Read more
Guntur adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang bekerja keras sebagai kurir di sebuah perusahaan logistik. Setiap hari, ia berkeliling Jakarta dengan sepeda motornya, mengantarkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia adalah sosok yang penuh semangat, meskipun beban hidup terasa berat di pundaknya.
Suatu pagi, di tengah kepadatan jalan raya, Guntur melirik jam di ponselnya. "Dua menit lagi sampai tenggat waktu," gumamnya, berusaha menembus kerumunan kendaraan yang tidak bergerak.
Ketika akhirnya sampai di tujuan, ia bergegas turun dari motornya dan berlari ke dalam gedung. "Selamat pagi! Ini paket dari PT Jaya Abadi," ucapnya, terengah-engah.
Sang penerima, seorang wanita berkerudung, menatapnya dengan pandangan skeptis. "Kenapa baru datang sekarang? Kami sudah menunggu!"
Guntur menghela napas. "Maaf, lalu lintas sangat padat. Saya berusaha secepat mungkin."
"Jangan sampai terulang lagi," katanya dingin, menyerahkan tanda terima dengan raut wajah yang tidak ramah. Guntur merasa tertekan, tetapi ia tahu ini bagian dari pekerjaannya. Ia tidak boleh menyerah.
Di sisi lain Jakarta, ada Rani, seorang anak jalanan berusia sepuluh tahun yang sering terlihat duduk di trotoar. Ia mengenakan pakaian compang-camping dan wajahnya kotor, tetapi di balik semua itu ada keinginan untuk menemukan arti keluarga.
Suatu sore, saat langit mulai gelap, Rani duduk sendirian, memandangi kerumunan orang yang berlalu-lalang. "Kenapa mereka semua terlihat bahagia?" tanyanya dalam hati, merindukan kehangatan sebuah keluarga.
Tiba-tiba, seorang pengemis tua mendekatinya. "Nak, maukah kau berbagi roti yang kau dapat hari ini?" tanyanya dengan suara serak.
Rani menggeleng. "Ini satu-satunya makanan yang aku punya," jawabnya, menahan rasa iba terhadap pengemis itu.
"Tak apa, nak. Ingat, berbagi akan membuatmu merasa lebih baik," ucap pengemis itu, meninggalkan Rani dengan senyuman tulus.
Rani merenung. "Aku ingin sekali punya keluarga," bisiknya. "Tapi di mana mereka?"
Baca juga Jejak Penyesalan Dinda
Kisah Guntur dan Rani mulai saling berhubungan ketika suatu hari, Guntur selesai bekerja lebih awal dan memutuskan untuk berjalan-jalan. Di tengah keramaian, ia melihat Rani duduk di trotoar, tampak lelah dan kesepian.
Guntur mendekat, merasakan kepedihan dalam pandangan mata Rani. "Hei, kenapa kamu tidak di rumah? Seharusnya ada di tempat yang aman," tanyanya lembut.
Rani menatap Guntur dengan mata besar. "Aku tidak punya rumah. Hanya jalanan ini yang ku kenal," jawabnya, suaranya bergetar.
Hati Guntur terenyuh. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa keluarga. "Kalau begitu, maukah kamu ikut aku? Kita bisa mencari makanan bersama."
Rani tampak ragu, tetapi rasa lapar lebih kuat. "Baiklah," katanya, mengangguk pelan.
Guntur membawa Rani ke warung kecil tempat ia biasa makan setelah bekerja. "Ini tempat yang baik. Makanlah sepuasnya," ucapnya, sambil memesan dua porsi nasi goreng.
Saat makanan datang, Rani menatap piringnya seolah tidak percaya. "Aku bisa makan semuanya?" tanyanya dengan nada tak yakin.
"Ya, ini untukmu. Nikmati saja," jawab Guntur sambil tersenyum.
Rani mulai makan dengan lahap, dan Guntur mengamati anak itu dengan rasa iba. "Kamu tahu, Rani, di Jakarta ini kadang kita harus berjuang keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi jangan pernah kehilangan harapan."
Rani mengangguk, mulutnya penuh dengan nasi. "Aku ingin punya rumah. Dan keluarga."
Guntur terdiam sejenak. "Aku juga. Kadang, aku merasa terjebak dalam pekerjaan dan tidak tahu apakah semua ini layak dilakukan."
Setelah selesai makan, Guntur berkata, "Mari kita jalan-jalan sebentar. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Mereka berjalan menyusuri jalanan Jakarta yang ramai. Guntur membawa Rani ke taman kota, tempat di mana banyak keluarga berkumpul. Melihat anak-anak bermain, Rani merasakan kesedihan mendalam. "Mereka semua terlihat bahagia. Kenapa aku tidak seperti itu?" tanyanya, suaranya hampir menangis.
Guntur berusaha memberikan semangat. "Kebahagiaan itu datang dari dalam, Rani. Mungkin kita tidak memiliki banyak, tetapi kita bisa menciptakan momen berharga. Seperti sekarang ini."
Rani menatap Guntur, merasakan kehangatan dari sosok yang baru dikenalnya. "Apakah kamu akan jadi seperti keluargaku?" tanyanya lirih.
Guntur tertegun, tidak tahu harus menjawab apa. "Mungkin kita bisa saling mendukung. Aku bisa menjadi kakakmu," jawabnya pelan, tergerak oleh rasa empati.
Baca juga Jejak Sukses di Reuni
Beberapa bulan berlalu, Guntur dan Rani membangun ikatan yang kuat. Guntur berusaha keras untuk meningkatkan karirnya, sementara Rani berusaha untuk tetap optimis meski keadaan sulit.
Suatu hari, Guntur mendapatkan kesempatan untuk menjadi supervisor di perusahaan. Ia sangat senang, tetapi saat pulang, ia merasa bingung. "Apakah ini semua sepadan?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ketika tiba di tempat Rani, ia melihat anak itu sedang menggambar di atas trotoar. "Rani, lihat! Aku dapat promosi!" serunya dengan semangat.
Rani mengangkat wajahnya, tersenyum lebar. "Kak Guntur, itu luar biasa! Kamu pasti bisa membawa kami ke tempat yang lebih baik, kan?"
Guntur merasa terharu. "Aku akan berusaha keras untuk kita berdua. Kita akan mencari tempat yang aman dan nyaman."
Namun, tidak lama setelah itu, Guntur mengalami kemunduran. Perusahaannya mengalami masalah keuangan, dan ia terancam kehilangan pekerjaannya. Ia merasa putus asa dan khawatir akan masa depan mereka.
Di malam yang gelap, ia duduk di trotoar, memandangi lampu-lampu kota. "Apa yang harus aku lakukan, Rani? Semua ini terasa begitu berat," ucapnya, suaranya penuh kebingungan.
Rani mendekat dan menggenggam tangannya. "Kak, kita sudah melalui banyak hal. Kita tidak boleh menyerah. Ingat, kebahagiaan ada di tangan kita sendiri."
Kata-kata Rani membuat Guntur merenung. "Kau benar, Rani. Kita tidak bisa berhenti berjuang."
Dengan tekad baru, Guntur mulai mencari pekerjaan baru dan berusaha untuk tetap optimis. Ia juga mendorong Rani untuk sekolah, meskipun di tengah kesulitan. Mereka berdua saling mendukung dan berjuang bersama.
Suatu sore, Guntur dan Rani berdiri di depan gedung sekolah baru yang ingin dimasuki Rani. "Aku akan berusaha belajar dengan baik, Kak," ucapnya penuh semangat.
"Dan aku akan selalu ada di sini untuk mendukungmu," balas Guntur, menepuk bahu Rani dengan bangga.
Mereka tersenyum satu sama lain, menyadari bahwa meski hidup di Jakarta penuh tantangan, mereka memiliki harapan dan satu sama lain. Kota ini, dengan segala kesulitan dan keindahannya, telah mengajarkan mereka arti perjuangan dan makna keluarga yang sebenarnya. Dengan langkah baru, mereka siap menghadapi apa pun yang akan datang, karena jati diri mereka bukan hanya ditemukan di antara keramaian, tetapi dalam hubungan yang telah terjalin di antara mereka.
Hari pertama Rani di sekolah baru dipenuhi dengan kecemasan dan harapan. Guntur mengantarnya dengan semangat. Di depan gerbang sekolah, Rani menatap bangunan megah dengan perasaan campur aduk. "Kak, bagaimana jika teman-temanku tidak menyukaiku?" tanyanya dengan suara bergetar.
Guntur membungkuk, menatapnya dengan serius. "Ingat, Rani. Kamu punya banyak hal baik di dalam dirimu. Jika kamu bersikap baik dan percaya diri, orang-orang akan melihatmu."
Rani mengangguk, berusaha mengumpulkan keberanian. "Terima kasih, Kak. Aku akan berusaha."
Setelah mengantar Rani, Guntur melanjutkan pencariannya untuk pekerjaan baru. Ia merasa tekanan di dadanya semakin berat, tetapi ia tahu Rani bergantung padanya. Di sebuah kafe, sambil menunggu panggilan, ia mencoba menyusun rencana masa depan.
Di sekolah, Rani bertemu dengan teman-teman baru. Diawali dengan keraguan, Rani akhirnya berkenalan dengan dua gadis bernama Lia dan Sari. Mereka menyambutnya dengan hangat, membuat Rani merasa diterima.
"Hei, kamu dari mana? Kami belum pernah melihatmu sebelumnya," tanya Lia dengan senyum lebar.
"Aku baru pindah ke Jakarta. Aku senang bisa bertemu kalian," jawab Rani, berusaha terlihat percaya diri.
Sari menatap Rani dengan penuh rasa ingin tahu. "Kau harus ikut klub seni. Kami butuh orang berbakat seperti kamu!"
Rani merasa terharu. "Seni? Aku suka menggambar."
Dari situ, Rani mulai menemukan passion-nya. Setiap kali menggambar, ia merasa terhubung dengan dunianya sendiri, dan ia menyadari bahwa seni bisa menjadi cara untuk mengekspresikan perasaannya.
Sementara itu, Guntur terus berjuang mencari pekerjaan. Suatu malam, saat pulang dari pencarian, ia menerima telepon dari mantan bosnya.
"Guntur, kami mungkin memerlukan bantuanmu untuk proyek sementara. Tapi, ini hanya untuk beberapa minggu," suara di ujung telepon itu menjelaskan.
Guntur merasa harapan kembali muncul. "Tentu, saya siap membantu. Apa yang perlu saya lakukan?"
Setelah diskusi panjang, Guntur merasa lega. Namun, saat ia tiba di rumah, ia mendapati Rani tampak murung.
"Ada apa, Rani?" tanya Guntur khawatir.
Rani menghela napas. "Aku mengikuti lomba menggambar, tapi aku tidak yakin bisa menang. Semua temanku sangat hebat."
Guntur berusaha memberikan dorongan. "Kamu harus percaya diri! Karya senimu unik. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Fokus pada apa yang kamu cintai."
Rani tersenyum tipis. "Baiklah, Kak. Aku akan berusaha."
Hari berlalu, dan Guntur menjalani pekerjaannya dengan baik, tetapi ketidakpastian selalu menghantuinya. Ia merasa beban tanggung jawabnya semakin berat, dan terkadang, kelelahan membuatnya putus asa.
Suatu malam, ia kembali ke rumah lebih larut dari biasanya. Ketika Rani melihatnya, ia berlari menghampiri. "Kak, bagaimana harimu?"
"Capek, tapi baik. Ada beberapa kemajuan di pekerjaan," jawab Guntur sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Apakah kau akan tetap bekerja di sana?" tanya Rani, khawatir.
"Aku berharap begitu. Kita harus bertahan, Rani. Untuk masa depan kita," kata Guntur, berusaha tetap optimis.
Rani melihat ekspresi lelah di wajah Guntur. "Kak, kita harus mencari cara untuk bersenang-senang juga. Kita tidak bisa terus-menerus stres."
Guntur tersenyum tipis. "Kau benar. Mungkin kita bisa pergi ke taman akhir pekan ini?"
Rani melompat kegirangan. "Ya! Aku ingin menggambar pemandangan di sana!"
#### Bab 12: Hari yang Menyegarkan
Akhir pekan tiba, dan mereka pergi ke taman kota. Suasana ceria dan penuh warna mengalihkan pikiran mereka dari kesulitan. Rani mengeluarkan sketsa dan mulai menggambar pemandangan, sementara Guntur duduk di sebelahnya, menikmati ketenangan.
"Melihatmu menggambar membuatku bahagia, Rani," ucap Guntur dengan senyum lebar. "Kamu berbakat."
Rani tersenyum lebar, "Terima kasih, Kak! Ini membuatku merasa hidup."
Mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita dan tawa. Guntur menyadari bahwa meski hidup sulit, momen-momen kecil ini memberikan arti yang lebih dalam.
Ketika mereka pulang, Rani menunjukkan sketsanya yang sudah jadi. "Lihat, Kak! Ini pemandangan dari taman!"
Guntur terkesan. "Kamu harus menunjukkan ini pada teman-temanmu di sekolah. Mereka pasti suka."
Hari lomba menggambar tiba. Rani sangat gugup tetapi bertekad untuk melakukan yang terbaik. Di sekolah, dia bertemu dengan Lia dan Sari.
"Kamu sudah siap, Rani?" tanya Sari, terlihat antusias.
"Belum tahu. Aku berharap bisa melakukan yang terbaik," jawab Rani, meremas kertas gambarnya.
Ketika saatnya tiba, Rani mengambil posisi dan mulai menggambar. Dia menuangkan semua perasaannya ke dalam karyanya, menyalurkan harapan dan impiannya ke atas kanvas.
Setelah waktu habis, juri mulai menilai. Rani merasa cemas menunggu hasilnya.
Akhirnya, pengumuman dimulai. "Pemenang lomba menggambar adalah... Rani!"
Suasana menjadi hening, lalu pecah menjadi sorakan dan tepuk tangan. Rani tidak percaya dan langsung berlari ke panggung.
"Terima kasih! Ini sangat berarti bagi saya!" ucap Rani dengan air mata bahagia.
Guntur berdiri di tengah kerumunan, hatinya penuh dengan kebanggaan. Ia tahu, perjalanan mereka belum selesai, tetapi momen ini adalah awal yang baru.
Sejak saat itu, Rani semakin aktif dalam dunia seni. Ia mendapatkan dukungan dari teman-temannya dan merasa lebih percaya diri. Guntur juga berhasil mendapatkan pekerjaan tetap di perusahaan baru, dan kehidupan mereka mulai membaik.
Mereka saling berbagi kebahagiaan, momen-momen kecil, dan impian-impian baru. Guntur terus berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi Rani, dan Rani berusaha keras di sekolah.
Kota Jakarta, dengan semua kesibukannya, telah menjadi saksi perjalanan mereka dalam menemukan jati diri. Mereka belajar bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang harus dicari jauh-jauh, melainkan ada dalam momen-momen sederhana yang dibangun bersama.
Meskipun tantangan masih akan datang, mereka siap menghadapinya, bersama-sama, sebagai keluarga yang terjalin oleh cinta dan harapan. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.



0 Reviews
Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....