Separuh Ragaku Telah Pergi

Saturday, September 5, 2009
Separuh Ragaku Telah PergiKumpulan Cerpen Siti Arofah. Setelah kami resmi berpisah, aku memulai hidup dengan lembaran baru tanpa Astri. Meski bagiku begitu terasa sangat sulit untuk melupakan Astri, aku mencoba sekuat tenaga untuk melupakannya. Bayang-bayang itu dan kenangan manis waktu bersamanya tak mungkin aku lupakan begitu saja. Dia adalah wanita anggun nan cantik yang sosoknya begitu aku cintai sebelumnya. Namun semenjak peristiwa malam kelabu itu, aku seolah tertipu dari seorang wanita yang terbalut oleh kecantikan semata.

Pun dengan Suhendar, sahabatku. Tak kusangka ia sampai hati berbuat seperti itu. Ia yang sudah kuanggap sebagai saudaraku, ternyata tega membidik peluru dari belakangku. Bagaimana tidak ? kepercayaanku padanya selama ini berbuah dengan menyakitkan. Kamar kami yang kuanggap sebagai kamar paling teristimewa. Tak seharusnya mereka melakukannya di kamar istimewa ini. Entah sudah berapa kali mereka melakukan itu. Aku kembali terpuruk bila mengingat bayang-bayang masa lalu.

Kedua orang tua Astri nampaknya benar-benar dibuat malu karenanya. Nyatanya mereka tak pernah berkunjung ke rumahku. Hanya sebuah surat sebaagai sebuah permintaan maaf atas apa yang telah Astri lakukan. Mungkin Astri telah membeberkannya. Syukurlah jika demikian, aku merasa bukan di pihak yang salah.

Harusnya Astri bisa menerawang kepada kaum yang lemah. Begitu banyak istri-istri yang kehilangan sosok suaminya karena suaminya telah bermain api dengan wanita lain. Pastilah akan ada sakit dan terluka batinnnya jika hak istri tak terpenuhi karenanya. Mestinya Astri mau memahami diriku yang telah berusaha sekuat jiwa demi sebuah kata "keluarga". Entahlah, apakah Astri seolah dibutakan atas semua kebaikan-kebaikanku ? Aku berharap suatu saat kelak ia akan mampu melihat yang sesungguhnya dalam diriku.

Sudah jelas-jelas waktu yang selama ini telah aku korbankan adalah demi keluargaku di rumah. Tapi mengapa mereka seolah tak mau menghargai atas apa yang telah kulakukan selama ini ? Haruskah aku yang harus mengalah ? Ah,... seandainya saja waktu itu aku mengetahui lebih awal, mungkin aku bisa lebih menyayangi mereka, memperhatikannya dengan sepenuh jiwa dan raga. Dan pernikahan ini mungkin masih bisa kupertahankan. Uang nyatanya bukan segalanya. Kenapa aku harus menyadarinya ketika semuanya telah terjadi.

Sebuah kata terlambat membuat aku kini lebih mampu mendekatkan diri kepada Sang Illahi. Kucurahkan segala isi hatiku kepada Nya. Jika segala gundah telah kuurai kepada Illahi , rasanya hatiku lebih tenang menjalani malam kesendiriannku. Tidur dengan diiringi mimpi yang indah adalah sebuah hadiah dari sang Illahi atas segala doa yang telah kupanjatkan. Harusnya kusyukuri kedekatanku dengan Illahi adalah hikmah dari apa yang telah aku alami.

Empat bulan kemudian, aku mendengar kabar jika Astri telah menikah. Ia menikah dengan Suhendar, sahabatku sendiri. Mereka ternyata meng-amin-i atas segala tindakan yang pernah mereka lakukan itu. Kabar ini sungguh membuatku terluka. Berkali-kali air mataku jatuh tak terbendung lagi olehku. Dadaku seakan tercabik-cabik oleh pisau tajam yang dihunuskan oleh tangan Astri dan Suhendar. Sakit sekali rasanya. Jantungku berdegub dengan ritme yang tak beraturan, seolah bersama-sama mengikuti kemarahanku. Haruskah aku mengikhlaskannya ? Rela atau tidak tetap jawabannya adalah harus kurelakan, meski semuanya dengan keterpaksaan. Kini aku sudah tak punya kuasa lagi atas diri Astri. Kupasrahkan segalanya pada Sang Illahi.

Untungnya Izal berhasil aku bawa. Astri memperbolehkan aku untuk merawat dan mengasuh Izal, buah cinta Aku dan Astri. Bersama Izal, aku mampu sedikit demi sedikit melupakan bayang-bayang itu. Meski separuh ragaku telah pergi, aku berharap mampu melalui semua ini dengan penuh rasa ikhlas.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....


Penulis : arofah2008@gmail.com