Sebuah Ancaman Membawa Luka

Sunday, October 4, 2009
Kumpulan Cerpen Siti Arofah. Aku terpaku sejenak setelah kudapati sebuah SMS dari wali kelas anakku. "Bu, minta tolong ditanyakan apakah Rafi tahu siapa yang mengambil uang milik Oya di mobil jemputan om Yos." Saat itu pikiranku melambung jauh dengan berbagai argumen tentang Rafi anakku. Jangan-jangan wali kelasku ini ingin memberi tahu aku, bahwa Rafi adalah pelaku yang mengambil uang Oya. Jantungku berlari kencang mengejar jawaban itu, tapi saat ini aku masih di kantor berkutat dengan angka-angka di depan layar monitor.

Jika aku telepon dari sini, mungkin tak akan puas aku mendapat jawaban dari anakku, sebab aku harus melihat mimik mukanya saat ia memberikan jawabannya padaku agar aku tahu apakah ia menjawabnya dengan jujur atau tidak. "Iya Bu, nanti akan saya tanyakan, tapi maaf, sekarang saya masih di kantor" begitulah balasan SMS yang aku kirim ke wali kelas anakku itu.

Jam empat sore telah tiba, berarti waktu pulang kerja telah tiba. Aku pulang dengan hati yang begitu berdebar-debar. Setibanya di rumah, kucoba menenangkan seluruh jiwa, kutata hati ini seapik mungkin. Aku berharap anakku benar-benar menjawab dengan penuh kejujuran. Karena suamiku telah tahu, ia nampak emosi. Aku menyadari jika ia akan marah jika mengetahui anaknya sebagai sang pencuri itu.

"Rafi, sini. Kamu ya yang ambil uang oya di mobil jemputan ?" mata suamiku tampak marah.

"Sabar Ayah, kalau mau bertanya kepada anak jangan dengan emosi, kita tidak akan mendapat jawaban yang puas "Buru-buru kutenangkan suamiku.

"Rafi,.... tadi di mobil jemputan ada apa ?" tanyaku dengan nada datar tanpa sebuah amarah.

Sesaat Rafi menggeleng-gelengkan kapalanya.

"Tadi ada yang kehilangan uang ya ? Apakah Rafi yang mengambilnya ?" tanyaku lebih dalam.

"Aku disuruh Dani, Ma. Kan waktu buku tabungan Oya nampak keluar dari tasnya, aku disuruh Dani mengambilnya. Kalau aku tidak mau, Dani mau kasih ulat ke dalam baju aku. Aku takut, Ma. Dulu Dani pernah berbuat seperti itu, Ma" Rafi tampak seperti sosok bocah kecil yang ketakutan.

"Bener nih yang kamu katakan ? Pembohong itu dosa besar dan akan mendapat siksaan di neraka lho " Aku mencoba berdalih.

"Iya Ma,... Alif lihat koq kalau aku disuruh Dani".

Seketika itu kutelpon wali kelas Rafi. Kujelaskan apa yang telah dikatakan Rafi kepadaku. Wali kelas itu tampak puas mendapat penjelasan dari aku. Ia lalu menjelaskan kepadaku, jika Dani memang telah disidang hari ini perihal kehilangan uang Oya. Wali kelas itu ingin mengetahui mengapa saat disidang nama Rafi disebut-sebut olehnya. Karena takut berprasangka, ia menanyakan kepadaku. Antara aku dan Bu Fitri, wali kelas anakku sama-sama terlihat senang meski kami terpisah oleh tempat dan hanya dihubungkan dengan sebuah seluler.

Alhamdulillah,... Degub jantungku kembali berangsur dalam alunan yang damai seiring rasa puji dan syukurku kepada Sang Illahi. Semoga Allah selalu menjaga semua anakku. Amiiin.

1 comments:

Anonymous said...

minta dipindahin aja kelasnya bu.... ok.

Post a Comment

Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....


Penulis : arofah2008@gmail.com