Ketika Gempa Terjadi

Friday, October 30, 2009
Ketika Gempa TerjadiKumpulan Cerpen Siti Arofah. Belakangan ini Indonesia didera bencana gempa bumi yang bertubi-tubi. Sudah pasti banyak air mata karena peristiwa itu. Ada bayi-bayi yang tiba-tiba menjadi yatim piatu, belum lagi mereka kehilangan tempat tinggal dan penyakit meraja rela di sana sini. Trauma pasca gempa menghantui jiwa-jiwa mereka. Lapangan pekerjaan sirna dalam sekejab. Anak-anak menangis karena menahan lapar atau kedinginan karena tak ada selimut atau karena ditinggalkan orang tua mereka untuk seumur hidupnya. Sedang orang tua yang masih hidup kebingungan, ia tak bisa memberi apa-apa lagi untuk anak-anaknya.

Seorang temanku kebetulan orang tuanya tinggal di kota Pengalengan, Bandung. Saat gempa Tasikmalaya terjadi, rumah orang tuanya luluh lantah rata bersama tanah. Suasana duka menyelimuti hati mereka. Malam yang gelap gulita karena jaringan listrik yang ikut mati membuat suasana menjadi semakin mencekam. Belum lagi, masih ada kasus yang sungguh mengenaskan saat itu. Ada segerombolan manusia mengais sisa-sisa reruntuhan rumah bekas gempa yang telah rata. Betapa tak punya perasaan sedikitpun manusia yang tega berbuat seperti itu. Di tengah bencana teganya dia mencuri barang dari orang yang terkena bencana. Belum lagi bantuan dari pemerintah terlambat untuk dikucurkan. Suatu hari hanya tersedia satu indomie saja, padahal untuk satu keluarga. Bagaimana mereka membaginya ? Ah, aku tak tega untuk menceritakannya.

Teganya lagi ada oknum pejabat daerah yang tega menyelewengkan dana bantuan untuk korban gempa. Bagaimana bisa uang yang seharusnya diperuntukkan bagi orang yang terkena musibah dan mereka sangat sedang membutuhkannya diraupnya dengan begitu serakah. Apakah mereka tak takut akan azab Tuhan yang sangat keras siksanya ? Apakah masih belum cukup musibah yang baru saja ditimpakan untuknya ? Aku hanya bisa terdiam sejenak lalu mengurut dada, beristighfar berkali-kali, berharap orang-orang itu mendapat hidayah.

Baru saja pemerintah kita baru terpilih menjalankan tugasnya. Ketika menjabat beberapa hari, issue kenaikan gaji para menteri merebak untuk segera ditunaikan. Dan diumumkan bahwa satu persatu, mereka mendapat fasilitas mobil mewah dengan harga yang cukup fantastis, 1 milyar. Sebagai rakyat biasa, Jika saja aku yang mendapatkannya, meski setiap orang pasti akan senang jika mendapat sesuatu yang gratis apalagi dengan harga yang sangat tinggi. Tapi jika aku yang mendapatkannya, Sungguh akan kukembalikan lagi mobil itu. Buat apa aku mengendarai mobil lux, tapi aku hidup ditengah rakyat yang miskin yang seharusnya kita santuni. Aku lebih memilih mengendarai mobil biasa, dari pada menaiki mobil dari tangis air mata penderitaan rakyat jelata.

Kini, di tengah maraknya gempa yang melanda, masyarakat seolah-olah dihantui oleh ketakutan jika gempa itu benar-benar kembali menimpa lagi. Bagaimana jika gempa itu terjadi disaat kita sedang terlelap tidur dan dibuai mimpi ? Bagaimana jika tiba-tiba tidur kita menjadi tidur yang panjang menunggu hari penghitungan amal dari segala perbuatan kita ? Bagaimana jika kita tiba-tiba telah dikafani untuk dikuburkan bersama-sama dengan korban gempa lainnya ? Mari kita memperbaiki dan mulai menabung ibadah masing-masing untuk bekal kita di hari yang kekal. Yang terbaik adalah bersegeralah, mumpung kita masih diberi waktu.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....


Penulis : arofah2008@gmail.com