Anak Jalanan yang Tak Pernah Tertolong di Tengah Hantaman Kegelapan Kota Jakarta

Anak Jalanan yang Tak Pernah Tertolong di Tengah Hantaman Kegelapan Kota Jakarta

Size
Price:

Read more

Anak Jalanan yang Tak Pernah Tertolong di Tengah Hantaman Kegelapan Kota Jakarta
Hai Sobat Kumpulan Cerpen Siti Arofah Kali ini aku mau menceritakan sebuah kisah Di bawah jembatan-jembatan kota Jakarta, terdapat anak-anak jalanan yang terlupakan dan tak pernah tertolong oleh masyarakat sekitar. Bagaimana mereka meniti mimpi-mimpi kecil mereka di tengah hantaman keras kehidupan di kota ini, dan bagaimana harapan-harapan mereka sirna di balik gemerlapnya Jakarta ?

Malam itu, Jakarta bersinar seperti biasa—dengan lampu-lampu kota yang memancar terang dan suara klakson yang tak henti-hentinya meraung di sepanjang jalan. Namun, di bawah salah satu jembatan di bilangan Slipi, ada sebuah dunia lain yang jarang dilihat orang. Dunia gelap, sunyi, dan penuh dengan kepedihan yang terbungkus dalam kehidupan anak-anak jalanan.

Di bawah jembatan itu, ada sekelompok anak yang sedang berkumpul. Mereka bukan sekadar anak-anak biasa yang bermain riang. Mereka adalah anak-anak yang terjebak di dalam lingkaran kemiskinan dan kesulitan hidup, anak-anak yang sudah akrab dengan kerasnya jalanan Jakarta. Di sana, tak ada tawa ceria seperti di taman bermain, hanya kegelisahan dan ketidakpastian.

Dodi, seorang anak berusia dua belas tahun, duduk dengan lutut ditekuk sambil memeluk tas plastik lusuh berisi beberapa pakaian usang. Pandangannya kosong, menatap jauh ke langit gelap yang tampak muram. Di sebelahnya, Sari, adik perempuannya yang berusia delapan tahun, meringkuk di atas tumpukan kardus. Tangannya yang kecil bergetar karena dinginnya malam.

"Bang, kita bakal begini terus, ya?" tanya Sari dengan suara pelan, hampir tak terdengar di tengah deru kendaraan yang melintas di atas jembatan.

Dodi menoleh, mencoba tersenyum meskipun hatinya penuh dengan rasa putus asa. "Nggak, Sar. Suatu hari nanti, kita pasti bakal punya rumah. Kita nggak akan tidur di bawah jembatan lagi."

Sari mengangguk pelan, meskipun matanya menunjukkan ketidakpercayaan. Setiap malam, mereka mendengar janji-janji dari Dodi yang selalu sama, tapi kenyataannya hidup mereka tak pernah berubah. Kegelapan kota Jakarta selalu saja menghantam mereka dengan lebih banyak tantangan. Untuk makan saja, mereka harus mengais-ngais sisa makanan dari tempat sampah atau mengharapkan belas kasihan dari orang-orang yang lewat.


Baca juga  Karena Kamu Begitu Berarti Bagiku


Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, mereka ditemani oleh beberapa anak lainnya—Rangga, si anak remaja dengan tatapan tajam yang sudah terlalu lama hidup di jalanan, dan Tio, bocah kecil yang bahkan tak ingat kapan terakhir kali dia bertemu dengan keluarganya. Mereka semua hidup bersama, saling menjaga, tetapi masing-masing tahu betul bahwa di balik solidaritas itu, mereka juga hidup dengan ketakutan akan hari esok yang tak menentu.

Rangga, yang usianya lima belas tahun tapi wajahnya sudah tampak jauh lebih tua dari anak seusianya, duduk di dekat mereka. Matanya menyipit menatap ke arah lampu-lampu jauh di jalan raya, seakan sedang memikirkan sesuatu yang berat.

"Jakarta nggak pernah peduli sama kita, Di," kata Rangga tiba-tiba, suaranya berat dan penuh kebencian yang tersembunyi. "Orang-orang di atas jembatan itu, mereka nggak tau kita ada. Buat mereka, kita cuma bayang-bayang. Cuma bagian dari jalanan yang nggak penting."

Dodi menatap Rangga sebentar, tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi, Dodi tahu Rangga benar. Kota ini memang kejam, terutama bagi mereka yang hidup di pinggirannya. Setiap hari mereka menyaksikan orang-orang berlalu-lalang dengan kehidupan yang begitu berbeda dari mereka, tanpa ada yang berhenti sejenak untuk memikirkan keberadaan mereka.

"Jadi, kita harus gimana, Rang?" tanya Dodi, suaranya rendah namun penuh dengan ketidakpastian.

Rangga mengangkat bahunya. "Gue nggak tau, Di. Gue sendiri udah capek berharap. Gue cuma... jalanin aja. Kadang gue mikir, mungkin kita emang nggak pernah bakal keluar dari sini. Mungkin takdir kita emang hidup di jalanan ini."

Perkataan Rangga membuat suasana semakin suram. Bayangan-bayangan mimpi yang dulu sempat mereka bangun perlahan-lahan runtuh di bawah kenyataan hidup yang keras. Tapi, meski begitu, Dodi masih mencoba mempertahankan secuil harapan yang ia miliki, terutama demi Sari.

"Dulu, gue pernah denger cerita dari seorang bapak tua yang gue temuin di pasar," kata Dodi, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Katanya, kalau kita kerja keras dan nggak nyerah, pasti ada jalan. Dia bilang, nggak peduli seberapa sulit hidup kita, kalau kita terus berusaha, kita bisa dapat apa yang kita inginkan."

Rangga mendengus. "Cerita itu buat orang-orang yang masih punya pilihan, Di. Buat kita, nggak ada pilihan. Kita cuma bertahan hidup dari hari ke hari. Pagi ke pagi."

Tio, yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba berbicara dengan suara kecilnya. "Kalian pernah mimpi nggak, bisa punya rumah sendiri?"

Sari, yang tadinya meringkuk dalam diam, menatap Tio. "Iya, Tio. Aku sering mimpi punya rumah, yang ada kamarnya. Ada tempat tidur empuk, ada dapur buat masak makanan enak..."

Dodi tersenyum lemah mendengar adiknya berbicara tentang mimpi-mimpinya. Ia tahu, dalam hati, Sari masih memelihara harapan kecil meskipun hidup begitu sulit.

"Aku juga pernah mimpi," lanjut Tio, matanya menerawang ke atas jembatan. "Mimpi tinggal di rumah gede. Ada halaman luas. Kita bisa main bola bareng. Dan nggak ada yang harus tidur di jalan lagi."


Baca juga Pencarian Jati Diri di Tengah Kekacauan Kota

 
Malam semakin dingin, dan suara kendaraan semakin berkurang. Namun, di bawah jembatan itu, mimpi-mimpi yang diucapkan dengan suara pelan terdengar nyaring di antara mereka. Meskipun hidup mengajarkan mereka bahwa mimpi-mimpi itu mungkin tak akan pernah menjadi kenyataan, ada sesuatu dalam diri anak-anak itu yang membuat mereka tetap berani bermimpi. Karena di tengah gelapnya kehidupan, kadang mimpi adalah satu-satunya cahaya yang tersisa.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang pria paruh baya, mengenakan jaket lusuh, menghampiri mereka dengan kantong plastik di tangan. Pria itu dikenal sebagai Pak Anton, salah satu dari sedikit orang yang peduli dengan anak-anak jalanan ini. Dia biasa datang di malam hari, membawa makanan seadanya yang ia kumpulkan dari sumbangan.

"Anak-anak, ini ada sedikit makanan," katanya sambil menyerahkan plastik itu kepada Rangga. "Maaf nggak banyak, tapi setidaknya bisa buat kalian sampai pagi."

Dodi dan yang lainnya segera membuka kantong itu. Ada beberapa bungkus nasi bungkus dan air mineral. Bagi mereka, itu sudah lebih dari cukup.

"Terima kasih, Pak Anton," ujar Dodi dengan senyum lelah di wajahnya. "Bapak selalu datang pas kita butuh."

Pak Anton tersenyum samar. "Kalian yang kuat, Dodi. Aku hanya bantu sedikit. Tapi ingat, kalian harus tetap berusaha. Dunia ini keras, tapi selama kalian tetap bertahan, ada harapan di sana."

Rangga hanya mengangguk, tapi di matanya terlihat kilatan kelelahan yang begitu dalam. Mungkin harapan itu masih ada, tetapi entah sampai kapan mereka bisa terus bertahan. Di bawah jembatan yang gelap, mimpi-mimpi mereka terus bertahan—meskipun dunia di atas mereka seolah tak pernah melihat, tak pernah peduli.

Dan begitu malam semakin larut, mereka makan bersama dalam hening, dengan hati yang lelah namun masih dipenuhi dengan secuil harapan yang tak pernah padam. Di tengah kerasnya Jakarta, di bawah jembatan yang terlupakan, anak-anak ini meniti mimpi mereka—meskipun mimpi itu sering kali terasa tak terjangkau. 

Setelah makanan di tangan mereka habis, keheningan kembali menyelimuti anak-anak itu. Dodi, Sari, Rangga, dan Tio duduk bersandar pada pilar jembatan yang dingin. Suara deras kendaraan di atas jembatan seakan menjadi latar belakang rutin, mengingatkan mereka bahwa di atas sana, orang-orang masih sibuk menjalani kehidupan mereka—berjalan, tertawa, berbicara, tanpa pernah menyadari dunia yang tersembunyi di bawah kaki mereka.

Pak Anton, yang melihat kelelahan di wajah anak-anak itu, duduk sebentar di samping Dodi. Dia sudah lama mengikuti kehidupan mereka, mencoba membantu dengan sedikit yang dia bisa, tapi dalam hatinya, dia selalu merasa belum cukup.

"Dodi, kalian semua kuat, Nak," ucap Pak Anton, suaranya lembut namun penuh dengan keprihatinan. "Tapi apakah kamu nggak pernah kepikiran buat coba cari tempat tinggal yang lebih baik? Mungkin panti atau... tempat penampungan?"

Dodi menggeleng, matanya tetap menatap jauh ke arah gelapnya malam. "Pernah, Pak. Tapi setiap kali kami coba ke sana, selalu penuh, atau... nggak aman. Banyak dari kami yang udah pernah coba, tapi akhirnya balik ke jalan lagi. Di sini, meski keras, kita masih punya kendali atas hidup kita."

Pak Anton mengangguk pelan. Dia tahu betul apa yang Dodi maksud. Panti-panti penampungan sering kali tak mampu menampung semua anak jalanan yang ada. Dan meski begitu, tak semua panti memiliki lingkungan yang sehat untuk tumbuh. Jalanan, sekeras apa pun, setidaknya memberi mereka kebebasan yang sedikit—meskipun kebebasan itu datang dengan harga yang mahal.

"Apa kamu pernah berpikir untuk kembali ke keluarga, Di?" tanya Pak Anton lagi, nadanya hati-hati. "Mungkin ada saudara atau orang tua yang masih bisa bantu."

Dodi terdiam sejenak, wajahnya yang tadinya datar kini berubah suram. Dia menggeleng pelan, namun kali ini lebih penuh rasa sakit. "Nggak ada, Pak. Semua udah nggak ada. Ayah meninggal, Ibu juga udah lama sakit-sakitan. Akhirnya aku bawa Sari ke sini... daripada kita kelaparan di rumah yang sudah roboh. Keluarga? Udah nggak ada lagi buat kita."

Mendengar itu, Pak Anton hanya bisa terdiam. Cerita seperti ini sudah sering ia dengar dari anak-anak jalanan lainnya. Kehilangan keluarga, atau malah dikhianati oleh orang terdekat, membuat mereka terdampar di jalanan yang tak mengenal belas kasih. Di balik wajah polos mereka, tersimpan luka yang tak terlihat oleh dunia luar.

Rangga, yang sedari tadi ikut mendengarkan, akhirnya angkat bicara. "Di sini... kita cuma bisa andelin diri sendiri, Pak. Nggak ada yang bakal nolongin kita. Panti, pemerintah, orang-orang di luar sana... semua cuma ngasih harapan kosong. Mending gue di jalanan, setidaknya gue ngerti cara bertahan hidup."

Dodi hanya mengangguk. Ia tahu betapa benarnya kata-kata Rangga. Jalanan mengajarkan mereka lebih banyak tentang hidup dibandingkan siapa pun. Tapi meski mereka bisa bertahan di sini, Dodi tak bisa menghilangkan rasa bersalah dalam dirinya, terutama setiap kali dia melihat Sari tertidur di atas kardus yang dingin.

Pak Anton menarik napas panjang, lalu menepuk bahu Dodi. "Aku paham. Hidup nggak mudah buat kalian. Tapi jangan pernah berhenti bermimpi, ya, Nak. Jangan biarkan dunia ini mencuri mimpimu. Setiap orang, nggak peduli seberapa sulit hidupnya, punya hak untuk bermimpi."

Dodi menatap Pak Anton, mencoba mencari kekuatan dari kata-kata itu. Dalam hatinya, ia tahu bahwa mimpinya tak pernah mati, hanya saja dunia ini terlalu keras untuk mewujudkannya. Tetapi demi Sari, ia harus tetap menjaga harapan itu, meskipun hanya sebesar bara api kecil di dalam hatinya.

Sari, yang tertidur di sampingnya, tiba-tiba menggeliat dalam tidurnya. Dodi mengusap kepala adiknya dengan lembut, berusaha memberikan kehangatan yang tak mampu ia berikan dengan materi.

"Kamu masih kecil, Sari," bisik Dodi pelan. "Kamu harus terus bermimpi. Aku janji, kita bakal keluar dari sini suatu hari nanti."

Pak Anton bangkit, menyadari bahwa malam sudah semakin larut. "Baiklah, anak-anak. Aku harus pergi sekarang. Jaga diri kalian, ya. Kalau butuh sesuatu, kalian tau di mana cari aku."

"Terima kasih, Pak Anton," kata Dodi sambil tersenyum tipis. "Kami selalu senang Bapak datang."

Pak Anton melambaikan tangan dan berjalan pergi, meninggalkan anak-anak itu di bawah jembatan yang semakin sunyi. Meski langit Jakarta dipenuhi dengan bintang-bintang kecil, bagi anak-anak ini, kegelapan tetap mengelilingi mereka.

Setelah Pak Anton pergi, Rangga kembali memecah keheningan. "Dia orang baik, tapi kita nggak bisa terus ngarepin orang kayak dia, Di. Hidup kita ya di tangan kita sendiri."

Dodi mengangguk. "Iya, gue tau. Tapi gimana caranya kita keluar dari sini, Rang? Gue udah mikirin segala macam cara, tapi selalu mentok."

Rangga menatap langit sebentar, seolah sedang mencari jawaban yang tersembunyi di antara bintang-bintang. "Gue nggak tau, Di. Mungkin kita nggak bakal pernah keluar. Mungkin ini nasib kita."

Dodi terdiam. Kata-kata Rangga menyentuh sisi terdalam dari ketakutannya sendiri. Tapi di balik ketakutan itu, ada sesuatu yang masih menyala—sebuah keyakinan bahwa nasib mereka bisa berubah. Mungkin bukan besok, mungkin bukan tahun depan, tapi suatu hari nanti.

Sari tiba-tiba bergerak, matanya sedikit terbuka. "Bang... kita udah di rumah belum?" tanyanya setengah mengigau.

Dodi tersenyum lemah, membelai rambut adiknya. "Belum, Sar. Tapi kita bakal sampai di rumah suatu hari nanti."

Sari kembali tertidur, dengan mimpi-mimpi kecilnya yang entah apa isinya. Dan di bawah jembatan yang gelap, di tengah kerasnya Jakarta, anak-anak ini tetap berusaha meniti mimpi mereka—mimpi yang mungkin tampak tak terjangkau, tapi yang terus memberikan secercah cahaya di tengah kegelapan hidup mereka.

Jakarta mungkin penuh dengan gemerlap cahaya, namun bagi anak-anak ini, kota itu hanya menyisakan bayang-bayang. Mereka, yang hidup di bawah jembatan, adalah bagian dari cerita yang tak pernah diceritakan, anak-anak yang bermimpi di tengah kegelapan, berharap suatu hari nanti cahaya itu akan mencapai mereka. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.

0 Reviews

Contact Form

Name

Email *

Message *