex before married. Padahal jelas-jelas di dalam Al Qur'an dijelaskan, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku bersyukur kepada Sang Illahi, pencipta alam semesta ini. Acara pesta pernikahan kami pun usai. Kami tidur bersama dalam satu kamar. Kami saling berpandangan dengan senyum yang sangat indah. Layaknya sebagai sepasang kekasih, kami saling menikmati malam yang sangat indah itu. Begitu syahdu seiring suara jangkrik yang saling saut menyaut dengan lampu kamar temaram mengiringi malam penuh kebahagiaan kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-8850409387023846652?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/8850409387023846652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/pernikahan-yang-indah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/8850409387023846652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/8850409387023846652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/pernikahan-yang-indah.html' title='Pernikahan yang Indah'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SqrOpUiwciI/AAAAAAAAAIA/jREZQXeQqCw/s72-c/pernikahan01.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-4850679621811635703</id><published>2009-08-28T23:38:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T16:36:42.690-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='suami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Siapa yang Salah ?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;. Langkahku ternyata salah. Kini aku bekerja sebagai buruh tidak tetap atau outsourching di salah satu perusahaan sebagai pengantar dokumen.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Sebelumnya aku adalah karyawan tetap di sebuah perusahaan yang cukup punya nama. Karierku di perusahaan itu tak pernah ada peningkatan. Mungkin hanya ada peningkatan secara masal tahunan dikarenakan adanya perubahan kenaikan UMR. Sepertinya apa yang aku dapat tak sesuai dengan pendidikan yang sudah aku tempuh. Mungkin karierku saat itu setara dengan karyawan tamatan SMA, padahal aku tamatan D3. Beberapa temanku masih mau bertahan dan tetap bekerja, namun tidak dengan diriku. Saat itu hutangku telah menumpuk, gaji yang diterima olehku nyatanya habis untuk membayar hutang. Praktis kami hidup seadanya, bahkan kami pernah makan hanya dengan nasi dan garam saja, sungguh-sungguh menyedihkan ! Yang lebih kasihan lagi adalah istriku, entah apa karena gizi yang kurang atau sisi kejiwaannya menghadapi hidup bersamaku hingga kandungannya gugur beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditilik ke belakang, mungkin semua ini buah dari semua kesalahan-kesalan kami. Kami terbiasa hidup serba ingin dipenuhi. Apapun yang kami inginkan maunya terpenuhi. Jika tak ada uang, Credit Card-pun beraksi. Apalagi terhadap handphone, jika ada handphone keluaran baru, kami langsung tergoda untuk segera membelinya. Akibatnya, handphone yang lama kami jual dengan harga yang sangat jatuh, padahal baru saja beberapa bulan yang lalu kami membelinya. Keadaan ini semakin parah saat aku berani mengambil pinjaman uang ke Bank. Jadilah, kami hidup tanpa ada uang. Jika ada teman yang berbaik hati meminjamkan uangnya kepada kami, kami bisa makan. Bila tak ada uang, istriku kutitipkan ke orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan demi bulan berlalu, aku masih tetap bertahan, sedang istriku akhirnya memintaku agar aku mencari kerja di tempat yang lain yang lebih menjanjikan. Kupenuhi permintaan istriku. Aku mencoba melamar pekerjaan. Banyak sudah yang ditolak. Yang Terakhir aku diterima, akan tetapi di Semarang. Padahal saat ini kami berada di Tangerang. Istriku mengamini jika kami segera pindah ke Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera meminta ijin pada perusahaan untuk pindah kerja. Prosesnya terbilang cepat, dalam waktu dua minggu ternyata aku sudah dinyatakan bukan karyawan lagi. Selama itu pula aku mengurus rumahku untuk dijual atau di over kredit, sebab rumah itu masih aku cicil tiap bulannya melalui KPR, uang yang kami terima dari hasil penjualan rumah itu kami gunakan untuk membayar beberapa hutang kami. Sesegera itu aku terbang ke Semarang. Malang tak pernah kuduga, ternyata sesampainya di sana, aku ditolak mentah-mentah. Posisi itu sudah diambil alih oleh seseorang. Aku pulang ke karawang dengan jalan tertatih-tatih. Begitu lunglai seluruh tulangku. Selama di perjalanan tak terasa air mata ini menetes satu per satu membasahi pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, kulihat wajah istriku. Rasanya aku tak tega membawa kabar buruk ini saat melihat senyumnya yang begitu cantik. Tapi, apa boleh buat, mau tak mau, aku harus memberitahukannya. Istriku langsung jatuh seketika setelah aku bercerita panjang lebar. "Ratih,.....Ratih,...... bangun ", pintaku sambil membopong tubuhnya yang kini tak gempal lagi. Kuletakkan tubuhnya di springbed kamarku, lalu kuoleskan minyak kayu putih di sekitar keningnya, kudekatkan minyak kayu putih ini di hidungnya.&lt;br /&gt;"Mas,........... ?" Ratih mulai terbangun, ia tampak shock sekali. Ia hanya mampu menangis sesenggukan.&lt;br /&gt;"Yang sabar ya Ma !" kupeluk tubuhnya dan ku usap pipinya, tak terasa air mataku jatuh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, aku merasakan sebagai seorang pengangguran. Sangat tidak menyenangkan ! Terutama istriku, tak pernah kulihat senyumnya lagi, ia nampak segan menatapku. Aku tau, ia sangat kecewa dan bahkan mungkin ia terluka. Semua uang yang diterima saat aku keluar dari perusahaan yang lama telah habis untuk melunasi hutang-hutangku yang lalu. Aku mencoba menghubungi beberapa temanku, berharap ada yang mau menolong diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuanganku tidak sia-sia. Setelah sekian lama berkelana, akhirnya kutemukan pekerjaan yang baru. Aku ditolong oleh seorang teman. Meski kini statusku sebagai outsourching. Dengan gaji setengah dari yang pernah aku terima sebelumnya, harusnya aku mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan kepadaku ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-4850679621811635703?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/4850679621811635703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/siapa-yang-salah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4850679621811635703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/4850679621811635703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/siapa-yang-salah.html' title='Siapa yang Salah ?'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-185039104704871141</id><published>2009-08-28T15:51:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T16:36:12.390-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Air Mata Aulia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; . "Ada yang salah dalam keluargaku, Ra" kata-kata Aulia begitu mengejutkan aku. Kami yang telah lama pernah menjalin persahabatan akhirnya saling berangkulan. Tak terasa air mata Rara membasahi baju ku. Ku coba mengucap air matanya dengan tissue yang kuambil dari sebuah kotak tissue yang ada di dalam mobilku. Kami memang janjian untuk bertemu, meski pertemuan itu yang kami sempat hanya di dalam mobilku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Dia yang dulu kukenal sebagai seorang yang periang, tiba-tiba saja mengubah pandanganku. Dulu kami sama-sama kuliah di sebuah Universitas di kelas yang sama. Kami masih sama-sama menjalin persahabatan saat kami telah tamat dari Universitas. Namun, seiring waktu aku tak pernah mendengar kabarnya lagi saat dia telah bekerja di kota lain. Dan kini, tiba-tiba dia datang kembali padaku, dengan sejuta tanda tanya yang ada pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa Lia ?" Aku mencoba menenangkan hatinya.&lt;br /&gt;"Aku bingung Ra, mau cerita dari mana ?" mungkin hatinya sudah mulai tenang setelah sedari tadi air matanya berjatuhan tak karuan.&lt;br /&gt;"Aku kan sahabatmu, ceritakan saja padaku !" Aku berusaha semampu mungkin memberi semangatnya untuk bercerita padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah menikah Ra, dan dari pernikahan itu, kami telah memiliki sepasang putra dan putri yang lucu-lucu. Keuangan kami juga terbilang cukup dan tidak kekurangan. Suamiku juga orang yang Taat pada agama, Ra. Mungkin sepintas, kami terlihat sebagai keluarga yang harmonis, tanpa adanya konflik. Entah, aku yang salah atau tidak, menurut ku begitu banyak sisi yang seharusnya kami benahi. Tapi aku tak kuasa mengutarakannya pada suamiku. Pertengkaran hebat yang pernah terjadi itu membuatku trauma untuk adu argumentasi lagi dengannya. Kini aku lebih memilih diam, menghabiskan air mata dalam setiap do'a-do'a ku." air mata Aulia jatuh lagi, membuat aku semakin iba mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebetulnya ada apa, Lia ? Apa yang harus dibenahi ?" tanyaku seakan ingin berbagi.&lt;br /&gt;"Suamiku belum lama sedang keranjingan internet, Ra." cuma itu kata-kata yang keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;"Apa hubungannya ?" Aku mencoba bertanya untuk mengetahui lebih jelas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga bingung, Ra. Apa aku salah meminta waktunya di rumah untuk kami ? Di saat dia hadir di rumah, sudah pasti anak-anak merindukan kasih sayang dan belaiannya. Sudah banyak kudengar pengakuan beberapa temanku, sebagai seorang ayah ia berusaha menyenangkan hati buah hatinya kala di rumah, katanya. Aku maklum, mungkin dia pasti lelah setelah seharian berada di kantor. Tapi, kalau memang dia lelah, mengapa setelah anak-anak telah tertidur di pembaringan dia malah memulai menyalakan CPUnya untuk browsing di dunia maya dengan alasan ingin mencari tambahan penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali saat Si sulung ingin diantar ke belakang untuk buang air kecil, ayahnya malah menyentak keras "bikin capek orang tua aja !" Sungguh Ra, batinku seakan diiris-iris. Belum lagi, kata-kata ayahnya yang menurut aku tidak baik untuk psyicology seorang anak yang baru berusia tujuh tahun. Kadang Ayahnya memakai kata-kata yang menurutku tidak pantas untuk seorang bocah untuk hal-hal yang sifatnya tidak boleh dilakukan . Seingat aku, selama perjalanan hidupku bersama kedua orang tuaku dulu, mereka tak seperti itu mengajariku. Mereka berlemah lembut dalam kata-kata. Bukannkah Nabi juga dikenal sebagai orang yang berlemah lembut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang si Bungsu, sekarang hobinya suka berteriak keras. Aku akui itu kesalahanku, kami pernah bertengkar di depan anak-anak. Seharusnya ini tak baik bagi anak-anak. Tapi apa boleh buat, kami sama-sama tak bisa meredam emosi, Ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah aku seorang yang egois atau tidak, aku merasa kesepian Ra. Manusiawi, bila aku juga butuh kehangatan kasih sayang, belaian dan pujian dari suaminya. Nyatanya, pujian itu mungkin sampai nanti akan jadi mimpi belaka buat diriku. Aku yakin, semua wanita akan senang bila dipuji, apalagi pujian itu datang dari mulut suaminya. Begitu mahal harga dari sebuah pujian untukku dari suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada banyak asa yang ada dalam benakku, Ra. Aku ingin keluarga ku utuh bahagia, saling menyayangi. Tapi, lagilagi mulutku kelu untuk meminta semua itu di hadapan suamiku, Ra."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin lebih baik, kamu berdoa ! Mungkin Allah akan membukan pintu agar suami mau ke jalan yang lebih baik " tak terasa air mataku jatuh juga mendengar Aulia bercerita panjang lebar. Aku mampu merasakan luka batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Doakan ya, Ra. Aku juga minta doa darimu" Aulia tampak melebarkan mulutnya tanda tersenyum, meski tersenyum aku yakin masih ada guratan-guratan luka lainnya yang tak ia ucapkan di sini. "Eh, ini ada Dunkin Donat, ayo dimakan" suasana menjadi buyar setelah Aulia menawarkan donat yang telah dia belikan sebelumnya untuk ku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-185039104704871141?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/185039104704871141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/air-mata-aulia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/185039104704871141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/185039104704871141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/air-mata-aulia.html' title='Air Mata Aulia'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-850483905035736256</id><published>2009-08-25T15:48:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T16:35:43.000-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='suami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Kepergian yang Mengejutkan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://kumpulan/"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Kumpulan Cerpen Siti Arofah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; . Suamiku tiba-tiba pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Kejadian ini begitu mengejutkan aku. Bagaimana aku tak terkejut, tak ada tanda-tanda sakit yang begitu parah pada suamiku. Ia biasa nampak sehat seperti orang sehat lainnya. Setibanya di rumah kira-kira jam sebelas malam sepulang dari bekerja, ia langsung jatuh tersungkur di lantai. Aku yang kaget melihatnya, tak kuasa hingga menjerit-jerit berharap para tetanggaku memberi bantuan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Syukurlah, para tetanggaku langsung berdatangan, sehingga suamiku cepat dibawa menuju ke rumah sakit terdekat. Namun, Tuhan jualah yang berkehendak, Jodoh, rizki dan maut adalah rahasia Illahi, meski pertolongan telah begitu cepat kami lakukan, suamiku ternyata sudah tak bernyawa lagi ketika berada di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter bilang suamiku terkena penyakit jantung dan darah tinggi. Tangisku meledak tak mampu lagi kuredam lagi, menangisi kepergian suamiku untuk selama-lamanya. Anak-anak kami pun demikian, mereka saling memeluk aku dengan isak tangis. Para tetangga kami yang sebelumnya hadir menolong suamiku mencoba untuk menghibur kami. Setelah suamiku sudah dimandikan dan dikafani, suamiku diboyong ke rumah malam itu juga. Aku terkagum-kagum akan kebaikan para tetanggaku di rumah, setibanya di rumah, ternyata rumahku telah berjajar kursi-kursi yang entah datangnya dari mana aku tak mengetahuinya. Rupanya para tetanggaku bergotong royong menyiapkan ini semua. Malam itu, meski gelap bertaburan bintang dengan angin yang dingin aku menunggu jasad suamiku dengan beberapa para tetanggaku yang ikut menemaniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, Seluruh kerabat ku dan kerabat suamiku datang. Mereka memelukku dengan tangis yang menambah aku semakin terluka. Setelah disholatkan, akhirnya suamiku dibawa ke pemakaman. Sebuah pemakaman umum dekat rumah dimana kami tinggal. Beberapa kali Cindy, sulung kami jatuh pingsan saat mengantar ayahnya untuk dimakamkan. Aku mencoba untuk tidak menangisi kepergian suamiku, namun nyatanya sia-sia. Sungguh begitu berat cobaan yang datang dengan mengejutkan ini bagiku. Sepulangnya di rumahpun kami langsung memeluk ketiga anakku. Rasanya teramat berat jika aku harus bertahan hidup bersama ketiga anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru aku sadar jika baru beberapa hari yang lalu aku berucap pada Bu joko Tetangga dekat sebelah rumahku, " Ya.... kalo bapaknya ga' ada, gimana saya nanti ya Bu ?" Ternyata kata-kataku itu pertanda firasat dari Yang Kuasa. Baru beberapa bulan yang lalu, suamiku berpindah profesi dari supir angkot menjadi penyewa angkot. Suamiku memiliki beberapa angkot untuk disewakan. Dari situlah kami bisa hidup serba berkecukupan. Kami memiliki mobil sedan untuk kami pribadi, agar lebih leluasa dan nyaman. Rumah kamipun baru selesai direnovasi. Cukup megah bagiku, mengingat sebelumnya kami tinggal di sebuah rumah kontrakan yang hanya memiliki dua kamar. Sedang saat ini, rumah kami yang telah direnovasi ini terdiri dari empat kamar yang luas berukuran 4 x 4 meter. Taman yang ada di belakang rumah, membuat kami seolah terbuai dalam gemercik air mancur. Kamipun jadi terhipnotis untuk betah tinggal di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, kadang aku merasa iba, jika semua yang kami nikmati ini adalah hasil kerja keras suamiku. Suamiku memang pekerja keras yang ulet. Sudah seringkali, suamiku selalu pulang saat larut malam, di kala anak-anak telah tertidur lelap. Aku lebih baik menunggunya dengan menahan rasa kantukku yang begitu hebat demi sebuah baktiku untuk suamiku. Meski tak kala suamiku tiba, aku rela jika ia tak mau makan hidayang yang telah aku masak. Daripada menahan lapar mungkin akan menimbulkan penyakit bagi suamiku. Setiap kedatangannya, ia hanya mandi dan setelah itu minum kopi dilanjutkan pergi ke peraduan bersenang-senang denganku. "Suami yang penuh dengan tanggung jawab" , batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali aku tak pernah ikut campur dalam bisnisnya. Jangankan ikut campur, mengetahuinya saja aku tidak tahu. Yang aku tahu, suamiku selalu mempercayakan aku akan semua hasil yang telah ia geluti saat ini. Ya,... aku cuma tau uangnya saja. Inilah sisi buruknya. Hingga setelah suamiku wafat, aku sama sekali blank untuk menggantikan posisi di bisnisnya. Melihat para supir angkot yang berparas tidak begitu ramah saja membuat nyaliku turun. Ada rasa takut berhadapan dengan supir-supir itu. Tapi, biar bagaimanapun kami harus melanjutkan hidup. Aku mencoba bertahan berharap aku bisa beradaptasi menganggantikan suamiku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-850483905035736256?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/850483905035736256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/kepergian-yang-mengejutkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/850483905035736256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/850483905035736256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/kepergian-yang-mengejutkan.html' title='Kepergian yang Mengejutkan'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6578368385395826261.post-3316850847133922339</id><published>2009-08-13T03:53:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T16:34:37.528-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumpulan cerpen'/><title type='text'>Gila Facebook</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.kumpulancerpenkita.blogspot.com/"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Kumpulan Cerpen Kita&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; , Siapa yang tidak tau akan Facebook ? Facebook rupanya sedang booming di jagad ini. Bagaimana tidak, bila kita menemui seorang teman lama atau mendapat kenalan baru, mereka tak pernah lupa menanyakan kepada kita "punya account facebook ga' ?". Kadang juga aku pernah menjumpai seseorang yang belum punya account facebook, hingga tiba-tiba aku meledeknya, "Hari gini.... ga' punya facebook ?" Jadilah kita pada akhirnya seperti terseret untuk mempunyai sebuah account di facebook.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Aku adalah salah satunya dari sekian banyak pengikut facebook. Awalnya, karena tiba-tiba aku bertemu dengan teman SMP ku dulu, aku jadi semakin tertarik pada facebook. Tapi untuk meng-add seorang friend, aku juga agak pilih-pilih. Aku harus mengetahui dirinya terlebih dahulu, misalkan apakah teman-temannya ada yang aku kenal atau tidak. Aku tidak berani asal accept orang yang meng-add aku sebagai friend. Sudah bukan rahasia lagi, bila di facebook terjadi banyak hal-hal yang kurang enak didengar. Oleh karenanya aku cukup berhati-hati. Foto yang aku pajang juga hanya beberapa. Pun mengenai statusku, ingin kurahasiakan semaksimal mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa teman-temanku yang selalu update statusnya. Apa saja, yang aku lihat selalu banyak yang mengomentari statusnya. Kadang, obrolan ibu-ibu mengenai anaknya. Kadang juga curahan hatinya karena masih menjomblo. Yang jelas, kita diberikan kebebasan mengungkapkan segala isi hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku menjadi ciut kala suatu saat kuketahui temanku telah memiliki beberapa perusahaan. Aku hanya mampu mengucap selamat pada dirinya. Di saat yang lain, aku mengetahui salah satu teman terbaikku dulu, nyatanya tidak sebaik nasibku, jodoh belum berpihak padanya dan penglihatannya semakin hari semakin berkurang. Ingin rasanya aku menghampirinya, memberi semangat hidup baginya ! Namun apa daya, waktu belum menyambangi diriku, aku selalu disibukkan oleh kedua anak-anakku. Dikala aku lama tidak online di facebook, teman-temanku sibuk mencariku. Facebook membuatku merasa berada dekat dengan teman-teman laluku. Tapi ini semakin menyiksaku. Dunia maya hanya mampu membuat angan-angan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semakin banyaknya teman yang aku peroleh di facebook, kamipun mengadakan beberapa kali pertemuan / Reuni. Sudah beberapa Reuni, tak satupun yang aku datangi. Padahal aku ingin sekali melihat bagaimana teman-temanku saat ini. Suamiku tak mengijinkan aku. Aku hanya diperbolehkan bertemu di dunia maya saja, di facebook. Mungkin suamiku takut bila nanti hatiku menjadi berubah padanya. Demi rasa sayangnya, aku dengan berat hati akhirnya harus memilih suamiku. Dilema ini membuatku menyelami kerinduan tiada bertepi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6578368385395826261-3316850847133922339?l=kumpulancerpenkita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/feeds/3316850847133922339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/gila-facebook.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3316850847133922339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6578368385395826261/posts/default/3316850847133922339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulancerpenkita.blogspot.com/2009/08/gila-facebook.html' title='Gila Facebook'/><author><name>Siti Arofah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nIPw-rOaUHY/SeX2WhuMmkI/AAAAAAAAACA/zXsksuHloNo/S220/Arofah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
