Ketika Ku Berada di Penghujung Pilihan

Friday, November 13, 2009
Ketika Ku Berada di Penghujung Pilihan
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Ketika bulan tengah sempurna bulat dengan cahayanya yang tak menyilaukan mata. Begitu indah purnama itu. ku tatap dalam-dalam, ku resapi, kususuri sejauh pandanganku. Hening, tak ada suara apapun saat itu. Mungkin yang mampu kurasakan hanya hembusan angin berkali-kali yang menggelitik aku, seolah ia hendak menyapa dan menghibur diriku kali ini. Di saat itu pula rinai air mata jatuh satu demi satu. Perjalanan yang baru kutempuh ini hampir membuatku enggan untuk melangkah lagi. Aku trauma setelah ku mulai kesendirian ini tanpa dirimu lagi.

Dulu, meski pernah ada sebongkah asa untuk bisa saling berbagi kasih, namun rasa khawatir itu selalu hadir mengiang-ngiang, membuntuti alam pikiranku kemanapun aku pergi. Ya.... aku selalu takut kehilangan sosok dirimu. Dirimu yang dulu begitu membuai hatiku. Begitu menguatkan kenyakinanku untuk terus bersamamu selamanya. Dirimu yang selalu hadir meski hanya dari sebuah pesan singkat ( SMS ), atau sebuah telepon sebagai pengantar tidur.

Cintamu seperti begitu tulus untukku seorang. Mungkin aku terlena karena cinta yang begitu membara, membuncah di antara semak-semak hatiku.Berulang kali ku tangisi cinta maya ini. Begitu hampa jika aku hanya dapat bertemu denganmu walau hanya dalam tulisan-tulisanmu. Beberapa kali kutemui dirimu lewat webcam laptopku. Mungkin akan terdengar aneh, jika aku menangis atau tertawa di depan LCD ku. Jari-jarikupun sebagai saksi cinta kita saat itu. Ia dengan luwesnya selalu cepat memencet tombol-tombol yang ada di keybord untuk segera membalas tulisan-tulisan darimu. Sebuah resiko yang harus kutempuh jika waktu dan tempat
tak pernah aku permasalahkan.

Lima bulan sudah berlalu, membuat rinduku semakin menggebu-gebu. Tapi sayangnya, rinduku ini terseok-seok. Ia seperti terabaikan dan akhirnya terlunta-lunta karena tak pernah terpenuhi. Menyakitkan, kami belum berjumpa sekalipun ! Karena kamu berada di Pakistan, sedangkan aku di Indonesia, inilah yang menjadi "the big reason". Hingga suatu kali Tuhan mengijinkan aku bertemu dengannya. Dia benar-benar datang menjumpaiku ke Indonesia. Sebuah hadiah yang telah kunanti-nanti tepat di hari ulang tahunku. Dalam kehadirannya, dia begitu mempesona. Berkulit kemerahan dengan hidung khasnya yang mancung. Tubuhnya yang tinggi dan kokoh seperti melengkapi kegagahannya. Aku begitu sangat terkesima pada kesan pertama ini.

Meski bahasa yang kami pakai adalah bahasa Inggris yang belum sempurna kuucapkan, dia begitu ramah.Ternyata gayung bersambut, pertemuan itu tidak sia-sia rupanya. Hati kami seolah saling bertautan. Dia ingin mengajakku pergi ke tempatnya untuk meninggalkan Indonesia bersamanya. kala itu, aku begitu bimbang. Keluargaku tak menyetujuiku. Kamu hanya memberiku waktu tiga hari untuk memberi jawaban. Tiga hari itu pula yang menjadi malam-malam penuh dilema. Begitu sulitnya aku harus memilih, seakan melemaskan urat-urat syarafku ini. Makan dan minum pun jadi enggan untuk kunikmati. Akhirnya tiga hari itu berakhir. Akupun harus memberi keputusan. Meski teramat berat, akhirnya aku menyerah. Kulepas kamu pergi kembali ke Pakistan seorang diri.

Aku tau jika dia begtu kecewa, aku juga tau jika seharusnya aku enggan memilih keputusan ini. Tapi, hidup ini harus memilih. Meski kesendirianku ini begitu menyakitkan, kucoba bertahan mengarungi hari-hariku menjelang.
Read More..

Penulis : arofah2008@gmail.com