Terima Kasih Telah Bersamaku

Terima Kasih Telah Bersamaku

Size
Price:

Read more

Terima Kasih Telah Bersamaku
Hai Sobat Kumpulan Cerpen Siti Arofah Kali ini aku mau menceritakan sebuah kisah sepasang kekasih yang sedang menjalani kuliah di tingkat akhir, karena tidak kuat menahan nafsu, akhirnya hamil.

Di sebuah universitas yang terletak di tengah kota, sepasang kekasih, Nia dan Arief, sedang menjalani masa kuliah di tingkat akhir. Mereka telah bersama selama hampir tiga tahun, saling mendukung dalam setiap langkah, terutama di tahun-tahun terakhir yang penuh dengan tekanan tugas akhir dan persiapan ujian.

Nia, seorang mahasiswi jurusan Psikologi, selalu dikenal sebagai sosok yang ceria dan bersemangat. Sementara Arief, yang mengambil jurusan Teknik Informatika, adalah tipe yang lebih serius dan analitis. Meski berbeda karakter, mereka saling melengkapi dan menjadi satu tim yang kuat.

Suatu malam, setelah seharian belajar untuk ujian akhir, Nia dan Arief memutuskan untuk beristirahat sejenak di apartemen kecil milik Arief. Mereka terjebak dalam suasana yang intim, cahaya lampu temaram menciptakan atmosfer yang hangat.

“Nia, aku merasa sangat beruntung punya kamu di sampingku. Kamu selalu tahu cara membuatku merasa tenang di tengah semua tekanan ini,” ucap Arief sambil menyentuh tangan Nia.

“Begitu juga aku, Arief. Kamu adalah alasanku untuk tetap bersemangat. Tanpa kamu, mungkin aku sudah stres total menghadapi tugas-tugas ini,” jawab Nia sambil tersenyum.

Mereka berdua tertawa, tetapi seiring berjalannya waktu, suasana mulai berubah menjadi lebih serius. Nia merasakan ketegangan di antara mereka. Dengan rasa ingin tahunya, Nia mendekatkan wajahnya ke Arief. “Arief, kadang aku merasa kita terlalu fokus pada kuliah dan lupa untuk menikmati waktu kita bersama,” ungkapnya.

Arief menatap Nia dengan intens. “Aku tahu. Tapi kita juga harus bertanggung jawab. Setelah lulus, kita bisa merencanakan lebih banyak hal,” jawabnya.

Namun, ketegangan itu semakin meningkat. Seiring waktu, perasaan saling cinta yang mendalam membuat mereka sulit menahan nafsu. Tanpa mereka sadari, momen-momen kecil, seperti berpelukan atau berbagi canda, membuat mereka semakin dekat. Suatu malam, saat belajar di apartemen Arief, perasaan itu memuncak.

“Nia, kamu tahu kan kita sudah saling mencintai? Rasanya sangat sulit untuk menahan semua ini,” kata Arief, suaranya bergetar karena emosi.

“Arief, aku… aku juga merasa begitu. Tapi kita harus berhati-hati,” Nia menjawab dengan ragu.

“Kita sudah dewasa, Nia. Kenapa kita tidak bisa menikmati cinta kita sepenuhnya?” tanya Arief, tatapannya dalam dan penuh hasrat.

Dalam kebingungan, Nia merasa terjebak antara cinta dan tanggung jawab. Namun, akhirnya, mereka terjerat dalam momen tak terhindarkan itu. Malam itu, mereka melampaui batas yang telah mereka buat, mengabaikan semua pikiran tentang tanggung jawab dan masa depan.

Setelah malam yang penuh emosi itu, Nia merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Beberapa minggu berlalu, dan dia mulai merasakan gejala yang mencurigakan. Dengan perasaan cemas, Nia memutuskan untuk melakukan tes kehamilan.

Baca juga Pertemuan Tak Terduga di Balik Layar Event

Saat hasilnya menunjukkan dua garis merah, dunia Nia terasa gelap. Dia merasa hancur dan bingung. Dia tahu dia harus berbicara dengan Arief, tetapi bagaimana caranya?

Ketika mereka bertemu di kafe kampus, Nia berusaha untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya. Namun, Arief bisa merasakan ada yang tidak beres. “Nia, kamu terlihat tidak nyaman. Ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Arief.

Nia menatap meja, air mata mulai menggenang di matanya. “Arief… aku… aku hamil,” ucapnya dengan suara hampir tak terdengar.

Arief terkejut, wajahnya memucat. “Apa? Bagaimana bisa? Kita… kita tidak seharusnya melakukan itu!” serunya, nada suaranya penuh kecemasan.

“Aku tahu, Arief. Tapi itu sudah terjadi. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang,” jawab Nia, suaranya bergetar.

Arief menggelengkan kepala, merasa panik. “Kita masih kuliah, Nia! Bagaimana dengan masa depan kita? Kita tidak siap untuk menjadi orang tua!”

Nia merasa hatinya hancur mendengar kata-kata Arief. “Aku juga tidak siap! Tapi ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Kita harus mencari jalan keluar, Arief.”

Suasana semakin tegang, dan keduanya terdiam sejenak. Arief memegang kepala, mencoba mencerna semua ini. “Apa kita harus memberitahu orang tua kita?” tanya Arief, suaranya rendah.

“Tidak… kita harus berpikir lebih matang sebelum mengambil keputusan. Kita harus mencari cara untuk menyelesaikannya sendiri,” jawab Nia, mencoba mengontrol emosinya.

Arief mengangguk, tetapi jelas terlihat bahwa ia masih bingung. “Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Nia. Aku takut kehilanganmu,” ucap Arief, matanya mulai berkaca-kaca.

“Arief, kamu tidak akan kehilangan aku. Kita bisa melalui ini bersama. Kita harus saling mendukung, tidak peduli apapun yang terjadi,” Nia berusaha menguatkan Arief.

Setelah beberapa hari penuh ketegangan dan kebingungan, Nia dan Arief memutuskan untuk berkonsultasi dengan seorang dokter untuk mencari tahu pilihan yang mereka miliki. Dalam perjalanan menuju klinik, suasana terasa berat. Nia menggenggam tangan Arief erat, berharap dia bisa memberikan sedikit kekuatan.

Setelah melakukan pemeriksaan, mereka duduk di ruang tunggu, menunggu hasilnya. “Nia, jika kita memutuskan untuk melanjutkan kehamilan ini, apa yang akan kita lakukan? Kita harus merencanakan semuanya, dari kuliah sampai pekerjaan,” Arief berkata, suara penuh keraguan.

“Ya, aku tahu. Kita bisa mencari cara untuk mengatur waktu. Mungkin kita bisa berbagi tanggung jawab,” jawab Nia, berusaha optimis.

Setelah mendengarkan semua informasi dari dokter, mereka akhirnya kembali ke apartemen Arief, di mana mereka bisa berbicara lebih tenang. “Nia, aku mencintaimu. Apa pun keputusan yang kita ambil, aku ingin kita melakukannya bersama,” kata Arief, tatapannya penuh harapan.

Nia merasa terharu mendengar kata-kata Arief. “Aku juga mencintaimu, Arief. Kita bisa mencari dukungan dari teman-teman kita, dan keluarga kita, jika perlu. Kita tidak harus menghadapi ini sendirian,” ucapnya, mencoba untuk lebih tenang.

Baca juga Dunia Glamor Bisnis Showroom

Namun, malam itu, Nia terbangun dari tidur, gelisah. Dia merasa cemas tentang masa depan dan apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Arief.

Nia : Aku tidak bisa berhenti memikirkan semuanya. Apa kita sudah siap untuk ini?
Beberapa menit kemudian, Arief membalas.

Arief : Kita tidak tahu pasti, tapi kita bisa mencoba. Mari kita bicarakan lebih lanjut besok.


Keesokan harinya, mereka bertemu di taman kampus, tempat yang menjadi favorit mereka untuk berdiskusi. “Aku berpikir tentang apa yang kita bicarakan. Kita memang belum siap, tetapi kita bisa belajar bersama. Kita harus saling mendukung satu sama lain,” kata Nia, berusaha meyakinkan Arief.

“Aku juga berpikir begitu. Tapi aku tidak ingin kamu merasa tertekan karena semua ini. Kita harus jujur pada diri kita dan satu sama lain,” jawab Arief.

Dengan berat hati, mereka akhirnya sepakat untuk menghadapi situasi ini bersama. Mereka tahu bahwa perjalanan ke depan akan penuh tantangan, tetapi cinta dan dukungan satu sama lain akan menjadi kekuatan utama mereka.

Setelah beberapa bulan penuh perjuangan dan penyesuaian, Nia mulai merasakan perubahan dalam hidupnya. Dia mulai belajar untuk mengatur waktu antara kuliah, persiapan ujian, dan merawat diri. Arief juga berusaha untuk lebih terlibat, membantu Nia dalam studi dan berusaha mencari pekerjaan paruh waktu agar bisa mendukung mereka.

Suatu hari, saat mereka duduk di apartemen, Nia mendongak menatap Arief. “Arief, terima kasih telah bersamaku selama ini. Aku tahu ini sulit, tetapi aku merasa kita bisa melakukannya,” ucapnya dengan penuh harapan.

“Dan aku akan selalu di sini untukmu, Nia. Kita sudah melewati banyak hal, dan aku yakin kita akan terus berjuang bersama,” jawab Arief, menggenggam tangan Nia dengan lembut.

Meskipun ada rasa takut tentang masa depan, mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Bersama-sama, mereka akan terus membangun cinta dan kebahagiaan, sambil menghadapi setiap tantangan yang ada di depan mereka.
Beberapa bulan berlalu, dan Nia serta Arief menjalani rutinitas baru mereka. Dengan Nia yang semakin dekat dengan masa persalinan, Arief berusaha keras untuk tetap fokus pada kuliah sambil mencari pekerjaan paruh waktu. Mereka belajar untuk beradaptasi, saling mendukung satu sama lain, meskipun ada tantangan yang harus dihadapi.

Suatu sore, saat Nia berbaring di sofa, Arief datang membawa segenggam kertas. “Nia, aku baru saja mendapatkan tawaran kerja di sebuah startup. Meskipun hanya paruh waktu, ini bisa membantu kita,” katanya dengan antusias.

Nia tersenyum lebar. “Wow, Arief! Itu berita bagus! Aku sangat bangga padamu. Kita bisa mulai menabung untuk kebutuhan bayi kita,” jawabnya.

Arief duduk di samping Nia, menggenggam tangannya. “Aku ingin memberikan yang terbaik untuk kamu dan bayi kita. Kita pasti bisa mengatasi ini bersama,” ujarnya.

Namun, di dalam hatinya, Arief masih merasakan ketakutan. Ia khawatir tentang bagaimana mereka akan mengatur semuanya setelah bayi lahir. Nia pun merasakan tekanan yang sama, tetapi mereka berusaha saling menguatkan.

Suatu malam, setelah seharian bekerja dan belajar, Nia terbangun dengan rasa sakit di perutnya. Dia panik dan segera membangunkan Arief. “Arief, aku tidak merasa baik. Rasanya perutku sangat sakit,” ucapnya dengan suara yang bergetar.

Arief terbangun, langsung panik. “Apa yang terjadi, Nia? Apakah kita perlu pergi ke rumah sakit?” tanya Arief dengan cemas.

“Ya, sepertinya kita harus pergi sekarang,” jawab Nia, berusaha menahan rasa sakit. Arief dengan cepat mengangkat Nia dan membawanya ke mobil. Dalam perjalanan, Nia berusaha bernapas dalam-dalam, berusaha mengendalikan rasa sakitnya.

Di rumah sakit, mereka menunggu dengan gelisah. Dokter memeriksa Nia dan memberi tahu mereka bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi Nia mengalami kontraksi awal. “Ini adalah tanda bahwa bayi mungkin ingin lahir lebih cepat dari yang diharapkan,” kata dokter.

Arief memegang tangan Nia dengan erat. “Kita akan melalui ini bersama, Nia. Aku di sini untukmu,” ujarnya, berusaha memberikan dukungan.

Setelah beberapa jam penuh ketegangan, Nia akhirnya dibawa ke ruang bersalin. Arief menunggu di luar, perasaannya campur aduk. Dia merasa bangga dan takut sekaligus. Di dalam ruang bersalin, Nia merasakan dorongan untuk bertindak. Dia ingin berjuang demi bayi mereka, meskipun rasa sakit itu tak tertahankan.

Setelah beberapa jam yang panjang, Nia akhirnya mendengar tangisan bayi yang lembut. Suara itu membawa perasaan lega dan kebahagiaan yang luar biasa. “Selamat, Nia. Kamu berhasil!” ucap dokter, sambil memberikan bayi kecil itu kepada Nia.

Nia menangis bahagia, merasakan cinta yang mendalam saat memegang bayi mereka di tangan. Ketika Arief masuk dan melihat Nia dengan bayi mereka, hatinya meleleh. “Nia, kita melakukannya! Kita punya bayi!” serunya, melangkah mendekat.

Nia mengangguk, air matanya mengalir. “Ini adalah cinta kita, Arief. Kita harus menjaganya dan membesarkannya dengan baik,” ucap Nia, sambil menatap bayi mereka dengan penuh kasih sayang.

Setelah beberapa hari di rumah sakit, mereka akhirnya pulang ke apartemen mereka, tetapi hidup baru dimulai. Dengan adanya bayi, semua rutinitas berubah. Nia dan Arief harus belajar untuk membagi tanggung jawab.

Di malam pertama mereka di rumah setelah kelahiran bayi, Nia bangun untuk menyusui. Dia merasa kelelahan, tetapi senyuman di wajah Arief yang tertidur membuatnya merasa lebih baik. Namun, saat dia duduk di sofa, dia mulai merasa cemas.

Arief terbangun dan melihat Nia. “Nia, apakah kamu baik-baik saja? Kamu terlihat lelah,” tanya Arief dengan khawatir.

“Ya, aku hanya merasa sedikit cemas. Semua ini terasa begitu cepat. Apakah kita siap untuk menjadi orang tua?” jawab Nia, suaranya penuh keraguan.

Arief duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. “Kita tidak akan pernah benar-benar siap, Nia. Tetapi kita bisa belajar bersama. Kita harus saling mendukung satu sama lain, seperti yang selalu kita lakukan,” ucapnya dengan tegas.

Nia mengangguk, merasa tenang mendengar kata-kata Arief. “Kamu benar. Kita harus menghadapi ini bersama. Aku tidak bisa melakukannya tanpa kamu,” ucap Nia, tersenyum.

Malam-malam berikutnya dipenuhi dengan tangisan bayi, ganti popok, dan menyusui. Mereka berdua saling membantu, meskipun sering kali kelelahan melanda. Namun, dalam setiap momen, mereka menemukan kebahagiaan yang sederhana dan momen-momen lucu yang membuat mereka tertawa.

Suatu malam, setelah bayi mereka tertidur, Nia dan Arief duduk di dapur, menikmati secangkir teh. “Aku tidak pernah membayangkan hidup kita akan seperti ini,” kata Nia, tersenyum sambil melihat Arief.

“Ya, aku juga. Tapi melihat kita berdua sebagai orang tua membuatku merasa lebih dekat denganmu. Kita telah melalui banyak hal, dan sekarang kita memiliki keluarga kita sendiri,” jawab Arief, menatap Nia dengan penuh cinta.

“Meskipun ini sulit, aku tidak ingin mengubah apapun. Kita bisa melewati semua ini,” Nia berkata sambil mengangkat cangkir teh-nya.

“Setuju. Mari kita hadapi semua tantangan bersama, satu hari pada satu waktu,” Arief menambahkan, mengangkat cangkirnya untuk bersulang.

Hari-hari berlalu, dan meskipun banyak tantangan yang harus mereka hadapi, cinta mereka semakin kuat. Mereka belajar untuk mengatur waktu, membagi tugas, dan tetap saling menghargai. Setiap langkah kecil terasa berharga dan semakin memperkuat hubungan mereka.

Suatu sore, saat mereka berjalan-jalan di taman dengan bayi mereka dalam kereta dorong, Arief menatap Nia. “Nia, aku ingin mengajakmu merayakan semua yang telah kita capai. Kita telah melalui banyak hal, dan kita harus merayakannya,” katanya.

Nia tersenyum, merasa hangat di dalam hati. “Itu ide yang bagus! Kita bisa mengadakan piknik kecil di taman ini,” balas Nia, bersemangat.

Mereka menyiapkan makanan dan mengajak teman-teman dekat untuk bergabung. Selama piknik, mereka berbagi cerita, tawa, dan kebahagiaan. Melihat teman-teman mereka tersenyum dan merayakan kebahagiaan baru dalam hidup mereka, Nia dan Arief merasa semakin bersyukur.

Di tengah keramaian, Arief berdiri dan mengangkat gelasnya. “Untuk kita semua! Untuk cinta, persahabatan, dan perjalanan baru kita!” serunya.

Semua orang mengangkat gelas mereka, bersorak-sorai. Nia merasa bahagia melihat semua orang yang peduli dan mendukung mereka.

Dengan rasa syukur yang mendalam, Nia menatap Arief dan berkata, “Terima kasih telah menjadi pendampingku dalam perjalanan ini. Kita telah melewati banyak hal bersama, dan aku yakin kita akan terus melangkah maju.”

Arief menjawab, “Selama kita bersama, tidak ada yang tidak mungkin. Kita akan terus belajar, tumbuh, dan mencintai satu sama lain. Bersama, kita bisa mengatasi segalanya.”

Dan di tengah tawa dan kebahagiaan, Nia dan Arief tahu bahwa apa pun tantangan yang akan datang, mereka akan selalu memiliki satu sama lain untuk menghadapi masa depan. Cinta mereka bukan hanya bertahan, tetapi juga tumbuh lebih kuat, menciptakan kisah indah yang baru dimulai. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.

0 Reviews

Contact Form

Name

Email *

Message *