Read more
Hai Sobat Kumpulan Cerpen Siti Arofah Kali ini aku mau menceritakan sebuah kisah sepasang kekasih yang tidak mau terjerumus ke lembah dosa, mereka menikah siri.
Di sebuah kota kecil yang dikelilingi pegunungan, sepasang kekasih, Maya dan Rafi, menjalani hubungan yang penuh cinta dan pengertian. Keduanya adalah mahasiswa yang saling mengenal sejak mereka duduk di bangku kuliah. Maya, seorang mahasiswi Sastra, memiliki impian besar untuk menjadi penulis. Sementara Rafi, yang mengambil jurusan Teknik, adalah sosok yang penyayang dan sangat menghormati Maya.
Setelah menjalin hubungan selama hampir dua tahun, mereka mulai merasakan tekanan dari lingkungan sekitar untuk mengambil langkah lebih serius. Namun, mereka memiliki prinsip yang kuat. Mereka ingin menjaga hubungan mereka dari segala bentuk dosa dan maksiat. Mereka berdua sepakat untuk tidak terjebak dalam hubungan yang hanya berfokus pada nafsu semata.
Suatu sore, saat sedang duduk di taman kampus, Rafi menatap Maya dengan serius. “Maya, kita sudah bersama cukup lama. Aku ingin berbicara tentang masa depan kita,” katanya, nada suaranya penuh perhatian.
Maya mengangguk, merasakan ketegangan di udara. “Aku juga berpikir tentang itu, Rafi. Kita tidak bisa terus seperti ini selamanya,” ucapnya, merasa campur aduk.
“Aku mencintaimu, Maya. Dan aku ingin kita melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Tapi aku tidak ingin melakukan hal-hal yang bisa merusak prinsip kita,” Rafi menjelaskan, mencengkeram tangan Maya.
Maya mengangguk, merasakan kebangkitan semangat. “Aku setuju. Kita harus menemukan cara untuk menghalalkan hubungan kita. Mungkin kita bisa menikah siri? Dengan cara itu, kita tetap terjaga dan tidak terjerumus ke lembah dosa,” usulnya, mata Maya berbinar.
Baca juga Kisah Sukses Seorang Investor Muda
Rafi terkejut tetapi juga terharu. “Kau serius, Maya? Menikah siri? Aku takut jika itu bisa membuat kita terpisah dari keluarga kita,” jawabnya, ragu-ragu.
“Tapi jika kita tidak melakukannya, kita bisa kehilangan arah. Aku tidak ingin kita terjebak dalam godaan yang bisa menghancurkan kita,” ucap Maya, menatap Rafi dengan penuh keyakinan.
Setelah beberapa diskusi panjang, Rafi akhirnya setuju untuk menikah siri. Mereka mengajak seorang ustaz untuk membantu meresmikan pernikahan mereka. Di sebuah masjid kecil yang tenang, mereka mengucapkan janji setia di depan saksi. Momen itu menjadi sangat sakral, penuh dengan harapan dan cinta.
“Maya, aku berjanji untuk mencintaimu dan menjaga kita berdua. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membuatmu bahagia,” ucap Rafi, suaranya bergetar.
“Aku juga berjanji, Rafi. Kita akan saling mendukung dan menjaga prinsip kita. Cinta kita akan menjadi kekuatan,” jawab Maya, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.
Setelah menikah, mereka berdua merasakan kedamaian dalam hati. Meskipun mereka harus menyimpan pernikahan mereka dari orang-orang terdekat, mereka merasa lebih dekat satu sama lain. Setiap malam, mereka saling berbagi impian dan harapan.
Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Suatu hari, saat sedang belajar di kafe, seorang teman lama Rafi, Dika, tiba-tiba menghampiri mereka. “Rafi! Lama tak jumpa! Apa kabar?” sapa Dika, terlihat ceria.
“Dika! Ini Maya, istriku,” ucap Rafi dengan bangga, meskipun ia merasa sedikit cemas.
Dika terkejut. “Istrimu? Kapan kalian menikah?” tanyanya, matanya lebar.
“Kami baru saja menikah siri,” jawab Rafi, merasa sedikit gugup.
“Menikah siri? Serius? Kenapa tidak mengundang teman-teman? Kita harus merayakannya!” Dika menanggapi, terlihat antusias tetapi juga bingung.
Baca juga Pertempuran Bisnis, Drama Intrik di Showroom Mobil
Maya merasakan ketegangan di udara. “Kami ingin menjaga pernikahan ini tetap pribadi. Kami sedang berusaha menjaga prinsip kami,” jawabnya, mencoba menjelaskan.
Dika mengerutkan kening. “Tapi kalian masih muda! Kenapa harus terburu-buru? Bukankah lebih baik menikah secara resmi?” tanyanya, mencoba memahami.
Rafi menatap Maya, kemudian menjawab, “Kami percaya bahwa ini adalah langkah yang benar untuk kami. Kami tidak ingin terjerumus dalam godaan sebelum pernikahan yang sah. Kami ingin menghindari dosa.”
Dika terdiam, melihat keseriusan di mata Rafi dan Maya. “Aku mengerti. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Jika ini yang kalian pilih, aku mendukungnya,” ujarnya akhirnya, meski ragu.
Setelah Dika pergi, Maya dan Rafi saling bertukar pandang. “Apakah kita sudah benar, Rafi? Aku tidak ingin orang-orang meragukan keputusan kita,” ucap Maya, suaranya mulai bergetar.
“Tidak ada yang lebih penting bagi kita selain menjaga prinsip ini, Maya. Aku berjanji akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi,” jawab Rafi, menggenggam tangan Maya erat.
Malam harinya, saat mereka duduk bersama, Maya tiba-tiba berkata, “Rafi, bagaimana jika orang tua kita mengetahui tentang pernikahan ini? Apakah kita siap untuk konsekuensinya?”
Rafi menatap Maya dalam-dalam. “Kita harus siap. Kita bisa menjelaskan segalanya dengan baik. Mereka harus mengerti bahwa kita melakukan ini untuk menjaga diri kita,” ucapnya tegas.
Namun, kekhawatiran itu terus menghantui pikiran Maya. Suatu malam, dia mengajak Rafi untuk berbicara di luar. “Rafi, bagaimana jika kita mengalami masalah dalam pernikahan ini? Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya, terlihat cemas.
“Jika kita menghadapi masalah, kita harus berkomunikasi. Kita tidak bisa menyimpan semuanya sendiri. Kita harus saling terbuka,” jawab Rafi, berusaha meyakinkan Maya.
Maya mengangguk, tetapi rasa cemasnya belum juga sirna. “Aku hanya ingin kita bertahan, Rafi. Aku mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu,” ucapnya, suara hampir menangis.
“Aku juga, Maya. Kita akan berjuang bersama. Cinta kita lebih kuat dari segalanya,” Rafi menjawab, menyentuh pipi Maya dengan lembut.
Akhirnya, setelah beberapa bulan menjalani kehidupan pernikahan siri, mereka memutuskan untuk memberi tahu orang tua mereka. Dengan perasaan campur aduk, mereka mengundang kedua orang tua ke rumah Maya untuk menjelaskan semuanya.
Di ruang tamu, suasana tegang terasa saat orang tua Maya dan Rafi duduk berhadapan. “Ma, Pa, kami ingin berbicara tentang sesuatu yang penting,” ucap Maya, suara bergetar.
Orang tua Maya saling berpandangan. “Ada apa, Nak?” tanya ibunya, khawatir.
“Rafi dan aku… kami sudah menikah siri,” ungkap Maya, menahan napas.
Mendengar itu, orang tua mereka terkejut. “Menikah siri? Kenapa tidak memberitahu kami sebelumnya?” tanya ayah Maya, suaranya terdengar tegas.
“Kami tidak ingin membuat kalian khawatir. Kami ingin menjaga hubungan kami agar tidak terjerumus ke dalam dosa,” jawab Rafi, berusaha menjelaskan.
“Apa kalian tidak berpikir bahwa kalian masih muda? Haruskah kalian menunggu hingga lulus kuliah?” tanya ibu Rafi, terlihat khawatir.
“Ini adalah keputusan yang kami ambil bersama, Bu. Kami ingin menjalani hidup dengan prinsip yang kami pegang,” jawab Maya, berusaha meyakinkan.
Setelah diskusi panjang yang penuh emosi, akhirnya orang tua mereka dapat memahami. Meskipun mereka masih merasa khawatir, mereka menghargai keputusan anak-anak mereka. “Kami berharap kalian bisa bertanggung jawab dan saling mendukung dalam pernikahan ini,” kata ayah Rafi, suaranya lebih lembut.
Dengan dukungan orang tua, Maya dan Rafi merasa lebih kuat. Mereka tahu bahwa jalan ke depan tidak akan mudah, tetapi cinta dan komitmen mereka untuk menjaga prinsip tetap menjadi fondasi hubungan mereka.
Seiring waktu, mereka belajar untuk membangun kehidupan bersama dengan baik. Mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tugas kuliah hingga masalah keuangan, tetapi mereka selalu menemukan cara untuk saling mendukung.
Suatu malam, saat mereka duduk bersama, Rafi berkata, “Maya, terima kasih telah bersamaku melalui semua ini. Aku tidak akan bisa melewati semua tantangan ini tanpa kamu.”
Maya tersenyum. “Aku juga, Rafi. Cinta kita membuatku kuat. Kita akan terus berjuang bersama, apa pun yang terjadi.”
Dengan tekad yang kuat dan cinta yang mendalam, mereka melanjutkan perjalanan mereka, membuktikan bahwa meskipun mereka memilih jalan yang berbeda, cinta dan komitmen mereka tetap menjadi yang utama. Mereka siap menghadapi masa depan bersama, selamanya. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.



0 Reviews
Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....