Read more
Adit adalah seorang pemuda yang penuh semangat. Ia baru saja diterima di sebuah universitas ternama di luar kota, sebuah impian yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun. Di sampingnya, ada Rika, kekasihnya yang selalu mendukungnya dalam setiap langkah. Mereka telah menjalin hubungan selama hampir dua tahun, dan Adit merasa beruntung memiliki Rika di sisinya.
Awal Perpisahan
Ketika Adit bersiap untuk pindah ke kota baru, mereka berdua menghabiskan waktu bersama untuk merayakan pencapaian itu. Suatu malam, mereka duduk di taman, dikelilingi lampu-lampu yang berkelap-kelip.
Adit: “Rika, aku tidak akan pernah lupa semua kenangan kita. Kamu adalah alasan aku bisa sampai ke sini.”
Rika: (tersenyum) “Aku percaya kamu akan sukses. Jangan pernah lupakan aku, ya?”
Adit mengangguk, berusaha menahan air mata. Ia tahu perpisahan ini akan sulit, tetapi ia yakin hubungan mereka akan bertahan meskipun terpisah jarak.
Setelah pindah, Adit mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia menjelajahi kampus, bertemu teman-teman baru, dan menikmati setiap momen. Meskipun kesibukan baru mengalihkan perhatian, pikirannya tetap tertuju pada Rika. Ia sering menghubungi Rika melalui telepon dan video call.
Adit: “Rika, kamu harus lihat kampus ini. Sangat besar dan indah! Aku berharap kamu bisa datang berkunjung.”
Rika: “Aku pasti akan datang! Jangan lupakan aku di sana, ya?”
Adit merasa nyaman, tetapi di dalam hatinya, ia mulai merasakan kegelisahan. Rika sering kali terlihat sibuk dan terkadang tidak bisa menjawab teleponnya.
Suatu malam, saat Adit sedang belajar, ia menerima pesan dari teman dekatnya, Dika.
Dika: “Adit, kamu tahu Rika kan? Aku baru saja melihat dia di kafe bersama cowok lain.”
Adit merasa jantungnya berdegup kencang. Ia berusaha tidak percaya pada informasi itu.
Adit: “Apa? Mungkin itu hanya temannya. Rika tidak akan selingkuh.”
Dika: “Aku tahu dia temanmu, tapi aku hanya memberitahumu apa yang aku lihat.”
Baca juga Jejak Cinta dalam Kesunyian
Malam itu, Adit tidak bisa tidur. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa Dika mungkin salah melihat. Namun, rasa curiga terus menghantuinya.
Beberapa hari kemudian, Adit memutuskan untuk mengonfirmasi semuanya dengan Rika. Ia menghubunginya lewat telepon.
Adit: “Rika, ada yang ingin aku bicarakan. Dika bilang dia melihatmu di kafe dengan cowok lain.”
Rika: (terkejut) “Apa? Itu tidak mungkin! Mungkin dia salah orang.”
Adit: “Tapi Dika sangat yakin, Rika. Kenapa kamu tidak memberi tahu aku jika ada yang terjadi?”
Rika: “Adit, aku tidak selingkuh! Aku sangat mencintaimu. Kamu tahu itu!”
Adit merasakan ketegangan di dalam suaranya. Ia ingin percaya Rika, tetapi keraguan terus mengganggu pikirannya.
Adit: “Jadi, apa kamu bisa menjelaskan? Kenapa kamu tidak bisa menjawab teleponku belakangan ini?”
Rika: “Aku sibuk! Aku sedang bekerja dan kuliah. Tidak ada yang harus kamu khawatirkan!”
Setelah percakapan itu, Adit merasa semakin bingung. Ia memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut. Ia bertanya pada Dika tentang informasi lebih lanjut.
Adit: “Dika, kamu yakin itu Rika yang kamu lihat?”
Dika: “Ya, Adit. Aku melihatnya jelas. Dia tampak akrab dengan cowok itu.”
Adit merasa sakit hati. Ia memutuskan untuk mengunjungi kota asalnya untuk melihat keadaan Rika. Ia ingin mendengar penjelasan langsung darinya.
Ketika Adit tiba di kota asalnya, ia langsung menuju tempat yang sering mereka kunjungi. Saat ia tiba di kafe, ia melihat Rika tertawa bersama seorang pria. Hatinya hancur seketika.
Adit: (dalam hati) “Tidak… ini tidak mungkin.”
Dia mendekati mereka dengan langkah berat. Rika melihatnya dan terkejut.
Rika: “Adit! Kenapa kamu di sini?”
Adit: (suara bergetar) “Aku melihatmu di sini. Apa ini yang kau sebut tidak selingkuh?”
Rika tampak bingung dan panik. Pria di sampingnya berdiri, mencoba menjelaskan.
Pria: “Dia hanya temanku, Adit. Kami sedang merayakan sesuatu.”
Adit: “Merayakan apa? Apakah ini semua hanya kebetulan?”
Rika mencoba meraih tangan Adit, tetapi ia menariknya kembali.
Rika: “Adit, dengarkan aku. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!”
Adit merasakan hatinya hancur. Ia tidak bisa mempercayai apa yang ada di depan matanya. Ia merasa dikhianati.
Adit: “Selama ini, aku setia padamu. Dan inilah balasan yang aku dapat? Apa kamu tidak merasa malu?”
Rika: “Aku tidak bermaksud mengkhianatimu! Aku hanya butuh teman di sini!”
Adit: “Tapi aku sudah jauh dari rumah, berjuang untuk masa depan kita. Dan sekarang, aku melihatmu dengan orang lain!”
Rika terlihat semakin putus asa. Ia berusaha menjelaskan, tetapi Adit tidak ingin mendengarnya lagi.
Adit: “Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Jika ini cara kamu menghargai cinta kita, maka lebih baik kita akhiri saja.”
Baca juga Perjuangan Untuk Dapat Menerima Kamu Kembali
Dengan air mata yang mengalir, Adit berbalik dan pergi. Ia merasa seolah seluruh dunianya runtuh.
Mencari Kekuatan
Setelah malam itu, Adit kembali ke kampus dengan hati yang hancur. Ia merasa kesepian dan kehilangan arah. Teman-temannya di kampus berusaha menghiburnya, tetapi tidak ada yang bisa menghapus rasa sakit itu.
Satu minggu kemudian, Adit bertemu Dika di kampus.
Dika: “Adit, aku sangat menyesal. Aku tidak bermaksud membuatmu sakit hati.”
Adit: “Aku tahu, Dika. Terima kasih sudah memberitahuku meskipun itu menyakitkan.”
Dika: “Kamu lebih baik tanpa dia. Kamu layak mendapatkan yang lebih baik.”
Adit mengangguk, tetapi hatinya masih berat. Ia mulai menyadari pentingnya mencintai diri sendiri dan tidak membiarkan orang lain merusak kebahagiaannya.
Hari demi hari, Adit berusaha untuk bangkit. Ia fokus pada studinya dan berusaha melupakan kenangan Rika. Meskipun sulit, ia bertemu dengan teman-teman baru yang mendukungnya. Mereka mengajak Adit bergabung dalam berbagai kegiatan di kampus.
Suatu malam, saat ia menghadiri acara kampus, Adit bertemu dengan seorang gadis bernama Nia. Nia adalah sosok yang ceria dan penuh semangat. Mereka mulai berbicara dan tertawa bersama.
Nia: “Kamu terlihat seperti seseorang yang baru saja keluar dari hubungan yang rumit. Ayo kita nikmati hidup!”
Adit merasa sedikit terbuka untuk mengenal Nia. Mereka mulai berteman, dan seiring waktu, Adit mulai merasakan kembali kebahagiaan yang hilang.
Setelah beberapa minggu berjuang dengan perasaannya, Adit mulai menemukan kembali semangat hidupnya. Ia semakin akrab dengan Nia, yang selalu bisa membuatnya tersenyum. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, baik di kampus maupun di luar. Nia memiliki cara unik untuk membangkitkan semangat Adit.
Suatu hari, Adit dan Nia duduk di taman kampus, menikmati sore yang cerah. Nia bercerita tentang rencana acara amal yang akan diadakan di kampus.
Nia: “Adit, kamu harus ikut! Kita bisa membuat tim bersama dan melakukan sesuatu yang bermanfaat.”
Adit mengangguk, merasa antusias. Ia belum pernah terlibat dalam kegiatan sosial sebelumnya, tetapi ide itu menarik perhatiannya.
Adit: “Aku tertarik! Apa yang bisa kita lakukan?”
Nia: “Kita bisa mengorganisir penggalangan dana dan mengajak semua orang untuk berpartisipasi. Ini bisa jadi kesempatan bagus untuk kamu juga.”
Adit merasa semangatnya mulai bangkit. Ia ingin berkontribusi dan merasa bahwa kehidupannya memiliki arti lagi. Mereka mulai merencanakan acara tersebut, dan Adit merasa terinspirasi oleh energi Nia.
Meskipun Adit merasa lebih baik, bayang-bayang Rika masih terkadang menghantui pikirannya. Suatu malam, saat mereka sedang bekerja sama di perpustakaan, Adit tidak bisa menahan diri untuk berbicara tentang perasaannya.
Adit: “Nia, kadang aku masih merasa sakit saat mengingat Rika. Aku tidak ingin terjebak di masa lalu, tapi kenangan itu terus kembali.”
Nia menatap Adit dengan penuh pengertian.
Nia: “Itu wajar, Adit. Proses penyembuhan memerlukan waktu. Yang penting, kamu tidak membiarkan masa lalu mengendalikan hidupmu.”
Adit mengangguk. Ia tahu Nia benar, tetapi terkadang rasanya sulit untuk melepaskan. Ia ingin berfokus pada masa depan, tetapi kenangan Rika masih menyakitkan.
Momen Berharga
Seiring berjalannya waktu, Adit dan Nia semakin dekat. Mereka mulai berbagi cerita pribadi dan impian masa depan. Suatu malam, saat mereka berjalan pulang dari acara amal yang sukses, Adit merasa ada ikatan yang kuat antara mereka.
Adit: “Nia, terima kasih sudah ada di sampingku. Hidupku terasa lebih berarti sejak aku bertemu denganmu.”
Nia: (tersenyum) “Aku senang bisa membantumu. Kamu juga membuat hidupku lebih ceria.”
Adit merasakan jantungnya berdebar. Ia mulai menyadari bahwa mungkin, perasaannya terhadap Nia lebih dari sekadar teman. Namun, ia takut untuk mengungkapkannya.
Suatu sore, saat Adit sedang di kafe bersama Nia, ia melihat sosok Rika masuk. Hatinya bergetar, dan ia tidak bisa menahan diri untuk menatapnya. Rika tampak berbeda—lebih matang dan dewasa, tetapi di balik senyumannya, Adit merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman.
Nia: “Adit, kamu baik-baik saja? Kamu tampak cemas.”
Adit: “Itu… itu Rika. Aku tidak menyangka akan melihatnya di sini.”
Nia menatap Rika, lalu kembali ke Adit.
Nia: “Apakah kamu ingin berbicara dengannya?”
Adit menggigit bibirnya. Ia merasa ragu, tetapi ada rasa ingin tahu yang kuat.
Adit: “Mungkin aku perlu menutup bab ini sekali dan untuk selamanya.”
Adit berdiri dan berjalan menuju Rika. Ketika Rika melihatnya, wajahnya terlihat terkejut dan sedikit cemas.
Rika: “Adit… apa kabar?”
Adit: (dalam hati) “Kabar? Bagaimana dengan semua yang terjadi?”
Adit: “Aku baik-baik saja. Baru-baru ini sangat sibuk dengan kuliah.”
Rika mengangguk, lalu menatap Adit dengan penuh harap.
Rika: “Aku… aku ingin meminta maaf. Aku tahu aku telah mengecewakanmu.”
Adit merasa kemarahan dan sakit hati muncul kembali.
Adit: “Minta maaf? Apakah itu cukup untuk menghapus semua yang terjadi?”
Rika: “Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku merasa terjebak dan tidak tahu harus berbuat apa. Ketika kamu pergi, aku merasa sendirian.”
Adit: “Tapi itu tidak membenarkan apa yang kamu lakukan, Rika. Kamu seharusnya bisa berbicara padaku.”
Rika menundukkan kepala, sementara Adit merasa emosinya campur aduk.
Setelah beberapa saat terdiam, Adit melanjutkan.
Adit: “Aku sudah berusaha melupakan semuanya, tetapi melihatmu di sini… itu sulit.”
Rika menangis, dan Adit merasakan empati mengalir dalam dirinya.
Rika: “Aku tahu aku tidak berhak meminta, tetapi aku berharap kita bisa memperbaiki semuanya. Aku benar-benar menyesal.”
Adit berpikir sejenak. Ia tahu bahwa untuk bisa melanjutkan hidupnya, ia harus bisa memaafkan, tetapi itu bukan hal yang mudah.
Adit: “Aku tidak tahu apakah kita bisa kembali seperti dulu. Tapi aku akan mencoba untuk memaafkanmu, demi diriku sendiri.”
Setelah percakapan itu, Adit merasa lebih ringan. Ia berjalan kembali ke Nia, yang menunggu dengan cemas.
Nia: “Bagaimana? Apa semuanya baik-baik saja?”
Adit: “Aku tidak tahu. Tapi aku merasa lebih baik setelah berbicara dengannya. Mungkin ini saatnya untuk melepaskan.”
Nia tersenyum, tetapi Adit bisa merasakan bahwa Nia juga merasakan sedikit kekhawatiran.
Nia: “Aku senang mendengarnya. Kamu layak mendapatkan kebahagiaan.”
Sejak saat itu, Adit mulai lebih terbuka terhadap perasaannya. Ia merasakan ketertarikan yang mendalam terhadap Nia. Suatu malam, saat mereka berdua sedang duduk di taman, Adit merasa hatinya bergetar.
Adit: “Nia, aku ingin jujur padamu. Selama kita bersama, aku merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan.”
Nia menatap Adit dengan matanya yang cerah.
Nia: “Aku juga merasakan hal yang sama. Aku senang kita bisa berbagi banyak momen. Kamu sangat berarti bagiku.”
Adit merasa harapan baru muncul dalam hatinya. Ia mengambil napas dalam-dalam.
Adit: “Jadi, apakah kamu mau… mencoba menjalin hubungan lebih serius?”
Nia tersenyum lebar, dan Adit merasakan kegembiraan yang luar biasa.
Nia: “Tentu! Aku ingin sekali.”
Adit merasa bahwa kehidupannya mulai berubah ke arah yang lebih baik. Meskipun luka dari masa lalu masih ada, ia telah belajar untuk memaafkan dan membuka hati lagi. Ia tahu bahwa cinta sejati bisa datang dalam waktu yang tidak terduga, dan kadang-kadang, cinta itu datang dari tempat yang tidak pernah kita duga. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.



0 Reviews
Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....