Read more
Hai Sobat Kumpulan Cerpen Siti Arofah Kali ini aku mau menceritakan sebuah kisah Bani yang telah bekerja puluhan tahun di suatu perusahaan ternama. Ternyata Bani harus merelakan meninggalkan pekerjaannya, karena ayahnya meninggal dunia. Hati Bani tak tega melihat ibundanya tinggal seorang diri.
Bani adalah seorang karyawan senior di perusahaan ternama yang telah mengabdikan dirinya selama lebih dari dua puluh tahun. Dengan dedikasi dan kerja keras, ia berhasil meraih posisi manajerial dan menjadi sosok yang dihormati di tempat kerjanya. Namun, di balik kesuksesannya, Bani menyimpan rahasia tentang keluarganya yang selalu ia prioritaskan di atas segalanya.
Suatu pagi, Bani menerima telepon dari rumah. Suara adiknya, Rina, terdengar panik di ujung telepon. “Bani, Ayah… Ayah sudah tidak ada,” katanya, suaranya terisak.
Bani merasakan dunia seakan runtuh. “Apa? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?” tanya Bani, berusaha menahan tangis.
“Ayah terkena serangan jantung. Kami sudah berusaha membawanya ke rumah sakit, tapi…,” Rina terhenti, tidak sanggup melanjutkan.
Bani merasa dadanya sesak. Dalam sekejap, semua pencapaian dan kesuksesannya di kantor terasa tidak berarti. “Aku akan segera pulang,” jawabnya tegas, bergegas mengumpulkan barang-barang.
Setibanya di rumah, suasana duka menyelimuti keluarga. Bani melihat ibunya yang duduk terpuruk di ruang tamu, mata yang sembab dan hati yang hancur. Ia segera menghampiri dan memeluk ibunya. “Ibu, aku di sini. Aku akan selalu ada untukmu,” ucapnya, mencoba memberikan ketenangan.
“Ibu merasa sangat kehilangan, Bani. Ayah adalah segalanya bagi ibu,” jawab ibunya dengan suara gemetar.
Bani merasakan air mata mengalir di pipinya. “Ibu, jangan khawatir. Kita akan melewati ini bersama-sama. Aku akan membantu Ibu sebaik mungkin.”
Setelah upacara pemakaman selesai, kehidupan Bani berubah drastis. Ia mengambil cuti dari pekerjaannya dan memutuskan untuk tinggal di rumah dan merawat ibunya. “Bani, apa kamu yakin? Pekerjaanmu penting, dan kamu sudah berusaha begitu keras untuk mencapai posisimu sekarang,” tanya Rina, khawatir tentang masa depan Bani.
“Rina, aku tidak bisa membiarkan Ibu sendirian. Dia butuh aku sekarang lebih dari sebelumnya. Semua yang aku capai di kantor tidak ada artinya jika keluargaku tidak bahagia,” jawab Bani dengan tegas.
Hari demi hari berlalu, Bani berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Ia mengurus rumah dan membantu ibunya yang masih berduka. Namun, di dalam hatinya, rasa cemas mulai muncul. “Ibu, bagaimana kalau aku kembali bekerja setelah beberapa bulan?” tanya Bani pada suatu malam.
“Ibu tidak ingin kamu merasa terjebak di sini, Bani. Tapi, kamu juga harus ingat bahwa hidup harus terus berjalan,” jawab ibunya pelan.
“Ya, Ibu. Aku mengerti. Tapi saat ini, aku hanya ingin melihat Ibu baik-baik saja,” Bani berkata, menyentuh tangan ibunya dengan lembut.
Suatu pagi, saat Bani sedang menyiapkan sarapan, teleponnya berbunyi. Itu adalah atasan Bani di kantor. “Bani, kami semua sangat merasa kehilanganmu di kantor. Tapi kami juga mengerti situasimu. Jika kamu memutuskan untuk kembali, posisi kamu akan tetap ada untukmu,” kata atasan Bani dengan nada empati.
Bani terdiam sejenak. “Terima kasih, Pak. Saya akan mempertimbangkan hal itu,” jawabnya, meskipun hatinya ragu.
Baca juga Bintang yang Terabaikan
Setelah menutup telepon, Bani merenung. Ia merasa terjebak antara tanggung jawab untuk ibunya dan karir yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun. Pada malam yang sunyi, ia mendekati ibunya dan mengungkapkan perasaannya. “Ibu, aku menerima tawaran untuk kembali bekerja. Tapi aku merasa bersalah,” katanya.
“Bani, kamu tidak perlu merasa bersalah. Ayahmu ingin kamu bahagia. Jika bekerja adalah yang membuatmu bahagia, lakukanlah,” jawab ibunya dengan lembut.
“Jadi, Ibu tidak apa-apa jika aku kembali bekerja?” tanya Bani, mengharapkan kepastian.
“Ibu akan baik-baik saja, Nak. Yang terpenting adalah kamu jangan mengabaikan diri sendiri. Kami bisa saling mendukung, meskipun jarak memisahkan kita,” ujar ibunya, memberikan semangat.
Akhirnya, Bani memutuskan untuk kembali ke kantor. Saat ia kembali, banyak rekan kerjanya yang menyambutnya dengan hangat. “Bani, kami sangat senang kamu kembali! Kami merindukanmu,” kata teman dekatnya, Dika.
“Terima kasih, Dika. Aku juga merindukan kalian,” jawab Bani, meski hatinya terasa berat.
Meskipun ia kembali bekerja, Bani merasa tertekan. Ia tidak dapat sepenuhnya fokus karena terus memikirkan ibunya. Setiap malam, ia menelepon untuk memastikan semuanya baik-baik saja. “Ibu, bagaimana harimu? Apakah kamu sudah makan?” tanya Bani.
“Bani, tenanglah. Ibu baik-baik saja. Kamu harus fokus pada pekerjaanmu,” jawab ibunya, mencoba menenangkan.
Namun, suatu hari, Bani menerima kabar bahwa ibunya jatuh sakit. “Ibu, aku segera pulang!” teriaknya panik saat mendapatkan berita dari Rina.
Setelah sampai di rumah, Bani menemukan ibunya terbaring lemah di tempat tidur. “Bani, Ibu tidak apa-apa. Hanya kelelahan,” kata ibunya, meski wajahnya terlihat pucat.
“Ibu, jangan berbohong. Kita perlu membawa Ibu ke dokter,” kata Bani, penuh kekhawatiran.
Setelah pemeriksaan, dokter menyarankan agar ibunya lebih banyak istirahat dan tidak stres. “Ibu, kita perlu mencari bantuan. Mungkin kita bisa mempekerjakan perawat untuk membantu Ibu,” usul Bani.
“Ibu tidak ingin merepotkanmu, Bani. Kamu sudah bekerja keras,” jawab ibunya, berusaha menahan air mata.
“Tapi, Ibu adalah segalanya bagiku. Aku tidak akan membiarkan Ibu melewati ini sendirian,” tegas Bani.
Baca juga Jejak Cinta dalam Kesunyian
Akhirnya, mereka setuju untuk mendapatkan bantuan. Dalam proses itu, Bani belajar untuk lebih menghargai waktu bersama ibunya. Ia mulai menyadari bahwa tidak ada yang lebih penting dari keluarga.
Malam-malam dihabiskan dengan cerita-cerita hangat, berbagi tawa, dan kenangan indah. Bani berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan pekerjaan mengganggu waktu berharga bersama ibunya. Ia belajar untuk menyeimbangkan keduanya, mengatur waktu dengan bijak agar bisa merawat ibunya dan tetap bekerja.
Suatu malam, saat mereka duduk di ruang tamu, ibunya menatap Bani. “Kamu telah melakukan yang terbaik, Nak. Ibu bangga padamu,” katanya dengan penuh kasih.
“Terima kasih, Bu. Semua ini karena Ibu. Tanpa dukunganmu, aku tidak akan bisa menjadi seperti sekarang,” jawab Bani, tersenyum.
Meskipun hidupnya tidak selalu berjalan mulus, Bani menemukan kebahagiaan dan makna dalam menjaga keluarganya. Ia menyadari bahwa meskipun dunia luar sering kali menggoda dengan kesuksesan, kebahagiaan sejati datang dari cinta dan dukungan orang-orang terkasih. Dengan setiap langkah, Bani berkomitmen untuk terus menjadi anak yang baik, mencintai dan merawat ibunya, selamanya.
### Menemukan Jalan Pulang (Lanjutan)
Setelah beberapa bulan berlalu, keadaan ibunya mulai membaik. Dengan bantuan perawat yang dipekerjakan Bani, ibunya dapat beristirahat dengan baik dan mendapatkan perhatian yang diperlukan. Momen-momen sederhana seperti sarapan bersama dan berbincang-bincang di sore hari menjadi lebih berharga.
Suatu sore, saat Bani sedang menyelesaikan pekerjaan dari rumah, ibunya masuk ke ruang kerja dengan senyum lembut. “Bani, apakah kamu sudah makan siang?” tanyanya.
“Belum, Bu. Aku sedang menunggu laporan dari kantor. Tapi aku bisa membuatkan sesuatu sekarang,” jawab Bani sambil tersenyum.
“Ibu sudah menyiapkan makanan. Ayo kita makan bersama,” ajak ibunya, menggenggam tangan Bani.
Mereka duduk di meja makan, dan ibunya mulai bercerita tentang kenangan masa kecil Bani. “Kamu ingat saat kita merayakan ulang tahunmu yang ke-sepuluh? Ibu membuatkan kue cokelat itu dan kamu meminta lebih banyak lilin?” tanyanya sambil tertawa.
Bani tersenyum, mengingat betapa bahagianya saat itu. “Iya, Bu! Kue itu sangat enak, dan aku masih ingat bagaimana semua teman-temanku terkesan.”
Obrolan mereka berlanjut, mengingat masa-masa indah dan lucu. Bani merasa bersyukur bisa menghabiskan waktu berkualitas seperti ini. Namun, di dalam hatinya, ia juga merasakan kekhawatiran. Ia tahu, meski ibunya sudah lebih baik, masih ada banyak tantangan di depan.
Suatu hari, saat Bani kembali ke kantor setelah beberapa hari cuti untuk menjaga ibunya, atasan dan rekan-rekannya menyambutnya dengan hangat. “Bani! Selamat datang kembali! Kami semua merindukanmu,” kata Dika, rekan kerjanya.
“Terima kasih, Dika. Senang bisa kembali,” jawab Bani, meski merasa canggung.
Di dalam rapat, Bani kembali beradaptasi dengan ritme kerja yang cepat. Namun, rasa cemasnya tentang kesehatan ibunya tetap menghantuinya. Setiap kali ponselnya berbunyi, ia berharap itu bukan berita buruk.
Setelah beberapa minggu, situasi di kantor mulai menuntut lebih banyak perhatian Bani. Proyek besar mulai datang, dan beban kerjanya semakin meningkat. “Bani, aku butuh laporan ini selesai sebelum akhir minggu,” perintah atasan Bani, memicu rasa stres di dalam dirinya.
“Baik, Pak. Saya akan segera menyelesaikannya,” jawab Bani, meski ia merasa tertekan.
Di malam hari, ketika Bani pulang ke rumah, ia melihat ibunya sedang menonton televisi. Bani segera menghampiri dan bertanya, “Ibu, bagaimana harimu?”
“Baik, Nak. Ibu sudah mulai membantu sedikit di dapur,” jawab ibunya, berusaha tersenyum.
Bani merasa lega, tetapi di dalam hati ia tahu ibunya mungkin masih merindukan kehadiran suaminya. “Ibu, jika ada yang Ibu butuhkan, jangan ragu untuk bilang, ya?” ucap Bani.
“Ibu tidak mau merepotkanmu, Bani. Kamu sudah bekerja keras,” sahut ibunya, membuat hati Bani tertekan.
“Bu, kamu tidak merepotkan. Kita keluarga. Aku ingin melihat Ibu bahagia,” tegas Bani.
Namun, malam itu, saat Bani berusaha menyelesaikan pekerjaannya, ia merasa sangat lelah. Ia menatap foto ayahnya di meja dan merasa seolah-olah semua beban tanggung jawab itu menimpanya. “Apakah aku bisa melakukan ini?” bisiknya pada diri sendiri.
Hari-hari berlalu, dan Bani berjuang untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan merawat ibunya. Suatu malam, saat pulang larut, Bani menemukan ibunya duduk di ruang tamu, menunggu dengan cemas.
“Ibu, kenapa tidak tidur?” tanya Bani.
“Aku khawatir. Kenapa kamu pulang terlambat sekali?” jawab ibunya, wajahnya terlihat lelah.
“Saya banyak pekerjaan, Bu. Tapi semuanya akan baik-baik saja,” jawab Bani, berusaha meyakinkan ibunya.
Ibunya memandangnya dengan tatapan penuh perhatian. “Bani, jika kamu merasa terlalu terbebani, jangan ragu untuk meminta bantuan. Kamu tidak perlu melakukannya sendirian.”
Bani terdiam, merasakan cinta dan perhatian ibunya. “Ibu, aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Aku tidak ingin Ibu merasa kesepian,” jawabnya, merangkul ibunya.
Setelah percakapan itu, Bani mulai berusaha lebih terbuka. Ia memberitahu rekan-rekannya tentang situasi keluarganya, dan mereka pun bersedia membantu. Dika dan beberapa teman mulai menawarkan untuk membagi pekerjaan, sehingga Bani bisa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Suatu sore, saat Bani pulang dari kantor, ia menemukan ibunya sedang duduk di teras. “Ibu, hari ini aku membawa pulang makanan favoritmu!” serunya gembira.
“Ibu sangat senang! Terima kasih, Bani,” jawab ibunya, senyumnya cerah.
Mereka makan bersama di teras, menikmati makanan sederhana sambil berbincang tentang berbagai hal. Bani merasa beban di pundaknya sedikit berkurang.
“Bani, apa kamu pernah berpikir untuk mengambil waktu istirahat dari pekerjaanmu? Sejenak saja,” tanya ibunya tiba-tiba.
“Aku tidak bisa, Bu. Aku punya tanggung jawab. Tapi aku berjanji akan menjaga keseimbangan,” jawab Bani, berusaha meyakinkan ibunya.
“Ibu hanya ingin kamu bahagia, Nak. Jika pekerjaan membuatmu stres, kita bisa mencari jalan lain,” ujar ibunya lembut.
Bani mengangguk, merasakan kasih sayang dan pengertian ibunya. “Aku akan berusaha, Bu. Terima kasih telah selalu ada untukku.”
Beberapa bulan kemudian, Bani mendapatkan tawaran untuk memimpin proyek besar yang membutuhkan lebih banyak waktu dan perhatian. Dengan rasa berat hati, ia menginformasikan kepada ibunya.
“Ibu, aku mendapatkan tawaran untuk proyek baru yang sangat penting. Tapi ini berarti aku harus bekerja lebih keras,” kata Bani, hati-hati.
“Bani, apakah ini yang kamu inginkan?” tanya ibunya, menatapnya dalam-dalam.
“Aku rasa ini adalah kesempatan yang baik untukku. Tapi aku khawatir tentang waktu yang akan aku habiskan,” jawab Bani.
“Ibu percaya pada keputusanmu. Tapi ingat, kita juga harus menjaga kesehatan kita. Jangan terlalu mengabaikan diri sendiri,” nasihat ibunya.
Dengan dukungan ibunya, Bani memutuskan untuk mengambil tawaran itu, tetapi ia bertekad untuk tetap menjaga keseimbangan. Ia mulai mengatur jadwal kerjanya dan menciptakan waktu khusus untuk menghabiskan waktu bersama ibunya.
Setelah proyek itu berjalan, Bani merasa lebih percaya diri. Ia mampu mengelola waktunya dengan lebih baik dan tetap hadir untuk ibunya. Suatu malam, setelah pulang kerja, ia membawa pulang bunga untuk ibunya.
“Ibu, ini untukmu,” katanya dengan senyum.
“Oh, Bani! Terima kasih! Bunga ini cantik sekali!” jawab ibunya, matanya berbinar.
Mereka duduk bersama di ruang tamu, mengobrol, dan tertawa. Bani merasakan cinta dan kebahagiaan yang mengalir di antara mereka.
Dengan berjalannya waktu, Bani menyadari bahwa meskipun kesedihan kehilangan ayahnya akan selalu ada, kebahagiaan juga bisa ditemukan dalam ikatan yang kuat dengan ibunya. Ia belajar untuk menempatkan prioritasnya dengan benar—karier dan keluarga.
Suatu malam, saat mereka sedang duduk di teras, ibunya menatap Bani dengan penuh kasih. “Kamu telah tumbuh menjadi pria yang luar biasa, Bani. Ibu bangga padamu,” katanya dengan suara lembut.
“Terima kasih, Bu. Semua ini karena Ibu. Ibu adalah inspirasiku,” jawab Bani, merasakan air mata haru di sudut matanya.
Ketika bintang-bintang mulai bermunculan di langit malam, Bani menyadari bahwa meskipun hidup tidak selalu mudah, cinta keluarga adalah cahaya yang membimbingnya melalui kegelapan. Dengan setiap langkah, ia bertekad untuk terus merawat dan mencintai ibunya, menemukan kebahagiaan di jalan yang mereka lalui bersama. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.



0 Reviews
Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....