Demi Sebuah Cita

Wednesday, February 24, 2010
Perpisahan ini membuat aku menjadi takut. Takut menjadi seorang diri tanpa kekasih, dan yang paling mengerikan bagiku adalah takut kehilangan kekasih. Kekasihku mengambil kuliah ke Negeri paman Sam. Sedang aku memilih untuk kuliah di Jakarta. Kedua orang tuaku tidak mengijinkan aku untuk kuliah bersama Tian, kekasihku di negeri yang katanya banyak dinanti setiap insan. Mungkin orang tuaku benar adanya, oleh karenanya aku lebih manut apa yang dikatakan oleh orang tuaku. Meski harus kutelan rasa kesendirianku ini bertahun-tahun lamanya.

Awalnya cinta kami terbilang tanpa aral melintang. Tian begitu mencintai aku. Demikian juga dengan aku. Namun kami tetap saling menjaga batas, bahwa ia masih berstatus pacarku, bukan suami. Kami saling berpacu meraih mimpi, mendapat gelar, bekerja dan setelah itu baru menikah. Aku mengenal Tian, di sebuah bimbingan belajar di Jakarta. Waktu itu, ia sering menawarkan aku untuk naik Honda Jazznya, mengingat kami sama-sama tinggal di Bekasi. Sekali dua kali aku sering mengacuhkannya. Mungkin karena Tian tak pernah lelah menawarkan padaku, lama-lama aku luluh juga. Dia memang anak baik. Buktinya di dalam mobil ia terkesan biasa-biasa saja padaku, ia hanya ikhlas mengantar aku tanpa ada pamrih sedikitpun.

Hari demi hari telah kami lalui, dan kami semakin akrab. Dua bulan kemudian, aku sudah tak canggung lagi bersamanya. Tapi belakangan Tian agak sedikit bersikap aneh. Kala berbicara dan setiap ku tatap matanya, ia tampak seperti gugup. Aku sama sekali tak memperdulikan sikap anehnya itu. Semuanya baru ku ketahui saat ia tiba-tiba saja mengajakku berbicara serius. Mobilnya yang mulanya bergerak di dalam tol, tiba-tiba merapat ke arah jalur istirahat. Di dalam mobil itu, ia katakan jika dia ingin aku sebagai kekasihnya. Aku yang sama sekali belum pernah punya pengalaman apapun tentang cinta, tiba-tiba saja aku meng-iya-kannya. Tianpun sampai terheran-heran, dia bilang, "biasanya cewek kalo ditembak suka mikir dulu, tapi kamu langsung iya". Seketika itu mukaku memerah, seakan baru menyadari kepolosanku.

Semenjak itu kami menjalin kasih. Tapi aku sama sekali tak diberi ruang waktu oleh Mama, karenanya, aku sama sekali tak bisa berlama-lama dengan Tian. Mungkin aku hanya bisa makan bareng di rumah makan cepat saji, dan itupun dengan tidak berlama-lama. Maklum, aku tak mau menyakiti hati Mama. Untungnya Tian oke-oke aja dengan aku yang seperti ini. Akupun jadi semakin sayang padanya. Ah, aku bahkan terlalu sayang padanya.

Setengah tahun sebelum lulus SMU, lagi-lagi Tian mengajakku ngobrol di pinggir tol. "Ifa, orang tuaku menyuruhku kuliah di Amerika. Itu artinya kita akan berpisah untuk sementara." ia menunduk seperti muram. Aku sama sekali tak bergeming, mulutku serasa kelu tak tau harus mengucapkan apa untuknya. Mungkin karena aku terlalu shock akan kata-kata Tian. Rupanya Tian memberiku keluasaan ruang batinku. Mobilnya melaju kembali.

Aku tau, dan aku seharusnya mau mengerti. Dengan membiarkannya pergi lepas dariku seperti sebuah tindakan bodoh yang berlalu begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Tapi, apakah aku harus merelakan kepergiannya demi meraih sebuah asa dan harapan yang bahagia nantinya ? Aku benar-benar bimbang. Antara iya dan tidak sepertinya terlihat samar-samar bagiku. "Mungkin akan lebih baik Tianlah yang memilih, aku akan pasrah, apapun pilihan Tian." hati kecilku berkata lirih.

Nyatanya Tian memang ingin melanjutkan sekolahnya ke Amerika. Aku hanya bisa pasrah tak mampu untuk melarangnya. Mungkin ini jalan yang terbaik yang telah Tuhan berikan, pikirku.

Hari keberangkatan Tian tiba. Tian berangkat bersama Mama , Papa dan kedua adiknya. Aku hanya sendiri, mengingat kedua orang tuaku belum pernah tau sedikitpun hubungan kami. Saat di bandara, aku benar-benar tak mampu menutup rasa kesedihanku. Berkali-kali air mata jatuh membasahi pipiku. Kala itu, aku ingin teriak sekuat-kuatnya, " Aku tak ingin berpisah darimu, Tian ". Tapi lagi-lagi, kata-kataku membeku terkulum dalam suara bising pesawat yang sedang take off. Saat Tian sudah ingin memasuki areal yang tak diperbolehkan oleh para pengantar, Tian menghampiriku. "Ifa, aku cinta kamu. Kamu tunggu aku ya !" kata-katanya menambah perih aku. Aku hanya menunduk, sepertinya enggan melihat mata indahnya sebagai perpisahan. Tian mencoba menghapus air mataku, " Ayo katakan Iya, kamu mau menunggu aku, Fa !". Akhirnya aku mengangguk tanpa ada sedikitpun kata untuknya. Tianpun pergi dengan senyum manisnya yang mungkin akan kuingat sebagai pengobat rindu.

Aku harus merelakan kepergian Tian, meski semuanya itu terasa pahit bagiku. Aku tak tau antara Tian ataukah aku yang dapat menjaga cinta ? Tuhanlah yang Maha berencana ! Terbayang jika aku harus menjalani hari-hariku tanpa Tian.

4 comments:

sigadis batapa said...

fa, u yg sabar y, n qu yakin lo kalian jodoh pasti bkl balikan lagi. n gu bakal ikut doain kalian berdua moga2 kalian dipertmukan kembali.bukannya perpishan yg kutakuti tp pertemuan yg kusesali. mksdx d setiap pertmuan suatu saat pasti ada perpshan....n qt ngk tau kapan perpshan tersebut akan terjadi....!!!! ( SO MUCH GO ON ) key'''' SEMANGATTTTTTTTTT .... OC!!???

Anonymous said...

DEmi Sebuah Cinta ? . Ini ucapan syirik ...bersumpah kepada selain Allah ! . Kecuali kalao penulis bukan orang islam

Siti Arofah said...

demi sebuah cita, bukan cinta.

Anonymous said...

bagus banged,,,,,
kunjungi blog saya di www.science-ipa.blogspot.com

Post a Comment

Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....


Penulis : arofah2008@gmail.com