Jejak Cinta dalam Kesunyian

Jejak Cinta dalam Kesunyian

Size
Price:

Read more

Jejak Cinta dalam Kesunyian
Hai Sobat Kumpulan Cerpen Siti Arofah Kali ini aku mau menceritakan sebuah kisah tentang Desty yang hidup tanpa kasih sayang ayahnya, karena ibu bapaknya bercerai, ayahnya menikah lagi. Sedang Ibunya memilih hidup tanpa menikah lagi.

Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang gadis bernama Desty. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh; orang tuanya bercerai ketika ia masih sangat muda. Sejak saat itu, hidupnya dipenuhi dengan kesedihan dan rasa kehilangan. Ayahnya, yang dulu selalu memberinya pelukan hangat dan cerita sebelum tidur, kini hanya tinggal kenangan. Desty merasa seperti separuh jiwanya hilang setelah perceraian itu.

Ibunya, Ibu Maya, memilih untuk hidup sendiri. Setelah perpisahan itu, ia mengabdikan diri untuk bekerja keras demi membesarkan Desty. Namun, kesibukan dan kesedihan yang dialaminya seringkali membuatnya tampak jauh dan tidak bisa sepenuhnya hadir untuk anaknya. Desty memahami keadaannya, tetapi seringkali ia merasa kesepian dan merindukan kasih sayang dari ayahnya.

Suatu sore, setelah pulang sekolah, Desty melihat ibunya duduk di ruang tamu, terlihat lelah setelah seharian bekerja. Ia menghampiri Ibu Maya dan duduk di sampingnya. “Ibu, kenapa kita tidak pernah bertemu Ayah lagi?” tanya Desty, suaranya pelan dan penuh rasa ingin tahu.

Ibu Maya menarik napas dalam-dalam. “Sayang, kadang orang dewasa membuat keputusan yang sulit. Ayahmu… dia sudah menemukan jalan hidupnya sendiri. Kita harus menghormatinya.”

Desty menundukkan kepala, merasakan sakit di dadanya. “Tapi aku merindukannya, Bu. Aku ingin tahu kenapa dia pergi. Apa aku salah?”

“Ibu tidak ingin kamu merasa terbebani. Ini bukan kesalahanmu. Kadang, orang dewasa tidak dapat saling memahami, dan itu bukan salah siapa pun,” jawab Ibu Maya, berusaha memberikan pengertian.

“Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku lagi?” suara Desty mulai bergetar. Ia mengingat semua momen bahagia ketika ayahnya masih bersamanya.

“Tidak, sayang. Cinta tidak akan hilang begitu saja. Dia mungkin hanya terjebak dalam hidup barunya,” jawab Ibu Maya, berusaha menenangkan putrinya. Namun, ia sendiri merasa sakit hati setiap kali mengingat keputusan yang harus diambilnya.

Baca juga Perjuangan Untuk Dapat Menerima Kamu Kembali

Seiring berjalannya waktu, Desty berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Ia berfokus pada sekolah dan kegiatan lainnya, tetapi rasa kosong dalam hatinya tetap ada. Ia sering melihat teman-temannya yang memiliki ayah dan merasa iri. Ketika ada acara di sekolah yang melibatkan orang tua, Desty selalu merasa terasing.

Suatu hari, di sekolah, Desty mendengar kabar bahwa ayahnya telah menikah lagi. Teman sekelasnya, Rina, mengabarkan berita itu dengan nada tidak percaya. “Desty, aku dengar ayahmu sudah punya istri baru! Apa benar?”

Hati Desty hancur mendengar berita itu. “Iya, aku tahu,” jawabnya pelan, berusaha menahan air mata. Rina, melihat ekspresi wajahnya, segera mengubah nada bicaranya. “Maaf, Desty. Aku tidak bermaksud menyakitimu.”

Desty hanya mengangguk. Di dalam hatinya, dia merasa seperti semua orang di sekitarnya bergerak maju, sementara ia terjebak dalam kenangan.

Ketika pulang, Desty merasa beban di dadanya semakin berat. Ia merasa harus membicarakan perasaannya dengan Ibu Maya. Malam itu, setelah makan malam, ia mengajak ibunya berbicara. “Bu, aku tahu Ayah sudah menikah lagi. Kenapa kita tidak bisa bersamanya?”

Ibu Maya menatapnya dengan lembut. “Desty, kadang kita harus menerima kenyataan yang pahit. Ayahmu memilih jalannya sendiri. Kita tidak bisa memaksanya untuk kembali.”

“Tapi, Bu… aku merasa ditinggalkan. Apa aku tidak cukup baik untuknya?” suara Desty bergetar, air matanya mulai mengalir.

“Sayang, kamu adalah anak yang luar biasa. Tidak ada yang salah denganmu. Terkadang, orang dewasa melakukan hal-hal yang sulit dimengerti. Ini bukan tentangmu, tetapi tentang mereka,” jawab Ibu Maya, merangkul Desty dalam pelukan hangat.

Desty merasakan kasih sayang dari ibunya, tetapi rasa sakit dalam hatinya masih sulit untuk dihapus. “Aku hanya ingin tahu mengapa semua ini terjadi. Mengapa aku tidak pernah merasakan kasih sayang Ayah lagi?”

“Kasih sayang tidak hilang begitu saja. Mungkin, ada cara lain untuk menemukan cinta dan kebahagiaan, meskipun bukan dari Ayahmu,” Ibu Maya menjelaskan.

Hari-hari berlalu, tetapi rasa kosong di hati Desty tidak kunjung hilang. Suatu malam, saat ia sedang mengerjakan PR, tiba-tiba ia teringat foto-foto keluarga yang tersimpan di lemari. Dengan rasa ingin tahu, ia membongkar kotak yang berisi foto-foto lama. Ia melihat wajah ayahnya yang tersenyum lebar, memegangnya saat masih bayi.

Baca juga Pertemuan Tak Terduga di Balik Layar Event

Desty merasa haru dan sedih sekaligus. “Ayah…” bisiknya, mengenang masa-masa bahagia yang pernah ada. Ia ingin berbicara dengan ayahnya, mengungkapkan perasaannya.

Keesokan harinya, Desty memutuskan untuk menulis surat kepada ayahnya. Ia mencurahkan semua perasaannya ke dalam tulisan. “Ayah, aku merindukanmu. Aku ingin tahu kenapa kita tidak bisa bersama lagi. Apakah aku salah? Aku ingin sekali bertemu dan berbicara denganmu,” tulisnya dengan penuh harapan.

Setelah menulis surat itu, ia memberikannya kepada Ibu Maya. “Bu, bisakah kamu mengirimkan surat ini untuk Ayah?” tanyanya penuh harap.

Ibu Maya menghela napas, melihat betapa seriusnya Desty. “Baiklah, sayang. Tapi ingat, mungkin tidak ada jawaban yang kamu harapkan.”

Desty mengangguk. “Aku hanya ingin berbicara dengannya.”

Hari-hari berlalu dan Desty menunggu dengan cemas. Suatu sore, ketika ia pulang sekolah, ia melihat Ibu Maya sedang menunggu di ruang tamu dengan ekspresi serius. “Desty, kita perlu bicara,” katanya.

Hati Desty berdebar-debar. “Ada apa, Bu?”

“Ibu menerima balasan dari Ayahmu,” kata Ibu Maya, suara sedikit bergetar.

Desty merasa campur aduk. “Apa yang dia katakan?”

“Ia mengaku sangat menyayangimu, tetapi hidupnya sekarang sudah berbeda. Ia minta maaf karena tidak bisa lebih dekat denganmu,” Ibu Maya menjelaskan, menahan air mata.

Desty merasa sakit hati mendengar itu. “Jadi, dia tidak ingin bertemu denganku? Apa aku tidak cukup berarti baginya?”

Ibu Maya memeluk Desty erat. “Jangan berpikir begitu, sayang. Terkadang, orang dewasa merasa terjebak dalam keputusan mereka sendiri. Tapi itu bukan tentangmu.”

Desty mengangguk, meskipun hatinya masih terasa perih. “Aku hanya ingin merasa dicintai, Bu.”

“Kamu sudah dicintai, sayang. Ibu akan selalu ada untukmu, dan kita bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri,” Ibu Maya berusaha menenangkan.

Desty merasa sedikit lega, tetapi kekosongan di hatinya tetap ada. Ia mulai belajar untuk mencari kebahagiaan dalam hal-hal kecil, seperti meluk Ibu Maya, bermain dengan teman-temannya, dan menggambar.

Suatu hari, saat ia menggambar di taman, seorang anak kecil menghampirinya. “Kamu melukis apa?” tanya anak itu, dengan mata ceria.

“Gambar keluarga,” jawab Desty, sedikit ragu.

“Kenapa kamu tidak menggambar ayahmu?” tanya anak itu polos.

Desty terdiam sejenak. “Karena dia tidak ada di sini.”

“Kalau begitu, kamu harus menggambarnya! Supaya dia tahu kamu merindukannya,” kata anak itu, memberikan semangat.

Desty tersenyum tipis, merasakan semangat baru. “Kamu benar. Mungkin aku bisa menggambarnya dan memberikannya kepada Ibu,” ucapnya.

Hari-hari berlalu, dan Desty mulai berusaha menciptakan kebahagiaan di sekitarnya. Ia menggambar lebih banyak dan menemukan kebahagiaan dalam berkarya. Meski ayahnya tidak ada, ia belajar bahwa cinta bisa datang dari berbagai arah, termasuk dari Ibu Maya.

Suatu sore, saat ia menyelesaikan gambarnya, Ibu Maya masuk dan melihat hasil karya Desty. “Wah, ini indah sekali, Desty! Apakah ini ayahmu?” tanyanya dengan penuh kekaguman.

“Iya, Bu. Aku menggambarnya agar dia tahu aku merindukannya,” jawab Desty, merasa bangga.

“Ini sangat berarti. Kamu bisa memberikan ini padanya suatu saat,” Ibu Maya tersenyum, berusaha memberikan harapan.

Desty merasa sedikit lebih baik. Meskipun tidak ada jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja, ia mulai menerima kenyataan. Ia tahu, cinta bisa ditemukan dalam berbagai bentuk. Dan meskipun ayahnya tidak ada di sampingnya, cinta Ibu Maya akan selalu ada untuknya. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.

0 Reviews

Contact Form

Name

Email *

Message *