Read more
Monica telah menjalin hubungan dengan Irda selama lima tahun. Mereka bertemu di kampus dan langsung merasakan ketertarikan yang kuat. Awalnya, hubungan mereka penuh dengan cinta dan kebahagiaan. Namun, seiring berjalannya waktu, Monica mulai merasa ada yang hilang—harapan akan pernikahan yang tidak kunjung datang.
Setiap kali Monica melihat teman-temannya menikah, hatinya terasa semakin berat. Ia sering membayangkan hari bahagianya, mengenakan gaun pengantin yang cantik dan dikelilingi oleh orang-orang terkasih. Namun, Irda tampaknya belum siap untuk melangkah ke tahap itu. Monica mulai merasa terjebak dalam sebuah hubungan yang stagnan.
Suatu malam, setelah seharian bekerja, Monica duduk di sofa dengan tatapan kosong. Irda, yang baru pulang dari kantornya, menyadari suasana hati Monica. “Mon, kau kenapa? Sepertinya kau tidak dalam mood yang baik,” tanya Irda, duduk di sampingnya.
“Entahlah, Irda. Aku hanya merasa kita sudah bersama cukup lama, dan kita tidak pernah membahas masa depan,” jawab Monica, suaranya penuh harap.
Irda menghela napas. “Kita sudah berbicara tentang ini, kan? Aku ingin bersamamu, tapi banyak hal yang harus aku pikirkan. Aku perlu mempersiapkan semuanya dengan baik.”
Monica mengangguk, tetapi rasa kecewa tetap menggelayuti hatinya. “Tapi, apakah kau benar-benar melihat masa depan dengan aku? Kenapa kita tidak bisa membicarakannya lebih serius?”
Keesokan harinya, Monica merasa tidak berdaya. Ia memutuskan untuk mengajak Irda berbicara lagi. Mereka bertemu di sebuah kafe, tempat yang sering mereka kunjungi. “Irda, aku ingin kita membahas hubungan kita lagi,” kata Monica, langsung mengawali percakapan.
Irda mengerutkan dahi, “Apa lagi yang ingin kau bicarakan? Kita sudah banyak membahas ini.”
“Ini bukan sekadar tentang kita, tapi tentang masa depan. Aku sudah berusaha sabar, tapi aku ingin tahu apa yang kau pikirkan,” ujar Monica, mencoba menahan emosi.
“Mon, aku mencintaimu. Tapi aku juga ingin memastikan kita siap sebelum mengambil langkah besar,” jawab Irda, suaranya tenang.
“Apa yang kau maksud dengan 'siap'? Kita sudah bersama selama lima tahun. Apa lagi yang kau tunggu?” Monica merasa frustrasi, suaranya mulai meninggi.
“Aku tidak ingin membuat kesalahan. Pernikahan itu bukan hal yang bisa dianggap sepele,” Irda menjelaskan, matanya tampak serius.
“Dan aku juga tidak menganggapnya sepele! Aku hanya ingin tahu apakah aku adalah bagian dari rencana hidupmu,” balas Monica, air mata mulai mengalir di pipinya.
Irda terdiam sejenak, tampak bingung. “Kau tahu aku mencintaimu, Mon. Tapi kita harus realistis. Kita masih muda, banyak yang harus kita capai.”
“Jadi, apakah itu berarti kau tidak ingin menikahiku?” Monica bertanya, nada suaranya bergetar.
“Bukan tidak ingin, aku hanya… butuh waktu,” Irda menjawab, sedikit ragu.
Monica merasa hatinya hancur. “Lima tahun, Irda. Lima tahun bukan waktu yang singkat. Aku tidak ingin menunggu selamanya.”
“Mengapa kau begitu terburu-buru?” Irda bertanya, tampak frustrasi.
“Karena aku ingin merasa pasti tentang kita. Jika kita tidak memiliki tujuan yang sama, aku takut kita akan terus terjebak dalam ketidakpastian ini,” Monica mengungkapkan.
Setelah perbincangan yang menegangkan itu, Monica merasa semakin tidak berdaya. Ia memutuskan untuk memberi Irda waktu untuk berpikir. Namun, seiring waktu berlalu, perasaannya semakin berat. Ia merasa terjebak antara cinta dan ketidakpastian.
Beberapa minggu kemudian, Monica mengajak Irda untuk bertemu di tempat yang sama. “Irda, aku ingin kita berbicara dengan serius,” katanya, suara penuh ketegangan.
“Apakah ini tentang pernikahan lagi?” Irda bertanya, tampak tidak nyaman.
“Iya. Aku sudah memikirkan semuanya. Jika kau masih ragu, mungkin kita perlu mempertimbangkan untuk berpisah,” Monica mengungkapkan, air mata mengalir di pipinya.
Irda terkejut. “Mon, jangan bilang begitu. Aku tidak ingin kehilanganmu.”
“Tapi kau juga tidak ingin berkomitmen. Aku merasa seperti aku hanya menunggu sesuatu yang tidak pasti,” jawab Monica, suaranya bergetar.
“Berikan aku waktu, Mon. Aku akan berusaha memikirkan ini,” Irda memohon, matanya penuh harap.
Monica merasakan berat di dadanya. “Berapa lama waktu yang kau butuhkan? Aku butuh kejelasan.”
Irda terdiam, seolah berjuang mencari kata-kata. “Mungkin beberapa bulan lagi?”
“Beberapa bulan? Itu hanya akan membuatku semakin bingung. Aku tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian,” Monica berkata, putus asa.
“Lalu apa yang kau inginkan?” Irda bertanya, tampak frustrasi.
“Aku ingin tahu apakah aku memiliki masa depan bersamamu. Jika tidak, aku harus melanjutkan hidupku,” jawab Monica tegas.
Baca juga Air Mata Untuk Semua Yang Telah Dilewati
Setelah pertemuan itu, Monica merasa terombang-ambing. Dia mencintai Irda, tetapi dia tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian. Setelah beberapa malam berpikir, ia memutuskan untuk memberi Irda waktu satu bulan untuk memikirkan semuanya.
Ketika satu bulan berlalu, Monica merasa tegang. Ia mengajak Irda bertemu lagi. “Irda, sudah sebulan. Apa keputusanmu?” tanya Monica dengan hati-hati.
Irda menunduk, tampak bingung. “Aku… aku tidak tahu. Aku masih merasa ragu.”
“Ragu? Jadi, itu berarti kita tidak ke mana-mana. Aku tidak bisa terus menunggu,” Monica mengungkapkan, hatinya hancur.
“Mon, aku benar-benar mencintaimu. Tapi aku juga takut membuat keputusan yang salah,” jawab Irda, wajahnya penuh penyesalan.
“Aku juga mencintaimu, tetapi aku tidak bisa terus menunggu tanpa kepastian. Mungkin kita perlu memikirkan untuk berpisah,” Monica berkata, suaranya penuh keputusasaan.
Akhirnya, setelah perdebatan yang panjang, mereka memutuskan untuk berpisah. Monica merasa berat, tetapi ia tahu bahwa ini adalah keputusan terbaik untuk dirinya. Saat mereka mengucapkan selamat tinggal, air mata mengalir di pipi Monica.
“Monica, aku sangat menyesal. Kau adalah orang yang sangat berarti bagiku,” kata Irda, suaranya bergetar.
“Aku juga menyesal, Irda. Tapi aku tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian. Semoga kau menemukan kebahagiaan,” jawab Monica, hatinya hancur.
Setelah perpisahan itu, Monica merasa kehilangan. Namun, ia tahu bahwa ia telah mengambil langkah untuk melindungi dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk fokus pada dirinya sendiri, mengejar impiannya, dan berusaha menemukan cinta yang lebih pasti di masa depan.
Beberapa bulan berlalu, Monica mulai merasakan kembali kebahagiaan dalam hidupnya. Ia menghabiskan waktu dengan teman-teman, mengejar karier, dan mengeksplorasi hal-hal baru. Dalam perjalanan ini, ia belajar banyak tentang diri sendiri dan apa yang benar-benar ia inginkan dalam hidup.
Suatu malam, saat ia sedang berkumpul dengan teman-temannya, ia bertemu dengan seorang pria baru, Daniel. Mereka terlibat dalam percakapan yang menyenangkan, dan Monica merasa ada ketertarikan di antara mereka.
“Monica, kau terlihat berbeda. Sepertinya kau bahagia,” kata temannya, tersenyum.
“Ya, aku sudah belajar untuk mencintai diri sendiri lebih dulu,” jawab Monica, merasakan semangat baru dalam hidupnya.
Saat Monica dan Daniel semakin dekat, ia mulai merasakan harapan baru. Ia sadar bahwa cinta tidak selalu datang dengan cara yang diharapkannya, tetapi ia siap untuk membuka hatinya lagi.
Melalui perjalanan yang penuh liku-liku, Monica belajar bahwa terkadang, melepaskan adalah langkah yang paling bijaksana. Ia kini memahami bahwa cinta yang tulus membutuhkan kepastian dan komitmen, dan ia tidak akan pernah meragukan nilai dirinya sendiri. Saat ia melangkah ke dalam babak baru dalam hidupnya, Monica tahu bahwa ia layak untuk mendapatkan cinta yang sejati—cinta yang tidak hanya diimpikan, tetapi juga diwujudkan.
Baca juga Cinta yang Tak Terlihat
Setelah perpisahan dengan Irda, Monica merasa seperti mengawali babak baru dalam hidupnya. Meski hatinya masih membawa luka, ia bertekad untuk tidak terjebak dalam kenangan pahit. Saat pertemuannya dengan Daniel semakin sering, Monica mulai merasakan kilau harapan baru. Daniel, seorang pria yang penuh perhatian dan humor, membuatnya merasa hidup kembali.
Suatu sore, saat mereka sedang menikmati kopi di kafe favorit Monica, Daniel bertanya, “Monica, apa yang kau cari dalam sebuah hubungan?”
Monica terdiam sejenak, merenungkan pertanyaannya. “Aku ingin seseorang yang bisa menghargai aku dan masa depanku. Setelah pengalaman sebelumnya, aku ingin kepastian.”
Daniel mengangguk, matanya penuh perhatian. “Itu wajar. Kita semua ingin merasa aman dalam hubungan. Aku juga mencari sesuatu yang serius.”
Mendengar itu, hati Monica bergetar. Dia merasakan ketertarikan yang semakin dalam. “Aku senang mendengarnya. Sepertinya kita memiliki tujuan yang sama.”
Daniel tersenyum. “Aku ingin membuatmu bahagia, Monica. Jika ada sesuatu yang mengganggumu, jangan ragu untuk berbagi.”
Namun, meski Monica berusaha melanjutkan hidupnya, kenangan tentang Irda kadang muncul kembali. Suatu malam, saat ia melihat foto-foto lama di ponselnya, Monica merasakan kesedihan yang mendalam. Ia ingat betapa indahnya saat-saat bersama Irda, tetapi juga ingat rasa kecewa yang menyertainya.
Saat bertemu Daniel keesokan harinya, Monica merasa berat. “Daniel, aku… kadang-kadang aku masih ingat Irda. Itu membuatku bingung,” ujarnya, suaranya penuh keraguan.
Daniel menatapnya dengan lembut. “Itu wajar, Monica. Setiap hubungan yang berarti pasti meninggalkan jejak. Yang penting adalah bagaimana kau menghadapinya.”
“Terima kasih, Daniel. Aku tidak ingin masa lalu menghalangiku untuk merasakan cinta lagi,” kata Monica, merasa sedikit lega.
Waktu berlalu, dan hubungan Monica dengan Daniel semakin erat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, menjelajahi tempat-tempat baru dan berbagi impian. Monica merasa bahagia, tetapi kadang-kadang keraguan muncul dalam dirinya.
Suatu malam, saat mereka berjalan-jalan di taman, Monica bertanya, “Daniel, seberapa serius kau tentang kita?”
Daniel berhenti sejenak, menatapnya dengan serius. “Aku ingin kita serius, Monica. Aku tidak ingin terburu-buru, tapi aku berharap bisa membangun masa depan bersamamu.”
Monica merasa terharu. “Aku juga ingin itu. Tapi aku perlu waktu untuk benar-benar mengizinkan diriku mencintai lagi.”
“Tidak masalah. Aku akan menunggu, seberapa lama pun itu. Yang terpenting adalah kita saling mendukung,” jawab Daniel, matanya berbinar penuh harapan.
Namun, kebahagiaan itu diuji ketika Monica tak sengaja bertemu dengan Irda di sebuah acara reuni kampus. Jantungnya berdebar saat melihat sosok yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Irda tampak lebih dewasa dan matang, tetapi Monica tidak bisa mengabaikan rasa campur aduk di dalam hatinya.
“Monica!” panggil Irda, mendekatinya. “Bagaimana kabarmu?”
“Baik, Irda. Aku… aku sudah move on,” jawab Monica, berusaha menunjukkan keyakinan.
Irda tersenyum, tetapi ada kesedihan di matanya. “Aku senang mendengarnya. Aku juga berusaha untuk melanjutkan hidup.”
Mereka berbincang sejenak, dan Monica merasakan campur aduk. Meski ia ingin melupakan masa lalu, ada rasa nostalgia yang sulit dihindari.
Setelah pertemuan itu, Monica merasa bingung. Ia merasa bersalah kepada Daniel karena sempat teringat kembali kepada Irda. Ia tahu bahwa Daniel adalah orang yang tepat, tetapi hatinya masih terikat pada kenangan yang indah dan pahit.
Di malam yang sunyi, Monica merenung. “Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus memberi Irda kesempatan lagi? Atau haruskah aku berjuang untuk cinta baru ini?”
Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk berbicara dengan Daniel. Saat mereka duduk di taman, Monica membuka hatinya. “Daniel, aku baru saja bertemu Irda lagi.”
Daniel menatapnya dengan tenang. “Dan bagaimana perasaanmu tentang itu?”
“Aku merasa campur aduk. Aku masih ingat kenangan kami, tetapi aku juga merasakan sesuatu yang kuat denganmu,” Monica mengungkapkan.
“Aku mengerti, Monica. Ini wajar. Namun, penting untuk memilih jalan yang benar-benar kau inginkan,” kata Daniel.
“Aku ingin berjuang untuk kita. Aku tidak ingin membiarkan masa lalu menghalangi kebahagiaanku saat ini,” Monica menyatakan, hatinya mantap.
Sejak perbincangan itu, Monica bertekad untuk sepenuhnya membuka hatinya kepada Daniel. Mereka mulai merencanakan masa depan bersama, membuat impian baru, dan saling mendukung dalam setiap langkah.
Monica merasa semakin yakin. Ia belajar untuk tidak membandingkan Daniel dengan Irda, karena setiap hubungan adalah unik. Daniel memberinya kepercayaan dan dukungan yang ia butuhkan.
Suatu malam, saat mereka berdua menatap bintang di langit, Daniel berkata, “Monica, aku ingin kita melakukan sesuatu yang spesial. Apakah kau mau menjelajahi dunia bersamaku?”
“Jelajahi dunia?” Monica bertanya, terkejut.
“Iya. Aku ingin kita melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang selalu kita impikan. Kita bisa menciptakan kenangan baru,” jawab Daniel, semangat.
“Aku sangat suka ide itu! Mari kita mulai merencanakannya!” Monica merasa antusias, merasakan rasa cinta yang tumbuh semakin dalam.
Ketika mereka mulai merencanakan perjalanan, Monica merasa hatinya bergetar. Ia menyadari bahwa meskipun masa lalu selalu menjadi bagian dari dirinya, ia tidak perlu membiarkannya mengendalikan masa depannya. Dengan Daniel, ia merasakan cinta yang tulus dan penuh pengertian.
Selama perjalanan mereka, Monica dan Daniel mengeksplorasi tempat-tempat baru, menikmati setiap detik kebersamaan. Monica merasa hidupnya penuh warna, dan ia semakin yakin bahwa ia telah menemukan cinta yang sejati.
Pada suatu malam di tepi pantai, saat matahari terbenam, Daniel berlutut dan mengeluarkan cincin dari sakunya. “Monica, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Mau tidak kau menikah denganku?”
Monica terkejut, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. “Ya! Ya, aku mau!” jawabnya dengan suara bergetar.
Saat Daniel memasangkan cincin di jarinya, Monica merasa bahwa semua perjalanan dan kesedihan yang pernah ia alami telah membawanya ke momen ini. Ia tahu bahwa cinta sejati datang ketika kita berani membuka hati dan percaya pada masa depan.
Dengan semangat baru, Monica dan Daniel siap melangkah ke babak baru dalam hidup mereka, membangun cinta yang penuh kepercayaan dan harapan, sekaligus menghargai perjalanan yang telah membawa mereka ke titik ini. Demikian Kumpulan Cerpen Siti Arofah kali ini semoga berkenan di hati.



0 Reviews
Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....