Bintang yang Terabaikan

Bintang yang Terabaikan

Size
Price:

Read more

Bintang yang Terabaikan
Hai Sobat Kumpulan Cerpen Siti Arofah Kali ini aku mau menceritakan sebuah kisah Arfian yang sangat cerdas di Kampusnya. Namun Kepintaran Arfian tak sebanding dengan nasibnya.

Di sebuah universitas ternama, Arfian dikenal sebagai salah satu mahasiswa paling cerdas di kampus. Nilai-nilainya selalu sempurna, dan ia sering menjadi juara dalam berbagai kompetisi akademik. Namun, di balik kepintarannya, terdapat kisah sedih yang tak banyak orang tahu. Arfian hidup dalam keterbatasan. Ia berasal dari keluarga sederhana; ayahnya seorang buruh harian, dan ibunya bekerja sebagai penjual makanan di pinggir jalan. Meskipun mereka berusaha keras, pendapatan mereka sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Suatu pagi, Arfian sedang duduk di perpustakaan, membaca buku tentang fisika kuantum. Teman baiknya, Rina, datang menghampiri. “Hey, Arfian! Kenapa kamu terus-terusan di sini? Ayo kita ke kafe, aku sudah pesan makanan untuk kita,” ajak Rina dengan ceria.

Arfian tersenyum, tetapi ia tidak bergerak dari tempatnya. “Terima kasih, Rina, tapi aku masih ada beberapa bab yang harus aku pelajari. Ujian akhir sudah dekat,” jawabnya sambil terus menatap bukunya.

Rina menggeleng. “Kamu tahu, kamu tidak perlu belajar sampai begini. Kamu sudah cukup pintar. Hanya saja, kamu harus juga memperhatikan kesehatanmu.”

Arfian menghela napas. “Aku tahu, tapi aku harus membuktikan bahwa aku bisa meraih beasiswa. Jika aku mendapatkan beasiswa, itu berarti aku bisa meringankan beban orang tuaku.”

Baca juga Antara Api dan Harapan Hartanto

Rina melihat ketekunan Arfian dan merasa khawatir. “Arfian, hidupmu bukan hanya tentang belajar. Kamu juga perlu bersosialisasi. Jangan sampai kamu kehilangan masa muda hanya karena belajar.”

“Rina, aku tidak punya pilihan. Aku ingin mengubah nasib keluargaku,” jawab Arfian dengan tegas.

Hari-hari berlalu, dan Arfian terus berjuang. Di luar akademiknya yang cemerlang, ia bekerja paruh waktu di sebuah toko buku untuk membantu keluarganya. Namun, meskipun ia berusaha keras, uang yang didapat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Suatu sore, saat Arfian pulang dari kampus, ia melihat ibunya duduk di meja makan dengan wajah cemas. “Ibu, ada apa?” tanya Arfian.

“Ibu tidak tahu bagaimana cara membayar sewa rumah bulan ini. Ayahmu sudah tidak bisa kerja karena sakit,” ujar ibunya dengan suara bergetar.

Arfian merasa hatinya tercekat. “Ibu, jangan khawatir. Aku akan mencari cara untuk mendapatkan uang. Mungkin aku bisa bekerja lebih banyak di toko buku.”

“Ibu khawatir kesehatanmu juga akan terganggu, Nak. Belajarlah yang baik-baik saja,” jawab ibunya.

Arfian merasakan beban di pundaknya semakin berat. Ia bertekad untuk tidak menyerah. Setelah ujian akhir, Arfian mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. Ia pun melamar beasiswa yang diidam-idamkannya. Namun, saat pengumuman beasiswa tiba, Arfian mendapati namanya tidak ada di daftar penerima.

“Kenapa ini terjadi?” desah Arfian, merasa kecewa. Ia tidak mengerti bagaimana perjuangannya tidak terbayar. Saat itu, Rina datang menghampiri.

“Apa yang terjadi, Arfian?” tanya Rina, melihat wajah Arfian yang pucat.

“Aku tidak mendapatkan beasiswa,” jawab Arfian sambil menahan air mata.

“Oh, Arfian, aku minta maaf. Tapi kamu harus tahu, tidak semuanya bisa diukur dengan akademik. Kamu masih punya waktu untuk mencoba lagi,” kata Rina mencoba menghibur.

“Tapi Rina, semua usahaku sia-sia. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk keluargaku,” Arfian menjawab dengan nada penuh rasa sakit.

Baca juga Terima Kasih Telah Bersamaku

Rina menggerakkan tangan Arfian. “Mungkin ada jalan lain. Kita bisa mencari sponsor atau bantuan dari lembaga sosial. Jangan putus asa.”

Arfian mengangguk, tetapi harapannya mulai pudar. Ia merasa seolah-olah usahanya tidak dihargai. Saat ia kembali ke rumah, ia melihat ibunya yang sedang menyiapkan makanan sederhana. Ia tahu betapa keras ibunya bekerja untuknya.

“Malam ini kita makan dengan sederhana, ya, Bu,” kata Arfian sambil tersenyum palsu.

“Iya, Nak. Yang penting kita bisa berkumpul bersama,” jawab ibunya dengan senyum yang berusaha ceria.

Arfian merasa bersalah. “Ibu, aku akan berusaha lebih keras lagi. Aku janji akan mencari cara untuk mendapatkan beasiswa di tahun depan.”

“Arfian, ingatlah bahwa yang terpenting adalah kesehatan dan kebahagiaanmu. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri,” nasihat ibunya.

Meskipun Duka yang menyelimutinya, Arfian terus berjuang. Ia mendaftar di berbagai kompetisi dan mengerjakan proyek-proyek kecil di luar kampus. Perlahan-lahan, ia mulai mendapatkan perhatian dari beberapa dosen yang melihat potensinya.

Suatu ketika, Arfian ditawari untuk mengikuti konferensi internasional di luar negeri. “Arfian, ini kesempatan besar untukmu. Kamu harus ikut,” kata salah satu dosennya.

“Aku sangat ingin, Pak, tapi biaya perjalanan dan akomodasi…” jawab Arfian dengan ragu.

“Biarkan aku yang mengurusnya. Aku akan membantu mencarikan sponsor untukmu,” kata dosen tersebut.

Air mata Arfian menetes. “Terima kasih, Pak. Ini sangat berarti bagi saya.”

Setelah semua persiapan selesai, Arfian berangkat ke konferensi tersebut. Di sana, ia bertemu dengan banyak akademisi dan mahasiswa dari berbagai negara. Ia mempresentasikan penelitiannya dengan percaya diri, dan banyak orang terkesan dengan bakatnya.

Saat konferensi berakhir, Arfian mendapat tawaran untuk melanjutkan studinya di luar negeri dengan beasiswa penuh. “Saya tidak percaya ini!” teriaknya sambil berpelukan dengan dosennya.

“Selamat, Arfian! Kamu layak mendapatkan ini,” jawab dosen tersebut dengan bangga.

Kembali ke rumah, Arfian memberitahu ibunya tentang berita baik tersebut. “Ibu! Aku mendapat beasiswa untuk belajar di luar negeri!” teriak Arfian dengan semangat.

Ibunya tertegun, lalu peluk Arfian erat. “Aku tahu kamu bisa, Nak! Kamu adalah bintang yang selalu bersinar.”

Perasaan bahagia bercampur haru memenuhi hati Arfian. Ia tahu perjuangannya belum berakhir, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa ada harapan di depan. Beberapa tahun kemudian, Arfian kembali ke tanah air dengan gelar doktor dan prestasi yang membanggakan.

Saat reuni alumni diadakan, Arfian diundang sebagai pembicara tamu. Ia berbagi kisah perjuangannya dan bagaimana ketekunan dan kerja keras membawanya pada keberhasilan. Di tengah presentasinya, ia mengingatkan semua orang bahwa keberhasilan bukan hanya tentang kepintaran, tetapi juga tentang dedikasi dan semangat untuk terus berjuang meskipun dalam keadaan sulit.

“Semua yang saya capai tidak lepas dari dukungan keluarga dan teman-teman. Jangan pernah merasa rendah diri, karena setiap orang memiliki jalan masing-masing menuju keberhasilan,” kata Arfian dengan suara penuh semangat.

Ketika acara berakhir, banyak teman yang datang untuk memberikan selamat. Rina datang menghampiri, “Kamu luar biasa, Arfian! Kami semua sangat bangga padamu.”

“Terima kasih, Rina. Tanpa dukunganmu, aku mungkin tidak akan sampai di sini,” jawab Arfian, tersenyum.

Dalam hati Arfian, dia tahu bahwa meskipun jalan hidupnya tidak selalu mulus, ia telah membuktikan bahwa dengan kerja keras, ketekunan, dan dukungan orang-orang tercinta, ia bisa meraih impiannya. Arfian tidak hanya menjadi cerdas, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.

0 Reviews

Contact Form

Name

Email *

Message *