Hidup Kedua Kali

Sunday, February 14, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah .Aku tergolek lemah, setelah kuminum racun baygon beberapa tenggak. Selang beberapa menit mulutku berbuih penuh busa putih. Saat itu kurasakan seperti meregang nyawa. tubuhku serasa lumpuh, tiada sedikitpun daya untuk bergerak, hanya mampu melihat yang tersisa. Air mataku mengalir begitu saja, menangisi apa yanng telah terjadi. Mungkin benang-benang penyesalan merajut dalam angan khayalku.

Tiba-tiba saja, Safa, anakku satu-satunya datang. Berkali-kali ia memanggil namaku. Aku yang tak berdaya tak mampu berucap sepatah katapun. "Mama, mama kenapa ? Bangun Ma " , teriaknya sambil menangis. Kembali mataku hanya menatap atap-atap langit yang mulai pudar terboreh oleh bocoran dari genteng-genteng rumahku.

Sepertinya aku sudah berada di depan ajal, pikirku. Kulihat Safa tampak berlari keluar. Seketika itu banyak para tetanggaku berhamburan menuju aku yang sedang terbaring lemah dengan mulut yang dipenuhi busa.Aku dilarikan ke rumah sakit. Waktu itu aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Dan tiba-tiba saat di perjalan aku tak bisa membedakan mana kehidupan nyata dan mana yang bukan. Anehnya aku bisa melihat semuanya yang berada di dalam sebuah mobil ambulance sedang menolong aku. Berapa kali kusapa mereka, tapi mereka enggan membalas sapaku. Aku baru menyadari jika mereka tak melihat keberadaanku. Di saat yang bersamaan, Aku melihat diriku sendiri yang sedang tertidur di sebuah dipan milik ambulance. Aku sempat menangis, kusadari itu jasad diriku yang sesungguhnya. Perasaan menyesal datang bertubi-tubi. Aku berusaha meraih jasadku. "Ayo bangun, ayo bangun Rita !", pintaku sambil ku coba mengayunkan jasadku, namun semua usahaku bagai sia-sia. Aku seperti sebuah bayangan semu yang tak mampu menyentuh sesuatu yang nyata.

Aku melihat Safa anakku sedang dipangku oleh Nina, tetangga sebelah rumahku. Mata Safa tampak merah sembab. Tampak air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Sesekali beberapa kata keluar dari mulutnya. Dan yang kudengar selalu kata "Mama.......... jangan tinggalkan Safa, Ma." Nina memeluknya erat-erat, seakan ia memahami hati dan ingin menenangkan Safa anakku. " Ah, maafkan aku anakku, mama terlalu bodoh melakukan hal yang tak pernah mama pikirkan dahulu. " tiba-tiba perasaan sedih tiba dalam alam pikiranku.

Ketika ambulance sudah mendekat di pintu rumah sakit, pintu ambulance segera dibuka. Jasadku didorong menuju ruang gawat darurat. Di situ tampak kulihat begitu banyak orang-orang mengiringi kasur dorong yang sedang mendorong jasadku. Dalam rombongan itu, aku melihat suamiku. Baru kali ini kulihat muka suamiku berlumuran air mata. Sesaat aku begitu terharu dengan suasana ini. Tapi, lagi-lagi aku teringat akan berita perselingkuhan suamiku. Amarahku kembali membuncah. Aku benar-benar marah dan sakit hati karena telah dihianati oleh suamiku yang dulu pernah mencintaiku. Oleh karenanya kutempuh jalan yang teramat bodoh ini. Meminum racun karena berharap semuanya kusudahi. Tapi, kini. Aku begitu menyesal. Semuanya tak bisa hilang begitu saja. Aku harus menebus dosa besar ini di hadapan Sang Illahi. Dan akulah orang yang paling merugi, karena sudah kalah di dunia, di akhirat menebus dosa. Tapi semuanya tekah terlambat. "Maukah Tuhan mengembalikan lagi aku ke alam dunia ?" aku kembali menangis, hanya ini yang kumampu.

Aku mendekati jasad suamiku. Kucoba menatap matanya yang sembab. Sesekali ia usap pipinya yang dijatuhi bulir-bulir air matanya. "Ma, kenapa sampai hati kamu berbuat seperti ini ? Apa Salahku ? Aku begitu teramat mencintaimu !" Samar-samar kudengar kata-katanya menyentuh aku. "Kuatkan jiwamu Ma, Ayo kembalilah pada aku dan Safa anak kita ". Aku kembali mematung. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba aku dipenuhi rasa mual yang tak terelakkan lagi.

Aku muntah. Muntahanku begitu banyak dengan aroma baygon yang teramat pekat. "Alhamdulillah. . . . ", berkali-kali kudengar para suster yang sedang berusaha mengobatiku mengucap syukur atas apa yang telah terjadi pada diriku. Mungkin karena begitu shock dan lemah, aku tertidur lagi.

Saat mataku kubuka perlahan-lahan, kulihat suamiku dan Safa sedang tertidur di ranjang pembaringanku. Perlahan ku usap rambut suamiku. Suamiku terbangun. "Ma, jangan ulangi lagi perbuatan ini ya Ma ! Kami semua sayang Mama" Ia segera memelukku. Tak beberapa lama lagi, Safa terbangun. "Safa, terima kasih ya, Kamulah yang menolong Mama " , ucapku lirih. Kami sama-sama berpelukan dengan berurai air mata. Dalam hati aku berucap hamdallah, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....


Penulis : arofah2008@gmail.com