Tak Disangka

Wednesday, September 16, 2009
Tak Disangka
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Aku yang sedang asyik bermain game di HP milik temanku, tiba-tiba saja HP itu mengeluarkan suara musik, pertanda ada telepon masuk. Tanpa berpikir panjang, ku tekan tombol bergambar gagang telepon itu yang bercahaya hijau. Sudah pasti Si penelepon mencari pemilik telepon yang sedang aku pakai ini. Aku katakan bahwa temanku sedang ke kamar mandi. Penelepon itu seorang wanita, kata-katanya lembut membuai aku dalam sebuah lamunan, membayangkan dirinya bak seorang wanita ayu bertubuh langsing, putih dengan tinggi semampai. Lalu dengan secepat kilat teleponnya terputus begitu saja.

Kusudahi game di HP itu, aku betul-betul mabuk, kepalaku seolah terisi penuh oleh suara wanita misterius tadi. Tanganku dengan sigap mengambil sebuah pensil yang ada di meja temanku ini. Ku cari kembali nomor yang tadi menelpon HP temanku ini. Gotcha ! Berhasil,..... ! kucatat nomor itu dalam secarik kertas note dan kusimpan dalam dompet setelah sebelumnya kulipat menjadi 2 bagian. Temanku yang telah menyudahi mandinya bertanya kepadaku, "Apa tadi ada yang menelponku ?" Sambil mengangguk kuberikan HP ini padanya. Sambil memencet HPnya, dia tampak seperti biasa-biasa saja sambil berucap, "Oh si Febby, pasti dia mau tanya kakakku dech, dia kan sahabat banget dengan kakakku." Sikapku kali ini hanya biasa-biasa saja, seolah tak pernah terjadi apapun pada diriku. Padahal jantungku berdegub kencang seperti kereta api yang tak mau pernah berhenti. Sandiwara ini berhasil kubuat di depan temanku sendiri.

Setibanya aku di sebuah mess tempat dimana aku tinggal, suara wanita tadi mengisi kembali kepalaku. Entahlah, baru kali ini aku diliputi oleh bayang-bayang suara wanita tadi. Batin ini dibimbangi oleh sebuah keinginanan, menelponnya ! Akhirnya kuputuskan untuk menelponnya, daripada selalu dihantui oleh rasa penasaran yang kian membara. Saat aku menelponnya kukumpulkan segenap keberanianku. Kutata hati ini untuk merangkai kata yang tepat untuk dirinya. Ternyata gayungpun bersambut, wanita ini mau berkenalan denganku. Aku pura-pura belum mengetahui namanya. "Oh, namanya Febby ? Nama yang cantik ya ! kenalkan namaku Sudibyo, kamu bisa panggil aku Dibyo." Kata-kata yang kukeluarkan begitu hati-hati, hingga akhirnya kuketahui kalau dirinya masih berstatus single tanpa pacar.

Hari demi hari, bulan berganti bulan, dari telpon pertama berlanjut ke telepon berikutnya. Akupun jadi sering ber SMS ria dengannya. Terkadang, meski hanya sekedar say Hello, aku bisa tersenyum sendirian memandangi HPku, seperti layaknya kaum muda lainnya yang sedang jatuh cinta. Aku tau kalau dia empat tahun lebih tua dariku. Ku akui, dulu aku pernah berharap punya kekasih yang lebih muda dariku. Namun, entahlah, aku tak tau mengapa kali ini perbedaan umur yang begitu jauh enggan aku pikirkan. Ah, terlalu dini rasanya jika aku mengatakan aku telah jatuh cinta padanya. Bagaimana aku bisa benar-benar mencintainya, padahal aku belum pernah sekalipun bertemu dengan sosoknya. Bagaimana jika Febby yang selama ini kubayangkan sebagai wanita cantik nan ayu, berkulit putih dan bertubuh langsing, ternyata sangat jauh sekali dari kenyataannya.

Karena seringnya berkirim SMS, pertemanan ini kian hari semakin baik. Kami akhirnya sama-sama didera perasaan ingin bertemu. Pertemuan itu akhirnya terjadi juga. Dugaanku benar, Febby ternyata gadis yang ayu yang pernah aku impikan. Di sebuah tempat makan, saat awal pertemuan kami, aku menyatakan kata cinta padanya. Dia hanya tersenyum tanpa sebuah kata, seolah kharismanya membuat aku ingin lebih dari sekedar kata 'berteman'. Febby seperti membalas hasratku dengan sebuah senyum kecil yang tampak malu-malu.

1 comments:

Anonymous said...

mantap..

Post a Comment

Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....


Penulis : arofah2008@gmail.com