Perjuangan Untuk Dapat Menerima Kamu Kembali

Perjuangan Untuk Dapat Menerima Kamu Kembali

Size
Price:

Read more

Perjuangan Untuk Dapat Menerima Kamu Kembali
Hai Sobat Kumpulan Cerpen Siti Arofah Kali ini aku mau menceritakan sebuah kisah Salsa yang hamil tanpa ikatan pernikahan, kekasihnya kabur tidak mau bertanggung jawab.

Di sebuah kota kecil yang tenang, Salsa, seorang mahasiswi berusia 22 tahun, menghadapi kenyataan pahit dalam hidupnya. Dia adalah gadis yang ceria dan penuh impian, bercita-cita untuk menjadi seorang desainer grafis. Namun, segalanya berubah ketika dia hamil setelah menjalin hubungan dengan Arman, seorang pemuda yang tampan dan karismatik, tetapi tidak bertanggung jawab.

Salsa dan Arman bertemu di kampus, dan hubungan mereka berkembang dengan cepat. Arman selalu membuat Salsa merasa istimewa, tetapi di balik pesonanya, ada sisi yang egois dan tidak siap untuk komitmen. Salsa tahu bahwa Arman bukan tipe yang ingin berkomitmen, tetapi cinta membuatnya buta.

Suatu malam, setelah mereka menghabiskan waktu bersama, Salsa merasa ada yang berbeda. Dia merasa mual dan kelelahan. Setelah beberapa hari, dia memutuskan untuk melakukan tes kehamilan. Saat hasil tes menunjukkan dua garis merah, hatinya bergetar. “Tidak mungkin ini terjadi…” bisiknya, air mata mulai mengalir.

Salsa segera menelepon sahabatnya, Lila. “Lila, aku butuh kamu. Ada yang sangat penting yang harus kita bicarakan,” katanya, suaranya gemetar.

Setelah beberapa menit, Lila datang dengan wajah khawatir. “Ada apa, Salsa? Kamu terlihat pucat,” ucap Lila, mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.

“Aku hamil, Lila,” Salsa mengungkapkan dengan suara penuh kesedihan. “Dan yang lebih parah, Arman menghilang.”

Lila terkejut, tidak percaya. “Apa? Arman? Dia tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja! Apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

“Aku tidak tahu. Aku merasa sendirian dan bingung. Aku tidak siap menjadi ibu,” ucap Salsa, mengusap air mata yang mengalir.

Hari-hari berlalu, dan Salsa berjuang menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan ini. Dia berusaha menghubungi Arman, tetapi setiap kali dia menelepon, Arman tidak pernah mengangkatnya. Ketika Salsa akhirnya menemui Arman di kampus, dia merasa hatinya hancur saat melihat Arman tampak acuh tak acuh.

“Salsa, aku sedang sibuk,” kata Arman dengan nada dingin, berusaha menghindari pembicaraan.

“Aku butuh kamu, Arman! Kita harus bicara tentang ini!” Salsa memohon, air matanya mulai mengalir.

Arman mendesah, terlihat frustrasi. “Kau tahu aku tidak siap untuk semua ini. Aku masih muda, Salsa. Kita baru saja menikmati hidup,” jawabnya, mencoba menjauh.

Baca juga Saat Sosialita Disesatkan oleh Sahabatnya Sendiri

“Kita tidak bisa hanya mengabaikan ini! Aku hamil, dan kamu harus bertanggung jawab!” teriak Salsa, suaranya penuh emosi.

“Dan apa yang bisa aku lakukan? Kita bukan pasangan yang serius! Ini hanya kesalahan!” Arman membentak, suara suaranya meninggi.

Salsa merasa hatinya hancur. “Kesalahan? Ini adalah hidupku! Ini juga hidup anak kita!” ucapnya dengan penuh ketidakberdayaan.

Tanpa memberikan jawaban, Arman berbalik dan pergi. Salsa terpuruk di bangku taman, menangis sejadi-jadinya. Dia merasa kehilangan segalanya—cintanya, masa depannya, dan sekarang, harapan untuk menjadi seorang ibu yang bahagia.

Di rumah, Salsa menceritakan semuanya kepada ibunya, Mira. “Ibu, aku hamil, dan Arman meninggalkanku. Dia tidak mau bertanggung jawab,” ucapnya, suaranya dipenuhi ketidakberdayaan.

Mira terkejut, tetapi segera mendekati putrinya dan memeluknya erat. “Salsa, sayang, ini adalah situasi yang sulit. Tapi kamu tidak sendirian. Aku akan selalu ada untukmu,” ucap Mira, menghapus air mata Salsa.

“Tapi Ibu, aku merasa semua ini salah. Aku tidak siap untuk menjadi ibu,” Salsa mengeluh, suaranya penuh penyesalan.

“Kita tidak pernah siap untuk hal-hal seperti ini, nak. Tapi kita bisa menghadapi semuanya bersama. Kamu harus berpikir positif. Anak ini adalah bagian dari dirimu,” kata Mira, berusaha menenangkan putrinya.

Seiring waktu berlalu, Salsa berusaha menerima kenyataan bahwa dia akan menjadi seorang ibu. Dia mulai merencanakan hidupnya, meskipun rasa sakit dan kehilangan masih membekas di hatinya. Dia berusaha untuk tetap fokus pada kesehatan dan kebahagiaan dirinya dan calon bayinya.

Namun, bayang-bayang Arman terus menghantuinya. Suatu malam, Salsa menerima pesan dari Arman. “Kita perlu bicara,” tulisnya. Hati Salsa berdegup kencang. Dia tidak tahu apakah harus merasa marah atau lega.

Mereka bertemu di sebuah kafe. Arman terlihat berbeda, dengan raut wajah yang serius. “Salsa, aku ingin minta maaf. Aku tidak seharusnya pergi begitu saja. Aku bingung,” katanya, suaranya lebih lembut.

Baca juga Harga Sebuah Kesombongan

“Benarkah? Kamu hanya meninggalkanku saat aku paling membutuhkanku,” balas Salsa, mencoba menahan emosinya.

“Aku tahu, dan aku sangat menyesal. Aku tidak siap untuk menjadi ayah, tapi aku ingin bertanggung jawab,” ucap Arman, matanya penuh penyesalan.

“Bertanggung jawab? Apa itu semua yang bisa kamu katakan? Kamu membuatku merasa hancur!” Salsa menjawab dengan nada marah.

“Aku akan berusaha. Aku akan ada untukmu dan anak kita,” Arman berjanji, tetapi Salsa merasa skeptis.

“Bagaimana aku bisa percaya padamu? Kamu sudah melukainya sekali. Apa yang menjamin bahwa kamu tidak akan melakukannya lagi?” tanyanya, penuh keraguan.

“Aku akan berjuang untukmu dan anak kita. Tolong beri aku kesempatan,” Arman memohon, suaranya penuh harap.

Salsa terdiam, merenungkan semua yang terjadi. “Aku tidak bisa menjamin apa pun. Aku hanya ingin yang terbaik untuk anak ini. Jika kamu benar-benar ingin bertanggung jawab, buktikanlah,” ujarnya, penuh ketegasan.

Setelah pertemuan itu, Salsa merasa bingung. Dia ingin percaya pada Arman, tetapi rasa sakit yang ditinggalkan sangat dalam. Dia mulai menjalani hidupnya dengan lebih fokus pada calon bayinya. Dia menghadiri kelas-kelas untuk ibu hamil, berkumpul dengan teman-teman yang mendukung, dan berusaha menyiapkan segalanya.

Suatu hari, saat Salsa sedang berbelanja untuk perlengkapan bayi, dia melihat Arman di toko yang sama. Mereka saling tatap, dan Rasa canggung langsung menyelimuti mereka. “Salsa, aku ingin membantumu. Aku bisa membayar perlengkapan ini,” ucap Arman, terlihat tulus.

“Tidak perlu, Arman. Aku bisa melakukannya sendiri,” jawab Salsa, menahan emosi.

“Tapi ini anak kita! Aku ingin berkontribusi,” Arman berusaha meyakinkan.

Salsa menatap Arman dalam-dalam. “Jika kamu benar-benar ingin terlibat, buktikanlah bukan hanya dengan uang. Aku butuh kamu di sini, bukan hanya sebagai ayah secara finansial,” ujarnya, mengungkapkan kebutuhannya yang lebih mendalam.

Arman terdiam, menyadari betapa dalamnya perasaannya terhadap Salsa dan anak yang akan lahir. “Aku akan berusaha, Salsa. Aku berjanji akan lebih hadir dalam hidupmu dan anak kita,” katanya, penuh keyakinan.

Hari-hari berlalu, dan meskipun masih ada keraguan, Salsa mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit. Arman mulai hadir dalam setiap kunjungan dokter dan kelas persiapan melahirkan. Momen-momen itu memberikan harapan baru bagi Salsa.

Ketika saatnya tiba, Salsa melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Rasa cinta dan haru meliputi ruangan saat Arman melihat bayi mereka untuk pertama kalinya. “Dia sempurna, Salsa. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menjadi bagian dari hidupmu,” ucap Arman, terharu.

Salsa tersenyum, tetapi di dalam hatinya, dia masih meragukan komitmen Arman. “Kita masih punya banyak hal yang harus dibuktikan, Arman. Ini baru awal,” jawabnya, berusaha menjaga harapan sekaligus ketegasan.

Namun, seiring berjalannya waktu, Arman menunjukkan usaha yang konsisten untuk menjadi ayah yang baik. Salsa mulai merasakan adanya perubahan dalam diri Arman. Dia mulai percaya bahwa meskipun awalnya semuanya terasa salah, mereka bisa membangun kehidupan baru bersama.

Malam setelah Arman pergi, Salsa merenung di samping bayi mereka yang tertidur. Dia merasa lelah, tetapi sekaligus bersemangat. Dia tahu bahwa meskipun perjalanan ini penuh liku, dia tidak sendirian lagi. Arman ada di sisinya, berjuang untuk membuktikan cinta mereka.

“Anakku,” bisik Salsa lembut, “aku akan melakukan yang terbaik untuk kita. Kita akan melalui ini bersama, tidak peduli seberapa sulitnya.”

Dengan harapan baru, Salsa memeluk bayinya, merasakan cinta yang tulus dan kekuatan untuk menghadapi masa depan. Mereka akan berjuang bersama, membangun kehidupan yang penuh makna meskipun dimulai dari sebuah ketidakpastian. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.

0 Reviews

Contact Form

Name

Email *

Message *