Menangisi Sebuah Cinta

Friday, March 12, 2010
Kumpulan Cerpen Siti Arofah.
Kali ini aku tak mampu lagi membedakan antara rasa benci dan cinta. Seolah keduanya hanya dibatasi oleh sehelai benang yang sangat tipis sekali. Terkadang rasa cinta dan sayang itu hadir menyelimuti diri mengenang masa-masa indah dulu yang pernah kami reguk bersama. Namun tiba-tiba saja rasa cinta ini berubah menjadi benci seketika kala teringat betapa sakitnya aku diperlakukan olehnya seperti ini. Luka batin lebih menyisakan bekas yang akan sulit untuk hilang, akan butuh waktu yang lama untuk bisa memaafkan sebuah kesalahan dari pasangan kita.

Dengan Irwan lah dulu ia yang selalu aku bangga-banggakan di depan keluargaku. Tubuhnya tegap dengan postur tubuh yang lumayan tinggi seperti atlet. Jika berjalan tampak bahu-bahunya sejajar karena latihan aerobik yang telah dijalaninya beberapa tahun belakangan ini. Senyumnya begitu menggoda, tak heran jika ABG pun doyan menggodanya. Ah, jika saja aku wanita bertype pencemburu, mungkin sudah ribuan kali aku harus marah padanya lantaran begitu banyak yang mencoba menggodanya di depan bola mataku sendiri. Tapi Irwan selalu meyakinkan diriku, bahwa cintanya tetap hanya untukku seorang. Rasa cinta bisa membutakan mata hati kita, menelantarkan seribu alasan untuk dapat tetap memilih Irwan sebagai tempat terakhirku berlabuh.

Dulu cinta Irwan begitu menggebu-gebu padaku. Menderu-deru bagai deru ombak laut yang tak pernah padam diterpa riuhnya angin samudra. Dia begitu lihai merebut hatiku. Padahal dulu, begitu banyak laki-laki selain Irwan yang jatuh hati padaku. Tapi memilih Irwanlah kata hatiku. Aku sampai terpedaya oleh bujuk rayunya, aku begitu percaya terhadap segala bualan cinta Irwan. Hingga akhirnya kami merajut kasih dalam sebuah mahligai rumah tangga.

Begitu buah cinta pertama kami hadir ditengah-tengah kehidupan kami yang masih dinaungi oleh percikan kehangatan cinta kami berdua, Irwan menyuruhku untuk berhenti bekerja. Irwan berharap agar aku bisa memberikan perhatian yang penuh untuk anak kami. Meski saat itu karierku sedang merambah, namun kusadari, anak adalah segalanya bagiku. Aku merasa cukup dengan uang yang diberi dari keringat suamiku sendiri. Akhirnya kujalani hidup ini untuk membesarkan anakku dengan tanganku sendiri. Sebuah pilihan yang mempertaruhkan segala yang telah kumiliki selama ini.

Saat itulah, ternyata Irwan hanya mencari-cari alasan agar ia dapat melenggang bebas tanpa diketahui oleh aku. Irwan ternyata punya selingkuhan di kantor. Dan berita ini baru kudengar setahun setelah aku berhenti bekerja dari Nina, teman sekantorku dulu yang pernah menjadi sahabatku. Aku menangisi kenyataan ini. Begitu pahit teramat sangat harus kutelan mentah-mentah berita yang baru kudengar ini. Mengapa Irwan begitu tega menyakiti hatiku dan terutama hati Cyntia, anak kami satu-satunya. Dan wanita seligkuhan itu, lagi-lagi aku tak percaya, ia adalah temanku sendiri. Apakah tak pernah terpikir dari dirinya, bagaimana jika dia sedang berada di posisi aku ? Mengapa harus mengganggu rumah tangga kami yang awalnya penuh ketentraman ? Aku kembali menangis, jika harus selalu mengingat dan mengingat tentang apa yang sedang terjadi pada rumah tangga kami.

Sering aku dapati di kantong bajunya beberapa tissue dengan bekas lipstick. "Siapa lagi kalo bukan milik seorang wanita" batinku memerangi kegundahan ini. Aku sama sekali tak pernah menanyakan milik siapa tissue itu. Kubiarkan Irwan bebas melakukan apa yang dia kehendaki, meski batinku harus berperang melawan sakit yang tiada terperi. Aku hanya mampu menjadi wanita yang rapuh. Sesaat aku begitu tegar, tapi kemudian menangis lagi. Hanya itulah sebatas yang bisa aku lakukan. Seperti wanita-wanita cengeng lainnya, yang hanya mampu menangis tanpa bisa berbuat apapun untuk membela dirinya. Tubuhku kian hari digerogoti oleh kerapuhan hati. Semakin hari berat badanku selalu berkurang. Dan Irwan sama sekali tak punya hati. Mungkin cintanya telah padam untukku. Aku seperti menjalani hidup dengan terseok seok, yang mengemis untuk sebuah cinta dari Irwan untukku dan juga untuk anakku.

Aku percaya, dalam setiap proses hidup pasti kita mendapat ujian dari sang Illahi. Dan aku memilih diam, mengikuti apa kemauan Irwan, suamiku. Meski harus kujalani hidup penuh dengan cinta semu belaka dari suamiku sendiri.

1 comments:

zahrina said...

ih ko gnih endingnyah?

Post a Comment

Terima kasih untuk sobat-sobat yang mau berbagi sharing disini ....


Penulis : arofah2008@gmail.com