Read more
Damia adalah seorang pria yang penuh cinta dan pengertian. Ia menikahi Sari, wanita yang dicintainya sejak masa kuliah. Keduanya menjalani hidup yang bahagia, tetapi satu tahun setelah menikah, mereka menyadari ada sesuatu yang mengganjal dalam kebahagiaan mereka—Sari tidak bisa memberikan keturunan.
Damia dan Sari memiliki hubungan yang kuat. Mereka sering berbagi impian dan tawa. Suatu malam, saat mereka berdua duduk di balkon rumah mereka yang kecil, Damia berbisik, “Sari, aku sangat beruntung memilikimu. Hidup bersamamu seperti mimpi yang menjadi kenyataan.”
Sari tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Damia. “Aku juga merasa begitu, Dam. Kau adalah segalanya bagiku.”
Namun, di dalam hati Sari, ada kegundahan yang semakin mendalam. Ia tahu bahwa meskipun cinta mereka kuat, ada sesuatu yang mungkin menjadi penghalang di masa depan.
Setelah satu tahun pernikahan, Sari merasa waktu semakin mendesak. Mereka berdua mulai merencanakan untuk memiliki anak, tetapi setelah beberapa kali usaha, tidak ada hasil. Sari merasa tertekan dan berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya kepada Damia.
Suatu malam, setelah pulang dari dokter, Sari duduk di meja makan. “Dam, aku ingin bicara,” katanya dengan suara rendah.
“Tentang apa, sayang?” tanya Damia, merasakan ketegangan di udara.
Sari menatapnya, lalu mengalihkan pandangannya ke meja. “Aku… aku tidak bisa memberimu keturunan.”
Damia tertegun. “Apa maksudmu? Kita baru mencoba beberapa kali. Mungkin kita perlu lebih banyak waktu.”
“Tidak, Dam. Aku sudah menjalani pemeriksaan. Dokter mengatakan bahwa aku tidak bisa hamil,” Sari mengungkapkan, air mata mengalir di pipinya.
Damia merasa seperti dunia di sekelilingnya runtuh. “Tapi… ada cara lain, kan? Kita bisa mencoba inseminasi buatan atau adopsi,” katanya, berusaha tetap optimis.
“Saya tidak tahu apakah saya bisa melakukannya, Dam. Rasanya semua ini salahku. Kau layak mendapatkan anak,” jawab Sari, suaranya bergetar.
“Sayang, ini bukan kesalahanmu. Kita akan melalui ini bersama. Cintaku padamu tidak bergantung pada hal itu,” Damia mencoba meyakinkannya, tetapi hatinya terasa berat.
Baca juga Pencarian Jati Diri di Tengah Kekacauan Kota
Beberapa minggu kemudian, ketegangan antara mereka semakin terasa. Sari mulai merasa terasing, dan Damia merasakan kekhawatiran yang mendalam. Suatu malam, mereka duduk di sofa, dan Damia memutuskan untuk berbicara.
“Sari, kita perlu membahas ini. Aku tidak ingin kau merasa sendirian,” ujarnya, suaranya lembut.
“Aku merasa seperti aku telah mengecewakanmu, Dam. Semua impian kita tentang memiliki anak… semuanya hancur,” Sari mengungkapkan, air mata mengalir.
“Tidak ada yang hancur. Kita masih bisa memiliki keluarga dengan cara lain. Aku mencintaimu, dan itu tidak akan pernah berubah,” Damia menjawab, berusaha menahan emosinya.
“Tapi bagaimana jika suatu hari kau tidak bisa mencintaiku lagi? Bagaimana jika kau ingin anak dan aku tidak bisa memberikannya?” Sari bertanya, suaranya penuh ketakutan.
Damia merasakan betapa dalamnya ketakutan Sari. “Sari, cintaku padamu lebih dalam dari sekadar memiliki anak. Kita bisa menemukan jalan lain. Kita bisa melakukan apapun bersama.”
Tetapi Sari tetap merasa terjebak dalam kesedihan dan kehilangan. “Dam, aku ingin anak, tetapi aku juga ingin kau bahagia. Mungkin kita harus mempertimbangkan untuk berpisah.”
Damia terkejut. “Berpisah? Kenapa kau memikirkan itu? Kita sudah melalui banyak hal bersama. Ini bukan akhir.”
“Aku tidak ingin menghalangi kebahagiaanmu. Kau layak mendapatkan semua itu,” Sari berkata, suaranya penuh harap.
Malam berikutnya, Damia merencanakan sebuah kejutan untuk Sari—makan malam romantis di rumah. Ia berharap bisa menghibur istrinya dan mengingatkan betapa berartinya mereka satu sama lain. Saat Sari tiba, suasana telah dihiasi lilin dan bunga.
“Dam, ini luar biasa,” kata Sari, matanya berbinar.
“Semua ini untuk kita. Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu dan tidak ada yang bisa mengubah itu,” Damia berkata, meraih tangan Sari.
“Aku hanya merasa hancur. Apa yang bisa kita lakukan?” Sari mengungkapkan, air mata mengalir lagi.
“Kita bisa mencari bantuan. Mungkin terapi atau berkonsultasi dengan orang lain yang mengalami hal serupa,” Damia menawarkan, berusaha menunjukkan bahwa ada harapan.
Setelah beberapa minggu, mereka mulai menghadiri sesi konseling. Di sana, mereka belajar untuk berbagi perasaan dan saling mendukung. Sari mulai merasa sedikit lebih baik, tetapi ketakutannya masih ada.
Suatu malam, setelah sesi, Sari berkata, “Dam, terima kasih sudah bersamaku dalam semua ini. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melalui ini tanpa kamu.”
“Kita adalah tim, Sari. Cinta kita lebih kuat daripada rintangan apa pun,” jawab Damia dengan penuh keyakinan.
Seiring waktu, Sari mulai mempertimbangkan opsi untuk adopsi. Ia tahu bahwa meskipun tidak bisa melahirkan, mereka masih bisa menjadi orangtua. Suatu malam, Sari mengajak Damia berbicara.
“Dam, bagaimana jika kita mencoba mengadopsi? Aku merasa itu bisa memberi kita kesempatan untuk membangun keluarga,” kata Sari, matanya penuh harapan.
Damia tersenyum lebar. “Itu ide yang luar biasa! Aku selalu ingin memiliki keluarga yang penuh kasih, dan jika kita bisa memberikan rumah bagi seorang anak, itu akan menjadi hal yang indah.”
Mereka mulai proses adopsi dan merasakan semangat baru dalam hubungan mereka. Damia dan Sari berkomitmen untuk saling mendukung dan membangun masa depan bersama. Akhirnya, setelah berbulan-bulan menunggu, mereka mendapatkan kabar bahwa mereka telah diterima untuk mengadopsi seorang anak.
Pada malam pengambilan anak, Damia dan Sari berdiri di depan pintu, merasakan campur aduk antara kegembiraan dan ketegangan. Ketika anak itu masuk, mereka berdua merasa seolah dunia mereka terisi dengan cinta baru.
“Selamat datang di rumah kita, sayang,” kata Damia, menggendong anak itu dengan penuh kasih.
Sari menatap Damia dan anak itu dengan mata berkaca-kaca. “Kita akhirnya punya keluarga, Dam. Ini adalah awal yang baru.”
Setelah semua yang mereka lalui, Damia dan Sari belajar bahwa cinta sejati tidak terukur dari kemampuan untuk memiliki keturunan. Mereka menemukan bahwa keluarga bisa diciptakan dalam banyak cara, dan cinta yang tulus dapat mengatasi segala rintangan. Dengan anak di pelukan mereka, Damia dan Sari siap menjalani babak baru dalam hidup, penuh dengan harapan, cinta, dan kebahagiaan yang baru ditemukan.
Setelah proses adopsi yang penuh emosi, Damia dan Sari merasa seolah dunia mereka baru saja dibuka untuk petualangan yang luar biasa. Mereka diberi kesempatan untuk membesarkan seorang anak, dan cinta mereka semakin dalam.
Hari pertama mereka bersama anak mereka, yang mereka beri nama Aira, adalah momen yang tak terlupakan. Aira, seorang balita berusia dua tahun dengan mata besar dan senyuman ceria, mengubah rumah mereka menjadi lebih hidup.
Saat Aira berlarian di dalam rumah, Damia dan Sari saling bertukar pandang. “Lihat betapa bahagianya dia,” kata Damia, tersenyum.
“Aku tidak bisa percaya kita akhirnya memiliki keluarga. Terima kasih telah bersamaku dalam perjalanan ini, Dam,” jawab Sari, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.
Baca juga Jejak Penyesalan Dinda
Mereka mulai membangun rutinitas baru. Setiap pagi, Damia membuatkan sarapan sambil Sari menyiapkan Aira untuk hari itu. Mereka tertawa ketika Aira mencoba menyantap pancake dengan cara yang konyol, mengotori wajahnya dengan selai cokelat.
“Coba lihat dirimu, Aira! Kau seperti monster cokelat!” kata Damia sambil tertawa.
“Aku suka monster cokelat!” balas Aira, membuat Sari dan Damia tertawa lebih keras.
Namun, tidak semua hari berjalan mulus. Kadang-kadang, Sari merasa terbebani dengan tanggung jawab sebagai ibu. Ia mulai merasa ketakutan dan keraguan tentang kemampuannya dalam mendidik Aira.
Suatu malam, setelah Aira tidur, Sari duduk di sofa, wajahnya tampak lelah. Damia menyadari dan mendekatinya. “Sari, kau baik-baik saja?”
Sari menghela napas dalam-dalam. “Aku hanya… merasa khawatir. Apakah aku cukup baik untuk menjadi ibunya? Bagaimana jika aku membuat kesalahan?”
Damia duduk di sampingnya, meraih tangannya. “Sari, tidak ada ibu yang sempurna. Kita semua belajar seiring berjalan. Yang penting adalah kita mencintainya dan memberikan yang terbaik.”
“Aku ingin Aira tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta dan dukungan. Kadang-kadang, aku takut aku tidak bisa memberinya itu,” Sari mengungkapkan, suara penuh keraguan.
“Kau tidak sendirian dalam ini. Kita akan melewati semua ini bersama. Kita adalah tim, ingat?” Damia berkata, matanya penuh keyakinan.
Beberapa bulan berlalu, Damia dan Sari belajar banyak hal dari Aira. Mereka menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, seperti mendengarkan Aira bernyanyi di kamar mandi atau melihatnya bermain dengan teman-teman di taman.
Suatu hari, ketika mereka mengajak Aira bermain di taman, Damia melihat Sari duduk di bangku, memandangi Aira dengan senyum penuh kasih. “Sari, lihat betapa bahagianya dia,” kata Damia sambil menatap Aira.
“Iya, dia sangat ceria. Sepertinya dia mengisi kekosongan yang ada dalam hidup kita,” jawab Sari, merasa beruntung.
“Dan ingat, kita memberinya cinta yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Kita memberi makna baru dalam hidupnya,” Damia menambahkan.
Namun, dalam momen-momen bahagia itu, kenangan akan masa lalu kadang muncul kembali. Sari masih merasa ada rasa bersalah karena tidak bisa memberikan keturunan. Suatu malam, setelah Aira tidur, Sari mengungkapkan perasaannya kepada Damia.
“Dam, terkadang aku masih merasa sedih. Mungkin kita tidak akan pernah memiliki anak biologis kita sendiri,” katanya, suara bergetar.
“Sayang, itu bukan yang terpenting. Kita sudah membuktikan bahwa kita bisa mencintai Aira sepenuh hati. Dia adalah anak kita, tidak peduli bagaimana dia datang kepada kita,” Damia menjawab dengan tegas.
Tetapi seiring waktu, tantangan baru muncul. Sari mulai merasa tekanan dari keluarga dan masyarakat. Mereka sering mempertanyakan keputusan Sari dan Damia untuk mengadopsi. Beberapa orang bahkan berkomentar bahwa mereka seharusnya mencoba lagi untuk memiliki anak sendiri.
Suatu sore, setelah mendapat komentar yang menyakitkan dari seorang kerabat, Sari pulang dengan air mata di pipinya. “Dam, aku merasa sangat lelah. Kenapa orang-orang tidak mengerti? Kita sudah berusaha, dan Aira adalah anak kita,” ungkapnya, suaranya penuh frustrasi.
Damia memeluknya erat. “Sayang, orang lain tidak perlu memahami perjalanan kita. Yang terpenting adalah kita tahu apa yang kita lakukan adalah yang terbaik untuk kita dan Aira. Cinta kita tidak akan pernah kurang hanya karena pendapat orang lain.”
Seiring berjalannya waktu, Damia dan Sari belajar untuk tidak peduli pada pendapat orang lain. Mereka berusaha untuk lebih fokus pada keluarga mereka dan membangun ikatan yang lebih kuat.
Pada satu malam, mereka memutuskan untuk mengadakan malam keluarga. Mereka menyiapkan makanan favorit Aira dan bermain permainan bersama. Tawa dan kebahagiaan mengisi rumah, membuat semua keraguan terasa jauh.
“Dam, aku merasa sangat bahagia saat melihat Aira tertawa. Ini semua yang aku inginkan,” kata Sari dengan senyuman.
“Aku juga, sayang. Kita telah melewati banyak hal, tetapi kita berdiri bersama, dan itu yang terpenting,” jawab Damia.
Setelah setahun bersama Aira, Damia dan Sari memutuskan untuk mengajukan permohonan adopsi lagi. Mereka ingin memberikan Aira seorang saudara. Proses itu tidak mudah, tetapi cinta mereka menguatkan mereka.
Saat mereka mengisi dokumen, Sari merasa lebih percaya diri. “Dam, aku tidak sabar untuk melihat Aira memiliki saudara. Kita bisa membangun keluarga yang lebih besar,” katanya bersemangat.
“Betul! Kita akan memberi Aira cinta dan kebahagiaan yang lebih banyak. Dan kita akan melakukannya bersama, seperti selalu,” jawab Damia, tersenyum lebar.
Dengan semangat baru dan harapan yang berapi-api, Damia dan Sari terus melangkah maju, siap untuk menghadapi tantangan baru dalam perjalanan keluarga mereka. Mereka tahu bahwa cinta yang mereka miliki adalah dasar yang kuat, dan dengan dukungan satu sama lain, mereka akan mampu menciptakan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan dan cinta, tidak peduli bagaimana bentuk keluarga itu nantinya.
Dengan setiap langkah, Damia dan Sari semakin menyadari bahwa cinta sejati bukan hanya tentang memiliki keturunan, tetapi tentang membangun kehidupan yang penuh kasih dan kebersamaan, dan itulah yang membuat mereka kuat. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.



0 Reviews
Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....