Sebuah Nyawa untuk Ibu

Friday, February 19, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Aku benar-benar sedih. Bi Inah mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumahku. Padahal ia adalah satu-satunya temanku di rumah. Kedua orang tuaku sibuk bekerja mencari nafkah yang katanya guna memenuhi kebutuhan hidupku. Mereka berangkat dari jam enam pagi dan baru kembali ke rumah pukul 08 malam.

Bi Inah pembantu yang luar biasa bagiku. Ia begitu perhatian padaku, tidak seperti pembantu - pembantu yang lain yang kerap berbuat hal-hal yang tidak menyenangkan pada anak majikannya yang sering aku lihat pada siaran-siaran berita di televisi. Dan aku hampir menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Bi Inah sama sekali tak pernah marah, aku tahu jika ia kesal ia tumpahkan segala kemarahannya ke belakang. Dan jika sudah demikian, buru-buru aku meminta maaf padanya, lalu bi Inah memelukku sambil rambutku diusap-usapnya. Maklumlah, aku adalah seorang bocah lelaki kecil yang tengah berusia 10 tahun. Wajar saja jika aku agak sedikit nakal, disamping aku adalah anak semata wayang. Entahlah, aku belum mengetahui secara pasti mengapa ayah dan ibu belum memberiku seorang adik sebagai teman.

Aku tau, jika bi Inah teramat berat meninggalkan aku, tapi bi Inah tidak mampu memilih lagi, ia harus segera mengurusi suaminya yang tiba-tiba saja sakit keras. Sekarang, teramat susah untuk mencari pembantu yang memiliki kualitas sebaik bi Inah. Mungkin bisa saja orang tuaku mendapatkan penggantinya, tapi paling tidak mereka bertahan hanya dalam hitungan bulan. Tapi sampai hari menjelang keberangkatan bi Inah, kedua orang tuaku belum juga mendapatkan pengganti bi Inah. Bi Inahpun berangkat juga akhirnya meski dengan hati terpaksa. Berkali-kali ia memeluk dan menciumku. Akupun menangis, meraung-raung seakan tak merelakan kepulangan bi Inah.

Malam harinya, ibu menemaniku. Ibu mengharapkanku menjadi anak yang mandiri tanpa pembantu. " Semoga kita cepat mendapat pengganti bi Inah ya." Kata-katanya membuatku sakit. Bagaimana mungkin aku harus berada di rumah sendiri ? Tapi, mau tak mau, aku harus melakukannya. "Iya, bu. Aku coba dech." meski sejujurnya tak mau, tapi aku takut ibu sedih. Aku benar-benar tak ingin menyusahkannya. Aku tau, jika ibu menyayangiku. Meski sesibuk apapun dirinya, ia selalu menyempatkan waktunya buat aku. Kadang ibu mau ku ajak bermain monopoli atau ular tangga, ia juga mau melihat hasil lukisanku. Sesekali saat aku merasa takut, ibulah yang menemaniku tidur di kamar sambil membacakan buku cerita sampai aku terlelap tidur.

Sehari dua hari, aku telah terbiasa ditinggal oleh kedua orang tuaku. Menyendiri ditemani sebuah televisi 24 inch berlayar datar dengan dilengkapi home theater untuk sementara mampu melupakan kesendirian. Menunggu kehadiran kedua orang tuaku pulang dari bekerja merupakan waktu yang sangat kutunggu-tunggu. dan setelah dua minggu, tiba-tiba aku pergi kesebuah gudang. Gudang itu terletak di belakang rumahku yang terpisah dari rumah. Ku temukan sebuah kotak kayu yang telah terbasut oleh debu-debu yang sangat tebal. Aku berusaha meniup debu-debu itu, menerka apa yang ada dalam kotak itu. Terpasung sebuah tulisan "a mistery, Do not open this box". Meski aku tahu apa arti tulisan itu, aku tetap ingin membukanya. "Yess, kotak itu berhasil kubuka !" gembira sekali aku setelah berhasil membuka kotak yang membuat aku penasaran. Ternyata isinya hanya sebuah boneka. Akan tetapi, wajah boneka itu sedikit berbeda dengan layaknya boneka-boneka lainnya. Ia tampak menyeramkan. Aku seperti terhipnotid, aku membawa boneka itu menuju rumah kami.

Segera aku memasukkan boneka itu ke dalam mesin cuci. Sambil menunggunya selesai, aku menonton serial spongeBob di televisi. Selang setengah jam telah berlalu, aku meraih boneka yang telah kering dan cukup bersih. Ia ku letakkan di atas lemari belajarku.

Malamnya aku bermimpi. Boneka itu bisa berbicara padaku dalam mimpi itu. " Kamu tidak akan kesepian lagi, karena ada aku !" cuma itu yang dia katakan. Akupun terbangun, membuat rasa penasaranku kian menderu-deru. "Ah, cuma mimpi, " sergahku seolah tak percaya pada mimpi.

Anehnya, setelah aku menemukan boneka itu, beberapa teman-temanku mati dengan tubuh mengenaskan dan tanpa sebab yang jelas. Aku mulai berpikir, dan mencoba merunut apa yang telah terjadi. "mengapa teman-temanku bisa mati setelah mereka mengolok-ngolok aku ?" pertanyaan ini membuatku mabuk, sebab aku tak tau jawabannya. Akupun tertidur karenanya.

Suatu saat ibu marah padaku. Aku lupa mengunci pintu. Ibu mendapati diriku di depan televisi sedang tertidur pulas. Aku mengerti aku salah. Dan aku meminta maaf padanya. Dan malamnya, aku bermimpi. Aku melihat boneka menyeramkan itu hendak membunuh ibuku. "Hei, jangan kau bunuh ibuku !"
Boneka itu berbalik arah menuju diriku, "tapi dia telah menyakiti hatimu ".
" Jangan, biar bagaimanapun dia ibuku, aku sangat sayang padanya. "

Ibu tampak sangat ketakutan sekali. Ia jatuh tak berdaya di sebuah lantai di serambi belakang rumah kami. Dan ketika boneka itu sudah hampir mendekati ibuku, aku segera menghalau pecahan gelas yang dipegang oleh boneka itu. Pecahan gelas itu mengenai dadaku. Darah segar mengalir deras dari dadaku yang terluka. Ibuku segera memangku diriku, ia menangisi apa yang telah terjadi pada diriku. "Nak, bertahan Nak. Kuatkan dirimu." Tapi Tuhan berkata lain, darah yang mengalir rupanya tak mau berhenti. Tiba-tiba aku menghembuskan napas untuk yang terakhir kali dalam pelukan ibuku. Seketika itu ibuku berteriak keras sekali, " Anakku . . . . . . . . . !"

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....


Penulis : arofah2008@gmail.com