Read more
Rumaisha adalah sosok yang mandiri dan kuat. Dia memiliki pandangan hidup yang unik, terutama dalam hal cinta. “Mengapa kita harus terjebak dalam hubungan pacaran yang bertele-tele?” sering ia katakan pada sahabat-sahabatnya. “Aku ingin sesuatu yang lebih sederhana, tanpa drama, tapi penuh komitmen.”
Sahabat-sahabatnya selalu bingung mendengar pemikiran Rumaisha. Namun, di dalam hatinya, dia tahu dia ingin menemukan cinta sejatinya dengan cara yang berbeda. Suatu ketika, di sebuah acara keluarga, Rumaisha bertemu dengan Aditya, sepupu yang baru saja kembali dari luar negeri. Dia terpesona oleh sosok Aditya yang tampan dan karismatik.
“Rumaisha! Lama tak berjumpa!” sapa Aditya dengan senyum hangat.
“Hai, Aditya! Iya, sudah lama. Kamu terlihat berbeda,” jawab Rumaisha, berusaha menahan detak jantungnya.
“Ya, banyak hal yang berubah. Tapi satu hal yang tidak berubah, aku masih ingin mengenalmu lebih dekat,” ucap Aditya sambil mengedipkan mata.
Rumaisha merasa hatinya bergetar. Mereka pun berbincang panjang lebar, membahas banyak hal, mulai dari kehidupan, pekerjaan, hingga pandangan hidup. Rumaisha menemukan bahwa Aditya memiliki cara pikir yang sejalan dengannya, terutama tentang cinta.
Setelah beberapa kali bertemu, Rumaisha dan Aditya semakin dekat. Namun, Rumaisha merasa ada satu hal yang perlu dia sampaikan. “Aditya, aku ingin jujur. Aku tidak percaya dengan pacaran. Bagiku, itu hanya menghabiskan waktu,” katanya suatu malam di sebuah kafe.
Aditya terkejut, tetapi senyumnya tidak pudar. “Jadi, apa yang kamu inginkan?” tanyanya penasaran.
“Aku ingin hubungan yang lebih serius, tanpa harus melalui fase pacaran yang panjang. Jika kita memang cocok, aku ingin menikah,” jawab Rumaisha dengan penuh keyakinan.
Aditya terdiam sejenak, kemudian mengangguk. “Aku suka pemikiranmu. Jika kita benar-benar saling menyukai, kenapa tidak? Tapi, bagaimana kalau kita menikah siri?”
Rumaisha terkejut. “Menikah siri? Apa itu bukan hal yang tabu?” tanyanya.
“Bukan tabu, jika kita berdua sepakat. Lagipula, itu bisa jadi langkah awal yang baik. Kita bisa mengenal satu sama lain tanpa tekanan dari orang lain,” Aditya menjelaskan.
Baca juga Haruskah Aku Urai Di Ujung Jalan
Rumaisha berpikir sejenak. Meskipun terkesan ekstrem, ada daya tarik tersendiri dalam tawaran Aditya. “Baiklah, mari kita coba. Tapi kita harus saling jujur dan terbuka,” putus Rumaisha.
Mereka pun sepakat untuk menikah siri. Rumaisha merasakan campuran antara kegembiraan dan kecemasan. Mereka melangsungkan pernikahan secara sederhana, hanya dihadiri oleh saksi-saksi terdekat. Setelah itu, mereka menjalani kehidupan sehari-hari seperti pasangan biasa.
Namun, tantangan mulai muncul. Rumaisha merasakan adanya keraguan dalam dirinya. “Aditya, aku merasa aneh. Kita belum benar-benar berkomitmen di hadapan orang tua kita,” ungkapnya di sebuah malam yang tenang.
Aditya meraih tangan Rumaisha. “Aku mengerti. Tapi kita masih bisa membuktikan bahwa ini adalah langkah yang tepat. Mari kita jalani ini dengan baik dan tunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa membuatnya berhasil,” katanya dengan tegas.
Rumaisha mengangguk, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, keraguan itu terus menghantuinya. Ia mulai merasa terasing dari lingkungan sosialnya, tidak bisa berbagi kisah cinta mereka dengan orang lain.
Suatu hari, saat mereka berjalan-jalan di taman, Rumaisha bertanya, “Aditya, jika kita menikah lagi secara resmi, apakah itu akan mengubah segalanya?”
“Jika itu yang kamu inginkan, aku akan melakukannya. Tapi kita harus siap dengan konsekuensinya. Ini bukan hanya soal kita, tapi juga tentang keluarga dan orang-orang di sekitar kita,” jawab Aditya, serius.
Rumaisha merasakan beban di pundaknya. “Aku mencintaimu, Aditya. Tapi aku merasa terjebak. Kadang aku berpikir, apakah langkah ini benar?” ia mengungkapkan keraguannya.
Aditya menatapnya dalam-dalam. “Cinta kita tidak terbatas pada pernikahan resmi. Kita bisa menciptakan hubungan yang kuat, apapun bentuknya. Yang penting adalah komitmen dan kejujuran di antara kita,” ucapnya.
Beberapa minggu kemudian, Rumaisha mendapat kabar bahwa ibunya sakit. Dia segera pulang ke kampung halaman dan menyampaikan berita tentang pernikahan siri mereka kepada ibunya. “Bu, aku sudah menikah dengan Aditya,” katanya dengan hati bergetar.
Ibunya menatapnya dengan mata penuh pertanyaan. “Menikah? Kenapa kamu tidak memberitahu Ibu sebelumnya?” tanyanya dengan nada kecewa.
“Ibu, aku tahu ini mengejutkan. Tapi aku ingin hubungan ini menjadi nyata tanpa harus melalui pacaran. Aditya adalah orang yang tepat untukku,” Rumaisha menjelaskan.
“Menikah siri adalah keputusan besar, Dinda. Kamu harus yakin dengan pilihanmu. Cinta itu tidak hanya tentang berdua, tapi juga tentang keluarga dan tanggung jawab,” nasihat ibunya.
Baca juga Perjuangan Untuk Dapat Menerima Kamu Kembali
Rumaisha merasakan kesedihan dalam suara ibunya. “Ibu, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa bahagia dengan pilihan ini. Tolong percayalah padaku,” ucapnya, berusaha meyakinkan.
Setelah beberapa hari, ibunya mulai menerima keputusan Rumaisha. “Jika ini yang kamu inginkan, Ibu akan mendukungmu. Tapi jangan lupakan tanggung jawabmu sebagai istri,” kata ibunya.
Kembali ke kehidupan sehari-hari, Rumaisha dan Aditya semakin dekat. Namun, ada kalanya Rumaisha merasa gelisah ketika teman-temannya membicarakan pernikahan resmi dan kehidupan berkeluarga. Ia mulai mempertanyakan keputusan mereka.
“Aditya, apakah kita harus menikah secara resmi? Aku merasa ada yang hilang,” ucap Rumaisha di sebuah malam.
Aditya menarik napas dalam-dalam. “Jika itu yang kamu inginkan, kita bisa melakukannya. Mari kita bicarakan ini dengan baik,” jawabnya.
Mereka pun mulai merencanakan pernikahan resmi. Prosesnya tidak mudah, karena mereka harus menghadapi berbagai pandangan dan pertanyaan dari orang-orang di sekitar. Namun, mereka berdua berkomitmen untuk bersama dan menghadapi semua tantangan.
Hari pernikahan resmi tiba, dan Rumaisha merasa bahagia. Saat di pelaminan, ia memandang Aditya dengan penuh cinta. “Terima kasih telah memperjuangkan kita, Aditya. Kini kita bisa menghadapi dunia bersama,” ucapnya.
Aditya menggenggam tangannya. “Tidak ada yang lebih membahagiakan bagiku selain melihatmu bahagia. Ini adalah awal baru bagi kita,” jawabnya, tersenyum.
Setelah pernikahan resmi, Rumaisha merasa lega. Mereka akhirnya bisa berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan teman-teman. Rumaisha menyadari bahwa cinta sejati tidak hanya membutuhkan komitmen, tetapi juga pengertian dan kerjasama.
Mereka menjalani hidup berumah tangga dengan penuh cinta dan kasih sayang. Rumaisha belajar bahwa cinta yang tak terlihat bisa menjadi nyata jika mereka saling mendukung dan berjuang bersama. Dari perjalanan yang penuh liku-liku, Rumaisha menemukan bahwa cinta yang tulus adalah yang mampu menghadapi segala rintangan, dan ia takkan pernah menyesali langkah yang telah diambilnya.



0 Reviews
Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....