Teh Jahe Lemon

Sunday, February 28, 2010
Teh Lemon Jahe
Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Jahe memiliki zat yang membuat tubuh lebih segar dan lemon baik untuk mengurangi gejala flu atau tidak enak badan. Buat minuman ini saat merasa tak enak badan atau ingin menambah semangat. Berikut resepnya dan semoga bermanfaat.

Bahan:
2 kantung teh jahe
2 sdm perasan lemon (sekitar setengah buah lemon)
2 sdm madu
2 gelas air panas
Potongan lemon

Cara membuat:
1. Taruh kedua kantung teh jahe tadi di dalam mangkuk. Tambahkan perasan lemon dan madu.
2. Tuangkan air panas di atas bahan-bahan tadi dan biarkan meresap selama 10 menit. Biarkan menghangat.
3. Tuangkan teh ke dalam 2 gelas sedang berisi es batu.
4. Tambahkan potongan lemon

Read More..

Demi Sebuah Cita

Wednesday, February 24, 2010
Perpisahan ini membuat aku menjadi takut. Takut menjadi seorang diri tanpa kekasih, dan yang paling mengerikan bagiku adalah takut kehilangan kekasih. Kekasihku mengambil kuliah ke Negeri paman Sam. Sedang aku memilih untuk kuliah di Jakarta. Kedua orang tuaku tidak mengijinkan aku untuk kuliah bersama Tian, kekasihku di negeri yang katanya banyak dinanti setiap insan. Mungkin orang tuaku benar adanya, oleh karenanya aku lebih manut apa yang dikatakan oleh orang tuaku. Meski harus kutelan rasa kesendirianku ini bertahun-tahun lamanya.

Awalnya cinta kami terbilang tanpa aral melintang. Tian begitu mencintai aku. Demikian juga dengan aku. Namun kami tetap saling menjaga batas, bahwa ia masih berstatus pacarku, bukan suami. Kami saling berpacu meraih mimpi, mendapat gelar, bekerja dan setelah itu baru menikah. Aku mengenal Tian, di sebuah bimbingan belajar di Jakarta. Waktu itu, ia sering menawarkan aku untuk naik Honda Jazznya, mengingat kami sama-sama tinggal di Bekasi. Sekali dua kali aku sering mengacuhkannya. Mungkin karena Tian tak pernah lelah menawarkan padaku, lama-lama aku luluh juga. Dia memang anak baik. Buktinya di dalam mobil ia terkesan biasa-biasa saja padaku, ia hanya ikhlas mengantar aku tanpa ada pamrih sedikitpun.

Hari demi hari telah kami lalui, dan kami semakin akrab. Dua bulan kemudian, aku sudah tak canggung lagi bersamanya. Tapi belakangan Tian agak sedikit bersikap aneh. Kala berbicara dan setiap ku tatap matanya, ia tampak seperti gugup. Aku sama sekali tak memperdulikan sikap anehnya itu. Semuanya baru ku ketahui saat ia tiba-tiba saja mengajakku berbicara serius. Mobilnya yang mulanya bergerak di dalam tol, tiba-tiba merapat ke arah jalur istirahat. Di dalam mobil itu, ia katakan jika dia ingin aku sebagai kekasihnya. Aku yang sama sekali belum pernah punya pengalaman apapun tentang cinta, tiba-tiba saja aku meng-iya-kannya. Tianpun sampai terheran-heran, dia bilang, "biasanya cewek kalo ditembak suka mikir dulu, tapi kamu langsung iya". Seketika itu mukaku memerah, seakan baru menyadari kepolosanku.

Semenjak itu kami menjalin kasih. Tapi aku sama sekali tak diberi ruang waktu oleh Mama, karenanya, aku sama sekali tak bisa berlama-lama dengan Tian. Mungkin aku hanya bisa makan bareng di rumah makan cepat saji, dan itupun dengan tidak berlama-lama. Maklum, aku tak mau menyakiti hati Mama. Untungnya Tian oke-oke aja dengan aku yang seperti ini. Akupun jadi semakin sayang padanya. Ah, aku bahkan terlalu sayang padanya.

Setengah tahun sebelum lulus SMU, lagi-lagi Tian mengajakku ngobrol di pinggir tol. "Ifa, orang tuaku menyuruhku kuliah di Amerika. Itu artinya kita akan berpisah untuk sementara." ia menunduk seperti muram. Aku sama sekali tak bergeming, mulutku serasa kelu tak tau harus mengucapkan apa untuknya. Mungkin karena aku terlalu shock akan kata-kata Tian. Rupanya Tian memberiku keluasaan ruang batinku. Mobilnya melaju kembali.

Aku tau, dan aku seharusnya mau mengerti. Dengan membiarkannya pergi lepas dariku seperti sebuah tindakan bodoh yang berlalu begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Tapi, apakah aku harus merelakan kepergiannya demi meraih sebuah asa dan harapan yang bahagia nantinya ? Aku benar-benar bimbang. Antara iya dan tidak sepertinya terlihat samar-samar bagiku. "Mungkin akan lebih baik Tianlah yang memilih, aku akan pasrah, apapun pilihan Tian." hati kecilku berkata lirih.

Nyatanya Tian memang ingin melanjutkan sekolahnya ke Amerika. Aku hanya bisa pasrah tak mampu untuk melarangnya. Mungkin ini jalan yang terbaik yang telah Tuhan berikan, pikirku.

Hari keberangkatan Tian tiba. Tian berangkat bersama Mama , Papa dan kedua adiknya. Aku hanya sendiri, mengingat kedua orang tuaku belum pernah tau sedikitpun hubungan kami. Saat di bandara, aku benar-benar tak mampu menutup rasa kesedihanku. Berkali-kali air mata jatuh membasahi pipiku. Kala itu, aku ingin teriak sekuat-kuatnya, " Aku tak ingin berpisah darimu, Tian ". Tapi lagi-lagi, kata-kataku membeku terkulum dalam suara bising pesawat yang sedang take off. Saat Tian sudah ingin memasuki areal yang tak diperbolehkan oleh para pengantar, Tian menghampiriku. "Ifa, aku cinta kamu. Kamu tunggu aku ya !" kata-katanya menambah perih aku. Aku hanya menunduk, sepertinya enggan melihat mata indahnya sebagai perpisahan. Tian mencoba menghapus air mataku, " Ayo katakan Iya, kamu mau menunggu aku, Fa !". Akhirnya aku mengangguk tanpa ada sedikitpun kata untuknya. Tianpun pergi dengan senyum manisnya yang mungkin akan kuingat sebagai pengobat rindu.

Aku harus merelakan kepergian Tian, meski semuanya itu terasa pahit bagiku. Aku tak tau antara Tian ataukah aku yang dapat menjaga cinta ? Tuhanlah yang Maha berencana ! Terbayang jika aku harus menjalani hari-hariku tanpa Tian.
Read More..

Sandwich Goreng

Sunday, February 21, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
sandwich goreng

Bahan :
20 ptg roti tanpa kulit
1 kaleng kecil corned beef (kurang lebih 175 gr)
2 kuning telur
75 gr bawang bombai, cincang
1/2 sdt merica halus
1/2 sdt garam

Untuk Menggoreng :
2 putih telur
4 sdm air
3-4 sdm tepung maizena/sagu
putih telur, air, tepung maizena, sagu di aduk
75 gr wijen, cuci, jemur kering untuk pembalut
minyak goreng secukupnya

Cara Membuat :
Tumis bawang bombai dengan 2 sdm margarin sampai bening, masukkan semua bahan lain, aduk rata; angkat, dinginkan. Olesi tiap permukaan roti dengan adonan corned tebal kira-kira 1cm, tutup dengan sepotong roti, tekan supaya melekat. Potong 4 membentuk segitiga.

Celupkan tiap roti lapis pada kocokan telur, gulingkan pada wijen, goreng dengan minyak panas sampai kecokelatan

Read More..

Sebuah Nyawa untuk Ibu

Friday, February 19, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Aku benar-benar sedih. Bi Inah mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumahku. Padahal ia adalah satu-satunya temanku di rumah. Kedua orang tuaku sibuk bekerja mencari nafkah yang katanya guna memenuhi kebutuhan hidupku. Mereka berangkat dari jam enam pagi dan baru kembali ke rumah pukul 08 malam.

Bi Inah pembantu yang luar biasa bagiku. Ia begitu perhatian padaku, tidak seperti pembantu - pembantu yang lain yang kerap berbuat hal-hal yang tidak menyenangkan pada anak majikannya yang sering aku lihat pada siaran-siaran berita di televisi. Dan aku hampir menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Bi Inah sama sekali tak pernah marah, aku tahu jika ia kesal ia tumpahkan segala kemarahannya ke belakang. Dan jika sudah demikian, buru-buru aku meminta maaf padanya, lalu bi Inah memelukku sambil rambutku diusap-usapnya. Maklumlah, aku adalah seorang bocah lelaki kecil yang tengah berusia 10 tahun. Wajar saja jika aku agak sedikit nakal, disamping aku adalah anak semata wayang. Entahlah, aku belum mengetahui secara pasti mengapa ayah dan ibu belum memberiku seorang adik sebagai teman.

Aku tau, jika bi Inah teramat berat meninggalkan aku, tapi bi Inah tidak mampu memilih lagi, ia harus segera mengurusi suaminya yang tiba-tiba saja sakit keras. Sekarang, teramat susah untuk mencari pembantu yang memiliki kualitas sebaik bi Inah. Mungkin bisa saja orang tuaku mendapatkan penggantinya, tapi paling tidak mereka bertahan hanya dalam hitungan bulan. Tapi sampai hari menjelang keberangkatan bi Inah, kedua orang tuaku belum juga mendapatkan pengganti bi Inah. Bi Inahpun berangkat juga akhirnya meski dengan hati terpaksa. Berkali-kali ia memeluk dan menciumku. Akupun menangis, meraung-raung seakan tak merelakan kepulangan bi Inah.

Malam harinya, ibu menemaniku. Ibu mengharapkanku menjadi anak yang mandiri tanpa pembantu. " Semoga kita cepat mendapat pengganti bi Inah ya." Kata-katanya membuatku sakit. Bagaimana mungkin aku harus berada di rumah sendiri ? Tapi, mau tak mau, aku harus melakukannya. "Iya, bu. Aku coba dech." meski sejujurnya tak mau, tapi aku takut ibu sedih. Aku benar-benar tak ingin menyusahkannya. Aku tau, jika ibu menyayangiku. Meski sesibuk apapun dirinya, ia selalu menyempatkan waktunya buat aku. Kadang ibu mau ku ajak bermain monopoli atau ular tangga, ia juga mau melihat hasil lukisanku. Sesekali saat aku merasa takut, ibulah yang menemaniku tidur di kamar sambil membacakan buku cerita sampai aku terlelap tidur.

Sehari dua hari, aku telah terbiasa ditinggal oleh kedua orang tuaku. Menyendiri ditemani sebuah televisi 24 inch berlayar datar dengan dilengkapi home theater untuk sementara mampu melupakan kesendirian. Menunggu kehadiran kedua orang tuaku pulang dari bekerja merupakan waktu yang sangat kutunggu-tunggu. dan setelah dua minggu, tiba-tiba aku pergi kesebuah gudang. Gudang itu terletak di belakang rumahku yang terpisah dari rumah. Ku temukan sebuah kotak kayu yang telah terbasut oleh debu-debu yang sangat tebal. Aku berusaha meniup debu-debu itu, menerka apa yang ada dalam kotak itu. Terpasung sebuah tulisan "a mistery, Do not open this box". Meski aku tahu apa arti tulisan itu, aku tetap ingin membukanya. "Yess, kotak itu berhasil kubuka !" gembira sekali aku setelah berhasil membuka kotak yang membuat aku penasaran. Ternyata isinya hanya sebuah boneka. Akan tetapi, wajah boneka itu sedikit berbeda dengan layaknya boneka-boneka lainnya. Ia tampak menyeramkan. Aku seperti terhipnotid, aku membawa boneka itu menuju rumah kami.

Segera aku memasukkan boneka itu ke dalam mesin cuci. Sambil menunggunya selesai, aku menonton serial spongeBob di televisi. Selang setengah jam telah berlalu, aku meraih boneka yang telah kering dan cukup bersih. Ia ku letakkan di atas lemari belajarku.

Malamnya aku bermimpi. Boneka itu bisa berbicara padaku dalam mimpi itu. " Kamu tidak akan kesepian lagi, karena ada aku !" cuma itu yang dia katakan. Akupun terbangun, membuat rasa penasaranku kian menderu-deru. "Ah, cuma mimpi, " sergahku seolah tak percaya pada mimpi.

Anehnya, setelah aku menemukan boneka itu, beberapa teman-temanku mati dengan tubuh mengenaskan dan tanpa sebab yang jelas. Aku mulai berpikir, dan mencoba merunut apa yang telah terjadi. "mengapa teman-temanku bisa mati setelah mereka mengolok-ngolok aku ?" pertanyaan ini membuatku mabuk, sebab aku tak tau jawabannya. Akupun tertidur karenanya.

Suatu saat ibu marah padaku. Aku lupa mengunci pintu. Ibu mendapati diriku di depan televisi sedang tertidur pulas. Aku mengerti aku salah. Dan aku meminta maaf padanya. Dan malamnya, aku bermimpi. Aku melihat boneka menyeramkan itu hendak membunuh ibuku. "Hei, jangan kau bunuh ibuku !"
Boneka itu berbalik arah menuju diriku, "tapi dia telah menyakiti hatimu ".
" Jangan, biar bagaimanapun dia ibuku, aku sangat sayang padanya. "

Ibu tampak sangat ketakutan sekali. Ia jatuh tak berdaya di sebuah lantai di serambi belakang rumah kami. Dan ketika boneka itu sudah hampir mendekati ibuku, aku segera menghalau pecahan gelas yang dipegang oleh boneka itu. Pecahan gelas itu mengenai dadaku. Darah segar mengalir deras dari dadaku yang terluka. Ibuku segera memangku diriku, ia menangisi apa yang telah terjadi pada diriku. "Nak, bertahan Nak. Kuatkan dirimu." Tapi Tuhan berkata lain, darah yang mengalir rupanya tak mau berhenti. Tiba-tiba aku menghembuskan napas untuk yang terakhir kali dalam pelukan ibuku. Seketika itu ibuku berteriak keras sekali, " Anakku . . . . . . . . . !"
Read More..

Hidup Kedua Kali

Sunday, February 14, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah .Aku tergolek lemah, setelah kuminum racun baygon beberapa tenggak. Selang beberapa menit mulutku berbuih penuh busa putih. Saat itu kurasakan seperti meregang nyawa. tubuhku serasa lumpuh, tiada sedikitpun daya untuk bergerak, hanya mampu melihat yang tersisa. Air mataku mengalir begitu saja, menangisi apa yanng telah terjadi. Mungkin benang-benang penyesalan merajut dalam angan khayalku.

Tiba-tiba saja, Safa, anakku satu-satunya datang. Berkali-kali ia memanggil namaku. Aku yang tak berdaya tak mampu berucap sepatah katapun. "Mama, mama kenapa ? Bangun Ma " , teriaknya sambil menangis. Kembali mataku hanya menatap atap-atap langit yang mulai pudar terboreh oleh bocoran dari genteng-genteng rumahku.

Sepertinya aku sudah berada di depan ajal, pikirku. Kulihat Safa tampak berlari keluar. Seketika itu banyak para tetanggaku berhamburan menuju aku yang sedang terbaring lemah dengan mulut yang dipenuhi busa.Aku dilarikan ke rumah sakit. Waktu itu aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Dan tiba-tiba saat di perjalan aku tak bisa membedakan mana kehidupan nyata dan mana yang bukan. Anehnya aku bisa melihat semuanya yang berada di dalam sebuah mobil ambulance sedang menolong aku. Berapa kali kusapa mereka, tapi mereka enggan membalas sapaku. Aku baru menyadari jika mereka tak melihat keberadaanku. Di saat yang bersamaan, Aku melihat diriku sendiri yang sedang tertidur di sebuah dipan milik ambulance. Aku sempat menangis, kusadari itu jasad diriku yang sesungguhnya. Perasaan menyesal datang bertubi-tubi. Aku berusaha meraih jasadku. "Ayo bangun, ayo bangun Rita !", pintaku sambil ku coba mengayunkan jasadku, namun semua usahaku bagai sia-sia. Aku seperti sebuah bayangan semu yang tak mampu menyentuh sesuatu yang nyata.

Aku melihat Safa anakku sedang dipangku oleh Nina, tetangga sebelah rumahku. Mata Safa tampak merah sembab. Tampak air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Sesekali beberapa kata keluar dari mulutnya. Dan yang kudengar selalu kata "Mama.......... jangan tinggalkan Safa, Ma." Nina memeluknya erat-erat, seakan ia memahami hati dan ingin menenangkan Safa anakku. " Ah, maafkan aku anakku, mama terlalu bodoh melakukan hal yang tak pernah mama pikirkan dahulu. " tiba-tiba perasaan sedih tiba dalam alam pikiranku.

Ketika ambulance sudah mendekat di pintu rumah sakit, pintu ambulance segera dibuka. Jasadku didorong menuju ruang gawat darurat. Di situ tampak kulihat begitu banyak orang-orang mengiringi kasur dorong yang sedang mendorong jasadku. Dalam rombongan itu, aku melihat suamiku. Baru kali ini kulihat muka suamiku berlumuran air mata. Sesaat aku begitu terharu dengan suasana ini. Tapi, lagi-lagi aku teringat akan berita perselingkuhan suamiku. Amarahku kembali membuncah. Aku benar-benar marah dan sakit hati karena telah dihianati oleh suamiku yang dulu pernah mencintaiku. Oleh karenanya kutempuh jalan yang teramat bodoh ini. Meminum racun karena berharap semuanya kusudahi. Tapi, kini. Aku begitu menyesal. Semuanya tak bisa hilang begitu saja. Aku harus menebus dosa besar ini di hadapan Sang Illahi. Dan akulah orang yang paling merugi, karena sudah kalah di dunia, di akhirat menebus dosa. Tapi semuanya tekah terlambat. "Maukah Tuhan mengembalikan lagi aku ke alam dunia ?" aku kembali menangis, hanya ini yang kumampu.

Aku mendekati jasad suamiku. Kucoba menatap matanya yang sembab. Sesekali ia usap pipinya yang dijatuhi bulir-bulir air matanya. "Ma, kenapa sampai hati kamu berbuat seperti ini ? Apa Salahku ? Aku begitu teramat mencintaimu !" Samar-samar kudengar kata-katanya menyentuh aku. "Kuatkan jiwamu Ma, Ayo kembalilah pada aku dan Safa anak kita ". Aku kembali mematung. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba aku dipenuhi rasa mual yang tak terelakkan lagi.

Aku muntah. Muntahanku begitu banyak dengan aroma baygon yang teramat pekat. "Alhamdulillah. . . . ", berkali-kali kudengar para suster yang sedang berusaha mengobatiku mengucap syukur atas apa yang telah terjadi pada diriku. Mungkin karena begitu shock dan lemah, aku tertidur lagi.

Saat mataku kubuka perlahan-lahan, kulihat suamiku dan Safa sedang tertidur di ranjang pembaringanku. Perlahan ku usap rambut suamiku. Suamiku terbangun. "Ma, jangan ulangi lagi perbuatan ini ya Ma ! Kami semua sayang Mama" Ia segera memelukku. Tak beberapa lama lagi, Safa terbangun. "Safa, terima kasih ya, Kamulah yang menolong Mama " , ucapku lirih. Kami sama-sama berpelukan dengan berurai air mata. Dalam hati aku berucap hamdallah, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya.
Read More..

Maukah Sekali Saja Kamu Memuji Aku ?

Thursday, February 4, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah.Sudah hampir delapan tahun ini aku hidup bersamanya dalam sebuah bahtera pernikahan yang sakral bagiku. Kehadiran sepasang anak yang Tuhan titipkan kepada kami, menemani hari-hariku. Mereka seperti pengganti kesepianku. Aku percaya bahwa Tuhan tak akan memberi banyak kesedihan pada hamba-hambanya. Seharusnya kita jangan selalu mengeluh dan mengeluh. Masih banyak karunia Tuhan yang lain yang patut kita syukuri. Dan Tuhan pasti akan membalas apa yang telah kita syukuri.

Akhir-akhir ini aku sudah merasakan hal yang lain dari diri suamiku. Seolah pernikahanku terombang-ambing oleh ketidak pastian sikap suamiku padaku. Sering intonasi kata-katanya sudah tak tertata lagi. Entahlah, apakah aku terlalu serakah padanya ataukah ini adalah benar-benar kegundahanku sendiri ? Yang jelas hati ini selalu tercabik-cabik kala dia melontarkan sebuah kata untukku.

Suamiku belakangan selalu sibuk dan sibuk. Meski Aktifitas kerjanya hanya berkutat hingga jam 4 sore, namun kegiatannya di luar itu banyak sekali. Kamis ada pengajian, sabtu bulu tangkis dan minggu ada pengajian selama 3 - 4 jam. Di luar itu setiap hari atau terkadang dua hari sekali, entah itu di saat pagi atau menjelang malam ia mengurusi dan mengontrol usaha sampingannya. Praktis, aku dan anak-anak sering tak pernah merasakan kehadiran sosoknya itu.

Aku baru menemukan sebuah kalimat yang begitu menohok kerongkonganku. Sebuah kalimat yang seharusnya kubaca sebelum aku meng-iya-kan suamiku untuk membuka suatu usaha. " Jika anda ingin memiliki bisnis sampingan, itu berarti anda harus meng-ikhlaskan beberapa waktu anda bersama keluarga". Hingga kini aku begitu menghargai waktu. Bagiku uang bisa dicari kapan saja, sedangkan waktu tak akan pernah berulang kembali.

Sesekali malaikat dan bidadari kecil ku mengeluh, mereka protes pada kedua orang tuanya. "Ma, kapan sih Abi pulangnya ? koq pergi-pergi terus ? kan udah ada yang jaga ?" celoteh Si Kakak. "Sabar ya, Abi kan cari uang untuk bayar sekolah Mas", aku berusaha menenangkan kegundahan hatinya, meski sejujurnya aku juga menantinya. Lucunya lagi adiknya ,"Mama sih terlalu banyak masak, jadinya aku nangis". Ku akui, di pagi hari aku sibuk memasak, menyiapkan sarapan dan makan seharian untuk kami sekeluarga. Meski sesibuk apapun aku berusaha memandikan kedua anakku agar mereka merasakan tanganku. Di pagi hari, sesekali menggendongnya sambil memperhatikan kata-katanya atau sekedar memeluknya dengan sebuah kecupan sambil berucap "wangi ya, udah cantik sih, kan udah mandi". Semua itu berharap si kecil mau kutinggal kerja tanpa menangis. Sepulang kerja aku memasak lagi untuk persiapan memasak di pagi hari. Hingga maghrib berkumandang, aku baru bisa bersama anak-anak.

Jika suamiku sedang tak ada di rumah, kadang aku merasa lelah. Tak kupungkiri Anak-anak jaman sekarang nakalnya beda. Tapi pantaskah aku berkeluh kesah, sedang di luar sana masih banyak pasangan yang mendambakan dan menanti-nanti buah hatinya hadir ? Harusnya aku selalu ingat ini. Tapi lagi-lagi, aku masih belum bisa melapangkan dada. Bagiku seorang wanita karir sungguh teramat mememeras keringat jika pembantunya hanya ada di saat aku bekerja. Jika aku pulang ke rumah, pembantuku juga pulang.

Mungkin untuk anak-anak aku masih bisa sabar menghadapinya. Tapi, abinya ? sulit sekali rasanya aku berucap. Etikad yang sangat baik, jika suamiku mendalami agamanya. Saat ia di rumah, lebih sering ia berada di dalam kamar, menyendiri, seolah ia tengah asyik dengan dunianya sendiri. Entah itu dia tertidur karena lelah, atau menghafal surat Al Qur'an. Anak-anak asyik bermain sendiri sambil menonton TV di kamar tengah. Sedang aku sibuk di belakang memasak. Haruskah ia melalaikan keluarganya ? Apakah dia tak menyayangkan waktu untuk keluarganya ? Pertanyaan ini menyesakkan dadaku akhir-akhir ini.

Aku yakin semua wanita itu perasa, meski sekeras apapun wataknya. Atau mungkinkah aku orang yang sensitif ? Sampai saat ini aku tak tau harus bagaimana menghadapi pasangan yang pendiam yang hanya berbicara seperlunya. Seolah mulutku terkungkung rapat, menutup segala alam kreatifitasku. Kadang aku merasa serba salah, di saat aku merasa care, ia malah marah. Jika sesekali ia bicara, terkadang membuat hatiku teriris dan selalu kuingat dan kuingat lagi. Pernah suatu ketika dia katakan " ga' mungkin kamu deh, kamu kan wanita durhaka." Masya Allah, sekali ini aku harus menelan ludahku, mencoba menggulung kemarahanku kali itu.

Pernah aku katakan padanya "Dalam hidupku bersamamu, aku belum pernah sekalipun mendapat pujian". Ia bilang "memangnya kamu untuk dipuji-puji ?" Aku yakin kata-katanya sungguh-sungguh, ia mengucapkan kata-kata itu sambil menatap mataku. Sedang aku, karena tak kuat ku alihkan pandanganku ke tempat yang lain. Meski demikian, lamunanku tetap melayang, mengulang-ngulang kata-kata suamiku tadi. Hatiku seolah pecah berkeping-keping mendengarnya. Bagaimana mungkin ia mampu mengatakan itu untuk aku istrinya ? Apakah aku terlalu serakah jika ingin meminta sebuah pujian ? Berkali-kali kuucap istighfar. Mungkin begitu banyak dosa yang harus kutebus dengan cara seperti ini. Pernah aku melihat film cinta remaja. seorang sahabat menyarankan sahabat yang laki-laki untuk bersikap romantis saat PDKT dengan seorang cewek, ia bilang "kamu pujilah dia ! cewek kan senang dipuji".

Aku bahkan merasa lebih sering dicaci oleh suamiku sendiri. Bukankah itu menyakitkan ? Tegakah ia seperti itu pada pasangannya sendiri ? Tak bisakah ia menjaga sedikit saja perasaan pasangannya ? Lagi-lagi kupikir aku terlalu serakah. Ataukah aku terlalu larut dalam setiap yang kutemui ? Hingga kini kuredam semua dalam tangis khayalku. Aku percaya Tuhanlah yang masih menyayangiku. Tuhan begitu menganggapku teramat kuat untuk menjalani hidup yang seperti ini.
Read More..

Penulis : arofah2008@gmail.com