Bukan Semua yang Bersinar adalah Emas

Bukan Semua yang Bersinar adalah Emas

Size
Price:

Read more

Bukan Semua yang Bersinar adalah Emas
Hai Sobat Kumpulan Cerpen Siti Arofah Kali ini aku mau menceritakan sebuah kisah Di balik kehidupan mewah para majikan di Jakarta, terdapat para pembantu rumah tangga yang terpinggirkan oleh masyarakat. Bagaimana mereka bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan di kota yang dipenuhi gemerlap ini, dan bagaimana impian-impian mereka hancur di balik keberangkatan majikan-majikan mewah mereka ?

Pagi hari di Jakarta, saat cahaya matahari mulai menghangatkan udara, suara klakson mobil dan deru kendaraan mulai mengisi jalanan. Di sebuah kompleks perumahan elit di Jakarta Selatan, ada sebuah rumah megah dengan halaman yang terawat rapi dan kolam renang yang berkilau. Namun, di balik kemewahan itu, terdapat kehidupan yang jarang terlihat—kehidupan para pembantu rumah tangga yang bekerja tanpa henti.

Di dapur rumah itu, Ibu Lestari, seorang pembantu rumah tangga berusia lima puluh tahun, sedang mempersiapkan sarapan untuk majikannya. Wajahnya yang keriput dan tangan yang kasar menandakan bertahun-tahun kerja keras. Setiap pagi, dia bangun sebelum fajar untuk memastikan semuanya siap sebelum keluarga majikannya bangun.

“Bu, sarapan sudah siap?” suara Arini, putri majikannya yang berusia lima belas tahun, mengganggu konsentrasi Lestari.

“Ya, Nak. Sudah siap. Makanan di meja,” jawab Lestari, sambil meletakkan panci di atas kompor. “Tapi kamu cepat ya, supaya tidak terlambat ke sekolah.”

Arini melirik jam di dinding, lalu berlari menuju meja makan. Dia memang terkesan dengan hidupnya yang serba berkecukupan, tetapi di dalam hatinya, dia merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat Ibu Lestari yang selalu bekerja keras tanpa pamrih.

“Bu Lestari, kenapa sih selalu bangun pagi? Kita kan punya asisten yang bisa membantu,” Arini bertanya, sambil menuangkan jus jeruk ke dalam gelas.

“Ah, Nak. Nggak apa-apa. Saya sudah terbiasa. Lagipula, saya senang bisa melayani keluarga ini,” jawab Lestari, senyum tulus mengembang di wajahnya meskipun ada keraguan dalam hatinya.

Namun, di balik senyuman itu, ada banyak cerita yang tidak terungkap. Lestari datang dari desa kecil di Jawa Tengah, meninggalkan suaminya dan dua anaknya demi mencari nafkah di Jakarta. Setiap bulan, dia mengirimkan uang untuk keluarga, tetapi tak pernah merasa cukup. Dengan gaji yang sedikit, semua impian untuk memberikan pendidikan lebih baik bagi anak-anaknya terasa semakin jauh.

Saat sarapan berakhir dan Arini bersiap untuk berangkat sekolah, Lestari menyusun piring-piring yang sudah kotor dan membersihkan meja. Di luar, suara mobil mewah melintas, menandakan para tetangga yang berangkat ke aktivitas mereka. Dalam hati, Lestari merindukan masa-masa ketika dia bisa bersantai di rumah tanpa harus terburu-buru.

“Saya berdoa agar anak-anak saya bisa merasakan kehidupan yang lebih baik, Nak,” Lestari membisikkan pada Arini, yang terkejut mendengar pengakuan itu.

“Tapi Bu, hidup kita kan sudah baik di sini? Nggak perlu khawatir,” Arini menjawab, mencoba menghibur Ibu Lestari.

“Ya, Nak. Tapi kadang saya berpikir, apakah semua yang bersinar itu emas?” ucap Lestari, matanya menatap jauh ke luar jendela, seolah melihat harapan yang sulit dijangkau.

Arini terdiam, merenungkan kata-kata Ibu Lestari. Sebelum dia pergi, dia mengulurkan tangan untuk meraih lengan Lestari. “Bu, saya berharap semua yang Ibu lakukan bisa terbayar suatu hari nanti.”


Baca juga Sukses Adalah Bagian Dari Perjuangan

 
Hari berlalu, dan Lestari kembali ke rutinitasnya. Di antara tumpukan cucian, pekerjaan bersih-bersih, dan merawat taman, ada satu hal yang selalu mengganggu pikirannya: apa impian yang sebenarnya dia miliki? Dia ingin anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik, tetapi setiap hari berlalu tanpa ada tanda-tanda akan tercapai.

Suatu malam, saat Lestari menyelesaikan tugas-tugasnya, dia mendengar percakapan antara Arini dan ibunya, Ibu Mutiara.

“Bu, kenapa kita harus selalu punya pembantu? Kita kan bisa mengerjakan sendiri,” tanya Arini.

“Karena ini kehidupan kita, Nak. Kita harus menjaga status sosial kita. Pembantu itu hanya alat untuk membuat hidup kita lebih mudah,” jawab Ibu Mutiara dengan nada tegas.

Lestari merasa hatinya teriris mendengar kata-kata itu. Dia menyadari bahwa dirinya hanya dianggap sebagai alat, bukan sebagai manusia yang memiliki impian dan perasaan.

Di tengah malam yang sepi, saat semua orang sudah terlelap, Lestari duduk di ruang tamu, menatap foto keluarganya yang sudah pudar. Dia merindukan anak-anaknya, tetapi dia juga merasa terperangkap dalam kehidupan yang tidak memberinya ruang untuk bermimpi. Sementara itu, suara bising dari luar menandakan bahwa kehidupan Jakarta terus berjalan.

“Bu Lestari, kenapa masih begadang? Kan sudah malam,” suara Ibu Mutiara mengejutkan Lestari.

“Oh, saya hanya... mengatur beberapa barang, Bu,” jawab Lestari, berusaha menyembunyikan kesedihannya.

“Jangan terlalu banyak berpikir. Ingat, kita butuh orang seperti kamu untuk menjalani kehidupan ini,” Ibu Mutiara berkata sambil melangkah pergi, tanpa menyadari perasaan Ibu Lestari yang semakin tertekan.

Malam-malam berikutnya, Lestari merasa semakin lelah secara fisik dan emosional. Dia mulai berbicara dengan teman-teman sesama pembantu rumah tangga, berbagi cerita dan harapan mereka. Di antara mereka, ada Rina, yang bekerja di rumah sebelah.

“Bu Lestari, kadang aku bertanya, apa kita akan terus begini selamanya?” Rina bertanya sambil menyiram tanaman.

“Entahlah, Rina. Setiap kali aku melihat kehidupan mereka, rasanya seperti kita ini bayangan. Kita ada, tapi tidak terlihat,” Lestari menjawab, menghela napas berat.

Rina mengangguk. “Tapi kita harus bertahan, ya? Untuk keluarga kita. Kita adalah jembatan bagi mereka.”

Lestari tersenyum pahit. “Iya, tapi jembatan ini sering kali tidak dihargai.”


Baca juga  Air Mata Untuk Semua Yang Telah Dilewati


Suatu hari, saat Lestari sedang membereskan dapur, dia menemukan sebuah surat yang terselip di antara tumpukan majalah. Surat itu ditujukan kepada Ibu Mutiara, tetapi Lestari membacanya tanpa berniat mengganggu privasi majikannya.

Surat itu berisi pengumuman tentang perjalanan liburan keluarga mereka ke Eropa, lengkap dengan rincian tempat-tempat yang akan dikunjungi. Hati Lestari bergetar saat membayangkan betapa bahagianya mereka bisa menikmati hidup, sementara dia terjebak dalam rutinitas yang tidak berujung.

“Saya ingin sekali merasakan kebebasan itu,” bisik Lestari pada diri sendiri, merasa cemburu sekaligus terinspirasi.

Setelah beberapa hari, saat keluarga Ibu Mutiara pergi berlibur, Lestari mengambil kesempatan itu untuk beristirahat. Dia pergi ke pasar untuk membeli sayuran dan buah-buahan, sebuah kebiasaan kecil yang sudah lama tidak dia lakukan.

Di pasar, Lestari melihat banyak wanita lain yang seumuran dengannya, berbincang dan tertawa. Mereka tidak memiliki kekayaan, tetapi kebahagiaan mereka terasa tulus. Lestari merasakan kerinduan untuk memiliki kebebasan seperti itu, untuk bisa bercanda dan tertawa tanpa merasa terikat pada tanggung jawab yang tidak pernah berujung.

Di tengah keramaian pasar, Lestari berhenti di depan sebuah toko buku kecil. Dia melihat poster-poster tentang pendidikan dan pelatihan keterampilan, dan tiba-tiba sebuah ide muncul dalam pikirannya. Dia ingin belajar, ingin punya keterampilan yang bisa membawanya ke kehidupan yang lebih baik.

“Bu Lestari, ayo kita pergi ke kafe di sebelah sana! Biar kita bisa duduk santai,” ajak Rina, yang juga sedang berbelanja di pasar.

“Baiklah, Rina. Tapi kita hanya minum sebentar, ya,” Lestari menjawab dengan senyum yang lebih ceria.

Saat mereka duduk di kafe kecil, Lestari mengungkapkan impiannya kepada Rina. “Rina, aku ingin belajar menjahit. Mungkin jika aku bisa menjahit, aku bisa membuat pakaian dan menjualnya. Mungkin itu bisa menjadi jalan untuk keluar dari sini.”

Rina menatap Lestari dengan penuh dukungan. “Itu ide bagus, Bu! Kamu harus coba! Kita semua punya hak untuk bermimpi, dan kita berhak untuk berjuang meraihnya.”

Kembali ke rumah setelah liburan keluarga, Lestari merasa sedikit lebih bersemangat. Dia mulai mengambil langkah kecil menuju impiannya. Setiap malam setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia meluangkan waktu untuk belajar menjahit melalui video online yang ia tonton di ponselnya.

Lestari menyadari bahwa meskipun dia terpinggirkan, dia masih memiliki kekuatan untuk bermimpi dan berusaha. Dengan tekad, dia mulai merajut harapan baru untuk dirinya dan keluarganya.

Namun, tantangan masih terus mengintai. Suatu malam, saat Lestari sedang duduk di dapur sambil menjahit, Ibu Mutiara tiba-tiba muncul.

“Bu Lestari, kamu ngapain di sini? Kenapa tidak tidur?” tanya Ibu Mutiara dengan nada menuduh.

“Eh, Bu, saya hanya... ini, menjahit pakaian untuk Arini,” jawab Lestari, sedikit terkejut dan gugup.

“Oh, jadi kamu menjahit juga? Kenapa tidak bilang dari awal? Mungkin kamu bisa bikin dress untuk Arini,” Ibu Mutiara berkata, suara sinisnya terdengar.

Lestari merasakan sakit di dadanya. “Bu, saya hanya ingin belajar sedikit. Mungkin bisa membantu,” jawabnya pelan, berusaha menjelaskan niatnya.

Ibu Mutiara melirik Lestari dengan skeptis. “Hati-hati, ya. Jangan sampai majikanmu marah jika kamu terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri dan tidak fokus pada pekerjaanmu.”

Lestari hanya bisa mengangguk, tetapi di dalam hatinya, dia merasa tertekan. Mimpinya terasa semakin jauh, terjepit di antara tanggung jawab dan harapan yang semakin pudar.

Hari-hari berlalu, dan Lestari terus berjuang. Setiap malam, dia belajar menjahit, mengerjakan pakaian sisa dari Arini dan belajar pola sederhana dari video yang dia tonton. Sementara itu, dia tetap menjalani rutinitas harian yang padat di rumah majikannya.

Suatu hari, ketika Lestari sedang berada di pasar, dia bertemu dengan seorang wanita tua yang menjual kain.

“Bu, kain ini bagus untuk menjahit. Berapa harganya?” tanya Lestari.

“Oh, ini kain bagus, bisa kamu jual juga. Harganya terjangkau, tapi kamu harus membeli banyak jika mau mendapatkan diskon,” kata wanita itu sambil tersenyum.

Setelah berpikir sejenak, Lestari memutuskan untuk membeli sedikit kain dengan tabungannya. Dia pulang dengan perasaan harap-harap cemas, membayangkan apa yang bisa dia buat dengan kain itu.

Malam itu, Lestari duduk di meja makan, menjahit dengan hati-hati. Dia ingin membuat dress yang cantik untuk Arini sebagai hadiah. Ketika Arini masuk ke dapur, dia melihat Lestari berkonsentrasi dengan jarum dan benang.

“Bu Lestari, kamu lagi buat apa?” Arini bertanya, sedikit penasaran.

“Ini, Nak. Saya sedang membuat dress untuk kamu. Semoga kamu suka,” Lestari menjawab sambil tersenyum.

“Wow, terima kasih, Bu! Pasti cantik,” kata Arini dengan semangat.

Melihat senyuman Arini, hati Lestari terasa hangat. Dia berharap dapat memberikan kebahagiaan meskipun hanya dengan hal kecil seperti ini.

Namun, saat malam semakin larut, ketakutan kembali menggelayuti pikiran Lestari. Dia merasa semakin terjepit antara impian dan realitas yang keras.

Suatu hari, Ibu Mutiara pulang lebih awal dari biasanya. Dia melihat Lestari sedang menjahit di ruang tamu.

“Bu Lestari, apa yang kamu lakukan?” Ibu Mutiara bertanya dengan nada curiga.

“Saya hanya menjahit pakaian, Bu,” jawab Lestari, berusaha tenang.

“Jangan sampai majikanmu marah karena kamu tidak melakukan pekerjaanmu dengan baik,” Ibu Mutiara mengingatkan, suara dinginnya terasa menekan.

Lestari merasa hatinya berat. “Bu, saya juga ingin melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri. Saya ingin belajar.”

“Belajar? Untuk apa? Kamu di sini untuk bekerja, bukan untuk bermimpi,” Ibu Mutiara membentak, matanya tajam menatap Lestari.

Kata-kata itu seperti sebuah tamparan. Lestari terdiam, hatinya hancur. “Saya hanya berharap, Bu. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya.”

Ibu Mutiara tidak menjawab. Dia hanya pergi meninggalkan Lestari yang berdiri kaku di tempatnya, terbayang semua pengorbanan dan impiannya yang seolah sirna.

Malam itu, saat Lestari terbaring di tempat tidurnya, dia mendengar suara air mata menetes. Tidak ada yang melihat, tidak ada yang mendengar—hanya gelap dan sepi yang menyelimuti harapannya.

“Tuhan, jika ini adalah jalan hidupku, beri aku kekuatan,” bisiknya, menghapus air matanya dengan telapak tangan.

Keesokan harinya, ketika Lestari bangun, dia menemukan sebuah surat di meja makan. Surat itu dari Arini.

“Bu Lestari, terima kasih sudah membuatkan dress untukku. Kamu benar-benar baik. Semoga kamu bisa mencapai impianmu. Jangan menyerah!” tulis Arini.

Lestari membaca surat itu berulang kali, dan hatinya dipenuhi harapan baru. Dia merasa, jika satu orang percaya padanya, mungkin masih ada jalan untuk meraih impian.

Malam-malam berikutnya, Lestari semakin bersemangat. Dia terus menjahit dan menyimpan hasil kerjanya, hingga akhirnya berhasil membuat beberapa pakaian sederhana. Dengan bantuan Rina, dia mulai berencana menjualnya di pasar.

“Bu Lestari, ini adalah langkah yang bagus! Kita bisa mulai dari yang kecil, lalu perlahan-lahan membangun,” kata Rina dengan semangat.

Lestari mengangguk, meskipun ketakutan masih menghantui. “Tapi bagaimana jika majikan tahu? Apa yang akan mereka katakan?”

“Kita harus berani, Bu. Ini untuk masa depan kita dan keluarga kita,” jawab Rina, memegang tangan Lestari dengan lembut.

Di hari penjualan pertamanya, Lestari merasakan campuran antara kegembiraan dan ketakutan. Dengan bantuan Rina, mereka menjajakan pakaian di pasar kecil. Ketika orang-orang mulai melihat dan membeli, senyuman tak bisa terelakkan dari wajah Lestari.

“Bu, ini luar biasa! Kamu harus terus melakukannya!” Rina berkata, gembira melihat reaksi positif pembeli.

Satu minggu berlalu, dan Lestari mulai mendapatkan pelanggan tetap. Dia merasakan perubahannya—bukan hanya dalam keuangannya, tetapi juga dalam rasa percaya diri yang tumbuh.

Namun, semua itu tidak berjalan mulus. Suatu hari, saat dia kembali ke rumah, Ibu Mutiara menunggunya di depan pintu dengan ekspresi marah.

“Bu Lestari! Apa ini yang kamu lakukan? Menjual pakaian di pasar? Kamu melanggar peraturan!” teriak Ibu Mutiara.

Lestari merasakan jantungnya berdebar. “Bu, saya hanya ingin mencoba sesuatu yang baru. Ini untuk keluarga saya.”

“Untuk keluarga? Tapi kamu malah mengabaikan tugasmu di sini!” Ibu Mutiara berteriak lagi. “Jangan berpikir kamu bisa melakukan semua ini tanpa konsekuensi.”

Lestari merasa tertekan. “Tapi Bu, saya juga manusia! Saya ingin bermimpi, ingin punya kehidupan yang lebih baik!”

“Impianmu bukan urusan saya. Fokus saja pada pekerjaanmu, dan ingat tempatmu!” Ibu Mutiara menjawab, membalikkan badan pergi dengan kesal.

Setelah kejadian itu, Lestari merasakan tekanan yang luar biasa. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Namun, semakin dia mendengar suara hatinya, semakin dia yakin bahwa dia tidak bisa menyerah.

“Rina, saya harus melanjutkan ini. Ini adalah satu-satunya harapan saya,” kata Lestari, ketika mereka bertemu di pasar.

“Benar, Bu. Ini adalah hakmu untuk bermimpi dan berjuang,” Rina menjawab penuh keyakinan.

Dengan semangat baru, Lestari terus menjalani hidupnya. Dia berusaha membagi waktu antara pekerjaan rumah dan usaha menjahitnya. Meskipun sering merasa lelah, dia tidak pernah berhenti berusaha.

Suatu malam, setelah seharian bekerja, Lestari melihat langit Jakarta yang berbintang. Dia merenung, berharap agar semua usahanya tidak sia-sia.

“Ya Tuhan, berikan saya kekuatan. Biarkan saya melihat keluarga saya mendapatkan masa depan yang lebih baik,” bisiknya dalam hati.

Malam itu, dia tertidur dengan damai, merasakan sedikit harapan yang mulai tumbuh. Mimpi-mimpinya, meskipun terhalang, perlahan mulai menemukan jalannya.

Lestari menyadari bahwa meskipun tidak semua yang bersinar adalah emas, dia masih bisa menemukan harta karun di dalam dirinya sendiri—harapan, keberanian, dan tekad untuk terus berjuang demi kehidupan yang lebih baik.

Dengan setiap jahitan, Lestari tidak hanya menjahit pakaian, tetapi juga merajut masa depan yang dia impikan, satu benang pada satu waktu. Dan meskipun dia masih terpinggirkan, dia tahu bahwa suaranya layak didengar, dan impiannya layak diperjuangkan.
Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.

0 Reviews

Contact Form

Name

Email *

Message *