Jejak Penyesalan Dinda

Jejak Penyesalan Dinda

Size
Price:

Read more

Jejak Penyesalan Dinda
Hai Sobat Kumpulan Cerpen Siti Arofah Kali ini aku mau menceritakan sebuah kisah Dinda yang menyesal tak mau mendengarkan kata kata ibunya. Ibunya tidak merestui pernikahan antara Dinda dan Deni. 

Dinda selalu menjadi anak yang ceria dan penuh semangat. Ia memiliki segudang mimpi dan harapan, terutama tentang cinta. Deni, pacarnya sejak SMA, adalah sosok yang selalu ada di sampingnya. Mereka memiliki banyak kenangan indah bersama, dan Dinda yakin bahwa Deni adalah orang yang tepat untuknya. Namun, ada satu hal yang membuat semuanya menjadi rumit: ibunya, Bu Rina, tidak merestui hubungan mereka.

Suatu sore, Dinda duduk di ruang tamu, mengedit foto-foto liburan mereka di pantai. Tiba-tiba, Deni datang membawa bunga. “Hai, cantik! Ini untukmu,” ucap Deni, memberikan bunga itu dengan senyum lebar.

“Terima kasih, Deni! Kamu tahu, ini hari yang paling indah!” Dinda menjawab sambil tersenyum.

Namun, senyuman Dinda memudar saat ibunya masuk ke ruangan. Bu Rina melihat bunga itu dan mengernyit. “Dinda, kamu tahu bahwa aku tidak setuju dengan hubungan ini, kan?” kata ibunya dengan nada tegas.

Dinda merasa hatinya bergetar. “Tapi, Bu! Deni mencintai saya dan saya mencintainya. Kenapa Ibu tidak bisa menerima dia?” tanyanya, suara mulai meninggi.

“Dinda, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Deni bukanlah pria yang tepat. Dia masih muda dan belum bisa memberikan masa depan yang jelas untukmu,” jawab Bu Rina, mencoba bersikap tenang.

“Dia sudah bekerja keras, Bu! Dia sudah bisa membiayai diri sendiri. Kenapa Ibu tidak bisa melihatnya?” Dinda hampir menangis, merasa frustrasi.

Bu Rina menggeleng. “Cinta tidak cukup, Dinda. Aku tidak ingin kamu tersakiti. Aku ingin kamu bahagia.”

Dinda merasakan amarah membara. “Ibu tidak mengerti! Aku bukan anak kecil lagi. Ini hidupku, bukan hidup Ibu!” Ia berlari ke kamarnya, menutup pintu dengan keras.

Beberapa minggu berlalu, Dinda tetap bersikukuh untuk melanjutkan hubungan dengan Deni, meskipun ibunya terus memberikan peringatan. Di satu sisi, Dendi telah merencanakan untuk melamar Dinda. Ia ingin membuat momen itu istimewa, tetapi Dinda merasa berat hati karena ketidaksetujuan ibunya.

Suatu malam, Deni mengajak Dinda pergi ke tempat favorit mereka, sebuah taman yang indah. Di sana, Deni berlutut dan mengeluarkan cincin. “Dinda, maukah kamu menikah denganku?” tanyanya dengan penuh harap.

Baca juga Jejak Sukses di Reuni

Dinda terdiam, hati dan pikirannya berperang. “Deni, aku… aku tidak tahu. Ibu tidak merestui kita,” jawab Dinda, wajahnya berkerut.

“Tapi kita saling mencintai, Dinda! Kita bisa membuktikan kepada ibumu bahwa kita bisa bersama. Aku akan berusaha sebaik mungkin untukmu,” Deni meyakinkan, terlihat putus asa.

Dinda merasa terjepit. “Aku ingin, Deni. Tapi aku tidak bisa melawan Ibu. Aku tidak ingin membuatnya sakit,” jawab Dinda, air mata mulai mengalir.

Hari-hari berlalu, Dinda merasa bingung. Ia terus berdebat dalam hatinya, dan perasaannya terhadap Deni semakin tertekan. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan mereka. Dinda mengajak Deni untuk berbicara.

“Deni, aku minta maaf. Kita harus berpisah. Aku tidak bisa membuat Ibu sakit,” ucap Dinda dengan suara bergetar.

Deni tampak hancur. “Dinda, tolong jangan lakukan ini. Kita bisa mencari cara untuk membuat semuanya baik-baik saja,” jawab Deni, berusaha menahan air mata.

“Tapi aku tidak ingin menyakiti keluargaku. Ini keputusan terbaik,” Dinda berkata tegas.

Setelah perpisahan itu, Dinda merasa seolah ada bagian dari dirinya yang hilang. Ia menjalani hari-harinya dengan perasaan kosong, dan tidak ada kebahagiaan yang terasa. Di sisi lain, Deni tampak semakin jauh, dan Dinda merasa kesepian.

Beberapa bulan kemudian, Dinda menerima kabar bahwa Deni telah menemukan cinta baru. Ia merasa hatinya hancur. “Kenapa aku tidak mendengarkan Ibu? Kenapa aku tidak memperjuangkan cinta ini?” pikirnya penuh penyesalan.

Dinda mencoba menjalin kembali komunikasi dengan ibunya. Suatu malam, setelah pulang dari kantor, ia menemukan Bu Rina duduk di ruang tamu, menunggu. “Ibu, aku ingin berbicara,” ucap Dinda, suara lembut.

“Dinda, aku sudah tahu tentang Deni. Ibu sangat kecewa padamu,” kata Bu Rina, menatap putrinya dengan penuh kesedihan.

“Maafkan aku, Bu. Aku seharusnya mendengarkan Ibu. Deni pergi karena aku tidak berani melawan. Aku benar-benar menyesal,” ucap Dinda, air matanya mulai mengalir.

Bu Rina mendekati Dinda dan memeluknya. “Ibu hanya ingin melindungimu, Nak. Hidup ini penuh dengan pilihan yang sulit, dan kadang kita harus membuat keputusan yang menyakitkan.”

“Ibu, aku seharusnya lebih dewasa. Aku merindukan Deni dan ingin memperbaiki semuanya, tapi sekarang mungkin sudah terlambat,” jawab Dinda dengan isak tangis.

“Tidak ada yang terlambat, Dinda. Jika kamu mencintainya, bicaralah dengan jujur. Cinta sejati tidak akan mudah hilang,” Bu Rina memberi semangat.

Baca juga Antara Mimpi dan Persahabatan Bima

Dinda menyeka air mata dan merasa ada harapan baru. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Deni. “Deni, bisakah kita berbicara?” suaranya bergetar saat mendengar suara Deni di telepon.

“Dinda, aku… aku tidak tahu. Aku sudah moving on,” jawab Deni dengan suara lembut, tetapi Dinda bisa merasakan ketulusan di balik kata-katanya.

“Aku tahu, dan aku minta maaf. Aku ingin menjelaskan semuanya. Bisakah kita bertemu?” pinta Dinda.

Setelah beberapa menit, Deni setuju untuk bertemu di tempat mereka yang biasa. Dinda merasa jantungnya berdebar saat ia menunggu Deni tiba.

Saat Deni muncul, hati Dinda terasa campur aduk. “Deni, aku sangat menyesal. Aku seharusnya tidak membiarkan apapun menghalangiku untuk mencintaimu,” kata Dinda, mencoba menahan tangis.

Deni terdiam sejenak. “Dinda, aku sudah berusaha untuk melupakanmu. Tetapi cinta tidak semudah itu. Aku masih mencintaimu,” ungkap Deni, mata mereka saling bertautan.

“Aku ingin kita kembali. Aku tidak akan membiarkan siapapun, termasuk Ibu, menghalangiku lagi. Aku ingin berjuang untuk kita,” Dinda mengucapkan kata-kata dengan penuh keyakinan.

Deni tertegun. “Tapi bagaimana dengan ibumu? Apa kamu yakin dia akan menerima kita?” tanyanya, ragu.

“Aku akan berbicara dengan Ibu. Aku akan meyakinkannya. Kita bisa membuktikan bahwa kita bisa bersama,” jawab Dinda, merasakan semangat baru.

Malam itu, mereka berbicara panjang lebar tentang perasaan dan harapan mereka. Dinda menyadari bahwa cinta sejati memerlukan keberanian dan komitmen untuk bertahan, bahkan di saat-saat sulit.

Setelah beberapa hari, Dinda memberanikan diri untuk berbicara dengan ibunya. “Bu, aku ingin memperjuangkan hubungan ini. Aku ingin Deni kembali dalam hidupku,” ucap Dinda dengan tegas.

Bu Rina menatap putrinya, terlihat terkejut. “Dinda, kamu yakin? Ini bukan keputusan yang mudah,” kata ibunya, khawatir.

“Bu, aku sudah merenung. Aku mencintai Deni, dan aku ingin berusaha untuk bersamanya. Aku akan menjelaskan semuanya kepada Deni dan berusaha mendapatkan restu Ibu,” jawab Dinda, hatinya mantap.

Akhirnya, Bu Rina mengangguk, merasakan ketulusan di hati putrinya. “Baiklah, Dinda. Jika itu yang kamu inginkan, Ibu akan mendukungmu. Tetapi ingat, kamu harus bertanggung jawab atas keputusan ini,” kata Bu Rina dengan lembut.

Dinda merasa beban yang berat terangkat. Ia segera menghubungi Deni untuk memberi tahu kabar baik itu. “Deni, aku sudah berbicara dengan Ibu. Dia setuju untuk memberi kita kesempatan lagi,” katanya dengan penuh semangat.

Deni tampak terkejut. “Serius? Kamu tidak bercanda?” tanyanya, tidak percaya.

“Tentu saja! Aku ingin kita mencoba lagi. Aku siap berjuang untuk kita,” jawab Dinda, senyum bahagia menghiasi wajahnya.

Dengan langkah baru, mereka berdua kembali bersatu, saling mendukung dan berkomitmen untuk menghadapi tantangan bersama. Dinda belajar untuk mendengarkan, dan Deni berusaha untuk memahami keluarganya.

Meski perjalanan mereka tidak selalu mudah, Dinda menyadari bahwa cinta membutuhkan pengorbanan dan kepercayaan. Dengan dukungan ibunya, mereka berdua menemukan jalan menuju masa depan yang lebih cerah, di mana cinta sejati selalu memiliki tempat di hati. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.

0 Reviews

Contact Form

Name

Email *

Message *