Ketika Terbalut Duka

Tuesday, October 20, 2009
Ketika Terbalut DukaKumpulan cerpen Siti Arofah. Tiba-tiba saja naluriku sebagi seorang lelaki hadir dalam adrenalinku meskipun statusku kini telah memiliki seorang istri dan dikaruniai dua orang bocah laki-laki. Aku juga tak mengerti mengapa semuanya bisa terjadi begitu saja. Antara rasa cinta dan iba sama sekali tak kukenali keduanya. Semenjak ia sering curhat padaku mengenai keadaan rumah tangganya padaku, rasa itu hadir menggelayuti sudut-sudut ruang hatiku.

Dialah Yanti, rekan sekerjaku, yang sehari-harinya kerap berbicara, entah itu seputar masalah kerja atau sekedar obrolan basa basi mencairkan suasana kerja yang penuh menguras tenaga dan otak. Ia begitu energik dan selalu ceria. Tak pernah sedikittpun terpancar kegundahan hatinya. Karena aku merasa cocok dengan gaya bicaranya yang sopan, dan kadang-kadang sedikit manja, akhirnya setiap makan siang kami keluar makan bersama, terkadang bersama rekan kerja lainnya. Hingga akhirnya kami seperti sepasang sahabat yang dibatasi oleh tali pernikahan masing-masing.

Mungkin karena kedekatan ini, antara aku dan dia sering menanyakan kabar masing-masing. Terkadang aku memberitau dia kalau anakku sedang panas dan tak mau makan. Dia dengan serta merta penuh semangat menyuruhku untuk membeli vitamin nafsu makan dan menyegerakan membawanya ke tukang urut. Meski tampak seperti seorang wanita yang bawel, aku menikmati ocehannya itu. Jika ia tak masuk kerja rasanya ada yang kurang dan mengganjal hati. Meski hanya satu hari aku merasa kehilangan sososknya. Kata-katanya begitu lembut dan sangat hati-hati sekali, oleh karenanya dia begitu memberi kesan tersendiri bagiku.

Suatu saat kupergoki dirinya seorang diri termenung di depan monitor kerjanya, mata berkaca-kaca. Buru-buru ia mengusap matanya dengan tissue yang ia peroleh dari dalam sakunya. Aku tau kalau air mata itu adalah air mata sungguhan. Hari ini Yanti tampak tak seperti biasanya. Untungnya di ruangan ini sepi, semua karyawan sedang makan siang di kantin. Aku jadi lebih leluasa mengintrogasinya.
"Yanti, ada apa ? katakan yang sesungguhnya padaku !" Kali ini aku benar-benar memaksanya untuk menjawab.
"Ga' ada apa-apa koq, aku baik-baik aja." Dia berusaha berkelit menutupi kesedihannya.
"Buat apa ada aku ? Aku ini kan sahabatmu, ayo ceritakan, please deh..... !" Aku mengulangi permintaanku lagi.
Sesekali Yanti tampak ragu menatapku, seolah ia tak mau berbagi masalahnya padaku.
Tapi beberapa saat kemudian, dia mulai mengawali kalimatnya.
"Aku udah ga' tahan, Pras. rasanya aku ingin pergi menjauh dari rumah !"
'Lho, ada apa Yanti ?" kata-kata yanti membuatku bingung.
"Kami memang serumah, tapi hati kami tertambat di suatu tempat yang berbeda. Di rumah, kami seakan menjadi orang yang tidak saling mengenal. Suamiku benar-benar pasif, Pras. Bicaranya sangat sedikit sekali. kamu kan tau aku ini orangnya suka celoteh. Ya...kalau aku terus - terusan yang bicara, pincang sebelah dong ? Aku merasa tak ada teman berbagi di rumah."
Perlahan aku mengernyitkan dahiku, kutatap mata Yanti dalam-dalam, aku sungguh tak bisa mempercayai kata-kata yang baru terucap di bibir Yanti. Seorang Yanti yang dulu penuh keceriaan, ternyata keceriaannya selama ini sungguh berbeda dari kenyataan.
"Sabar, Yanti. Semuanya belum berakhir. Kamu masih bisa merubahnya." Aku mencoba membantunya.
TIba-tiba satu demi satu para karyawan datang tanda jam istirahat telah usai. Akhirnya kamipun buyar ke tempat kerja masing-masing.

Semalaman aku tak bisa tidur. Pikiranku selalu berputar-putar memikirkan Yanti. Aku tak tega melihat yanti menderita. Berkali-kali aku menggeleng, kenapa suaminya tega terhadap Yanti. Orang sebaik Yanti rasanya tak pantas mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Dari sinilah getar-getar cinta ku datang. Aku jadi merasa ingin meilikinya.

Keesokan harinya, di siang hari, aku mengajaknya makan ke kantin bersama. namun ajakanku sama sekali tak digubrisnya. Ia tak bergeming sedikitpun dari kursinya. Dengan sedikit gugup kukatakan jika aku mencintainya. Mendengar ucapanku itu, sesaat yanti tampak terdiam. Dia memandangi diriku yang penuh harap-harap cemas menanti jawaban apa yang akan datang dari bibir yanti setelah ucapanku ini.

Lama sekali ia menatapku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.
"Mas, cinta memang hak setiap orang. Mas bisa aja cinta saya. Kalau mas memang mencintai saya, tolong cintai istri mas sepenuh hati, jangan sakiti hatinya ! Tolong biarkan aku sendiri seperti ini !" Yanti langsung pergi meninggalkanku.

Yanti, yanti. Mengapa hatimu selembut salju, kamu begitu kuat mencintai suamimu. Semoga Suamimu akan kembali menyayangimu.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....


Penulis : arofah2008@gmail.com