Search

  • This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words.

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words.

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words.

Misteri Senandung Di Rumah Tante

“Sesaat lagi kereta akan berhenti di Stasiun Waru. Penumpang yang akan turun, harap segera bersiap-siap.”


Ting. Tong. Ting. Tong.
 

Suara perempuan pegawai kereta api, membangunkanku. Mataku terbuka, menampilkan pemandangan malam di luar jendela yang remang. Cahaya satu-satunya hanya berasal dari stasiun yang jaraknya mungkin masih 200 meter.

Sepupuku Mbak Fela menyikutku. Sebenarnya, aku sudah terbangun, namun masih memasang wajah setengah mengantuk. Rasanya masih sangat nyaman untuk tidur di kursi kereta. Tapi, kami harus segera beranjak sebelum kereta benar-benar tiba di stasiun Waru Sidoarjo.

Sepupuku yang lebih tua Mbak Ria memimpin kami di depan. Dua menit kemudian kereta kami sampai. Kami pun turun dan keluar untuk segera mencari mobil Tante Aini yang menjemput kami. Cukup mudah menemukannya, sebab mobil itu terparkir tepat di depan pintu keluar. Kami pun segera memasuki mobil.

Di dalam sudah ada tante serta sepupuku, Rahel. Sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah tante, kami memutuskan untuk mengisi perut. Bakso adalah makanan pertama yang terlintas di kepala kami. Tante pun segera membanting setirnya menuju Wisata Kuliner Kepuh.

Tempat itu seperti sebuah lapangan yang dikelilingi oleh para pedagang kaki lima. Ada yang menjual nasi goreng, es campur, es kacang hijau, dll. Selain itu, ada berbagai macam permainan anak kecil, seperti odong-odong, memancing ikan plastik, menerbangkan benda kecil bercahaya –entah apa namanya. Sebenarnya, semua itu sungguh membuatku tergiur ingin membeli semua yang ada di sana. Tapi tentu saja itu tidak mungkin.

Kami berempat memilih bakso langganan kami. Bakso dengan satu pentol besar tersaji di depan mata. Angin malam yang bertiup pelan, membuat uap bakso hangat menyentuh wajah. Rasa bakso ini tidak pernah mengecewakan.

Sebenarnya, tujuanku, Mbak Fela, dan Mbak Ria berangkat dari Bangil ke Sidoarjo untuk merayakan ulang tahun Rahel kecil-kecilan. Tante Aini membujuk kami untuk datang dengan tawaran akan mentraktir kami selama di Sidoarjo. Tentu saja itu tawaran yang menggiurkan dan tidak boleh disia-siakan.

“Kira-kira besok ngapain ya?” Rahel membuka obrolan.
“Makan-makan aja!!” aku menjawab asal. “Gak seru gitu doang, mumpung lagi ditraktir nih.” Sahut Mbak Fela sambil mengunyah siomay. “Ke mall aja. Semua ada disana. Lengkap!” Mbak Ria memberikan usul yang membuat aku, Mbak Fela, dan Rahel mengangguk setuju. Wajah Tante Aini terlihat kusut. “Pintar kalian yah kalo soal nguras dompet orang.”
Kami tertawa.

“Nonton yuk!” aku memberi usul, kali ini tidak lagi asal. “Tapi, nonton apa yah?”
“Tiga hari yang lalu aku nonton bareng teman-teman. Ada film Posesif, Thor, Gasing Tengkorak, dan Pengabdi Setan. Pilih yang mana?” Rahel menawarkan keempat film itu. “Pengabdi Setan aja! Kata temanku sih filmnya bagus banget, bikin kaget, tegang, dan penasaran.” Sahut Mbak Fela memberi saran.
“Ah, tapi kenapa harus film horror?! Aku paling benci genre itu. Genre yang bikin penonton tutup mata sepanjang adegan film berlatar malam hari. Kalau ditutup kenapa harus nonton. Buang-buang uang aja.” Batinku.
Tapi terlambat, mereka semua setuju.
“Aku udah pernah nonton, filmnya emang bagus. Kalian nonton aja. Aku sama Tante Aini bakal keliling selama kalian nonton besok. Tante pasti gak berani nonton tuh film.” Sindir Mbak Ria sambil mengintip wajah tante yang sudah terlihat semakin kusut. Kami tertawa.

Sepulang dari Kepuh, kami langsung pulang. Rumah tante sepi. Itu karena ini dua hal. Yang pertama, kawasan ini merupakan kawasan perumahan. Kedua yaitu karena tante hanya punya satu anak, dan suaminya selalu sibuk bekerja, menjaga pos polisi sepanjang hari.

Aku segera berganti pakaian menjadi baju tidur milik Rahel. Meskipun dia dua tahun lebih muda, tapi badannya jauh lebih besar dibandingkan denganku. Itu mengapa, aku tidak perlu membawa pakaian ganti selain bajuku yang aku pakai dari Bangil.

Sebelum tidur, kami berkumpul di ruang depan, menonton TV. “Kalian kalau dengar suara orang mandi, nggak usah dipikirin. Kadang-kadang di malam hari, terdengar suara seseorang tengah bersenandung di kamar mandi. Sosok itu bisa laki-laki atau perempuan.” Tante Aini mulai bercerita. Adik dari mamaku ini memang dikenal tidak bisa berhenti bicara. Kali ini dia kembali bercerita, cerita horror yang aku benci.
“Jadi, itu bukan ayah atau mama? Aku kira selama ini kalian yang nyanyi-nyanyi gak jelas.” Rahel menyahuti. Matanya masih fokus menatap layar ponsel, sibuk membalas chat teman-temannya. “Itu bukan mama. Ayah juga membantah pernah nyanyi di kamar mandi. Dia biasa langsung tidur setelah pulang.”
Oke, aku mulai merinding. Cerita ini tengah menju puncaknya. Sialnya, tidak ada yang bisa mengalihkan perhatianku. “Biasa aja Rim, itu biasa terjadi. Setiap rumah kan ada penunggunya.” Tante Aini menyudahi ceritanya.

Aku beranjak tidur kemudian. Malam hari terasa begitu lama kali ini. AC yang menyala di kamar Rahel, semakin lama semakin terasa dingin. Aku menyesal menolak selimut yang ditawarkan tante. Dinginnya AC membuatku semakin susah untuk tidur. Mataku terpejam, tapi kesadaranku sepenuhnya masih utuh.

Jam berdetak terdengar teratur. Suasana terasa sunyi. Ini semakin menakutkan saat cerita seram tante kembali terngiang di otakku. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin segera tidur, tapi malah semakin susah.

Byur. Byur. Na na naaa…
Mataku otomatis terbuka. Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin keluar perlahan. Kenapa semua orang tidur dengan nyenyak? Tidakkah mereka mendengar apa yang terjadi di kamar mandi? Meskipun suaranya terdengar samar, bagiku itu sangat jelas untuk terdengar di suasana senyap ini. Aku memutuskan untuk kembali menutup mata. Bacaan Al-Fatihah dan Ayat Kursi lancar aku bacakan berulang kali. Senandungan itu tidak pernah ingin berhenti.

Akhirnya, pagi datang. Mentari tidak menembus jendela yang tertutup gorden. Hanya terdengar suara gemericik air yang terdengar keras. Aku kira sosok itu masih mandi, ternyata itu suara hujan deras. Ini adalah pertama kalinya Kota Sidoarjo tersiram hujan.

Aku terbangun beranjak menuju dapur. Tante Aini sudah sibuk menyiapkan sarapan. Bau nasi goreng menusuk hidung, terasa enak. Tapi, perutku masih belum sepenuhnya lapar. “Sudah bangun, Rim? Ayo sarapan!” aku menggeleng. Perutku masih belum siap diisi oleh makanan berat. “Kalau begitu, makan tuh roti lapis di meja depan. Ajak yang lain juga. Ini sudah jam 6 tapi mereka masih tidur nyanyak, sedangkan tante harus bangun pagi bekerja di dapur.” Aku hampir tertawa lepas. Tanteku ini pagi-pagi sudah bisa membuat orang terhibur.
Aku mengangguk, berbalik menuju ruang depan. Benar saja, roti lapis rasa coklat dan pandan yang uapnya masih mengepul hangat tersaji di atas piring. Kalau seperti ini, aku baru ingin memakannya. Aku juga mengajak yang lain untuk bangun dan memakannya. Bahkan hanya dengan mendengar kata ‘roti lapis’ mereka langsung terbangun.

Pagi ini berlalu dengan cepat. Sudah pukul 11 siang. Aku dan yang lain bersiap-siap menghabiskan hari libur di salah satu department store. Tante Aini juga sudah menyiapkan mobilnya. Kami pun berangkat.
Mungkin butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai. Jalan raya tidak macet sedikitpun. Aku rasa karena hari ini adalah hari libur, jadi sebagian besar penduduk memutuskan untuk berlibur ke luar kota pergi menuju ke tempat yang lebih tenang.

Bioskop berada di lantai tiga. Lantai tiga adalah tempat wahana bermain, wisata kuliner, serta tempat yang iconic untuk berfoto. Tempat ini selalu dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menikmatinya. Mereka berlalu-lalang, bercakap sambil makan, tertawa dan berteriak histeris saat bermain wahana. Pemandangan menyenangkan ini dapat aku lihat sejauh mata memandang.

Kami berlima memutuskan untuk tidak mengulur waktu untuk menikmati semua itu, sebab film yang akan kami tonton satu jam lagi akan tayang. Beruntung saat sampai disana kursi yang kosong masih cukup banyak. Kami bisa memilih tempat yang strategis untuk menonton, tidak jauh dari layar dan tidak terlalu dekat dari layar.

Baiklah, ini adalah pertama kalinya aku kembali menonton film horror setelah sekian lama. Film ini sudah bertahan di bioskop satu bulan lebih. Kisahnya yang membuat penonton berteriak histeris berhasil menjadi trending topic. Total penonton yang didapatnya pun sudah mencapai 4 juta. Pengabdi Setan benar-benar telah menghebohkan dunia perfilman Indonesia, jadi aku rasa aku tidak akan rugi menontonnya.

Satu jam kemudian kami masuk ke ruang teater 3 atau studio 3. Film pun ditayangkan tidak lama kemudian. Aku cukup antusias dengan film ini. Dua jam berlalu tanpa terasa. Kami berlima keluar dari studio dengan wajah puas. Meskipun jujur saja, aku terlalu banyak menutup mata sepanjang film diputar. Tapi, aku cukup puas dengan jalan ceritanya. Tidak heran, film horror ini menghebohkan Indonesia.

Sebelum pulang, kami memutuskan untuk jalan-jalan sebentar mengisi perut kosong. Ada paket murah terpampang di banner depan toko. Nasi goreng dengan ice lemon tea yang menggugah selera. Kami pun masuk ke dalam memesan makanan.

Pukul lima sore kami keluar dari departement store. Sepanjang perjalanan pulang, kami asyik membahas film tadi. Aku pun juga ikut bergabung. Ternyata film horror pun juga bisa menyenangkan.

Hari beranjak malam. Langit Sidoarjo sudah gelap. Matahari berganti rembulan. Entah kenapa, tiba-tiba aku kembali kepikiran hal aneh kemarin. Saat kamar mandi rumah tante ada yang menggunakan. Seorang perempuan bersenandung riang sambil bermain air di dalamnya. Buluku meremang.
Ditambah lagi dengan adegan-adegan menakutkan yang tadi belum sempat aku tutupi di film. Adegan dimana wajah seram sang ibu di-close up, wajahnya terias dengan apik. Lalu, aku juga mengingat suara lonceng khas milik sang ibu. Semua itu mampu membuatku ketakutan sendiri. Aku buru-buru menyingkirkan pikiran burukku.

Malam semakin larut, kami beranjak tidur. Kali ini aku menggunakan selimut, berharap bisa tidur nyenyak di malam terakhirku di rumah tante. Namun, sia-sia. Pikiran buruk inilah yang sedari tadi menggangguku. Seperti malam sebelumnya, aku kembali mendengar senandungan menakutkan di kamar mandi. Aku tidak membuka mata, berusaha untuk tetap tenang. Suara itu semakin terdengar jelas. Detak jam pun tidak terdengar karenanya. Aku menarik selimut ke atas, menutupi wajah.

Pagi kembali datang. Lagi-lagi aku yang pertama bangun setelah tante. Aku rasa karena tidurku sama sekali tidak nyenyak dua hari terakhir. Aku berjalan menuju ruang tamu. Menyalakan TV menonton berita pagi. Konsentrasiku pecah. Aku kembali memikirkan kejadian tadi malam. Itu benar-benar nyata. Inilah pertama kalinya aku bisa merasakan hal aneh seperti itu. Semua ini gara-gara cerita tante.

Dua jam berlalu, ketiga sepupuku menyusul bergabung di ruang tamu. Sarapan pun juga sudah siap. Kami menikmati makanan yang dibuatkan tante.
“Kalian dengar suara-suara aneh nggak dua malam terakhir ini? Seperti suara seorang perempuan bersenandung.” Aku bertanya, membuka obrolan pagi. Mereka menggeleng. Tapi tidak dengan Mbak Fela. “Sebenarnya aku juga mendengarnya. Tapi itu samar-samar tidak jelas. Aku pikir karena aku terlalu kepikiran cerita tante.” Aku menggeleng tegas. “Aku mendengarnya, suara itu benar-benar jelas.” Seruku hampir melemparkan sendok. “Benarkah?” Mbak Fela masih belum percaya.

Tiba-tiba tante tertawa kencang. Dia hampir memuncratkan makanan yang ada di mulutnya. Kami menatapnya heran. Tante berbalas menatap kami.
“Kalian pasti ketakutan gara-gara tante.” Dahiku berkerut, tidak mengerti. “Sebenarnya dua malam terakhir, perut tante mendadak selalu mulas. Jadi tante pergi ke kamar mandi.”

Aku dan Mbak Fela menatap tidak percaya. Jantung kami harus berlomba setiap dua malam terakhir karena hal tidak terduga ini, dan sekarang tante malah bercerita tanpa rasa bersalah.

“Lalu kenapa mama bersenandung? Kalau aku yang mendengarnya, aku pasti sudah lari ke kamar mama.” Jujur saja, aku juga sebenarnya penasaran dengan jawaban dari pertanyaan Rahel.


Tante Aini memasang cengiran lebar-lebar.
 

“Sebenarnya sejak kalian ingin menonton film horror itu, tante jadi sering kepikiran. Tante juga begitu takut dengan hal-hal seperti itu. Makanya, saat malam-malam di kamar mandi, tante bersenandung supaya suasananya nggak terlalu sepi. Supaya tante juga bisa mengusir pikiran buruk tante. Makanya tante bersenandung dan membuat suara air lebih keras.”

Aku memukul jidat tidak percaya. Jadi selama dua malam terakhir ini, aku tidak bisa tidur nyanyak, selalu merasa dihantui, itu karena ulah tante. Benar-benar sial liburanku di Sidoarjo kali ini.


Tapi, kemudian kami tertawa menyadari kesalahpahaman ini.

Masa Lalu Berdarah

Selamat datang di rumahku!” kata seorang wanita yang duduk sambil minum teh.
“Terima kasih nyonya. Jadi hari ini saya sudah mulai bekerja?” Asih meletakan barang bawaannya di lantai.


Pemilik rumah itu bernama Rossa. Rossa telah cukup lama ditinggal mati oleh suami dan anaknya. Sudah bertahun-tahun ia menghabiskan masa hidupnya di rumah hasil warisan suaminya.


“Kamu sudah boleh bekerja. Disanalah kamarmu.” Rossa mengantarkan Asih ke depan kamarnya.


“Silahkan kamu istirahat dulu. Nanti jam 4 sore, barulah kau mulai bekerja.”
Asih mengangguk sambil tersenyum, “Terima kasih Nyonya.” Lalu menutup pintu kamar dan merapikan pakaian yang ada di dalam koper.


Rossa melangkah pergi dan duduk di atas kursi, melanjutkan kegiatannya. Di penghujung siang, ia biasa menjahit sehelai kain untuk dijadikan mantel. Di usianya saat ini, ia masih bisa melakukan beberapa hal yang bisa ia kerjakan sendiri. Soal mempekerjakan Asih hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi apa-apa dengannya.


Di dalam kamar barunya, terlihat Asih berlamun indah. Kemudian pikirannya menjadi kacau. tentang bayang kelamnya dulu. Ia berusaha membuang semuanya. Namun sulit. Seperti ada sesuatu yang memaksanya.
“Aa.. argh!”, Asih berusaha menahan tubuhnya yang perlahan jatuh. Di matanya terbayang sosok laki-laki yang samar. Merasa tak kuat, Asih pun merobohkan tubuhnya di atas ranjang.


Sorenya, Asih mulai membersihkan tiap sudut rumah Rossa, “Berdebu sekali…”
“Memang ruangan ini sudah lama tak dibuka, apalagi dibersihkan. Semenjak anakku meninggal.” Kata Rossa yang tiba-tiba muncul.


“Maafkan saya bu, saya…” kata Asih yang merasa bersalah.
“Tidak perlu minta maaf. Lagipula, apa salahmu? Kamar ini menjadi saksi bisu atas perampokan yang terjadi beberapa tahun lalu.” Air mata Rossa menetes.
Asih benar-benar membuat majikannya bersedih. Tapi, ia sudah mulai tenang karena Rossa memaafkannya.


“Kalau begitu saya lanjut kerja dulu Bu.”
“Kamu tak ingin aku melanjutkan kisahnya?” tanya Rossa.
Asih menggeleng pelan dan berkata, “Saya mau, tapi bukan sekarang. Rumah Ibu belum semuanya kubersihkan. Izinkan saya untuk melanjutkannya.”
“baiklah.” Kata Rossa, “permisi.” Tambah Asih.


Rossa terduduk di atas ranjang anaknya. Asih sesekali melirik. terlihat Rossa yang mengambil boneka kayu milik anaknya dan menyisiri rambutnya perlahan. Asih yang melihat itu, heran dengan sikap Tuannya.


Tiba-tiba, bulu kuduk Asih berdiri. Benar saja, seketika boneka itu berubah menjadi sosok anak laki-laki yang menatap tajam Asih. ia pun ketakutan dan berteriak keluar dari kamar itu.


Rossa yang mendengar teriakan Asih, langsung menghampirinya dan membawa Asih tuk duduk sambil melanjutkan yang belum sempat diselesaikannya.
“Asih tenanglah. Baiklah, aku akan melanjutkan ceritaku tadi. Dengarkan baik-baik.”


Asih mengangguk, masih dalam keadaan takut. Ia pun berusaha tenang dan mendengarkan cerita majikannya.
“Jadi begini, beberapa tahun lalu, rumah kami dirampok oleh sekumpulan orang. Dan pada saat itu, kami sedang berada di kamar anakku. Tiba-tiba kumpulan orang yang tak diinginkan masuk dan membunuh suami serta anakku, aku pun tak tinggal diam. kau tahu apa yang terjadi berikutnya?” Asih menggeleng, kepalanya terasa pusing seketika.


“Mereka juga mati, tapi ada satu orang yang berhasil lolos dengan membunuh semua orang yang ada di rumah itu.”


“kepalaku.. pusing. Bu, sebentar!” Kata Asih sembari memegang kepalanya.


“Aku, mengingatnya!” tambah Asih. Air matanya menetes.


“jadi kau sudah mengingatnya?” Rossa berdiri dan mendekati Asih. Ia kaget melihat majikannya itu sudah membawa sebilah pisau.


“Bu, jadi.. jangan Bu, jangan!”


“Ini akibat perbuatanmu Asih. Sekarang, lengkap sudah orang-orang di masa itu.” Kata Rossa sambil menatap ke bawah.

Karya :Muhammad Yusuf Shabran

Siapa Yang di Sana ?

Hari itu begitu sangat berat baginya, rasa kesal yang mendalam padanya terasa sangat kuat. Rasa amarah yang tidak tau harus diarahkan kemana menbuat ia menjadi seseorang yang menyebalkan. Ia berjalan pulang dari sekolahnya. Rasa panas dan membakar dalam dirinya yang menguap tiba-tiba hilang akibat guyuran hujan yang begitu derasnya. Ia tetap melangkangkan kakinya selangkah demi selangkah sambil sesekali menghadap ke atas untuk merasakan dinginnya air hujan yang membasahi seluruh wajahnya, Ia tak peduli dengan apa yang terjadi ketika badannya basah kuyup. Ia hanya memikirkan bagaimana tenangnya dalam keadaan dingin seperti ini.

Tak terasa ia berjalan begitu jauh, ia kebingunan karena jalan tanpa tentu arah, ternyata ia telah salah jalan pulang ke rumah. Ia memandang ke sekeliling yang terasa sangat aneh baginya suasana yang begitu menyebalkan menurutnya, keramaian yang sangat berisik membuat suasana hatinya kembali menjadi tak tentu.

Ia melihat ke tangannya untuk melihat jam, waktu menunjukan pukul 13.40. Tak terasa ia telah berjalan selama 40 menit. Tidak ada rasa lelah di wajahnya karena yang ada dalam pikirannya hanya rasa kesal yang tak henti-hentinya dari tadi.

Ia terus bertanya dalam hatinya .

Kenapa bisa terjadi

Apa yang salah? 

Sudahlah…

Ia berjalan dengan perlahan memperhatikan keaadan, banyak orang lalu lalang tanpa henti, ada yang berteriak-teriak “lima perak dapat 3, lima perak dapat 3…” ada yang tawar menawar dengan bercanda, ada kepulan asap yang beragam baunya, Ia baru sadar ia sedang berada di pasar. Rintik hujan masih belum usai, langit masih belum lega begitupun ia. Jalanan yang sangat kumuh wajarnya pasar tradisional. Keadaan yang basah kuyup menyebabkan ia merasa sangat dingin, ia pun dengan langkah yang cepat menghampiri seorang penjual.

“permisi Bu, ini namanya pasar apa ya?” dengan wajah yang terpksa tersenyum
“pasar *****” dengan suara yang sangat lembut
Ia pun kaget ternyata itu adalah pasar yang tak pernah ia tau ada di daerahnya.
“terima kasih ya bu” ia membalas dengan tersenyum kecil

Ia pun makin bingung karena pakaian yang dipakai orang-orang terasa sangat aneh, tak ada yang memakai alas kaki. Ia pun baru sadar kalau ia berada dalam keanehan.

Semua laki-laki hanya bertelanjang dada dengan hanya mamakai celana pendek, para perempuan pun hanya memakai kain yang menutupi bagian atas dan bawahnya. Ia pun terasa sangat aneh ia berlarian kesana kemari dan tidak melihat rumah-rumah dari tembok seperti biasanya, jauh mata memandang ia hanya melihat tampak pohon-pohon tinggi.

Ia mencoba memejamkan mata, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Ini dimana? apa yang sedang terjadi padaku?
Apa aku sudah mati? kenapa secepat ini? ah itu tidak penting
Aku harus berbuat apa? aku harus alasan ke mama apa? ini sudah sangat lama, mama pasti kuatir.

Semua yang ia pikirnya seketika itu hilang karena ada seseorang yang menepuk bahunuya
“hei, bajumu kok aneh?`”
Ia pun tersentak karena kaget “apa? kamu siapa? ini dimana?”
“itu apa yang sedang kamu bawa di punggungmu? bentuknya bukan seperti pedang ataupun cangkul?”
“kamu siapa? sebenarnya apa yang sedang terjadi? ini dimana?” dengan nada sedikit tinggi dan kesal
“itu yang kamu pakai di kakimu apa? kok bagus, aku belom pernah melihatnya”
“sudahlah berhenti melihatku” ia pun bernada semakin tinggi
“oh iya maaf, kamu tadi nanya apa?” dia berbicara dengan memakan sesuatu

Ia melihat ke arah orang di depanya, ia melihat orang itu sedang makan sebuah tangan, dimulai dari jari-jari yang diemut kemudian dikunyah begitu lahapnya.
“krauk-krauk`” darah dari tangan itu masih begitu segar, ia melihat seseorang itu dengan ketakutan, Ia makin bingung apa yang sedang terjadi, ini sebenarnya pasar apa?

Kamu siapa?

Orang di depannya pun menjawab sambil tersenyum dan tertawa kecil

"Aku bukan siapa-siapa"

 

Karya : Ainur Rohman