Kepergian yang Mengejutkan

Tuesday, August 25, 2009
Kumpulan Cerpen Siti Arofah . Suamiku tiba-tiba pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Kejadian ini begitu mengejutkan aku. Bagaimana aku tak terkejut, tak ada tanda-tanda sakit yang begitu parah pada suamiku. Ia biasa nampak sehat seperti orang sehat lainnya. Setibanya di rumah kira-kira jam sebelas malam sepulang dari bekerja, ia langsung jatuh tersungkur di lantai. Aku yang kaget melihatnya, tak kuasa hingga menjerit-jerit berharap para tetanggaku memberi bantuan.

Syukurlah, para tetanggaku langsung berdatangan, sehingga suamiku cepat dibawa menuju ke rumah sakit terdekat. Namun, Tuhan jualah yang berkehendak, Jodoh, rizki dan maut adalah rahasia Illahi, meski pertolongan telah begitu cepat kami lakukan, suamiku ternyata sudah tak bernyawa lagi ketika berada di rumah sakit.

Dokter bilang suamiku terkena penyakit jantung dan darah tinggi. Tangisku meledak tak mampu lagi kuredam lagi, menangisi kepergian suamiku untuk selama-lamanya. Anak-anak kami pun demikian, mereka saling memeluk aku dengan isak tangis. Para tetangga kami yang sebelumnya hadir menolong suamiku mencoba untuk menghibur kami. Setelah suamiku sudah dimandikan dan dikafani, suamiku diboyong ke rumah malam itu juga. Aku terkagum-kagum akan kebaikan para tetanggaku di rumah, setibanya di rumah, ternyata rumahku telah berjajar kursi-kursi yang entah datangnya dari mana aku tak mengetahuinya. Rupanya para tetanggaku bergotong royong menyiapkan ini semua. Malam itu, meski gelap bertaburan bintang dengan angin yang dingin aku menunggu jasad suamiku dengan beberapa para tetanggaku yang ikut menemaniku.

Paginya, Seluruh kerabat ku dan kerabat suamiku datang. Mereka memelukku dengan tangis yang menambah aku semakin terluka. Setelah disholatkan, akhirnya suamiku dibawa ke pemakaman. Sebuah pemakaman umum dekat rumah dimana kami tinggal. Beberapa kali Cindy, sulung kami jatuh pingsan saat mengantar ayahnya untuk dimakamkan. Aku mencoba untuk tidak menangisi kepergian suamiku, namun nyatanya sia-sia. Sungguh begitu berat cobaan yang datang dengan mengejutkan ini bagiku. Sepulangnya di rumahpun kami langsung memeluk ketiga anakku. Rasanya teramat berat jika aku harus bertahan hidup bersama ketiga anak-anakku.

Baru aku sadar jika baru beberapa hari yang lalu aku berucap pada Bu joko Tetangga dekat sebelah rumahku, " Ya.... kalo bapaknya ga' ada, gimana saya nanti ya Bu ?" Ternyata kata-kataku itu pertanda firasat dari Yang Kuasa. Baru beberapa bulan yang lalu, suamiku berpindah profesi dari supir angkot menjadi penyewa angkot. Suamiku memiliki beberapa angkot untuk disewakan. Dari situlah kami bisa hidup serba berkecukupan. Kami memiliki mobil sedan untuk kami pribadi, agar lebih leluasa dan nyaman. Rumah kamipun baru selesai direnovasi. Cukup megah bagiku, mengingat sebelumnya kami tinggal di sebuah rumah kontrakan yang hanya memiliki dua kamar. Sedang saat ini, rumah kami yang telah direnovasi ini terdiri dari empat kamar yang luas berukuran 4 x 4 meter. Taman yang ada di belakang rumah, membuat kami seolah terbuai dalam gemercik air mancur. Kamipun jadi terhipnotis untuk betah tinggal di rumah.

Meski demikian, kadang aku merasa iba, jika semua yang kami nikmati ini adalah hasil kerja keras suamiku. Suamiku memang pekerja keras yang ulet. Sudah seringkali, suamiku selalu pulang saat larut malam, di kala anak-anak telah tertidur lelap. Aku lebih baik menunggunya dengan menahan rasa kantukku yang begitu hebat demi sebuah baktiku untuk suamiku. Meski tak kala suamiku tiba, aku rela jika ia tak mau makan hidayang yang telah aku masak. Daripada menahan lapar mungkin akan menimbulkan penyakit bagi suamiku. Setiap kedatangannya, ia hanya mandi dan setelah itu minum kopi dilanjutkan pergi ke peraduan bersenang-senang denganku. "Suami yang penuh dengan tanggung jawab" , batinku.

Sama sekali aku tak pernah ikut campur dalam bisnisnya. Jangankan ikut campur, mengetahuinya saja aku tidak tahu. Yang aku tahu, suamiku selalu mempercayakan aku akan semua hasil yang telah ia geluti saat ini. Ya,... aku cuma tau uangnya saja. Inilah sisi buruknya. Hingga setelah suamiku wafat, aku sama sekali blank untuk menggantikan posisi di bisnisnya. Melihat para supir angkot yang berparas tidak begitu ramah saja membuat nyaliku turun. Ada rasa takut berhadapan dengan supir-supir itu. Tapi, biar bagaimanapun kami harus melanjutkan hidup. Aku mencoba bertahan berharap aku bisa beradaptasi menganggantikan suamiku.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....


Penulis : arofah2008@gmail.com